Saturday, August 13, 2016
Monday, March 7, 2016
Ternyata ada orang yang benar-benar berbeda sikap. Sesuai tempatnya. Saya kira selama ini hanya ada di sinetron, atau dari cerita teman. Di tempat ini, sikap dia A. Di depan orang lain, sikap dia berganti B. Begitu pun selanjutnya.
Dia pernah curhat panjang lebar kepada saya tentang pengelolaan sebuah instansi yang menurutnya tidak pas. Bahkan tak sedikit muncul kritik, hingga kata-kata sinistik. Tapi di dalam forum yang sama, ketika saya juga ada disitu dan ada pengelola institusi tersebut, apa yang dia katakan berbeda. Mulutnya manis sekali.
Ketika saya menyampaikan apa yang ia sampaikan kepada orang yang bersangkutan, justru ia sendiri yang membantahnya. Kalau begini, jelas ada dua persepsi yang muncul : saya atau dia yang bohong. "Dia" sengaja tidak sebut namanya secara terang disini, karena saya masih menghargainya.
Saya kira, kalau memang tidak suka, atau kurang sependapat, lebih baik diutarakan saja. Pengutaraan itu memang akan menimbulkan sedikit friksi, tapi biasanya akan lekas clear. Kalau misal, pada akhirnya kita di rotasi/resuffle/dicopot, berarti kita berada dilingkungan yang salah. I'ts so simple things.
Sebuah kejujuran itu memang pahit dan menyakitkan. Tapi kadang hanya sebentar saja. Yakinlah.
7 Maret 2016
A Fahrizal Aziz
Paman saya bisa disebut orang kaya. Kaya untuk ukuran orang-orang di desanya. Sudah punya mobil Daihatsu Terios dan dua motor, satunya motor Kawasaki Ninja yang bodi-nya besar itu.
Dua anaknya sudah memiliki laptop masing-masing. Padahal yang paling besar baru kelas tujuh. Yang paling kecil bahkan masih balita. Belum genap tiga tahun.
Apa yang bikin kaya? Bisnis ternaknya. Dulu pernah memiliki ribuan ayam, tapi sekarang hanya sebagai supplyer. Di daerah Blitar selatan, memang terkenal dengan ternak ayam. Tugas paman saya kini hanya mengambil telur-telur dari para peternak lalu menjualkannya ke berbagai wilayah.
Selain itu, juga bisnis pakan ternak. Usaha ini sudah sejak turun temurun. Rata-rata, yang bergerak dibidang ternak, terutama di daerah Blitar selatan, banyak yang sukses.
Tapi saya tidak ingin bercerita soal cerita sukses itu. Tapi tentang "uang". Orang kaya memang memiliki banyak uang, tapi kadang uang itu hanya lewat begitu saja. Sehari bisa ada jutaan rupiah dalam brangkas, tapi mungkin besoknya sudah habis untuk ini itu.
Meski besoknya kadang ada lagi. Itulah nikmatnya menjadi pengusaha. Gajinya tidak perlu menunggu tanggal muda. Setiap hari, dari tanggal 1 hingga 31. Tapi untuk menjadi kaya memang harus pandai bertaruh dengan waktu.
Misalkan hutang ke bank sebesar 50 juta. Lalu harus difikirkan bagaimana uang 50 jt itu bisa menjadi 100 jt. Selain untuk mengembalikan pinjaman plus bunga, juga harus berfikir profit. Dari 100jt itu, misal 55jt untuk membayar hutang. 45 juta sisanya, diputar kembali untuk bisnis. Yang masuk kantong pribadi belum tentu ada 10jt. Tapi angka 10jt sudah cukup besar.
Jadi uang puluhan juta itu, memang berseliweran kesana kemari, tapi kadang hanya lewat begitu saja. Tapi semakin banyak uang yang bersiliweran, semakin besar pula yang 'mampir' di kantong pribadi.
Anda bisa membayangkan bagaimana pengusaha yang bisnisnya dari hilir ke hulu, yang melibatkan uang miliaran bahkan triliunan. Misalkan ada sebuah perusahaan yang asetnya mencapai puluhan triliun, tapi bosnya, setelah diaudit kekayaannya, hanya 1 triliun lebih sedikit.
Memang kekayaan pribadi yang mencapai 1 Triliun tidak bisa dibilang "hanya". Tapi dibandingkan aset perusahaannya? Seperti tak ada apa-apanya. Lalu aset yang besar itu milik siapa saja? Ada yang sebagai jaminan atau milik investor.
Uang-uang itu lewat dan berseliweran begitu saja. Maka tak heran jika banyak pengusaha yang terjerat berbagai skandal. Apalagi yang bukan pengusaha. Banyak oknum pejabat yang terjerat, karena mereka selaku regulator dan aplikator.
Yang sering kita temui juga, hampir setiap pengusaha besar, memiliki catatan hutang yang fantastik. Milliaran. Ada beberapa yang memiliki masalah dalam pembayaran pajak. Tentu pajak mereka sangat besar sekali.
Jadi tak usah takjub jika melihat pengusaha yang punya banyak uang, karena uang memang kerap kali berseliweran mengelilingi hidup mereka. (*)
7 Maret 2016
A Fahrizal Aziz
Sunday, March 6, 2016
Entah sejak kapan kita mengidap ketakutan berlebih. Tidak hanya skala individu, tapi sosial. Jadi, mungkin kalau dalam Ilmu Psikologi disebut Psiko-sosial. Padahal, yang kita tahu, negara-negara yang mengidap Psikososial akut itu adalah negara besar dan adidaya. Salah satunya Amerika.
Apa bentuknya, salah satu yang kentara adalah Islamophobia. Ketakutan terhadap Islam dan Penganutnya. Memang sebagian besar bangsa Amerika tengah 'menyembuhkan' diri dari penyakit itu. Tapi masih ada sisa-sisanya, salah satunya adalah kandidat calon Presiden Amerika, Donal Trump, yang survey-nya masih top 2.
Ketakutan itu diwujudkan dengan sikap semena-mena dan cenderung menindas. Membuat terminologi terorisme untuk Islam, hingga menghancur leburkan negara-negara Islam yang tidak sepaham dengan Politik Luar Negerinya. Kecuali Arab, yang memang sejak lama menjadi couple state dengan Amerika.
Islamophobia juga pernah muncul di eropa. Pembantaian imigran Muslim oleh Ratko Mladic di Sarajevo menjadi peristiwa paling mengerikan tentang Islamophobia yang sangat akut.
Takut memang sifat alamiah manusia. Tapi ketakutan yang berlebih hingga merasa selalu terancam adalah penyakit Psikologi. Itu semacam skizrofrenia. Mengkhawatirkan sesuatu yang terlalu berlebihan, yang sebenarnya tidak demikian adanya.
Mereka yang mengidap Islamophobia memiliki imajinasi tersendiri tentang Islam yang mengerikan dan selalu merusak. Islam yang kejam dan sadis. Padahal tidak begitu adanya. Kalaupun ada, jumlahnya hanya segelintir. Tidak sampai 10 persen dari lebih dari 2 Milliar Populasi Umat Islam di Dunia. Tapi karena sudah mengidap phobia, pikiran negatif itu yang dominan muncul.
Belakangan ini di Indonesia juga marak isu LGBT. Terlihat betul betapa dramatikalnya isu yang berkembang. Mulai dari narasi keberpihakan asing, termasuk PBB, hingga ketakutan adanya konspirasi global untuk mendukung LGBT di Indonesia.
Pada kadar tertentu, muncul Homophobia yang akut. Termasuk lembaga yang mewakili negara di bidangnya, hingga mengeluarkan surat edaran yang tidak boleh menayangkan hal-hal tertentu. Belum lagi muncul kekhawatiran lain yang entah ada atau tidak, terbukti atau belum, ada di Masyarakat.
Tapi yang jelas, jangan sampai kita mengidap phobia juga. Mereka yang mengidap phobia cenderung tidak bisa jernih dalam berfikiran. Ketakutan, negatif thinking mereka lebih mendominasi ketimbang persoalan yang utama. Jika mencari solusi, akhirnya solusi yang muncul pun kerap kali tidak solutif. Ya seperti salah satunya, munculnya surat edaran tersebut.
Orang barat mengalami ketakutan yang berlebih dengan Islam karena takut Islam membawa kekacauan. Atau mereka takut terpengaruh. Orisinalitasnya hilang. Begitu pun dengan kita yang Homophobic. Takut tertular jadi homo. Merasa terancam. Merasa jati dirinya dicuri.
Padahal, baik agama maupun orientasi seksual adalah hal yang sangat personal. Bagaimana kita bisa kehilangan sesuatu yang sangat personal itu kalau memang pertahanan kita kuat? Tidak. Mungkin kita memang sudah rapuh dari dalam. Sudah ikut-ikutan mengidap phobia. Sudah didominasi oleh kekhawatiran dan ketakutan yang berlebih.
Kita takut jati diri kita dicuri. Kita takut personalitas kita hilang. Padahal jadi diri itu bukan sesuatu yang bersifat material. Mungkin sebenarnya kita tengah mengidap Cleptophobia. Takut kehilangan. Takut dicuri.
6 Maret 2016
A Fahrizal Aziz
Saturday, March 5, 2016
"Rakyat tidak bisa mikir kalau perut lapar. Logika tidak bisa jalan tanpa logistik."
Itu adalah analogi sebagian besar orang terkait dengan urgen tidaknya agenda-agenda mengasah otak. Dalam sebuah organisasi, saya pernah mempertanyakan betapa dominatifnya pemikiran "politik ekonomi". Padahal ini sebuah organisasi yang menyebut diri organisasi dakwah.
"Ini soal perut, sangat urgen. Jangan ajak mereka berfikir berat dulu kalau perutnya masih kosong," jelas salah seorang senior yang juga sangat political viewed.
Tapi saya jadi bertanya balik. Perut kosong yang dimaksud yang seperti apa? Apa berarti, orang-orang seperti saya, yang selalu --dan tertarik-- pada hal-hal ilmiah-akademik, yang sering disebut "mikir berat-berat" itu, perutnya sudah masuk kategori kenyang sehingga otaknya bisa jalan.
Dan apa ukuran perut kosong? Kalau hanya kebutuhan alamiah, saya kira tidak. Tapi lebih pada keinginan, nafsu-nafsu lain.
Saya katakan, kalau mengikuti kehendak perut, sampai kapanpun tidak akan pernah cukup. Awalnya anda tidak punya motor. Agar bisa berkontribusi lebih baik, anda harus memiliki motor dulu. Tapi setelah memiliki motor, anda tidak akan lagi berfikir soal dedikasi, tapi akan berfikir bagaimana mendapatkan mobil.
Kehendak perut tidak akan pernah tercukupi, tidak akan pernah terpuaskan. Hasrat akan selalu ada. Maka omong kosong semata jika revolusi pemikiran harus dimulai dari revolusi perut. Yang ada justru sebaliknya.
Bicara sesuai koridor. Karena ini dalam sebuah organisasi, maka saya tidak mungkin berbicara perut saya sendiri, dan tidak mungkin berbicara soal perut. Perutnya siapa?
Kalau bicara soal perut, mestinya dalam konteks personal. Bisnis pribadi, atau setidaknya di Parpol. Perut tidak akan pernah melakukan revolusi, karena itu sumbernya hasrat dan nafsu. (*)
5 Maret 2016
A Fahrizal Aziz