tulisan
Monday, October 5, 2020
Sejarah bisa saja hilang. Kita hanya tahu bahwa masa lalu telah terjadi, namun tidak bisa terhubung.
Cerita masa lalu biasanya dituturkan secara lisan, turun temurun. Lewat dongeng, legenda, mitos.
Sementara, tradisi lisan bisa saja padam. Cerita dari mulut ke mulut, tidak akan semuanya diingat. Sangat mungkin terputus.
Sementara, sumber sejarah telah tiada. Dokumen-dokumen tak terarsipkan dengan baik, generasi lama juga telah banyak yang meninggal. Tak ada lagi yang bisa ditanyai, apa yang pernah terjadi di masa lalu?
Generasi penerus, tak pernah tahu jika kemudahan yang dirasakan kini adalah urun keringat dari para perintis masa lalu, yang mereka tak kenali.
Karena sejarah terputus, mereka bisa saja mengalami disorientasi. Apa dan bagaimana selanjutnya? Apa sebenarnya tujuannya?
Karena tak tahu sejarahnya, maka jalan yang mereka lalui bisa saja keluar rel yang semestinya. Tidak lagi menapaki "jalan lurus" yang diperjuangkan generasi terdahulu.
Maka sejarah itu penting, agar ada estafet, kesinambungan orientasi. Ibarat rumah, sudah ada pondasinya, maka jangan bongkar pondasi dan bikin baru lagi. Sebab rangka bangunan sudah didesain, tinggal dilanjutkan dan dikembangkan, namun tidak merubahnya dari desain awal. Jika dirubah-rubah, maka kapan akan selesai?
Ya, begitu ibaratnya. Generasi yang tak tahu sejarah hanya akan mengulang hal-hal yang sama. Pondasi sudah dibangun, masih juga meributkan bagaimana bentuk pondasinya. Padahal tugasnya adalah membuat tembok, generasi setelahnya membuat atap dan seterusnya sampai rumah bisa nyaman dihuni.
Tidak hanya itu, generasi yang tidak tahu sejarah jadi kurang punya rasa terima kasih, empati, tidak paham jika apa yang kini ia rasakan adalah buah perjuangan generasi sebelumnya.
Juga kesalahan generasi sebelumnya yang tidak sempat menceritakan sejarah, atau menuliskan sejarah, sehingga generasi penerus jadi bersikap semaunya, tidak punya unggah ungguh, dan tak peduli pada generasi terdahulu.
Maka, sejarah harus dituliskan. Dibukukan. Agar bisa diakses, tanpa tergantung pada teknologi. Meski teknologi juga kian canggih. Namun secanggih apapun teknologi, tetap ada batasannya.
Sejarah harus ditulis secara periodik, agar kisah demi kisah tersambung. Jika tidak sekarang, lalu kapan?
Kita tak bisa menunggu. Setiap orang dibatasi waktunya untuk hidup. Menunggu sampai semua telah berpulang baru kita sadar bahwa banyak hal dari masa lalu yang tidak kita ketahui? Sadar bahwa kita tidak sempat sekadar berucap terima kasih pada generasi yang telah membukakan jalan untuk generasi berikutnya?
Itu sangat menyedihkan. Hal yang sama mungkin juga terjadi pada kita, ketika sejarah perlahan terhapus hanya karena tak sempat dituliskan. []
Blitar, 4 Oktober 2020
Ahmad Fahrizal Aziz
Wednesday, September 19, 2018
Secara umum tulisan hanya dibagi dalam dua bentuk : puisi dan prosa.
Puisi itu yang pendek, padat, dan tersirat. Sementara prosa lebih panjang, sampai membentuk paragraf dan berlembar-lembar jumlahnya.
Meskipun belakangan ada juga puisi yang panjang menyerupai prosa, namun itu faktor lain.
Jika dilihat dari bentuknya, maka setiap tulisan yang panjang-panjang, masuk kategori prosa, entah itu cerpen, esai, berita, resensi dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana dengan penjelasan fiksi dan non fiksi?
Fiksi sering digunakan untuk kategori tulisan yang tidak berdasar fakta, alias imajinasi, fantasi, atau rekaan. Berkebalikan dengan non fiksi. Umumnya esai dan berita masuk non fiksi.
Pada pengertian di atas, seharusnya istilah fiksi atau non fiksi tidak digunakan untuk membedakan bentuk tulisan.
Misalkan, cerpen masuk kategori fiksi. Apakah selalu? Bisa saja cerpen itu diangkat dari kisah nyata. Tidak ada yang imajinatif disitu, apalagi fantasi. Begitu pun dengan puisi, atau novel-novel yang diangkat dari kisah nyata.
Dalam pengertian ini, fiksi dan non fiksi memiliki kelemahan jika digunakan untuk membagi tulisan berdasar bentuknya.
Lalu bagaimana jika ada orang menulis berita lalu isinya ngarang semua? Meskipin semua unsurnya terpenuhi, 5W+1H, tetapi peristiwa aslinya tidak ada.
Sehingga istilah fiksi dan non fiksi lebih tepat untuk membagi kategori tulisan berdasar isi/kontennya.
Bentuk-bentuk tulisan di era kini
Bentuk tulisan seringkali cukup mengganggu bagi mereka yang mulai belajar menulis. Seringkali saya sendiri harus menjelaskan dulu, dan sebenarnya itu tidak baik, karena justru bisa malah membingungkan.
Ibaratnya, montir bengkel yang disuruh membenahi kerusakan motor, tetapi motor yang mau dibenahi tidak ada, tetapi harus mengira-ngira apa kerusakannya.
Kebingungan itu makin diperparah karena banyaknya orang menulis bebas di sosial media. Bahkan seringkali yang melakukan itu adalah editor senior koran harian.
Sosial media menerabas batas formal aturan-aturan tersebut, dan celakanya mereka yang baru belajar menulis menjadikannya sebagai rujukan, bukan koran, majalah, atau media online yang masih cukup ketat menerapkan aturan kepenulisan.
Masalahnya pula, justru gaya penulisan bebas itu yang banyak diminati. Sebut saja tulisan-tulisan di Mojok.co. Sementara tulisan-tulisan yang formal dan prosedurnya ketat, dianggap monoton dan membosankan.
Membedakan Bentuk
Saya membagi pengertian antara "jenis tulisan" dan "bentuk tulisan". Fiksi dan non fiksi itu jenis tulisan. Sementara puisi, esai, berita, cerpen, resensi, itu bentuk tulisan.
Kenapa harus menyebutnya bentuk? Karena ada perbedaan dalam cara penulisan, unsur-unsur di dalamnya, konten, dan lain sebagainya yang bisa kita cari perbedaannya. Sehingga nantinya mudah menganalisis.
Bentuk tulisan, dalam analisis saya sejauh ini hanya empat : puisi, cerpen, esai, dan berita.
Dari keempatnya, yang paling mudah dibedakan adalah puisi. Jadi siapapun tahu bahwa tulisan yang dibaca adalah puisi, tanpa perlu menganalisis.
Cirinya, bahasanya lebih padat, tidak langsung menyampaikan maksud aslinya, kalimatnya bersayap, penuh majas, dan beberapa mengedepankan unsur estetika bahasa.
Begitupun dengan cerpen. Meski dari gaya bahasa, kadang ada juga esai yang mirip cerpen, atau berita yang mirip cerpen. Ada, namanya news feature.
Meski demikian, sangat mudah untuk menganalisis apakah itu cerpen atau bukan, karena cerpen wajib memiliki unsur intrinsik seperti tokoh, dialog, plot/alur, setting waktu dan tempat.
Esai dan berita tidak memiliki unsur di atas. Diantara keduanya, berita sudah begitu familiar karena bisa dibaca di koran-koran. Sehingga masyarakat tahu apakah ini berita atau bukan.
Justru bentuk esai ini yang masih membuat orang bingung. Karena selain esai, bertebaran istilah-istilah seperti artikel, opini, dan sejenisnya.
Definisi esai
Definisi esai bisa dibaca pada KBBI, namun sebelum kesana, mari kita ingat kembali pertama kali istilah esai kita dengar, yaitu pada soal ujian sekolah.
Setidaknya ada 3 jenis soal ujian, yaitu pilihan ganda, jawaban singkat, dan esai/uraian.
Sebenarnya istilah esai itu sudah lama kita kenal, yaitu menuliskan atau mengungkapkan sesuatu sepintas dari sudut pandang penulisnya.
Jadi soal esai itu melatih kemampuan intelektual siswa, sebab siswa harus mengungkapkan sesuatu dari sudut pandang mereka.
Sayangnya, yang terjadi justru tidak demikian. Banyak soal uraian/esai justru hanya tempat "menempel" ingatan yang didapat dari buku.
Opini dan Artikel
Lalu apakah opini masuk esai? Opini dalam koran, majalah, atau media online hanya nama rubrik. Bukan bentuk tulisan.
Sehingga opini adalah esai itu sendiri, karena menulis suatu subyek atau masalah dari sudut pandang penulisnya.
Begitupun dengan artikel. Mulanya artikel adalah sebutan untuk isi majalah atau tabloid. Artikel sendiri bukan bentuk tulisan, sebagaimana opini, hanya untuk menamai tulisan yang masuk di dalam majalah atau tabloid.
Artikel bisa berbentuk esai, bisa juga berita.
Esai dan Berita
Salah satu perbedaan esai dengan berita, adalah pada subyektifitas tulisan. Esai lebih subyektif, sementara berita tidak boleh. Subyektif yang dimaksud adalah adanya opini, penilaian, dan kesan dari penulisnya.
Berita hanya menuliskan berdasar fakta yang ditemukan. Tidak ada sudut pandang penulis yang disampaikan. Bahasanya pun lugas, tidak berbelit, sehingga mudah dipahami.
Sementara esai bisa menggunakan gaya bahasa yang bermacam-macam. Bisa lugas, ilmiah, atau puitik. Selengkapnya nanti akan kita bahas dalam tulisan yang khusus membahas esai.
Blitar, 18 Desember 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Friday, August 19, 2016
Mungkin karena terlalu sering menulis artikel content : yang singkat, praktis, juga karena sebagai tuntutan, saya jadi melupakan beberapa naskah novel.
Ada yang tinggal revisi, ada yang masih belum diselesaikan. Padahal konsep sudah ada, alurnya sudah dibentuk, tinggal dikerjakan. Tapi karena itu tadi, jadi terabaikan.
Sebenarnya novel yang sudah jadi (yang beberapa sudah diajukan ke penerbit dan ditolak) juga dibuat dalam kondisi yang hampir sama sibuknya. Cuma energinya dulu lebih besar.
Dulu, sembari menyelesaikan tugas liputan, kuliah, dan organisasi, ada energi untuk menyelesaikan novel. Energinya begitu kuat, meski sudah larut malam.
Waktu Aliyah, semasa masih menulis dengan bolpoin, juga sempet menulis beberapa novel disela aktivitas sekolah, mengerjakan tugas, ngurus organisasi, dll. Menulis novel terasa syahdu dan memberikan energi tersendiri.
Belakangan, dan mungkin 3 tahun terakhir, energi untuk menulis novel, cerpen, dan apalagi puisi juga berkurang. Setelah menunaikan tugas menulis wajib, termasuk diantaranya menulis artikel content, rasanya sudah capek untuk berada didepan laptop lagi.
Butuh refreshing, semisal ngobrol santai dengan teman, olahraga, menyiram tanaman, memberi makan kucing, mencuci piring, atau memasak.
Menulis artikel kontent sendiri memang sudah melelahkan. Apalagi kalau sampai 20 artikel per hari. Ya meskipun satu artikel rata-rata tak lebih dari 1 halaman. Tapi proses membaca referensi/sumber artikelnya itu juga butuh waktu.
Memang akhir-akhir ini ada copy writing, atau modifikasi kontent. Tapi itu tidak selalu memuaskan diri sendiri, kecuali kalau hanya money oriented.
Kalaupun ada energi tersisa, biasanya hanya untuk nulis blog seperti ini, atau nulis esai sederhana di Kompasiana.
Tapi ide-ide untuk dituangkan dalam novel atau cerpen sudah beberapa kali berkelindan dikepala. Biasanya, jika tak dicatat, akan menguap begitu saja bersama waktu. Cara paling mudah adalah mencatatnya. Tapi biasanya, mencatat sekarang, tapi dikerjakan sebulan lagi, moodnya sudah beda.
Sekarang ini saya sedang mengumpulkan lagi energi untuk menulis novel kembali. Membiasakan membaca novel, yang sempat terlalaikan karena seringnya membaca artikel di internet. Ngobrolin tentang novel dengan komunitas penulis, hingga melakukan meditasi pribadi untuk mendapatkan mood menulis novel.
Saya masih belum tahu, apakah akan menyelesaikan yang sudah ada, atau membuat yang baru. Tapi keduanya sudah ada dalam fikiran. Tinggal memilih salah satunya. (*)
Blitar, 19 Agustus 2016
A Fahrizal Aziz
Saturday, March 5, 2016
| Ilustrasi : Soto Ayam |
Ada sebuah tulisan berjudul "Indonesia taste of Asia" yang pernah saya tulis. Juga ada yang berjudul "Indonesia negara kopi". Dua tulisan itu, secara eksplisit untuk mengangkat budaya kuliner Indonesia.
Ternyata ada yang mengkritik tulisan itu secara pribadi kepada saya. Katanya, saya kampanye budaya konsumeristik. Mengajak orang doyan makan. Katanya, sama saja saya menghamba kepada nafsu duniawi.
Saya tidak pernah punya pikiran seperti itu. Saya pun juga harus jelaskan bahwa saya memang suka makanan, sebagaimana manusia biasa. Tapi saya tidak doyan makan apalagi sampai menghamba konsumeristik.
Komentar bapak itu awalnya saya jawab dengan sangat sederhana "Tapi anda lebih gemuk dari saya." hehehe
Artinya saya tidak ingin menyederhanakan sebuah ide. Ide tentang kulinasi, adalah upaya untuk menghargai kekayaan bangsa serta etos masyarakat kita. Bukan kampanye "nafsu duniawi".
Kalau masalah nafsu duniawi, atau konsumerisme itu soal perilaku sosial. Toh, banyak sekali produk makanan dan minuman dari luar negeri, yang dikemas sedemikian rupa, berjaya begitu megahnya karena kekuatan kapital. Capital Power.
Saya juga baru tahu bahwa ide yang menurut saya memiliki dimensi yang luas itu. Tidak hanya dari segi kekayaan kuliner, tapi juga dari segi ekonomi kerakyatan, ditangkap begitu sederhananya dan begitu negatifnya. Tapi tidak apa-apa, toh saya masih bisa memberikan penjelasan tambahan.
Untuk menyakinkan apakah saya menghamba pada konsumerisme, atau memiliki nafsu duniawi yang doyan makan, bisa dilihat secara langsung. Saya tidak gemuk. Bahkan sebagian orang menyebutnya kurus. Meski sebenarnya juga tak kurus-kurus amat.
Bahkan bapak itu --sekilas dari perawakannya di fotonya yang terpublish di sosial media-- tampak lebih gemuk dan perutnya sedikit buncit.
Baru kali ini ada bapak buncit yang bilang saya doyan makan. Hehe
1 Maret 2016
A Fahrizal Aziz
A Fahrizal Aziz
Subscribe to:
Posts (Atom)
