Monday, October 5, 2020




Jumat, 21 Februari 2020

Namanya memang bukan Panti Jompo, tetapi Taman Lansia. Meskipun sebenarnya sama saja. Kendati demikian, pemilihan nama sangat berpengaruh secara psikologis.

Panti Jompo, ada kata jompo yang membuatnya terlihat muram. Tempat berkumpulnya orang-orang jompo, yang fisiknya sudah renta, sering masuk angin, encok, asam urat, dan sebagainya.

Kalau taman, adalah tempat yang indah, sejuk nan membahagiakan. Tempat untuk rekreasi atau bersantai.

Itulah kenapa Ki Hajar Dewantara menamai sekolahnya Taman Siswa. Bahwa agar terkesan jika belajar itu asyik, indah, menyenangkan.

-00-

Sebagian yang tinggal di Taman Lansia, karena keinginan sendiri. Bukan karena anaknya kurang perhatian. Anaknya rutin mengisi saldo rekening bulanan, namun kesibukan kerja di luar kota tak bisa ditawar.

Berkumpul dengan teman seumuran, meski sama-sama sudah renta, itu membahagiakan. Kalau di rumah, kesepian sekali. Apalagi, jika teman seusia satu per satu telah tiada. 

Pagi hari, di masa-masa pensiun, biasanya berbincang dengan teman A, teman B, ya untuk mengisi waktu. Berbagi rasa dan cerita. Namun mereka telah berpulang. Satu per satu.

Dada saya berdesir tiap kali mendengar kata "berpulang", apalagi diucapkan langsung oleh penghuni taman lansia.

Tiap kali ada teman sebaya yang berpulang, rasanya sesak di dada. Atau ketika teman sesama penghuni taman lansia dijemput keluarga. Entah karena kondisi kesehatan atau alasan lainnya, belum tentu mereka akan kembali.

Meski rata-rata baru kenal, namun keakraban di rumah singgah itu begitu erat. Rasa haru dan sedih mendalam ketika tersiar kabar ada yang berpulang, sembari mengingat kapan dan topik apa yang dibahas saat terakhir kali berbincang dengan teman yang berpulang itu.

Waktu memang pergi, namun kenangan tetap tinggal. Begitu kata pepatah.

"Kalau batas rata-rata usia manusia itu 63 tahun, berarti mbah sudah bonus nak," Ucap salah seorang.

Saya tersenyum mendengarnya. Jadi jika usia saya sekarang 27, kira-kira saya hidup 36 tahun lagi ya? bisa lebih, bisa kurang, wallohu'alam.

"Rasanya jadi tua itu gini, sakit-sakitan, mau mengeluh takut merepotkan anak, mau kerja sudah ndak kuat, rasanya hidup cuma jadi beban," Sahut yang lain.

Susah payah saya menahan diri untuk tidak menitikkan air mata, berulang kali menatap ke langit-langit dan menghela nafas panjang. Rasanya pilu sekali.

Apalagi, ketika salah seorang melantunkan tembang jawa sembari menenun, meski tone suaranya sudah aus, masih terdengar begitu merdu. Benar-benar menyesap ke dalam hati.

Bernyanyi adalah salah satu cara menghibur diri, dan itupun juga sering saya lakukan.

"Tetapi kita semua bahagia kan," Salah seorang pendamping pun berusaha memecahkan suasana.

-00-

"Kuliah di mana?"

Seorang kakek menanyai saya, kala duduk di teras Masjid daerah Kertoraharjo Kota Malang, selepas shalat ashar.

Kesehariannya, beliau rutin ke Masjid, karena sudah pensiun. Namun fisiknya nampak masih bugar.

Kami berbincang sejenak, beliau bercerita tentang kegiatannya, juga pekerjaannya terdahulu. Sesekali menceritakan kesuksesan anak-anaknya.

Namun, bisa kumpul semua hanya saat lebaran. Istrinya sudah berpulang, mendahuluinya. Aktivitasnya lebih banyak di Masjid.

"Asyik juga kalau bisa menulis, ingin sekali menuliskan kisah hidup," Komentar beliau, saat saya sedikit menjelaskan kegiatan dan komunitas.

Sore itu, saya juga baru selesai liputan, dan sedang memangku laptop, menulis berita di teras Masjid.

Menulis adalah cara produktif menghabiskan hari tua. Tentu ada banyak pengalaman sewaktu muda, lebih dari setengah abad hidup di dunia.

Sayangnya, semakin bertambahnya usia, ingatan berangsur lemah. Sebab tidak semua orang memiliki ingatan tajam seperti Alm. Rosihan Anwar yang bisa tetap menulis dengan rapi dan runtut di usia 80 tahun.

Ada banyak cara mengisi hari-hari menuju tua, yang kerap terhinggapi rasa sepi. Sepi yang sebenarnya sepi. []

Kedai MuaRa
Ahmad Fahrizal Aziz

Friday, September 11, 2020




Saat itu saya hadir dalam sebuah agenda Ekstrakurikuler, namun pesertanya tampak lesu. Pemandangan ini sangat berbeda ketika zaman saya dulu menjadi peserta seperti mereka. Apa sudah terjadi pergeseran?

Usut punya usut, ternyata sekolah mewajibkan siswanya untuk--minimal--mengikuti satu ekstrakurikuler. Banyak dari mereka yang akhirnya memilih ikut ekstrakurikuler tersebut tanpa memiliki tujuan yang jelas. Pokok ikut, asal sudah memenuhi kewajiban dari sekolah.

Memang tidak semuanya lesu. Ada yang bersemangat, meskipun sepertinya kurang dari 50%. Mereka yang bersemangat biasanya memang karena memiliki tujuan, karena itu pilihan mereka, semangatnya pun berbeda.

Saya termasuk yang tidak sepakat dengan suatu yang diwajibkan, apalagi pada usia SMA dan mahasiswa. Usia yang seharusnya dilatih untuk menentukan pilihannya sendiri. Karena sesuatu yang diwajibkan, ketika diikuti biasanya tidak maksimal.

Pada lingkup yang berbeda, saya pernah juga menghadiri suatu pertemuan, didalamnya ada perwakilan instansi pemerintah yang memiliki program literasi. Forum yang harusnya jadi ruang diskusi, gagasan dan usul program itu, jadi forum keluh kesah. Anggaran kurang lah, minat masyarakat rendah lah, dan lain sebagainya.

Saya mewakili komunitas, dan berharap agar komunitas yang saya kelola turut membantu dan bisa lebih bersinergi. Lho, apa tidak keliru? Kami kan hanya komunitas?

Memahami komunitas

Memang ada banyak jenis komunitas, utamanya yang berbasis hobi. Komunitas sering diasosikan tempat berkumpulnya orang dikala punya waktu luang, dengan tujuan rekreasi dan piknik. Intinya bersenang-senang di tengah sibuk dan memusingkannya pekerjaan.

Sebut saja, komunitas bersepeda, vespa, mobil tua, dan sebagainya. Berkomunitas inginnya refreshing, penyegaran, bukan? Namun bagaimana dengan komunitas literasi?

Literasi adalah suatu istilah yang berat. Secara sederhana, komunitas literasi biasanya bergerak dalam dua bidang utama : membaca dan menulis.

Saya dan teman-teman di Blitar turut serta mengelola komunitas kepenulisan, yaitu Forum Lingkar Pena. Komunitas itu memang hirarkis, ada level ranting, cabang, wilayah sampai pusat. Namun soal geraknya sangat mandiri. Swadaya.

Mereka yang bergabung ada yang memang ingin belajar menulis, ada yang mencari teman membahas segala hal tentang kepenulisan, ada yang ingin berbagi ilmu.

Namun tetap ada program kerjanya, layaknya organisasi. Ada strukturnya dari ketua, sekretaris, bendahara dan divisi-divisi.

Kadang, tidak semuanya bisa aktif. Divisi yang harusnya ia kelola jadi terbengkalai, program yang harusnya berjalan jadi macet.

Jika yang bersangkutan bilang mundur, itu berarti akan ada peralihan posisi. Biasanya yang belum masuk struktur akan dimasukkan. Jika tidak ada orang lagi, maka yang lain harus merangkap. Saya pernah merangkap 3 divisi sekaligus.

Marah, kesal, pasti. Itu wajar. Dalam psikologi, menurut Mark Mansoon, tu termasuk Thinking mind (respon otomatis). Kadang saya juga begitu. Tetapi kita harus kembali sadar, bahwa ini komunitas, kan?

Artinya, orang gabung karena sukarela. Tidak dibayar. Kita juga tak bisa berbuat apa-apa jika mereka memutuskan mundur, tidak aktif, atau hilang tiada kabar.

Meskipun, masing-masing kita juga punya kesibukan yang sama, makan nasi yang sama, beban cicilannya pun juga mungkin tak jauh berbeda. Namun satu orang harus mendapat beban lebih dari yang lain dalam komunitas.

Sekali lagi, ini komunitas. Dalam komunitas tidak ada yang bisa saling memaksa. Dia aktif atau tidak, dia mundur atau tetap di dalam, atau hilang tiada kabar, tidak tanggung jawab, kita juga tidak bisa menekannya.
Tetapi jangan sedih. Tidak semua begitu, yang tetap bertahan dan survive kan selalu ada, kan? Ya mereka lah pejuang. Sebab meluangkan waktu di sela kesibukan, mungkin juga direwangi bertengkar dengan istri, suami dan keluarga yang kurang senang dengan aktivitasnya. Selama yakin bahwa yang dijalaninya baik, sampai akhirnya keluarganya mengerti.

Pada intinya, tidak ada keluarga yang menentang anggota keluarganya  melakukan hal baik, namun kadang-kadang mereka menentang sebab ada hal lain yang menurutnya lebih prioritas. Apalagi, pertemuan komunitas sering dipilih hari libur atau hari Ahad, waktu family time.

Hal-hal semacam itu memang harus dimengerti satu sama lain, dan bila pada akhirnya satu orang harus menanggung beban lebih dalam komunitas karena banyaknya tanggung jawab dari anggota lain yang tidak menunaikannya, ya bersabar saja.

Mustinya, jika sudah gabung komunitas, apalagi bersedia jadi pengurus, sebaiknya menimbang sejak awal. Bagaimana kedepannya. Jika memang ragu, mending tidak usah ikut atau menolak sejak awal, daripada nantinya merepotkan banyak orang. Harus tegas sejak dari diri sendiri.

Jika sudah bersedia, dan tidak aktif (padahal bisa aktif), ada waktu untuk bertaubat. Berubah sikap. Daripada nanti jadi beban pikiran, perasaan tak enak terus menerus. Cuma mungkin tingkat kepercayaan orang akan berkurang.

Namanya komunitas itu simpel, ada suka dan duka saat mengelolanya. Namun ketika sebuah komunitas yang kita kelola bisa berkembang, dikenal, menghasilkan banyak karya dan sosok hebat, maka itu sekaligus mengkonfirmasi atau jadi cermin jika diri kita juga telah berkembang. Ada kemajuan dalam hidup kita, minimal lewat komunitas yang kita kelola.

Tetap semangat. Salam literasi. []


Tuesday, November 6, 2018



| Senin, 5 November 2018
| Oleh Ahmad Fahrizal Aziz

Perbincangan soal pidato Prabowo di Boyolali mengundang perhatian serius. Banyak dibahas di WAG. Bagi yang pro 01, tentu sangat bersemangat "mengulliti" peristiwa tersebut. Bagi pro 02, akan berusaha memberi klarifikasi. Sampai ada yang bertanya, kenapa Prabowo terlihat emosional?

Gaya Prabowo yang meletup-letup, sekilas memang nampak marah dan emosional, akan tetapi bisa jadi itu hanya ekspresif. Artinya, dalam panggung politik hal tersebut dijadikan antitesa dari gaya yang ditampilkan lawannya. Entah anda setuju atau tidak.

Ramai juga di beranda facebook, yang mana teman facebook saya (sepertinya) lebih banyak mendukung Jokowi. Karenanya saya lebih sering melihat postingan negatif tentang pasangan 02.

Lalu apa komentar saya? Ada yang bertanya begitu, via japri. Komentar saya? Apakah penting orang tahu? Apakah memberi dampak?

Karenanya saya tidak berkomentar, soal 01 atau 02. Saya komentar soal Festival Getih Getah Gula Kelapa, 17 November 2018 nanti. Saya dijapri mas Rahmanto untuk membagikan flyernya. Di flyer itu tertulis juga, 725 tahun Majapahit. Apakah itu usia kerajaan Majapahit?

Juga ada yang bertanya, apakah karena pidato tersebut elektabilitas Prabowo akan tergerus? Apakah para pendukungnya banyak beralih ke Jokowi?

Saya tidak tahu, yang saya tahu festival 725 tahun Majapahit itu akan digelar di Candi Simping, dari jam 08.00-24.00 WIB. Ada kirab pataka Majapahit, panggung budaya masyarakat, orasi budaya oleh Prof. Dr. DJoko Saryono dan bazar ekonomi kreatif.

Apakah Prabowo emosional karena sudah berkali-kali gagal menjadi presiden? Entahlah, yang jelas memang tidak gampang berada di posisi kalah, apalagi dalam kontes politik tingkat tinggi seperti pilpres. Modalnya besar.

Prabowo juga tidak mau dikenang sebagai capres yang kalah beruntun. Akan tetapi memenangkan pilpres 2019 nanti juga tak gampang.

Bukan berarti pula tidak bisa menang. Prediksi saya, kecil kemungkinan pendukung Prabowo akan beralih ke Jokowi. Namun tidak untuk sebaliknya. Pendukung Jokowi bisa beralih ke Prabowo, bahkan bisa besar-besaran. Dengan alasan : kecewa karena kinerja.

Dalam politik, harapan tak kalah penting dengan pengalaman. Meskipun harapan itu masih berupa bunga-bunga mekar dalam benak masing-masing. Itu bisa mengobati kecewa yang ada, meski sebentar.

2014 silam adalah kompetisi "harapan". Keduanya sama-sama menjual harapan. Harapan dari Jokowi lebih laku. Namun orang bisa kecewa karena harapan, lalu menyesal, lalu bisa beralih ke harapan yang lain, dengan keyakinan harapan kali ini tidak disia-siakan.

Prabowo mungkin akan menang, selama mampu memenangkan harapan tersebut. Namun harapan yang benar. Ada harapan yang salah?

Ibarat sepasang kekasih yang break karena salah satu dikecewakan, lalu muncul orang baru, yang berkesempatan memberikan harapan. Sayangnya orang tersebut tak memanfaatkannya dengan baik, justru hanya menjelekkan kekasih sebelumnya.

Duh, ini kita bahas apa? Jangan lupa 17 November 2018. Festival di Candi Simping tersebut, yang lokasinya hanya sekitar 2KM dari tempat saya tinggal.

Perlu diingat, bahwa pidato politik sangat penting. Kata-kata, gaya, intonasi, sampai isi, begitu dicermati. Jika ingin pidato yang meletup-letup, bisa meniru Bung Karno. Meletup-letup namun membangkitkan. Atau Bung Hatta, yang pelan namun pasti. []

Thursday, November 1, 2018



|Kamis, 1 November 2018
|Oleh Ahmad Fahrizal Aziz

Tiba-tiba ada telepon dari teman nun jauh sana, teman satu kamar ketika di Ma'had Al Aly UIN Malang, gedung (mabna) Ibnu Rusyd kamar 17, yang mengabarkan tentang pendirian IMM Kabupaten Bengkalis. Dia jadi ketuanya.

Namanya Mhd Erwin Munthe, asal Medan. Bermula dari obrolan dengan ketua PDM setempat, yang menginginkan adanya IMM di salah satu Kabupaten Provinsi Riau tersebut. Kenapa harus cabang dahulu yang berdiri?

Inilah yang seringkali mengusik, Meski berdirinya IMM di suatu wilayah bergantung pada siapa yang berkehendak mendirikannya. Jika yang ingin mendirikan adalah ketua PDM atau mungkin DPD IMM terkait, maka pasti yang dibentuk cabang dahulu.

Berbeda hal misal, ketika yang berkehendak adalah mahasiswa yang sedang kuliah di kampus tertentu, yang kebetulan belum ada IMM di kampus tersebut. Maka yang didirikan pastilah komisariat, dengan bantuan cabang IMM dari kota terdekat.

Mana yang lebih baik, komisariat atau langsung cabang?

Hirarki organisasi di IMM berbeda dengan Muhammadiyah, atau ortom lain. PDM bisa membentuk cabang, cabang membentuk ranting. Hampir tidak mungkin ranting yang membentuk cabang, lalu cabang yang membentuk PDM. hehe

Jadi, dari atas ke bawah. Top down. Bukan bottom up. Bukan dari bawah ke atas.

Analogi yang sama jika mendirikan IMM di suatu daerah. Bedanya, rahim utama IMM itu ada di kampus. Bukan kecamatan atau desa. Bukan pula kota atau kabupaten.

IMM Cabang adalah kumpulan dari beberapa komisariat. Sementara DPD IMM adalah kumpulan dari beberapa Cabang IMM. DPP adalah kumpulan dari beberapa DPD.

Tidak mungkin, ketika ketua PDM menginginkan berdirinya IMM, maka dimulai dari komisariat dahulu. Sementara mahasiswa yang dipersiapkan jumlahnya terbatas, kampusnya pun berbeda-beda. Akan kesulitan jika harus mendirikan komisariat.

Bahkan ketika DPD ingin mendirikan IMM di kota atau kabupaten, tidak mungkin juga mendirikan komisariat. Pasti akan langsung cabang. Karena top down tadi. Kebijakan dari atas. Bukan keinginan dari bawah atau bottom up. Jelas DPD akan kesulitan jika harus mendirikan komisariat.

Pemikiran ini yang dulu juga saya sampaikan ke IMM Blitar, agar lekas membentuk komisariat. Meski sebenarnya bisa didirikan komisariat dahulu, cabangnya ikut yang terdekat. Misalnya IMM Cabang Malang. Namun cabang akhirnya berdiri terlebih dahulu, maka komisariat harus lekas dipersiapkan.

Sesuai dugaan, pasti akan kesulitan. Siapapun yang pernah aktif di IMM, pasti tahu bahwa mendirikan komisariat justru lebih sulit, kalau tidak ada keinginan dari bawah atau bottom up tadi.

Tetapi, tidak mungkin IMM Cabang tanpa komisariat. Sebab secara administratif saja, kader IMM dilihat dari komisariatnya. Perkaderan dasar, baik dari segi ideologi, administrasi, organisasi, semua ada di komisariat. Bahkan sampai alumni pun, dia tetaplah alumni komisariat, sekalipun pernah aktif di PC, DPD, hingga DPP.

Maka bisa diambil jalan tengah. Cabang didirikan, maksimal dalam dua tahun berikutnya, komisariat dibentuk. Tentu dalam dua tahun tersebut, sudah hadir kader-kader baru yang dipersiapkan untuk komisariat.

IMM Blitar misalkan sudah terbentuk selama lima tahun. Lima tahun adalah waktu yang cukup sebenarnya. Hanya saja, baru pada masa Sukma Ulinuha lah komisariat mulai dibentuk, plus masa rehat yang hampir 1 tahun. Artinya, baru pada dua tahun terakhir ini penataan itu mulai dilakukan.

Ketua PC IMM Blitar pengganti Sukma, semestinya adalah kader komisariat. Lahir dari komisariat. Jika memang iya, itu berarti sistem sudah mulai tertata. Sedikit demi sedikit. Memang belum sempurna, dan harus disempurnakan untuk berikutnya.

Komisariat jangan sampai dilupakan. Apa yang sudah dibangun, sistem yang sudah ditata sebelumnya, jangan dimulai dari awal lagi. Sebab dalam masa penataan memang butuh kesabaran.

Cabang jangan dibiarkan terlalu lama tanpa komisariat, dan komisariat jangan terlalu lama juga dianggurkan. Sebab jika komisariat aktif, maka cabang berikutnya akan aktif. Namun tidak berlaku sebaliknya.

Sebut saja, kader baru periode ini masuknya ke komisariat. Setahun atau dua tahun berikutnya ada kader baru lagi di komisariat tersebut, sehingga kader sebelumnya naik ke cabang.

Berbeda halnya jika kader baru bergabung, tiba-tiba langsung ke cabang. Karena itu pentingnya hirarki ini, untuk keberlangsungan IMM Blitar kedepan, agar ada kaderisasi dan regenerasi. Selamat berjuang. []

Wednesday, October 10, 2018



Tentu tidak. Apalagi kita tidak pernah benar-benar serius belajar menulis (baca : mengarang). Dan apakah itu perlu?

Sejak SD hingga SMA, bahkan sampai kuliah, selalu dicekoki pelajaran bahasa Indonesia. Selalu. Materinya berputar-putar, dari stuktur kalimat, ejaan, tanda baca, hingga majas-majas.

Muter-muter disitu saja, dan tragisnya setelah lulus banyak yang lupa. Lihat saja postingan-postingan orang di sosial media. Tidak semua bagus. Tidak semua bahasanya tertata, dan itu jumlahnya dominan.

Lalu untuk apa bertahun-tahun belajar bahasa Indonesia? Seolah tak ada gunanya. Sia-sia. Buang-buang waktu. Meski ujian nasional nilai bahasa Indonesianya tinggi.

Tentu itu menggelisahkan, sekaligus jadi refleksi bersama tentang kegiatan sekolah selama ini, yang tidak efektif membentuk siswa agar bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Padahal bahasa itu penting. Tidak saja sebagai alat komunikasi, namun juga identitas bangsa, instrument budaya, dan nasionalisme yang paling awal membentuk bangsa ini.

Selepas merdeka pada 1945, hanya bahasa Indonesia yang bisa menjadi alat pemersatu. Sebagian besar masyarakat belum tahu soal ideologi negara, bangsa, dan sebagainya.

Ketika orang Papua bertemu orang Sunda, orang Bugis bertemu orang Jawa, orang Minang berjumpa orang Madura, yang menandakan mereka satu adalah bahasa Indonesia.

Karenanya merawat bahasa Indonesia penting. Selain di sekolah, juga melalui gerakan-gerakan literasi, khususnya kepenulisan, yang mana bahasa Indonesia dengan serius dijadikan kajian sekaligus "diamalkan", dituangkan lewat tulisan.

Lalu jika sekolah saja tidak mampu, bagaimana dengan gerakan-gerakan literasi yang hanya swadaya?

Inilah tantangan peliknya. Tidak semua orang bersedia. Tidak ada duitnya. Beberapa yang biasanya melapak buku, menyediakan buku bacaan gratis, juga sedikit yang bertahan.

Lainnya gulung tikar ; tak digubris, sering diremehkan, buku-bukunya dipinjam dan tak kembali, yang meminjam pun belum tentu baca.

Bagi para pejuang literasi yang saya temui, jika buku dipinjam dan tak dikembalikan, itu tak jadi soal. Namun yang jadi masalah, ketika buku-buku sudah tidak lagi dibaca.

Lalu lebih sulit mana dengan mengelola komunitas kepenulisan? Ibarat tangga, menulis adalah tangga berikutnya dari membaca. Tentu tidak gampang pula. Meski optimisme selalu ada.

Mereka yang mau menulis, tentu harus melewati dulu "tangga membaca" tersebut. Karena itu jadi salah satu bahan bakarnya.

Karena itulah jumlah yang menulis pasti tidak lebih banyak dari pembaca. Jumlah pembaca juga jauh lebih sedikit dari pendengar dan penonton.
Orang lebih suka melihat dan mendengar, dibanding membaca dan menulis. Maka jumlah penulis tidak banyak, namun tidak sedikit. Banyak yang bisa menulis di antara yang sedikit tersebut.

Akan tetapi membaca (dan menulis) menjadi ukuran kemajuan sebuah negara. Mereka yang menulis, otomatis seorang pembaca yang baik. Setidaknya, memiliki pengetahuan kosa kata yang cukup.

Serta, semua orang bisa menulis. Ahli ekonomi, budaya, politik, kesehatan, pertanian, nuklir dan lain sebagainya, kadang juga perlu menuliskan bidang keilmuan mereka, agar dipelajari generasi berikutnya.

Setiap orang, terutama di era digital seperti ini, ketika sosial media dan media daring mudah diakses, menulis jadi menemukan relevansinya tersendiri. Salah satunya, menuliskan pengalaman pribadi.

Ada banyak hal pribadi yang asyik dan mungkin penting untuk ditulis. Tulisan yang barangkali akan dibaca keluarga, teman, anak, cucu dan seterusnya. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda.

Sekolah bisa membiasakan untuk itu, komunitas kepenulisan perlu menguatkan iklim menulis tersebut. Namun pasti tidak banyak yang tertarik.

Terlalu banyak godaan, seperti ponsel pintar. Daripada menulis panjang-panjang, mending ambil foto dengan sedikit kutipan, atau ambil video. Menulis bikin capek.

Karenanya tidak semua orang akan menulis, kendati menulis tetap perlu. Bahkan sebuah tulisan bisa lebih komplit "memotret" suasana hati dan pikiran. []

Blitar, 10 Oktober 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Monday, October 8, 2018



Tahun ini FLP Blitar membuka pendaftaran kelas menulis, dimulai dari kelas menulis puisi pada 6 Mei 2018, dan kemudian kelas menulis non fiksi. Ada 7 peserta offline dan 17 peserta online.

Pada pertemuan pertama, Ahad 7 Oktober 2018, ada 4 peserta offline yang hadir. Tiga di antaranya tidak bisa hadir karena berbagai sebab.

Sebagai satu dari empat mentor pendamping, saya memang berharap peserta yang ikut benar-benar serius, sebab jika tidak hadir sekali saja, atau tidak mengikuti sesi sekali saja, maka akan bingung melewati sesi berikutnya.

Itulah kenapa dalam diskusi dengan mentor seminggu sebelumnya, ada sanksi dikeluarkan dari grup jika sekali saja tidak mengerjakan tugas.

Ada mentor yang kemudian memberikan masukan agar diberikan peringatan dulu, namun banyak yang sepakat dengan sanksi dikeluarkan.

Kenapa? Kelas non fiksi kali ini memang bagian dari pengabdian FLP Blitar. Tidak untuk mencari keuntungan, itulah kenapa ada paket 1 yang gratis. Artinya siapapun bisa gabung dan hadir dalam kelas menulis tersebut.

Karenanya, yang tak berbayar seringkali diremehkan. Memang ada paket 2 dan 3 yang berbayar, namun itupun pilihan sendiri dari peserta dan pembayarannya tidak mengikat di awal.

Mentor berharap kelas ini benar-benar diikuti dengan serius. Karena bukan lagi hanya berisi materi dan sekedar pengetahuan, namun lebih pada praktek dan evaluasi.

Tergetnya, pasca berlangsungnya kelas ini, setiap peserta bisa menulis setidaknya 2-3 halaman.

Jadi ada sedikit materi, dilanjutkan dengan praktek, lalu akan dievaluasi oleh mentor. Sampai minimal empat kali.

Materi-materi teknis kepenulisan akan menyesuaikan seiring dengan praktek menulis tersebut.

Pada pertemuan pertama, materi yang diobrolkan berkait dengan jenis paragraf, dimulai dari analisis judul di majalah, koran, dan media online.

Materi tersebut sebenarnya hanya memantik untuk menulis, memberi gambaran awal tentang bagaimana membuat paragraf pertama.

Berikutnya akan disambung dengan materi ejaan dan tanda baca, pada pertemuaan berikutnya. Sampai jumpa. []

Blitar, 8 Oktober 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Monday, October 1, 2018



Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Dalam kebutuhan ada keinginan, namun tidak semua keinginan mengandung kebutuhan.

Makan adalah kebutuhan, namun muncul keinginan untuk memilih apa yang dimakan. Nasi pecel, nasi padang, atau nasi borang.

Keinginan tersebut bisa terpenuhi jika memiliki kemampuan, misalkan memiliki uang lebih untuk mewujudkan keinginan tersebut. Sehingga, meskipun di rumah ada nasi liwet lauk tempe, karena dorongan keinginan, tetap akan pergi ke warung nasi padang.

Termasuk dalam kebutuhan lain, seperti berpakaian. Manusia butuh berpakaian agar lebih sehat, tidak masuk angin, gatal-gatal dan lain sebagainya.

Namun keinginan, membuatnya akan memilih jenis pakaian, mulai dari jenis kain, warna, hingga modelnya. Keinginan kadang juga disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.

Karena tubuhnya bagus, kekar, maka menggunakan kaos yang ketat. Atau karena tubuhnya langsing dan seksi, maka menggunakan celana ketat.

Keinginan juga berkaitan dengan prestise atau kesan orang terhadapnya. Kenapa menggunakan batik, baju koko, kemeja polos, hingga hal-hal yang bersifat asesoris seperti jam tangan, syal, kalung, dan lain sebagainya.

Dua hal di atas adalah keinginan yang berkaitan dengan kebutuhan. Lalu bagaimana dengan keinginan yang tidak berkaitan dengan kebutuhan?

Sebenarnya berbeda tipis. Bahkan keduanya nyaris sama. Seperti kebutuhan makan tadi. Dia bisa saja makan nasi yang ada di rumah, kebutuhan sudah terpenuhi. Namun karana ada keinginan lain, sehingga makan ke warung.

Dia sebenarnya tidak perlu ke warung, karena di rumah sudah ada makanan, yang meski rasanya tidak seenak di warung.

Namun jika itu dikontrol, mungkin tidak akan ada yang mubazir. Uang yang seharusnya dia gunakan ke warung, barangkali bisa untuk hal lain.

Artinya ke warung bukan lagi kebutuhan. Lebih karena keinginan.

Akan tetapi keinginan manusia selalu berkembang, dan bahkan berada pada tahap irasional.

Seperti keinginan untuk dihargai, dipuji, dikagumi, dicintai dan lain sebagainya. Itu semua keinginan yang sama sekali tak berkait dengan kebutuhan. Meski keinginan yang terus diburu akan jadi semacam kebutuhan baru.

Keinginan bisa terhenti karena tidak adanya kemampuan. Misalkan, ingin beli mobil mewah tetapi tak punya cukup uang.

Ingin beli hape terbaru, model jaket terbaru, merk sepatu yang sedang trend, tas dengan brand tertentu, dan lain sebagainya, namun tidak memiliki kemampuan.

Sementara, pergaulan sosial memberikan tampat khusus dan stigma tersendiri bagi mereka yang memiliki barang-barang tersebut.

Keinginan kemudian menjadi hal yang sungguh menyiksa, ketika tak memiliki kemampuan untuk mewujudkan.

Pada akhirnya, sebagaimana teori Sigmund Freud, ada konflik dalam diri. Ada ketidakseimbangan karena ego yang berupa keinginan dan kepuasan tersebut tidak terpenuhi.

Hal tersebut akan terus terjadi, baik ketika ada atau tidaknya kemampuan untuk mewujudkan keinginan. Arti dari "kebutuhan" pun kian bergeser.

Itu barangkali lebih berat secara psikologis, dibandingkan mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti makan.

Itulah kenapa banyak kasus orang yang menurut kita hidupnya enak dan berkecukupan, namun tiba-tiba bunuh diri.

Kulminasi keinginan yang tidak pernah terpuaskan, sebab benar kata Freud, keinginan tak akan terpuaskan. Sehingga perlu kontrol atas diri (introyeksi), yang kita kenal dengan istilah superego.

Kemampuan memilah mana yang benar-benar kebutuhan, dengan keinginan yang akhirnya menjelma jadi kebutuhan.

Memilah mana keinginan yang wajar, dan keinginan yang berlebihan. Keinginan yang bisa dipenuhi tanpa menimbulkan masalah, dengan keinginan yang bisa meledakkan masalah dikemudian hari.

Mengontrol itu tidak mudah, apalagi jika punya kemampuan untuk mewujudkannya. Apalagi keinginan tersebut bersifat hedonis dan pragmatis berupa hasrat dan kenikmatan sekejap.

Semoga kita mampu mengontrol keinginan kita sendiri. []

Blitar, 28 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi