Monday, October 5, 2020
Monday, October 1, 2018
Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Dalam kebutuhan ada keinginan, namun tidak semua keinginan mengandung kebutuhan.
Makan adalah kebutuhan, namun muncul keinginan untuk memilih apa yang dimakan. Nasi pecel, nasi padang, atau nasi borang.
Keinginan tersebut bisa terpenuhi jika memiliki kemampuan, misalkan memiliki uang lebih untuk mewujudkan keinginan tersebut. Sehingga, meskipun di rumah ada nasi liwet lauk tempe, karena dorongan keinginan, tetap akan pergi ke warung nasi padang.
Termasuk dalam kebutuhan lain, seperti berpakaian. Manusia butuh berpakaian agar lebih sehat, tidak masuk angin, gatal-gatal dan lain sebagainya.
Namun keinginan, membuatnya akan memilih jenis pakaian, mulai dari jenis kain, warna, hingga modelnya. Keinginan kadang juga disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.
Karena tubuhnya bagus, kekar, maka menggunakan kaos yang ketat. Atau karena tubuhnya langsing dan seksi, maka menggunakan celana ketat.
Keinginan juga berkaitan dengan prestise atau kesan orang terhadapnya. Kenapa menggunakan batik, baju koko, kemeja polos, hingga hal-hal yang bersifat asesoris seperti jam tangan, syal, kalung, dan lain sebagainya.
Dua hal di atas adalah keinginan yang berkaitan dengan kebutuhan. Lalu bagaimana dengan keinginan yang tidak berkaitan dengan kebutuhan?
Sebenarnya berbeda tipis. Bahkan keduanya nyaris sama. Seperti kebutuhan makan tadi. Dia bisa saja makan nasi yang ada di rumah, kebutuhan sudah terpenuhi. Namun karana ada keinginan lain, sehingga makan ke warung.
Dia sebenarnya tidak perlu ke warung, karena di rumah sudah ada makanan, yang meski rasanya tidak seenak di warung.
Namun jika itu dikontrol, mungkin tidak akan ada yang mubazir. Uang yang seharusnya dia gunakan ke warung, barangkali bisa untuk hal lain.
Artinya ke warung bukan lagi kebutuhan. Lebih karena keinginan.
Akan tetapi keinginan manusia selalu berkembang, dan bahkan berada pada tahap irasional.
Seperti keinginan untuk dihargai, dipuji, dikagumi, dicintai dan lain sebagainya. Itu semua keinginan yang sama sekali tak berkait dengan kebutuhan. Meski keinginan yang terus diburu akan jadi semacam kebutuhan baru.
Keinginan bisa terhenti karena tidak adanya kemampuan. Misalkan, ingin beli mobil mewah tetapi tak punya cukup uang.
Ingin beli hape terbaru, model jaket terbaru, merk sepatu yang sedang trend, tas dengan brand tertentu, dan lain sebagainya, namun tidak memiliki kemampuan.
Sementara, pergaulan sosial memberikan tampat khusus dan stigma tersendiri bagi mereka yang memiliki barang-barang tersebut.
Keinginan kemudian menjadi hal yang sungguh menyiksa, ketika tak memiliki kemampuan untuk mewujudkan.
Pada akhirnya, sebagaimana teori Sigmund Freud, ada konflik dalam diri. Ada ketidakseimbangan karena ego yang berupa keinginan dan kepuasan tersebut tidak terpenuhi.
Hal tersebut akan terus terjadi, baik ketika ada atau tidaknya kemampuan untuk mewujudkan keinginan. Arti dari "kebutuhan" pun kian bergeser.
Itu barangkali lebih berat secara psikologis, dibandingkan mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti makan.
Itulah kenapa banyak kasus orang yang menurut kita hidupnya enak dan berkecukupan, namun tiba-tiba bunuh diri.
Kulminasi keinginan yang tidak pernah terpuaskan, sebab benar kata Freud, keinginan tak akan terpuaskan. Sehingga perlu kontrol atas diri (introyeksi), yang kita kenal dengan istilah superego.
Kemampuan memilah mana yang benar-benar kebutuhan, dengan keinginan yang akhirnya menjelma jadi kebutuhan.
Memilah mana keinginan yang wajar, dan keinginan yang berlebihan. Keinginan yang bisa dipenuhi tanpa menimbulkan masalah, dengan keinginan yang bisa meledakkan masalah dikemudian hari.
Mengontrol itu tidak mudah, apalagi jika punya kemampuan untuk mewujudkannya. Apalagi keinginan tersebut bersifat hedonis dan pragmatis berupa hasrat dan kenikmatan sekejap.
Semoga kita mampu mengontrol keinginan kita sendiri. []
Blitar, 28 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Thursday, September 27, 2018
Acara Tausiyah, khususnya tausiyah keagamaan yang dibawakan Ustad-ustad kondang selalu penuh dengan jamaah, bahkan jadi fenomena tersendiri.
Padahal mungkin isi tausiyahnya biasa saja, bahkan lebih menarik humornya. Bingkisan humor itu sering disebut sebagai daya tarik. Namun, ternyata bukan itu, ada sisi lain yang menjadikan kegiatan tausiyah keagamaan jadi semacam kebutuhan.
Selain kebutuhan fisik, manusia juga membutuhkan sentuhan spiritual. Misalkan, Abu Zaid Ahmad Ibn Sahl al-Balkhi membagi antara kesehatan ruhani (tibb al-ruhani) dan kesehatan mental (tibb al-qalb).
Ada perbedaan antara ruhani yang lebih terkait pada sisi psikologi seseorang, dengan qalb (kalbu) yang lebih menyoroti mental.
Sebagaimana tubuh yang harus rutin menerima asupan makanan agar berenergi dan tidak sakit, tausiyah keagamaan disisi lain juga asupan bagi qalb (kalbu).
Ruhani dan qalb setiap manusia sangat rawan terserang penyakit, seperti depresi, rasa sedih, cemas, ketakutan dan lain-lain.
Penyakit tersebut jika menyerang seseorang, akan berdampak pada gangguan fisiknya. Hanya saja, ketika diteliti secara medis, tidak ditemukan tanda-tanda ada penyakit dalam tubuhnya.
Fenomena ini disebut psikosomatik. Jika ditelusur, psikosomatik ini nyaris mirip dengan sebutan orang seperti "sakit pikir", artinya ada orang yang sakit-sakitan karena tidak kuat menanggung beban pikiran.
Tausiyah keagamaan jadi menemukan relevansinya, ketika orang merasa tenang dan damai berkumpul dengan jamaah lain, mendengar apa yang disampaikan dai. Ada nilai spiritual yang dirasakan.
Manusia membutuhkan nasehat orang lain, apalagi orang tersebut tokoh yang bisa membimbing ke jalan spiritual. Hal tersebut bisa meredam pikiran negatifnya sendiri, yang sering dihinggapi kesedihan, kekhawatiran, kecemasan, rasa takut, dan sebagainya.
Mereka yang hadir dalam keadaan pasrah, percaya sepenuhnya pada yang disampaikan, tanpa perlu mempertanyakan. Itu kuncinya.
Meski tidak semua orang begitu, ada yang bisa mendamaikan dirinya sendiri, dengan mengembangkan pikiran positif dalam dirinya sendiri.
Pada dasarnya, manusia akan selalu mencari kebahagiaan. Dalam rutinitas kerja yang padat misalkan, disela libur ada agenda piknik, agar pikiran segar kembali.
Dalam bayang-bayang kesedihan, kecemasan dan ketakutan dalam hidup misalkan, manusia akan mencari ketenangan. Mencari ketenangan beda hal dengan hanya sekedar mencari kebahagiaan atau kesenangan.
Untuk mencari ketenangan bisa juga dengan ikut dzikir akbar. Ada juga yang menjalankan meditasi, ada yang cukup dengan ngopi dan berbincang bersama teman. Namun teman yang mengajak untuk berpikir positif.
Sementara hadir di acara tausiyah akbar adalah salah satu alternatif yang paling populer : dapat wawasan, rasa tenang, bisa tertawa, dan ... dapat pahala.
Blitar, 26 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Monday, September 24, 2018
Sifat fanatik memicu hilangnya kesadaran. Hal inilah yang pernah dikaji oleh Ibnu Sina, ahli kedokteran atau fisiologi, tentang gangguan mental seseorang karena terlalu suka (maniak) pada sesuatu.
Teori ini kemudian disebut frenologi.
Rasa suka dan bangga adalah hal wajar, namun tidak wajar lagi jika sudah menjadi maniak. Karenanya istilah "mania" atau "maniak" sebenarnya istilah untuk menyebut seseorang yang mengalami gangguan jiwa, sayangnya justru dijadikan kebanggaan.
Tiga abad sebelum masehi, Plato sudah mengidentifikasi 3 kelas jiwa. Salah satunya, Thumoeides, yaitu jiwa yang hanya mengandalkan amarah.
Jika dikaitkan, sifat fanatik melahirkan banyak Thumoeides, lebih suka bermain kasar, mengedepankan amarah, bahkan rela berkorban nyawa.
Dalam kelompok tertentu, Thumoeides ini sering dijadikan "tukang gebuk". Suasana mental dan jiwanya dikondisikan untuk itu. Maka jangan heran jika ada orang rela jadi tumbal bom bunuh diri, demi kebanggaan pada sesuatu yang ia sangat fanatik terhadapnya.
Lalu, bagaimana dengan fanatik terhadap club sepakbola? Sampai ada tragedi baku hantam antar supporter yang menyebabkan nyawa melayang. Apa sebenarnya yang dicari dari itu semua?
Memang sangat membingungkan, apalagi dalam kelompok massa. Kesadaran diukur dari kelompok tersebut. Misalkan, ada maling ayam dihajar warga hingga tewas, tanpa berfikir bahwa perlakuan itu justru jauh lebih keji dari sekedar mencuri ayam.
Persinggungan massa memang sulit dihentikan. Termasuk ketika dua massa dari kelompok yang berseteru bertemu, ya katakanlah antar supporter club bola yang memiliki sejarah perseteruan yang panjang.
Meski generasi berubah, meski pelatih dan pemain itu telah berganti, mungkin kepemilikan club juga berganti, termasuk sebagian besar supporternya sudah beda generasi, namun sentimen keduanya tetap abadi.
Berbeda dengan fanatik terhadap agama misalnya, yang masih punya dasar teologis, Tafsir bahwa dengan sikap tersebut, ia akan mendapat surga misalkan.
Bisa juga fanatik pada organisasi, pada tokoh yang ia junjung, bahwa kepatuhan dan loyalitas tersebut akan memberikan keberkahan misalkan.
Lalu bagaimana dengan fanatik dengan club sepakbola, yang pemain dan pelatihnya terus berganti, yang tidak memiliki justifikasi teologi. Tidak ada yang berani bilang dengan mendukung klub tertentu akan jadi kaya atau masuk surga.
Apakah yang semacam itu perlu dimaklumi? Mengingat fanatisme itu ada dimana-mana, termasuk pada pasangan capres dan cawapres. Tidak hanya pada klub sepakbola. []
Blitar, 24 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Monday, August 13, 2018
Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz
Kuliner khas kini tak lagi benar-benar khas. Misalkan brem madiun. Kita tidak perlu jauh-jauh kesana untuk mendapatkannya, bisa dibeli di toko oleh-oleh terdekat.
Atau bakpia patok yang khas Jogja. Kini bakpia dijual dimana-mana. Tidak perlu ke Jogja, bisa didapat di toko oleh-oleh Semarang, Kudus, Trenggalek, dan lain-lain.
Kuliner khas, seperti batagor dan siomay Bandung, soto Lamongan, kerak telor Jakarta, mie ayam Solo, ayam betutu Bali, dan nasi Padang juga sudah banyak hadir di berbagai kota.
Jadi apalagi yang khas? Waktu dulu ke Bandung, saya mampir pasar baru, ada warung batagor. Rasanya ya sama saja dengan batagor yang dijual di Blitar. Malah penjualnya orang Sukabumi.
Tidak ada lagi yang benar-benar khas. Termasuk sate madura. Kini sate dimana-mana juga ada. Banyak yang sudah meng-copy atau disebarluaskan oleh para perantau.
Apalagi dengan munculnya aplikasi jual beli online. Kita bisa memesan pudak dari Gresik, atau lumpia Semarang, atau bandeng tanpa duri yang diproduksi sekitar pantura.
Yang khas hanya tinggal suasana, dan perasaan kita. Batagor yang rasanya sama, ketika menyantapnya di Kota Bandung dengan di Malang, tentu berbeda. Bedanya pada suasana.
Nasi kucing dan kopi ojos, yang ada juga di sekitaran Sidoarjo, namun beda rasa kalau menikmatinya di Jogja. Begitu pula dengan nasi padang yang asli buatan Bundo dengan Bundo kota lain.
Kalau bepergian keluar kota, mau cari oleh-oleh yang benar-benar khas, yang adanya cuma di daerah tersebut juga susah. Misalkan yang khas di Wonogiri adalah kacang mede, di kota-kota lain kacang mede juga ada.
Tetapi suasana tidak bisa ditawar. Kalau direnungkan lebih mendalam lagi, apa sih yang istimewa dari Jogja? Bagi yang beberapa kali kesana pasti ya biasa saja.
Okelah, Jogja memang melahirkan banyak seniman dan tokoh dalam lintas bidang, seperti Kota Bandung dan Malang. Itu yang spesial. Ada cara merayakan suasana dengan seni. Ada lagu Kla Project yang terkenal.
Jogja tercipta dari rindu, kata orang. Berbagai narasi, angan-angan, dan segala yang dihunjamkan ke benak kita membuat apa yang di Jogja menjadi istimewa.
Itulah hebatnya daya cipta. Jogja spesial karena ada orang-orang seperti itu, yang pandai menarasikan sesuatu, sekaligus mendramatisirnya.
Di Blitar juga ada. Saya bayangkam betapa syahdunya jalanan dari perempatan lovi hingga alun-alun, atau suasana sore yang tenang di pelataran istana gebang. Permainan musik akustik di Ampyteater Makam Bung Karno pada sore dan malam hari yang tentu memukau.
Tak kalah syahdu. Namun hati kita tidak sepenuhnya disitu. Hati kita berada di tempat lain, yang jauh disana, di Jogja, Malang, Batu, Bandung, atau Bali yang menurut kita menawarkan suasana lebih syahdu.
Yang khas, dan benar-benar khas, hanyalah cara kita memaknai suasana.
Begitulah. Salam rindu. []
Blitar, 8 Agustus 2018
Wednesday, June 13, 2018
Oleh Ahmad Fahrizal Aziz
Akhir 2009, dalam sebuah percakapan, seseorang menceritakan pengalamannya berkunjung ke Blitar. Dia asal Pekalongan, dan tergerak untuk datang ke Blitar karena ada "Bung Karno" disana.
Katanya, Kota Blitar begitu sepi. Ia mampir ke alun-alun, sama sekali tak ada yang istimewa. Hanya serupa lapangan biasa, dan deretan penjual yang mengitarinya.
Kota-kota lain mungkin menawarkan lebih, apalagi kami yang kala itu sama-sama sedang kuliah di Malang. Blitar kalah segalanya : tata kota, pusat belanja, tempat nongkrong, hiburan, kampus, dan lain-lain.
Blitar hanya menang satu hal saja ; disini ada makam Bung Karno. Tokoh revolusi. Hanya lokasinya ratusan kilometer dari Ibukota Jakarta. Teman sekamar saya di asrama, yang asal Medan, baru tahu kalau Bung Karno dimakamkam di Blitar.
***
Awal 2010, dalam sebuah pidato perpisahannya sebagai Walikota, Djarot mendapat pertanyaan : Blitar ini kok tidak maju-maju pak? Anak-anak muda kalau belanja dan nonton film saja harus ke kota tetangga.
Djarot memang menolak pendirian mal. Sangat tegas menolak. Idealismenya kuat soal ini. Jawabnya : jangan sampai anak-anak Blitar terjangkiti virus hedonisme dan konsumerisme.
Terasa ketika saya aliyah, di malam minggu yang panjang, tak ada fikiran untuk sekedar nongkrong di cafe. Paling hanya warung kopi. Mungkin juga karena coffe culture belum populer seperti sekarang.
Baru setelah berpindah ke kota sebelah, terasa bedanya ; kerlap kerlip lampu kota, kerumunan orang di berbagai sudut, dan suasana malam yang hidup.
Saya baru menyadari jika Blitar memang sangat sepi. Kota pensiun kata orang-orang. Kota yang menghendaki ketenangan. Mula-mula memang menjenuhkan, terapi seperti jadi ciri khas tersendiri.
Setiap Jum'at malam di akhir bulan, ketika kereta api penataran menghantarkan saya pulang, terasa syahdu melihat perempatan kawi yang lengang.
***
Akhir 2011 dan seterusnya, sepertinya ada banyak perbedaan. Gedung Dipayana yang legendaris, yang di waktu saya kecil sering dijadikan tempat pertunjukan ludruk, ketoprak, dan teater, dipagari tinggi. Konon akan dibangun mal.
Cafe-cafe mulai menjamur. Minimarket juga tumbuh bersaing pada jarak yang berdekatan. Sekolah-sekolah mulai diseragamkan, dari tas sampai kaos olahraga. Hal-hal simbolik kembali dimunculkan, seperti busana djadoel.
Sekolah baru, dibangun begitu megah. Guru-guru terbaik dimutasi kesana. Dua kali saya masuk, mengamati dari dekat, dan terasa begitu diprioritaskannya.
Blitar bukan lagi kota pensiun. Sekarang cukup ramai. Ada taman dibangun di depan alun-alun. Taman di depan taman. Saling berhadapan.
Kawasan mastrip yang legendaris itu juga digusur, dipugar, dirapikan. Jalanan dibelah dua dan dilebarkan. Banyak kios dan ruko di sekitarnya. Saya mencari-cari gerobak penjual buku loak, yang sepertinya sudah tak ada.
Kota Blitar telah menjelma dalam wujud baru, yang lebih gemerlap. Ada banyak tempat nongkrong, pusat belanja, taman-taman, dan fasilitas lainnya.
Ada "kemajuan" yang dulu diimpikan. Sebagaimana kota-kota lain yang sedang tumbuh. Di areal wisata makam Bung Karno, ada beberapa titik pedestrian. Paving-paving untuk pejalan kaki.
Lebih indah, kata orang. Seperti khas-nya trotoar sepanjang jalan Braga atau Malioboro yang selalu terkenang dan sayang jika dilewatkan, untuk sekedar berfoto.
Kota ini memang tumbuh, dan terus tumbuh, meski tanpa lagi ingatan. Semua kota akan sama pada akhirnya. Jadi obyek proyek-proyek ambisius.
Sayangnya, seringkali proyek ambisius itu, menelan korban. Kalau hanya walikota yang diciduk KPK, itu biasa. Lebih dari itu, ada pergulatan sosial-budaya. Ada proses penggerusan, dan kita hanya bisa kembali merenung bersama buku-buku sejarah yang jarang lagi disentuh. []
Blitar, 13 Juni 2018
Di Penghujung Ramadan
Sunday, April 29, 2018
Saat usia di atas 40 tahun, mungkin orang mulai memperhatikan soal makanan, apakah sehat atau tidak? Apakah beresiko? Tentu setiap makanan akan mengandung resiko, tinggal apakah pengaruhnya secara drastis atau tidak.
Beberapa kasus kematian, yang terbilang dadakan, sering karena terlalu banyak makan. Seperti, terlalu banyak makan durian, atau terlalu tinggi tingkat konsumsi gula.
Tubuh ternyata punya takarannya sendiri.
Salah satu penyakit yang paling dirisaukan, terutama bagi yang berusia di atas 40 atau 50 tahun, adalah diabetes. Dulu istilah ini sangat asing, sekarang menjadi sangat familiar. Sebab ya, banyaknya yang terserang.
Diabetes pun ternyata banyak macamnya, dan bisa berkaitan dengan penyakit-penyakit lain yang seirama, seperti misal darah tinggi dan stroke.
Sekarang apa makanan yang tidak mengandung gula? Kue, camilan, minuman, bahkan jamu pun ditambah gula, demi menetralisir rasa pahit. Padahal namanya jamu ya harusnya pahit, namanya obat pasti tidak enak.
Saya juga baru tahu bahwa diabetes bisa membuat pandangan mata kabur, seperti rabun plus, rabun dekat. Bahkan pada taraf tertentu, bisa menyebabkan kehilangan penghilatan. Apa karena juga terlalu banyak konsumsi gula?
Setidaknya itulah yang dialami tetangga saya. Ketika terakhir saya menjenguk di rumah sakit, penglihatannya sudah hilang. Hanya masih bisa bercakap, dan mendengar dengan baik. Segala macam pengobatan sudah di tempuh, meski akhirnya Tuhan berkehendak lain, bapak itu meninggal.
Salah satu dampaknya lagi, bahwa diabetes menyusutkan badan. Ada yang dulu bertubuh ideal dan segar bugar, karena terserang diabetes menjadi susut, kurus, dan tulang pipinya terlihat. Apa karena terlalu banyak konsumsi gula?
Entahlah, namanya penyakit memang sulit diterka. Kadang yang sudah hidup serba sehat, dengan pola makan yang baik, dan rajin olahraga, juga bisa terserang penyakit. Begitupun sebaliknya.
Ada juga yang mungkin sejak muda sudah didera penyakit, namun ternyata berumur panjang. Tapi tak sedikit pula, yang menerapkan hidup sehat, rajin olahraga, dan kesehatannya pun terjaga. Manusia hanya mampu berikhtiar.
Betapa ternyata, makanan yang kita kunyah sehari-hari, yang terasa gurih nan nikmat, menyimpan "bom waktu" kemudian hari. Apalagi jika konsumsinya tak beraturan.
Betapa ternyata, banyak yang tumbang karena diabetes, yang faktor utamanya dari makanan atau minuman, dari hasrat yang tak terbendung dari lidah kita sendiri, yang rasanya jadi pahit dan asam jika tidak mencicip yang manis-manis.
Semoga kita mampu mengontrolnya. []
Blitar, 28 April 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Thursday, February 22, 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com
Thursday, August 3, 2017
Sebelumnya saya mohon maaf karena menggunakan kata "dipermainkan". Padahal tugas media itu memberikan informasi, bukan mempermainkan. Ini mungkin terkhusus bagi media yang memang suka main-main isu, atau orang yang membacanya memang belum siap secara psikis.
Jadi begini, sering kali kita amati di sosial media orang menulis hal-hal yang sebenarnya tidak patut diungkapkan, atau diutarakan di kehidupan nyata.
Rasa jengkel, benci, dendam, geregetan, sinis, dan lain sebagainya campur aduk tak beraturan. HANYA. ya. HANYA karena ia baru saja membaca sebuah postingan di sosial media, atau berita dari media. Baik cetak, elektronik atau daring.
Ini era yang siapapun bisa membuat media, terutama media daring. Dengan ongkos yang tak terlalu mahal, anda bisa membuat media daring dengan tagline tertentu, meski dengan kualitas isi yang awur-awuran : gaya bahasanya kacau, tanda baca berantakan, judul dan isi tidak singkron, dsb dsb.
Lebih parah lagi, jika orang marah, mencaci, sinis pada sesuatu hal, HANYA karena membaca judulnya saja. Ya, belum juga dibaca isinya, sudah menyimpulkan ini itu. Ketahuilah, meski usia telah dewasa, sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia itu "masih labil". Seperti ABG labil, yang mudah dimainkan perasaannya.
Aspek kehati-hatian mulai kita tinggalkan. Padahal hati-hati adalah ciri orang bijak. Menelaah lebih jauh, apakah ini berita logis atau tidak, benar atau tidak, murni atau tidak, atau ada kepentingan lain dibelakangnya?
Pembuatnya tentu telah menimang nimang dengan seksama. Bagaimana agar tulisan itu serupa minyak yang membakar emosi publik, atau api yang mempercepat mendidihkan perasaan pembaca. Jadi hati-hati.
Jika kita telah jadi konsumen mereka, atau budak dari isu-isu yang dibuat, kita telah terperangkap dalam jeruji maya yang sulit untuk keluar. Otak kita beku. Keras. Nan sulit menerima hal-hal yang berbeda. Emosi mudah diaduk-aduk dengan beragam berita.
Jadi dalam suasana yang serba membingungkan ini, cara termudah ya menjadi orang tengahan. Mencoba memahami, asal usul medianya, asal asul orang yang berpendapat, alasan demi alasan yang membuat kita tidak lantas terbawa begitu saja, apalagi sampai emosi dan tanpa kontrol.
Sulit? Ya memang begitu. Karena kita telah terbiasa menjadi konsumen yang terus dijejali tanpa ampun. Tanpa kita pernah meminta. Celakanya, kita terbawa arus dan mempercayainya begitu saja. []
Salam,
Ahmad Fahrizal Aziz
2 Agustus 2017
Thursday, September 1, 2016

A Fahrizal Aziz
Tuesday, August 30, 2016

A Fahrizal Aziz
Di Penghujung Agustus yang mendung.

