renungan

Monday, October 5, 2020




Sejarah bisa saja hilang. Kita hanya tahu bahwa masa lalu telah terjadi, namun tidak bisa terhubung.

Cerita masa lalu biasanya dituturkan secara lisan, turun temurun. Lewat dongeng, legenda, mitos.

Sementara, tradisi lisan bisa saja padam. Cerita dari mulut ke mulut, tidak akan semuanya diingat. Sangat mungkin terputus.

Sementara, sumber sejarah telah tiada. Dokumen-dokumen tak terarsipkan dengan baik, generasi lama juga telah banyak yang meninggal. Tak ada lagi yang  bisa ditanyai, apa yang pernah terjadi di masa lalu?

Generasi penerus, tak pernah tahu jika kemudahan yang dirasakan kini adalah urun keringat dari para perintis masa lalu, yang mereka tak kenali.

Karena sejarah terputus, mereka bisa saja mengalami disorientasi. Apa dan bagaimana selanjutnya? Apa sebenarnya tujuannya?

Karena tak tahu sejarahnya, maka jalan yang mereka lalui bisa saja keluar rel yang semestinya. Tidak lagi menapaki "jalan lurus" yang diperjuangkan generasi terdahulu.

Maka sejarah itu penting, agar ada estafet, kesinambungan orientasi. Ibarat rumah, sudah ada pondasinya, maka jangan bongkar pondasi dan bikin baru lagi. Sebab rangka bangunan sudah didesain, tinggal dilanjutkan dan dikembangkan, namun tidak merubahnya dari desain awal. Jika dirubah-rubah, maka kapan akan selesai?

Ya, begitu ibaratnya. Generasi yang tak tahu sejarah hanya akan mengulang hal-hal yang sama. Pondasi sudah dibangun, masih juga meributkan bagaimana bentuk pondasinya. Padahal tugasnya adalah membuat tembok, generasi setelahnya membuat atap dan seterusnya sampai rumah bisa nyaman dihuni.

Tidak hanya itu, generasi yang tidak tahu sejarah jadi kurang punya rasa terima kasih, empati, tidak paham jika apa yang kini ia rasakan adalah buah perjuangan generasi sebelumnya.

Juga kesalahan generasi sebelumnya yang tidak sempat menceritakan sejarah, atau menuliskan sejarah, sehingga generasi penerus jadi bersikap semaunya, tidak punya unggah ungguh, dan tak peduli pada generasi terdahulu.

Maka, sejarah harus dituliskan. Dibukukan. Agar bisa diakses, tanpa tergantung pada teknologi. Meski teknologi juga kian canggih. Namun secanggih apapun teknologi, tetap ada batasannya.

Sejarah harus ditulis secara periodik, agar kisah demi kisah tersambung. Jika tidak sekarang, lalu kapan?

Kita tak bisa menunggu. Setiap orang dibatasi waktunya untuk hidup. Menunggu sampai semua telah berpulang baru kita sadar bahwa banyak hal dari masa lalu yang tidak kita ketahui? Sadar bahwa kita tidak sempat sekadar berucap terima kasih pada generasi yang telah membukakan jalan untuk generasi berikutnya?

Itu sangat menyedihkan. Hal yang sama mungkin juga terjadi pada kita, ketika sejarah perlahan terhapus hanya karena tak sempat dituliskan. []

Blitar, 4 Oktober 2020
Ahmad Fahrizal Aziz




Jumat, 21 Februari 2020

Namanya memang bukan Panti Jompo, tetapi Taman Lansia. Meskipun sebenarnya sama saja. Kendati demikian, pemilihan nama sangat berpengaruh secara psikologis.

Panti Jompo, ada kata jompo yang membuatnya terlihat muram. Tempat berkumpulnya orang-orang jompo, yang fisiknya sudah renta, sering masuk angin, encok, asam urat, dan sebagainya.

Kalau taman, adalah tempat yang indah, sejuk nan membahagiakan. Tempat untuk rekreasi atau bersantai.

Itulah kenapa Ki Hajar Dewantara menamai sekolahnya Taman Siswa. Bahwa agar terkesan jika belajar itu asyik, indah, menyenangkan.

-00-

Sebagian yang tinggal di Taman Lansia, karena keinginan sendiri. Bukan karena anaknya kurang perhatian. Anaknya rutin mengisi saldo rekening bulanan, namun kesibukan kerja di luar kota tak bisa ditawar.

Berkumpul dengan teman seumuran, meski sama-sama sudah renta, itu membahagiakan. Kalau di rumah, kesepian sekali. Apalagi, jika teman seusia satu per satu telah tiada. 

Pagi hari, di masa-masa pensiun, biasanya berbincang dengan teman A, teman B, ya untuk mengisi waktu. Berbagi rasa dan cerita. Namun mereka telah berpulang. Satu per satu.

Dada saya berdesir tiap kali mendengar kata "berpulang", apalagi diucapkan langsung oleh penghuni taman lansia.

Tiap kali ada teman sebaya yang berpulang, rasanya sesak di dada. Atau ketika teman sesama penghuni taman lansia dijemput keluarga. Entah karena kondisi kesehatan atau alasan lainnya, belum tentu mereka akan kembali.

Meski rata-rata baru kenal, namun keakraban di rumah singgah itu begitu erat. Rasa haru dan sedih mendalam ketika tersiar kabar ada yang berpulang, sembari mengingat kapan dan topik apa yang dibahas saat terakhir kali berbincang dengan teman yang berpulang itu.

Waktu memang pergi, namun kenangan tetap tinggal. Begitu kata pepatah.

"Kalau batas rata-rata usia manusia itu 63 tahun, berarti mbah sudah bonus nak," Ucap salah seorang.

Saya tersenyum mendengarnya. Jadi jika usia saya sekarang 27, kira-kira saya hidup 36 tahun lagi ya? bisa lebih, bisa kurang, wallohu'alam.

"Rasanya jadi tua itu gini, sakit-sakitan, mau mengeluh takut merepotkan anak, mau kerja sudah ndak kuat, rasanya hidup cuma jadi beban," Sahut yang lain.

Susah payah saya menahan diri untuk tidak menitikkan air mata, berulang kali menatap ke langit-langit dan menghela nafas panjang. Rasanya pilu sekali.

Apalagi, ketika salah seorang melantunkan tembang jawa sembari menenun, meski tone suaranya sudah aus, masih terdengar begitu merdu. Benar-benar menyesap ke dalam hati.

Bernyanyi adalah salah satu cara menghibur diri, dan itupun juga sering saya lakukan.

"Tetapi kita semua bahagia kan," Salah seorang pendamping pun berusaha memecahkan suasana.

-00-

"Kuliah di mana?"

Seorang kakek menanyai saya, kala duduk di teras Masjid daerah Kertoraharjo Kota Malang, selepas shalat ashar.

Kesehariannya, beliau rutin ke Masjid, karena sudah pensiun. Namun fisiknya nampak masih bugar.

Kami berbincang sejenak, beliau bercerita tentang kegiatannya, juga pekerjaannya terdahulu. Sesekali menceritakan kesuksesan anak-anaknya.

Namun, bisa kumpul semua hanya saat lebaran. Istrinya sudah berpulang, mendahuluinya. Aktivitasnya lebih banyak di Masjid.

"Asyik juga kalau bisa menulis, ingin sekali menuliskan kisah hidup," Komentar beliau, saat saya sedikit menjelaskan kegiatan dan komunitas.

Sore itu, saya juga baru selesai liputan, dan sedang memangku laptop, menulis berita di teras Masjid.

Menulis adalah cara produktif menghabiskan hari tua. Tentu ada banyak pengalaman sewaktu muda, lebih dari setengah abad hidup di dunia.

Sayangnya, semakin bertambahnya usia, ingatan berangsur lemah. Sebab tidak semua orang memiliki ingatan tajam seperti Alm. Rosihan Anwar yang bisa tetap menulis dengan rapi dan runtut di usia 80 tahun.

Ada banyak cara mengisi hari-hari menuju tua, yang kerap terhinggapi rasa sepi. Sepi yang sebenarnya sepi. []

Kedai MuaRa
Ahmad Fahrizal Aziz

Monday, October 1, 2018



Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Dalam kebutuhan ada keinginan, namun tidak semua keinginan mengandung kebutuhan.

Makan adalah kebutuhan, namun muncul keinginan untuk memilih apa yang dimakan. Nasi pecel, nasi padang, atau nasi borang.

Keinginan tersebut bisa terpenuhi jika memiliki kemampuan, misalkan memiliki uang lebih untuk mewujudkan keinginan tersebut. Sehingga, meskipun di rumah ada nasi liwet lauk tempe, karena dorongan keinginan, tetap akan pergi ke warung nasi padang.

Termasuk dalam kebutuhan lain, seperti berpakaian. Manusia butuh berpakaian agar lebih sehat, tidak masuk angin, gatal-gatal dan lain sebagainya.

Namun keinginan, membuatnya akan memilih jenis pakaian, mulai dari jenis kain, warna, hingga modelnya. Keinginan kadang juga disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.

Karena tubuhnya bagus, kekar, maka menggunakan kaos yang ketat. Atau karena tubuhnya langsing dan seksi, maka menggunakan celana ketat.

Keinginan juga berkaitan dengan prestise atau kesan orang terhadapnya. Kenapa menggunakan batik, baju koko, kemeja polos, hingga hal-hal yang bersifat asesoris seperti jam tangan, syal, kalung, dan lain sebagainya.

Dua hal di atas adalah keinginan yang berkaitan dengan kebutuhan. Lalu bagaimana dengan keinginan yang tidak berkaitan dengan kebutuhan?

Sebenarnya berbeda tipis. Bahkan keduanya nyaris sama. Seperti kebutuhan makan tadi. Dia bisa saja makan nasi yang ada di rumah, kebutuhan sudah terpenuhi. Namun karana ada keinginan lain, sehingga makan ke warung.

Dia sebenarnya tidak perlu ke warung, karena di rumah sudah ada makanan, yang meski rasanya tidak seenak di warung.

Namun jika itu dikontrol, mungkin tidak akan ada yang mubazir. Uang yang seharusnya dia gunakan ke warung, barangkali bisa untuk hal lain.

Artinya ke warung bukan lagi kebutuhan. Lebih karena keinginan.

Akan tetapi keinginan manusia selalu berkembang, dan bahkan berada pada tahap irasional.

Seperti keinginan untuk dihargai, dipuji, dikagumi, dicintai dan lain sebagainya. Itu semua keinginan yang sama sekali tak berkait dengan kebutuhan. Meski keinginan yang terus diburu akan jadi semacam kebutuhan baru.

Keinginan bisa terhenti karena tidak adanya kemampuan. Misalkan, ingin beli mobil mewah tetapi tak punya cukup uang.

Ingin beli hape terbaru, model jaket terbaru, merk sepatu yang sedang trend, tas dengan brand tertentu, dan lain sebagainya, namun tidak memiliki kemampuan.

Sementara, pergaulan sosial memberikan tampat khusus dan stigma tersendiri bagi mereka yang memiliki barang-barang tersebut.

Keinginan kemudian menjadi hal yang sungguh menyiksa, ketika tak memiliki kemampuan untuk mewujudkan.

Pada akhirnya, sebagaimana teori Sigmund Freud, ada konflik dalam diri. Ada ketidakseimbangan karena ego yang berupa keinginan dan kepuasan tersebut tidak terpenuhi.

Hal tersebut akan terus terjadi, baik ketika ada atau tidaknya kemampuan untuk mewujudkan keinginan. Arti dari "kebutuhan" pun kian bergeser.

Itu barangkali lebih berat secara psikologis, dibandingkan mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti makan.

Itulah kenapa banyak kasus orang yang menurut kita hidupnya enak dan berkecukupan, namun tiba-tiba bunuh diri.

Kulminasi keinginan yang tidak pernah terpuaskan, sebab benar kata Freud, keinginan tak akan terpuaskan. Sehingga perlu kontrol atas diri (introyeksi), yang kita kenal dengan istilah superego.

Kemampuan memilah mana yang benar-benar kebutuhan, dengan keinginan yang akhirnya menjelma jadi kebutuhan.

Memilah mana keinginan yang wajar, dan keinginan yang berlebihan. Keinginan yang bisa dipenuhi tanpa menimbulkan masalah, dengan keinginan yang bisa meledakkan masalah dikemudian hari.

Mengontrol itu tidak mudah, apalagi jika punya kemampuan untuk mewujudkannya. Apalagi keinginan tersebut bersifat hedonis dan pragmatis berupa hasrat dan kenikmatan sekejap.

Semoga kita mampu mengontrol keinginan kita sendiri. []

Blitar, 28 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Thursday, September 27, 2018



Acara Tausiyah, khususnya tausiyah keagamaan yang dibawakan Ustad-ustad kondang selalu penuh dengan jamaah, bahkan jadi fenomena tersendiri.

Padahal mungkin isi tausiyahnya biasa saja, bahkan lebih menarik humornya. Bingkisan humor itu sering disebut sebagai daya tarik. Namun, ternyata bukan itu, ada sisi lain yang menjadikan kegiatan tausiyah keagamaan jadi semacam kebutuhan.

Selain kebutuhan fisik, manusia juga membutuhkan sentuhan spiritual. Misalkan, Abu Zaid Ahmad Ibn Sahl al-Balkhi membagi antara kesehatan ruhani (tibb al-ruhani) dan kesehatan mental (tibb al-qalb).

Ada perbedaan antara ruhani yang lebih terkait pada sisi psikologi seseorang, dengan qalb (kalbu) yang lebih menyoroti mental.

Sebagaimana tubuh yang harus rutin menerima asupan makanan agar berenergi dan tidak sakit, tausiyah keagamaan disisi lain juga asupan bagi qalb (kalbu).

Ruhani dan qalb setiap manusia sangat rawan terserang penyakit, seperti depresi, rasa sedih, cemas, ketakutan dan lain-lain.

Penyakit tersebut jika menyerang seseorang, akan berdampak pada gangguan fisiknya. Hanya saja, ketika diteliti secara medis, tidak ditemukan tanda-tanda ada penyakit dalam tubuhnya.

Fenomena ini disebut psikosomatik. Jika ditelusur, psikosomatik ini nyaris mirip dengan sebutan orang seperti "sakit pikir", artinya ada orang yang sakit-sakitan karena tidak kuat menanggung beban pikiran.

Tausiyah keagamaan jadi menemukan relevansinya, ketika orang merasa tenang dan damai berkumpul dengan jamaah lain, mendengar apa yang disampaikan dai. Ada nilai spiritual yang dirasakan.

Manusia membutuhkan nasehat orang lain, apalagi orang tersebut tokoh yang bisa membimbing ke jalan spiritual. Hal tersebut bisa meredam pikiran negatifnya sendiri, yang sering dihinggapi kesedihan, kekhawatiran, kecemasan, rasa takut, dan sebagainya.

Mereka yang hadir dalam keadaan pasrah, percaya sepenuhnya pada yang disampaikan, tanpa perlu mempertanyakan. Itu kuncinya.

Meski tidak semua orang begitu, ada yang bisa mendamaikan dirinya sendiri, dengan mengembangkan pikiran positif dalam dirinya sendiri.

Pada dasarnya, manusia akan selalu mencari kebahagiaan. Dalam rutinitas kerja yang padat misalkan, disela libur ada agenda piknik, agar pikiran segar kembali.

Dalam bayang-bayang kesedihan, kecemasan dan ketakutan dalam hidup misalkan, manusia akan mencari ketenangan. Mencari ketenangan beda hal dengan hanya sekedar mencari kebahagiaan atau kesenangan.

Untuk mencari ketenangan bisa juga dengan ikut dzikir akbar. Ada juga yang menjalankan meditasi, ada yang cukup dengan ngopi dan berbincang bersama teman. Namun teman yang mengajak untuk berpikir positif.

Sementara hadir di acara tausiyah akbar adalah salah satu alternatif yang paling populer : dapat wawasan, rasa tenang, bisa tertawa, dan ... dapat pahala.

Blitar, 26 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Monday, September 24, 2018



Sifat fanatik memicu hilangnya kesadaran. Hal inilah yang pernah dikaji oleh Ibnu Sina, ahli kedokteran atau fisiologi, tentang gangguan mental seseorang karena terlalu suka (maniak) pada sesuatu.

Teori ini kemudian disebut frenologi.

Rasa suka dan bangga adalah hal wajar, namun tidak wajar lagi jika sudah menjadi maniak. Karenanya istilah "mania" atau "maniak" sebenarnya istilah untuk menyebut seseorang yang mengalami gangguan jiwa, sayangnya justru dijadikan kebanggaan.

Tiga abad sebelum masehi, Plato sudah mengidentifikasi 3 kelas jiwa. Salah satunya, Thumoeides, yaitu jiwa yang hanya mengandalkan amarah.

Jika dikaitkan, sifat fanatik melahirkan banyak Thumoeides, lebih suka bermain kasar, mengedepankan amarah, bahkan rela berkorban nyawa.

Dalam kelompok tertentu, Thumoeides ini sering dijadikan "tukang gebuk". Suasana mental dan jiwanya dikondisikan untuk itu. Maka jangan heran jika ada orang rela jadi tumbal bom bunuh diri, demi kebanggaan pada sesuatu yang ia sangat fanatik terhadapnya.

Lalu, bagaimana dengan fanatik terhadap club sepakbola? Sampai ada tragedi baku hantam antar supporter yang menyebabkan nyawa melayang. Apa sebenarnya yang dicari dari itu semua?

Memang sangat membingungkan, apalagi dalam kelompok massa. Kesadaran diukur dari kelompok tersebut. Misalkan, ada maling ayam dihajar warga hingga tewas, tanpa berfikir bahwa perlakuan itu justru jauh lebih keji dari sekedar mencuri ayam.

Persinggungan massa memang sulit dihentikan. Termasuk ketika dua massa dari kelompok yang berseteru bertemu, ya katakanlah antar supporter club bola yang memiliki sejarah perseteruan yang panjang.

Meski generasi berubah, meski pelatih dan pemain itu telah berganti, mungkin kepemilikan club juga berganti, termasuk sebagian besar supporternya sudah beda generasi, namun sentimen keduanya tetap abadi.

Berbeda dengan fanatik terhadap agama misalnya, yang masih punya dasar teologis, Tafsir bahwa dengan sikap tersebut, ia akan mendapat surga misalkan.

Bisa juga fanatik pada organisasi, pada tokoh yang ia junjung, bahwa kepatuhan dan loyalitas tersebut akan memberikan keberkahan misalkan.

Lalu bagaimana dengan fanatik dengan club sepakbola, yang pemain dan pelatihnya terus berganti, yang tidak memiliki justifikasi teologi. Tidak ada yang berani bilang dengan mendukung klub tertentu akan jadi kaya atau masuk surga.

Apakah yang semacam itu perlu dimaklumi? Mengingat fanatisme itu ada dimana-mana, termasuk pada pasangan capres dan cawapres. Tidak hanya pada klub sepakbola. []

Blitar, 24 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Monday, August 13, 2018


Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz


Kuliner khas kini tak lagi benar-benar khas. Misalkan brem madiun. Kita tidak perlu jauh-jauh kesana untuk mendapatkannya, bisa dibeli di toko oleh-oleh terdekat.


Atau bakpia patok yang khas Jogja. Kini bakpia dijual dimana-mana. Tidak perlu ke Jogja, bisa didapat di toko oleh-oleh Semarang, Kudus, Trenggalek, dan lain-lain.


Kuliner khas, seperti batagor dan siomay Bandung, soto Lamongan, kerak telor Jakarta, mie ayam Solo, ayam betutu Bali, dan nasi Padang juga sudah banyak hadir di berbagai kota.


Jadi apalagi yang khas? Waktu dulu ke Bandung, saya mampir pasar baru, ada warung batagor. Rasanya ya sama saja dengan batagor yang dijual di Blitar. Malah penjualnya orang Sukabumi.


Tidak ada lagi yang benar-benar khas. Termasuk sate madura. Kini sate dimana-mana juga ada. Banyak yang sudah meng-copy atau disebarluaskan oleh para perantau.


Apalagi dengan munculnya aplikasi jual beli online. Kita bisa memesan pudak dari Gresik, atau lumpia Semarang, atau bandeng tanpa duri yang diproduksi sekitar pantura.


Yang khas hanya tinggal suasana, dan perasaan kita. Batagor yang rasanya sama, ketika menyantapnya di Kota Bandung dengan di Malang, tentu berbeda. Bedanya pada suasana.


Nasi kucing dan kopi ojos, yang ada juga di sekitaran Sidoarjo, namun beda rasa kalau menikmatinya di Jogja. Begitu pula dengan nasi padang yang asli buatan Bundo dengan Bundo kota lain.


Kalau bepergian keluar kota, mau cari oleh-oleh yang benar-benar khas, yang adanya cuma di daerah tersebut juga susah. Misalkan yang khas di Wonogiri adalah kacang mede, di kota-kota lain kacang mede juga ada.


Tetapi suasana tidak bisa ditawar. Kalau direnungkan lebih mendalam lagi, apa sih yang istimewa dari Jogja? Bagi yang beberapa kali kesana pasti ya biasa saja.


Okelah, Jogja memang melahirkan banyak seniman dan tokoh dalam lintas bidang, seperti Kota Bandung dan Malang. Itu yang spesial. Ada cara merayakan suasana dengan seni. Ada lagu Kla Project yang terkenal.


Jogja tercipta dari rindu, kata orang. Berbagai narasi, angan-angan, dan segala yang dihunjamkan ke benak kita membuat apa yang di Jogja menjadi istimewa.


Itulah hebatnya daya cipta. Jogja spesial karena ada orang-orang seperti itu, yang pandai menarasikan sesuatu, sekaligus mendramatisirnya.


Di Blitar juga ada. Saya bayangkam betapa syahdunya jalanan dari perempatan lovi hingga alun-alun, atau suasana sore yang tenang di pelataran istana gebang. Permainan musik akustik di Ampyteater Makam Bung Karno pada sore dan malam hari yang tentu memukau.


Tak kalah syahdu. Namun hati kita tidak sepenuhnya disitu. Hati kita berada di tempat lain, yang jauh disana, di Jogja, Malang, Batu, Bandung, atau Bali yang menurut kita menawarkan suasana lebih syahdu.


Yang khas, dan benar-benar khas, hanyalah cara kita memaknai suasana.


Begitulah. Salam rindu. []


Blitar, 8 Agustus 2018

Wednesday, June 13, 2018


Oleh Ahmad Fahrizal Aziz


Akhir 2009, dalam sebuah percakapan, seseorang menceritakan pengalamannya berkunjung ke Blitar. Dia asal Pekalongan, dan tergerak untuk datang ke Blitar karena ada "Bung Karno" disana.


Katanya, Kota Blitar begitu sepi. Ia mampir ke alun-alun, sama sekali tak ada yang istimewa. Hanya serupa lapangan biasa, dan deretan penjual yang mengitarinya.


Kota-kota lain mungkin menawarkan lebih, apalagi kami yang kala itu sama-sama sedang kuliah di Malang. Blitar kalah segalanya : tata kota, pusat belanja, tempat nongkrong, hiburan, kampus, dan lain-lain.


Blitar hanya menang satu hal saja ; disini ada makam Bung Karno. Tokoh revolusi. Hanya lokasinya ratusan kilometer dari Ibukota Jakarta. Teman sekamar saya di asrama, yang asal Medan, baru tahu kalau Bung Karno dimakamkam di Blitar.


***
Awal 2010, dalam sebuah pidato perpisahannya sebagai Walikota, Djarot mendapat pertanyaan : Blitar ini kok tidak maju-maju pak? Anak-anak muda kalau belanja dan nonton film saja harus ke kota tetangga.


Djarot memang menolak pendirian mal. Sangat tegas menolak. Idealismenya kuat soal ini. Jawabnya : jangan sampai anak-anak Blitar terjangkiti virus hedonisme dan konsumerisme.


Terasa ketika saya aliyah, di malam minggu yang panjang, tak ada fikiran untuk sekedar nongkrong di cafe. Paling hanya warung kopi. Mungkin juga karena coffe culture belum populer seperti sekarang.


Baru setelah berpindah ke kota sebelah, terasa bedanya ; kerlap kerlip lampu kota, kerumunan orang di berbagai sudut, dan suasana malam yang hidup.


Saya baru menyadari jika Blitar memang sangat sepi. Kota pensiun kata orang-orang. Kota yang menghendaki ketenangan. Mula-mula memang menjenuhkan, terapi seperti jadi ciri khas tersendiri.


Setiap Jum'at malam di akhir bulan, ketika kereta api penataran menghantarkan saya pulang, terasa syahdu melihat perempatan kawi yang lengang.


***
Akhir 2011 dan seterusnya, sepertinya ada banyak perbedaan. Gedung Dipayana yang legendaris, yang di waktu saya kecil sering dijadikan tempat pertunjukan ludruk, ketoprak, dan teater, dipagari tinggi. Konon akan dibangun mal.


Cafe-cafe mulai menjamur. Minimarket juga tumbuh bersaing pada jarak yang berdekatan. Sekolah-sekolah mulai diseragamkan, dari tas sampai kaos olahraga. Hal-hal simbolik kembali dimunculkan, seperti busana djadoel.


Sekolah baru, dibangun begitu megah. Guru-guru terbaik dimutasi kesana. Dua kali saya masuk, mengamati dari dekat, dan terasa begitu diprioritaskannya.


Blitar bukan lagi kota pensiun. Sekarang cukup ramai. Ada taman dibangun di depan alun-alun. Taman di depan taman. Saling berhadapan.


Kawasan mastrip yang legendaris itu juga digusur, dipugar, dirapikan. Jalanan dibelah dua dan dilebarkan. Banyak kios dan ruko di sekitarnya. Saya mencari-cari gerobak penjual buku loak, yang sepertinya sudah tak ada.


Kota Blitar telah menjelma dalam wujud baru, yang lebih gemerlap. Ada banyak tempat nongkrong, pusat belanja, taman-taman, dan fasilitas lainnya.


Ada "kemajuan" yang dulu diimpikan. Sebagaimana kota-kota lain yang sedang tumbuh. Di areal wisata makam Bung Karno, ada beberapa titik pedestrian. Paving-paving untuk pejalan kaki.


Lebih indah, kata orang. Seperti khas-nya trotoar sepanjang jalan Braga atau Malioboro yang selalu terkenang dan sayang jika dilewatkan, untuk sekedar berfoto.


Kota ini memang tumbuh, dan terus tumbuh, meski tanpa lagi ingatan. Semua kota akan sama pada akhirnya. Jadi obyek proyek-proyek ambisius.


Sayangnya, seringkali proyek ambisius itu, menelan korban. Kalau hanya walikota yang diciduk KPK, itu biasa. Lebih dari itu, ada pergulatan sosial-budaya. Ada proses penggerusan, dan kita hanya bisa kembali merenung bersama buku-buku sejarah yang jarang lagi disentuh. []


Blitar, 13 Juni 2018
Di Penghujung Ramadan


Sunday, April 29, 2018

Saat usia di atas 40 tahun, mungkin orang mulai memperhatikan soal makanan, apakah sehat atau tidak? Apakah beresiko? Tentu setiap makanan akan mengandung resiko, tinggal apakah pengaruhnya secara drastis atau tidak.


Beberapa kasus kematian, yang terbilang dadakan, sering karena terlalu banyak makan. Seperti, terlalu banyak makan durian, atau terlalu tinggi tingkat konsumsi gula.


Tubuh ternyata punya takarannya sendiri.


Salah satu penyakit yang paling dirisaukan, terutama bagi yang berusia di atas 40 atau 50 tahun, adalah diabetes. Dulu istilah ini sangat asing, sekarang menjadi sangat familiar. Sebab ya, banyaknya yang terserang.


Diabetes pun ternyata banyak macamnya, dan bisa berkaitan dengan penyakit-penyakit lain yang seirama, seperti misal darah tinggi dan stroke.


Sekarang apa makanan yang tidak mengandung gula? Kue, camilan, minuman, bahkan jamu pun ditambah gula, demi menetralisir rasa pahit. Padahal namanya jamu ya harusnya pahit, namanya obat pasti tidak enak.


Saya juga baru tahu bahwa diabetes bisa membuat pandangan mata kabur, seperti rabun plus, rabun dekat. Bahkan pada taraf tertentu, bisa menyebabkan kehilangan penghilatan. Apa karena juga terlalu banyak konsumsi gula?


Setidaknya itulah yang dialami tetangga saya. Ketika terakhir saya menjenguk di rumah sakit, penglihatannya sudah hilang. Hanya masih bisa bercakap, dan mendengar dengan baik. Segala macam pengobatan sudah di tempuh, meski akhirnya Tuhan berkehendak lain, bapak itu meninggal.


Salah satu dampaknya lagi, bahwa diabetes menyusutkan badan. Ada yang dulu bertubuh ideal dan segar bugar, karena terserang diabetes menjadi susut, kurus, dan tulang pipinya terlihat. Apa karena terlalu banyak konsumsi gula?


Entahlah, namanya penyakit memang sulit diterka. Kadang yang sudah hidup serba sehat, dengan pola makan yang baik, dan rajin olahraga, juga bisa terserang penyakit. Begitupun sebaliknya.


Ada juga yang mungkin sejak muda sudah didera penyakit, namun ternyata berumur panjang. Tapi tak sedikit pula, yang menerapkan hidup sehat, rajin olahraga, dan kesehatannya pun terjaga. Manusia hanya mampu berikhtiar.


Betapa ternyata, makanan yang kita kunyah sehari-hari, yang terasa gurih nan nikmat, menyimpan "bom waktu" kemudian hari. Apalagi jika konsumsinya tak beraturan.


Betapa ternyata, banyak yang tumbang karena diabetes, yang faktor utamanya dari makanan atau minuman, dari hasrat yang tak terbendung dari lidah kita sendiri, yang rasanya jadi pahit dan asam jika tidak mencicip yang manis-manis.


Semoga kita mampu mengontrolnya. []


Blitar, 28 April 2018
Ahmad Fahrizal Aziz


Thursday, February 22, 2018

Pagi hari, 20 Februari 2018, kami memacu motor ke arah yang berbeda. Saya terus ke utara, sementara keluarga saya belok ke timur, ke sebuah kerumunan yang tengah berduka. Kemarin ada kabar bahwa Mbokde (bibi Ibu saya) meninggal.

Mbokde adalah kakak dari nenek saya yang meninggal 15 tahun silam. Karena harus memandu sebuah acara dan tidak bisa digantikan, maka saya tidak ikut dalam rombongan takziah.

Terakhir bertemu mbokde sekitar dua bulan lalu, pada pernikahan cucunya yang seorang bidan itu. Namun sejak beberapa tahun belakangan, mbokde memang telah hilang ingatan. Mungkin semacam demensia. Tidak ada perbincangan, sebab tidak satu pun orang yang ia kenali, termasuk keluarganya sendiri.

Pada lebaran yang lalu, ketika kami mampir ke rumahnya yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pantai serang, tiba-tiba suasana haru menyeruak.

Teringat waktu masih sehat dulu, Mbokde sering menawarkan kopi hitam racikannya yang kental, atau menawarkan barang dagangannya, yang tentu diberikan cuma-cuma.

Teringat pula sambutan hangatnya ketika kami datang, yang sangat kontras berbeda dalam tiga tahun terakhir. Mbokde hanya duduk diam dan nampak linglung, melihat kami, sambil (mungkin) berusaha mengingat.

Pada suasana ini saya menyadari betapa sedihnya menjadi pikun. Sebab pada kondisi tertentu, kita mungkin pernah lupa pada sesuatu hal yang ingin sekali kita ingat. Lalu bagaimana jika yang lupa hampir semuanya?

Ingatan dan kesadaran adalah anugrah yang sering kita lupakan. Sebab ketika semuanya hilang, kita bukan lagi apa-apa. Pikun menjadi hal yang menakutkan di masa depan.

Selamat jalan Mbokde.

Blitar, 22 Februari 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

Thursday, August 3, 2017



Sebelumnya saya mohon maaf karena menggunakan kata "dipermainkan". Padahal tugas media itu memberikan informasi, bukan mempermainkan. Ini mungkin terkhusus bagi media yang memang suka main-main isu, atau orang yang membacanya memang belum siap secara psikis.

Jadi begini, sering kali kita amati di sosial media orang menulis hal-hal yang sebenarnya tidak patut diungkapkan, atau diutarakan di kehidupan nyata.

Rasa jengkel, benci, dendam, geregetan, sinis, dan lain sebagainya campur aduk tak beraturan. HANYA. ya. HANYA karena ia baru saja membaca sebuah postingan di sosial media, atau berita dari media. Baik cetak, elektronik atau daring.

Ini era yang siapapun bisa membuat media, terutama media daring. Dengan ongkos yang tak terlalu mahal, anda bisa membuat media daring dengan tagline tertentu, meski dengan kualitas isi yang awur-awuran : gaya bahasanya kacau, tanda baca berantakan, judul dan isi tidak singkron, dsb dsb.

Lebih parah lagi, jika orang marah, mencaci, sinis pada sesuatu hal, HANYA karena membaca judulnya saja. Ya, belum juga dibaca isinya, sudah menyimpulkan ini itu. Ketahuilah, meski usia telah dewasa, sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia itu "masih labil". Seperti ABG labil, yang mudah dimainkan perasaannya.

Aspek kehati-hatian mulai kita tinggalkan. Padahal hati-hati adalah ciri orang bijak. Menelaah lebih jauh, apakah ini berita logis atau tidak, benar atau tidak, murni atau tidak, atau ada kepentingan lain dibelakangnya?

Pembuatnya tentu telah menimang nimang dengan seksama. Bagaimana agar tulisan itu serupa minyak yang membakar emosi publik, atau api yang mempercepat mendidihkan perasaan pembaca. Jadi hati-hati.

Jika kita telah jadi konsumen mereka, atau budak dari isu-isu yang dibuat, kita telah terperangkap dalam jeruji maya yang sulit untuk keluar. Otak kita beku. Keras. Nan sulit menerima hal-hal yang berbeda. Emosi mudah diaduk-aduk dengan beragam berita.

Jadi dalam suasana yang serba membingungkan ini, cara termudah ya menjadi orang tengahan. Mencoba memahami, asal usul medianya, asal asul orang yang berpendapat, alasan demi alasan yang membuat kita tidak lantas terbawa begitu saja, apalagi sampai emosi dan tanpa kontrol.

Sulit? Ya memang begitu. Karena kita telah terbiasa menjadi konsumen yang terus dijejali tanpa ampun. Tanpa kita pernah meminta. Celakanya, kita terbawa arus dan mempercayainya begitu saja. []

Salam,
Ahmad Fahrizal Aziz
2 Agustus 2017

Thursday, September 1, 2016


Oleh A Fahrizal Aziz
Kata bajingan disini memang tidak perlu disensor, karena bajingan sebenarnya bukan kata kotor. Hanya sering dijadikan padanan untuk orang yang dinilai kotor. Bajingan sendiri dari kata Bajing. Bajing adalah jenis hewan. Sama dengan anjing, jangkrik, jaran, asu, dsj yang sering jadi padanan yang mewakili emosi seseorang.

Tulisan ini pun hanya sebagai tumpahan saya pribadi, hasil dari tidak singkronnya antara nalar pribadi dengan persepsi publik atas moralitas dan stigma.

Bahwa manusia kadang hanya dibagi dalam dua hal : baik dan buruk. Seolah hanya hitam dan putih. Padahal keduanya bukanlah warna. Keduanya adalah netralitas. Hitam selalu dikaitkan dengan keburukan. Padahal hitam adalah keabadian, gelap adalah keniscayaan. Hitam adalah sahabat kita setiap malam, kala lelap.

Begitu pun dengan putih. Stigma atasnya selalu positif. Padahal bisa jadi putih itu racun, yang menyusup dalam warna-warna, yang justru mengaburkan keindahan. Merusak yang bening.

Artinya, dalam hitam ada kebaikan, begitupun sebaliknya. Relativitas atas keduanya begitu kuat. Termasuk dalam perilaku dan sikap manusia. Stigma tidak selalu mewakili seluruh sisi manusia tersebut. Tidak semua bajingan itu seluruhnya jahat, begitupun sebaliknya. Saya pun juga punya sisi bajingan, yang terbungkus dalam kamuflase bernama moralitas.

Saya bukan hitam. Bukan pula putih. Tapi bisa keduanya, bisa juga tidak dua-duanya. Dalam otak saya, ada fikiran bengis, sundal, kotor. Tapi ada pula fikiran-fikiran baik. Keduanya dicerna oleh nalar, hingga kemudian kita memilih untuk menjalankan yang mana.

Orang yang menyebut diri bajingan, atau yang cara berpakaian dsb mempersonifikasikan diri dalam stigma itu, menemukan sebuah ke-cairan tersendiri. Meski kita tidak cocok dan tidak sependapat.

Hal sebaliknya, ketika publik punya persepsi atas orang bermoral, maka tak sedikit dari kita yang berusaha menjadi “produk stigma” tersebut. Ada sesuatu yang sebenarnya tidak tulus dengan cara kita berpakaian, atau bertutur. Kita melakukan itu hanya untuk memenuhi ekspektasi publik.

Apapun itu, pertanyaan atas “siapa saya”, selalu terkait dengan “dimana saya”. Kita berada disebuah kultur mayoritas yang anti disebut bajingan. Tapi berapa orang yang benar-benar tulus, kita pun juga tak tahu pasti. (*)

Blitar, 1 September 2016
A Fahrizal Aziz

Tuesday, August 30, 2016



Segelas teh

Untuk apa bekerja? Yang pertama, tentu utuk menghasilkan uang. Uang itu digunakan untuk menyambung hidup, membeli kebutuhan, serta membiayai keinginan.


Kedua, untuk sebuah values (nilai-nilai). Pekerjaan yang dipilih, tentu tidak semata sebagai maisah atau sumber penghidupan, tapi juga memberikan nilai bagi orang lain.

Anda bekerja sebagai guru, tentu juga membutuhkan gaji bulanan dan tunjangan, tapi ada nilai lain dari pekerjaan itu, ialah mencerdaskan peserta didik, membekali mereka dengan wawasan dan moral yang bisa menjadi pegangan hidup dalam tumbuh kembangnya mereka hingga dewasa kelak.


Anda bekerja sebagai birokrat, mendapatkan gaji pokok dan tunjangan, tapi punya nilai yang lebih dalam melayani masyarakat mengurus segala kebutuhan yang berkaitan dengan administrasi kependudukan, dan lain sebagainya.


Bahkan sebagai pedagang, meski menerapkan logika untung-rugi, tapi tiap pedagang punya nilai untuk menawarkan barang dagangan yang terbaik. Misal pedagang makanan, selain berupaya menyajikan hidangan yang enak, juga disertai dengan komitmentnya menyajikan makanan yang sehat.


Begitupun yang bergelut dibidang jasa. Jasa periklanan misal, akan mencoba semaksimal mungkin membantu klien untuk membuat materi iklan yang bagus dan punya impact bagi klien yang mempercayakan periklanan kepadanya.


Termasuk, para neterpreneur muda yang lihai mengelola media online. Ada ribuan viewer yang bisa mereka hadirkan, akan banyak juga pundi-pundi rupiah yang masuk rekening karena banyaknya viewer itu. Tapi harus punya nilai untuk menyajikan konten-konten yang positif dan mencerahkan. Bukan konten yang sekedar populer, tapi justru merusak pola pikir banyak orang.


Intinya, pekerjaan itu selain menghasilkan uang, juga menghasilkan value. Agar menghasilkan value, kita harus punya passion, minat, dan penghayatan atas pekerjaan tersebut.


Apa pekerjaan impian kita? Our dreams jobs. Pekerjaan yang mewakili jiwa kita, yang menghasilkan uang sekaligus value. Kata Ridwan Kamil, pekerjaan paling menarik adalah hobi yang dibayar.


Karena hobi, biasanya ada minat, ada rasa senang ketika melakukannya. Hobi tentu banyak variasinya, tidak saja dari seni dan olahraga. Bahkan membantu orang pun bisa jadi hobi. Jualan bisa jadi hobi. Memasak bisa jadi hobi. Berorganisasi bisa jadi hobi. Membaca dan menulis bisa jadi hobi. Menggambar juga hobi. Berdandan, bergaya, drama, juga bisa jadi hobi. Utak atik software dan hardware komputer juga bisa jadi hobi. Bahkan jalan-jalan pun bisa jadi hobi.


Hobi itu macam variasinya. Siapa kira kalau jalan-jalan kini justru bisa menghasilkan uang, bukan justru menghabiskan uang. Di era internet, sudah banyak istilah travelblogger. Ada fotografer spesialis alam, yang kerjanya menjelajah kemana-mana. Mereka sudah menemukan dream job-nya.


Saya pun juga punya dream job. Dari hobi, passion, dan minat. Dari latar keluarga, lingkungan, dan pergaulan. Tapi mewujudkan dream job tetap butuh keuletan. Karena ada banyak hal yang harus kita hadapi untuk mewujudkan dream job tersebut. Pasti tidak selalu mudah, ada banyak tantangan.


Apa dream job kalian?


Blitar, 30 Agustus 2016
A Fahrizal Aziz
Di Penghujung Agustus yang mendung.

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi