diary

Monday, February 12, 2018

Kadang saya bangun antara pukul 3 pagi. Kira-kira sejak tiga tahun silam selepas bulan Ramadan. Kebiasaan bangun sahur selama sebulan itu, terbawa pada bulan-bulan berikutnya.

Ternyata ada banyak hal 'menarik' yang bisa dikerjakan pada jam itu. Selain untuk ibadah. Suasana yang sunyi, hening, lengang, dingin, membuat fikiran terasa segar.

Asyik untuk membaca buku, atau sekedar surving artikel di Internet. Sesekali juga mengerjakan sesuatu, semisal mengedit foto. Sampai masjid membunyikan rekaman murotal, jelang shalat subuh.

Jika tidak sepenuhnya lelah, saya akan terus terjaga. Apalagi jika pagi sampai sore ada agenda. Jam tidur saya sangat terbatas. Sebab sering kali malam harinya berjumpa teman, entah sekedar ngopi atau rapat organisasi.

Saya kurang tidur, harap maklum. Hehe

Blitar, 12 Februari 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Monday, August 21, 2017


Sebenarnya saya sangat pesimis dalam hidup ini. Pesimis dalam arti, hanya bisa menjalani kehidupan ini sebagai ritus dan kenyataan, tanpa perlu lagi berangan, bercita, atau berharap lebih. Tanpa perlu membandingkan dengan kehidupan orang, sebab kita tidak tahu persis apa yang terjadi besok, lusa, dan seterusnya.

Dinihari,
Senin, 21 Agustus 2017
Ahmad Fahrizal Aziz

Sunday, August 6, 2017

Kalau marah dilampiaskan, itu biasa. Alaminya begitu. Setelah dilampiaskan, mungkin akan reda. Namun jika marah yang terlampau marah, pelampiasan apapun serasa tak berarti. Tak ada guna.

Diam bisa jadi pilihan. Diam. Membisu. Itu kemarahan yang sempurna. []

....
Ahmad Fahrizal Azis

Friday, August 12, 2016



Tiap kali mencium wangi parfum Casablanca gold, Master bodywash, dan minyak wangi non alkohol yang entah apa namanya itu, selalu muncul ingatan tersendiri. Kenangan di satu fase dalam hidup saya. Bukan tentang seseorang, tapi tentang moment. Makanya saya sering berganti-ganti parfum.

Sama halnya ketika mendengarkan lagu. Suatu hari saya ngendon di cafe untuk menyelesaikan tulisan, operator memutar lagunya Sheila on 7 "Buat aku tersenyum". Lagu itu bagi saya memorable banget. Seperti ada rindu yang belum tuntas, karena rindu memang tak pernah tuntas.

Ingatan, atau katakanlah kenangan yang sebenarnya abstrak. Tidak spesifik merujuk ke apa atau siapa, tapi tetap begitu terkenang. Orang bilang itu jiwa melankoli yang sedang dominan, namun melankoli rupanya enak dinikmati.

Tapi ada yang spesifik : Bau harum kopi hitam ketika diaduk. Itu benar-benar mengingatkan saya dengan almarhumah nenek. Tapi sayang, kopi hitam kemasan sekarang ini tak seharum kopi buatan orang-orang dulu.

Kenangan yang berkepanjangan, yang tak terikat moment, adalah lantunan Muratal Syekh Sudais. Dimanapun saya mendengarnya, selalu ada ingatan yang muncul. Entah apa pernah ada golden moment dengan lantunan muratal itu, padahal alarm saya setiap harinya juga menggunakan muratal-muratal itu.

Tapi bagi saya, itu semua adalah penanda kenangan. Kenangan yang spesifik atau abstrak. Kenangan yang membuat kita bisa merujuk pada moment tertentu, atau hanya menerkanya.

Blitar, 3 Agustus 2016
A Fahrizal Aziz

Sunday, March 6, 2016

Saya termasuk yang benar-benar menikmati teknologi. Terutama telekominfo seperti Internet dan Sosial Media. Jadi saya termasuk yang tidak sepakat jika teknologi merusak moral anak-anak muda. It's pure about morality. Teknologi hanya sekedar instrument.

Misalkan begini, banyak orang menyalahkan sosial media ketika misalkan ditipu, ketahuan selingkuh lalu putus/bercerai, hingga kasus penculikan di bawah umur. Itu semua tidak akan terjadi ketika yang bersangkutan tidak mengakses dan mempergunakan sosial media. Jadi bukan sosial medianya yang salah.

Saya sangat menikmati sosial media untuk menyampaikan gagasan, informasi, hingga membaca gagasan, ide, dan informasi dari orang lain, terutama dari seorang tokoh/public figure. Ada banyak sisi positif yang ditularkan.

Dengan Internet juga saya bisa menikmati artikel-artikel bagus, mengunduh e-book, hingga menonton video-video seru di youtube. Terutama video seminar, talk show interaktif, musik, dll. Saya benar-benar merasa dimanjakan.

Selain itu, saya bisa mengaktualisasikan hobi sekaligus pekerjaan saya untuk menulis. Apalagi setelah muncul berbagai gadget. Semua tulisan di blog ini, saya ketik langsung dari ponsel, tidak melalui laptop.

Banyak teman yang tidak percaya, bagaimana mungkin ngetik dari ponsel bisa sebanyak itu? Awalnya saya memang kagok. Tapi lama kelamaan jadi terbiasa juga. Apalagi sekarang banyak sekali ponsel yang layarnya lumayan lebar. Belum lagi kalau punya tab. Tapi sayang saya belum punya. Hehe

Untuk itu, tugas kita sebenarnya bukan anti terhadap perkembangan teknologi. Karena mustahil kita anti. Tapi kita bisa menggunakan teknologi ini sebaik mungkin. Mulai dari diri sendiri.

Gunakan sosial media dengan bijak. Akseslah situs yang bagus, bukan situs yang dilarang oleh negara, agama, dan norma. Apalagi hingga melakukan kejahatan lain, atau yang marak disebut cyber crime.

Untuk merubah budaya. Memang yang paling bijak adalah memulai dari diri sendiri dahulu. Selamat menikmati era teknologi. Semoga hidup kita kian produktif. (*)

6 Maret 2016
A Fahrizal Aziz

Saturday, March 5, 2016

Jum'at kemarin (4/3/16) saya sengaja Shalat Jumat di Kota, di Masjid At Taqwa Blitar. Karena biar siangnya bisa langsung ke Perpustakaan Bung Karno untuk menghadiri acara bedah bukunya Mas Nafi' Muthohirin.

Sebelum berangkat, saya makan dulu. Tidak banyak. Hanya sedikit nasi dan dua telur ceplok sambil segelas teh. Setelah shalat Jum'at (karena mempertimbangkan acara berlangsung sampai sore) saya mampir dulu ke warung gado-gado samping masjid plus segelas teh tawar.

Setelah isi perut, rencana isi otak dulu. Karena acara dimulai jam 14.00, saya datang setengah jam lebih awal biar bisa baca-baca dulu. Setelah langsung menuju lantai II, menemui Mas Nafi' Muthohirin dan Mas Khabib M. Ajiwidodo. Setelah itu isi otak lagi dengan diskusi dan bedah buku.

Setelah bedah buku, selepas shalat ashar, ternyata ada agenda makan lagi. Makan bakso samping alun-alun Kota Blitar plus satu teh botol. Komplit. Perut terisi. Otak juga terisi.

Acara bedah buku berjalan lancar. Acara tersebut atas inisiatif PC IMM Blitar. Terima kasih untuk acaranya dan makan-makannya :)

04 Maret 2016
A Fahrizal Aziz

Friday, March 4, 2016


Buka Puasa Bersama dengan Crew Majalah Suara Akademika beberapa tahun silam :)



Ngobrol santai bersama Pengurus IMM Blitar di Kedai Ketan.



Pose di samping Perpustakaan Bung Karno bersama Komunitas Penulis Blitar.


Ngobrol santai di Fansop Durian Malang, bersama Fiqh Vredian dan M. Luthfi Fajari.

Memilih buku di Perpustakaan Bung Karno (Koleksi Umum) bersama para Presidium Paguyuban Srengenge Blitar.

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi