komunitas

Friday, September 11, 2020




Saat itu saya hadir dalam sebuah agenda Ekstrakurikuler, namun pesertanya tampak lesu. Pemandangan ini sangat berbeda ketika zaman saya dulu menjadi peserta seperti mereka. Apa sudah terjadi pergeseran?

Usut punya usut, ternyata sekolah mewajibkan siswanya untuk--minimal--mengikuti satu ekstrakurikuler. Banyak dari mereka yang akhirnya memilih ikut ekstrakurikuler tersebut tanpa memiliki tujuan yang jelas. Pokok ikut, asal sudah memenuhi kewajiban dari sekolah.

Memang tidak semuanya lesu. Ada yang bersemangat, meskipun sepertinya kurang dari 50%. Mereka yang bersemangat biasanya memang karena memiliki tujuan, karena itu pilihan mereka, semangatnya pun berbeda.

Saya termasuk yang tidak sepakat dengan suatu yang diwajibkan, apalagi pada usia SMA dan mahasiswa. Usia yang seharusnya dilatih untuk menentukan pilihannya sendiri. Karena sesuatu yang diwajibkan, ketika diikuti biasanya tidak maksimal.

Pada lingkup yang berbeda, saya pernah juga menghadiri suatu pertemuan, didalamnya ada perwakilan instansi pemerintah yang memiliki program literasi. Forum yang harusnya jadi ruang diskusi, gagasan dan usul program itu, jadi forum keluh kesah. Anggaran kurang lah, minat masyarakat rendah lah, dan lain sebagainya.

Saya mewakili komunitas, dan berharap agar komunitas yang saya kelola turut membantu dan bisa lebih bersinergi. Lho, apa tidak keliru? Kami kan hanya komunitas?

Memahami komunitas

Memang ada banyak jenis komunitas, utamanya yang berbasis hobi. Komunitas sering diasosikan tempat berkumpulnya orang dikala punya waktu luang, dengan tujuan rekreasi dan piknik. Intinya bersenang-senang di tengah sibuk dan memusingkannya pekerjaan.

Sebut saja, komunitas bersepeda, vespa, mobil tua, dan sebagainya. Berkomunitas inginnya refreshing, penyegaran, bukan? Namun bagaimana dengan komunitas literasi?

Literasi adalah suatu istilah yang berat. Secara sederhana, komunitas literasi biasanya bergerak dalam dua bidang utama : membaca dan menulis.

Saya dan teman-teman di Blitar turut serta mengelola komunitas kepenulisan, yaitu Forum Lingkar Pena. Komunitas itu memang hirarkis, ada level ranting, cabang, wilayah sampai pusat. Namun soal geraknya sangat mandiri. Swadaya.

Mereka yang bergabung ada yang memang ingin belajar menulis, ada yang mencari teman membahas segala hal tentang kepenulisan, ada yang ingin berbagi ilmu.

Namun tetap ada program kerjanya, layaknya organisasi. Ada strukturnya dari ketua, sekretaris, bendahara dan divisi-divisi.

Kadang, tidak semuanya bisa aktif. Divisi yang harusnya ia kelola jadi terbengkalai, program yang harusnya berjalan jadi macet.

Jika yang bersangkutan bilang mundur, itu berarti akan ada peralihan posisi. Biasanya yang belum masuk struktur akan dimasukkan. Jika tidak ada orang lagi, maka yang lain harus merangkap. Saya pernah merangkap 3 divisi sekaligus.

Marah, kesal, pasti. Itu wajar. Dalam psikologi, menurut Mark Mansoon, tu termasuk Thinking mind (respon otomatis). Kadang saya juga begitu. Tetapi kita harus kembali sadar, bahwa ini komunitas, kan?

Artinya, orang gabung karena sukarela. Tidak dibayar. Kita juga tak bisa berbuat apa-apa jika mereka memutuskan mundur, tidak aktif, atau hilang tiada kabar.

Meskipun, masing-masing kita juga punya kesibukan yang sama, makan nasi yang sama, beban cicilannya pun juga mungkin tak jauh berbeda. Namun satu orang harus mendapat beban lebih dari yang lain dalam komunitas.

Sekali lagi, ini komunitas. Dalam komunitas tidak ada yang bisa saling memaksa. Dia aktif atau tidak, dia mundur atau tetap di dalam, atau hilang tiada kabar, tidak tanggung jawab, kita juga tidak bisa menekannya.
Tetapi jangan sedih. Tidak semua begitu, yang tetap bertahan dan survive kan selalu ada, kan? Ya mereka lah pejuang. Sebab meluangkan waktu di sela kesibukan, mungkin juga direwangi bertengkar dengan istri, suami dan keluarga yang kurang senang dengan aktivitasnya. Selama yakin bahwa yang dijalaninya baik, sampai akhirnya keluarganya mengerti.

Pada intinya, tidak ada keluarga yang menentang anggota keluarganya  melakukan hal baik, namun kadang-kadang mereka menentang sebab ada hal lain yang menurutnya lebih prioritas. Apalagi, pertemuan komunitas sering dipilih hari libur atau hari Ahad, waktu family time.

Hal-hal semacam itu memang harus dimengerti satu sama lain, dan bila pada akhirnya satu orang harus menanggung beban lebih dalam komunitas karena banyaknya tanggung jawab dari anggota lain yang tidak menunaikannya, ya bersabar saja.

Mustinya, jika sudah gabung komunitas, apalagi bersedia jadi pengurus, sebaiknya menimbang sejak awal. Bagaimana kedepannya. Jika memang ragu, mending tidak usah ikut atau menolak sejak awal, daripada nantinya merepotkan banyak orang. Harus tegas sejak dari diri sendiri.

Jika sudah bersedia, dan tidak aktif (padahal bisa aktif), ada waktu untuk bertaubat. Berubah sikap. Daripada nanti jadi beban pikiran, perasaan tak enak terus menerus. Cuma mungkin tingkat kepercayaan orang akan berkurang.

Namanya komunitas itu simpel, ada suka dan duka saat mengelolanya. Namun ketika sebuah komunitas yang kita kelola bisa berkembang, dikenal, menghasilkan banyak karya dan sosok hebat, maka itu sekaligus mengkonfirmasi atau jadi cermin jika diri kita juga telah berkembang. Ada kemajuan dalam hidup kita, minimal lewat komunitas yang kita kelola.

Tetap semangat. Salam literasi. []


Wednesday, October 10, 2018



Tentu tidak. Apalagi kita tidak pernah benar-benar serius belajar menulis (baca : mengarang). Dan apakah itu perlu?

Sejak SD hingga SMA, bahkan sampai kuliah, selalu dicekoki pelajaran bahasa Indonesia. Selalu. Materinya berputar-putar, dari stuktur kalimat, ejaan, tanda baca, hingga majas-majas.

Muter-muter disitu saja, dan tragisnya setelah lulus banyak yang lupa. Lihat saja postingan-postingan orang di sosial media. Tidak semua bagus. Tidak semua bahasanya tertata, dan itu jumlahnya dominan.

Lalu untuk apa bertahun-tahun belajar bahasa Indonesia? Seolah tak ada gunanya. Sia-sia. Buang-buang waktu. Meski ujian nasional nilai bahasa Indonesianya tinggi.

Tentu itu menggelisahkan, sekaligus jadi refleksi bersama tentang kegiatan sekolah selama ini, yang tidak efektif membentuk siswa agar bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Padahal bahasa itu penting. Tidak saja sebagai alat komunikasi, namun juga identitas bangsa, instrument budaya, dan nasionalisme yang paling awal membentuk bangsa ini.

Selepas merdeka pada 1945, hanya bahasa Indonesia yang bisa menjadi alat pemersatu. Sebagian besar masyarakat belum tahu soal ideologi negara, bangsa, dan sebagainya.

Ketika orang Papua bertemu orang Sunda, orang Bugis bertemu orang Jawa, orang Minang berjumpa orang Madura, yang menandakan mereka satu adalah bahasa Indonesia.

Karenanya merawat bahasa Indonesia penting. Selain di sekolah, juga melalui gerakan-gerakan literasi, khususnya kepenulisan, yang mana bahasa Indonesia dengan serius dijadikan kajian sekaligus "diamalkan", dituangkan lewat tulisan.

Lalu jika sekolah saja tidak mampu, bagaimana dengan gerakan-gerakan literasi yang hanya swadaya?

Inilah tantangan peliknya. Tidak semua orang bersedia. Tidak ada duitnya. Beberapa yang biasanya melapak buku, menyediakan buku bacaan gratis, juga sedikit yang bertahan.

Lainnya gulung tikar ; tak digubris, sering diremehkan, buku-bukunya dipinjam dan tak kembali, yang meminjam pun belum tentu baca.

Bagi para pejuang literasi yang saya temui, jika buku dipinjam dan tak dikembalikan, itu tak jadi soal. Namun yang jadi masalah, ketika buku-buku sudah tidak lagi dibaca.

Lalu lebih sulit mana dengan mengelola komunitas kepenulisan? Ibarat tangga, menulis adalah tangga berikutnya dari membaca. Tentu tidak gampang pula. Meski optimisme selalu ada.

Mereka yang mau menulis, tentu harus melewati dulu "tangga membaca" tersebut. Karena itu jadi salah satu bahan bakarnya.

Karena itulah jumlah yang menulis pasti tidak lebih banyak dari pembaca. Jumlah pembaca juga jauh lebih sedikit dari pendengar dan penonton.
Orang lebih suka melihat dan mendengar, dibanding membaca dan menulis. Maka jumlah penulis tidak banyak, namun tidak sedikit. Banyak yang bisa menulis di antara yang sedikit tersebut.

Akan tetapi membaca (dan menulis) menjadi ukuran kemajuan sebuah negara. Mereka yang menulis, otomatis seorang pembaca yang baik. Setidaknya, memiliki pengetahuan kosa kata yang cukup.

Serta, semua orang bisa menulis. Ahli ekonomi, budaya, politik, kesehatan, pertanian, nuklir dan lain sebagainya, kadang juga perlu menuliskan bidang keilmuan mereka, agar dipelajari generasi berikutnya.

Setiap orang, terutama di era digital seperti ini, ketika sosial media dan media daring mudah diakses, menulis jadi menemukan relevansinya tersendiri. Salah satunya, menuliskan pengalaman pribadi.

Ada banyak hal pribadi yang asyik dan mungkin penting untuk ditulis. Tulisan yang barangkali akan dibaca keluarga, teman, anak, cucu dan seterusnya. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda.

Sekolah bisa membiasakan untuk itu, komunitas kepenulisan perlu menguatkan iklim menulis tersebut. Namun pasti tidak banyak yang tertarik.

Terlalu banyak godaan, seperti ponsel pintar. Daripada menulis panjang-panjang, mending ambil foto dengan sedikit kutipan, atau ambil video. Menulis bikin capek.

Karenanya tidak semua orang akan menulis, kendati menulis tetap perlu. Bahkan sebuah tulisan bisa lebih komplit "memotret" suasana hati dan pikiran. []

Blitar, 10 Oktober 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Sunday, September 30, 2018



2018 adalah tahun ke-10 berdirinya FLP Blitar, sejak diresmikan pada 31 Agustus 2008, di Aula Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Kota Blitar, dihadiri langsung oleh Ketua FLP Pusat kala itu Pak Irfan Hidayatullah.

Pada kesempatan itupula diadakan Musyawarah wilayah, dan memilih ketua FLP Wilayah Jatim. Terpilihlah Bu Sinta Yudisia, yang dikemudian hari menjadi ketua FLP Pusat.

Jadi, dalam kapasitasnya yang baru berdiri, FLP Blitar pernah jadi tuan rumah Musyawarah wilayah.

Saat itu, saya masih 16 tahun. Meluangkan waktu disela sekolah, sekaligus mengurus ekstrakurikuler Jurnalistik, dari situlah berjumpa dengan orang-orang yang kemudian bersama-sama mendirikan FLP Blitar.

Sayangnya saya hanya bisa aktif sampai Juli 2009. Karena setelah itu hijrah ke Malang, kuliah dari Senin-Jum'at, dan berbagai kegiatan tambahan pada Sabtu dan Ahad.

Sejak itu saya vakum dari FLP Blitar. Sesekali datang pada acaranya, seperti seminar kepenulisan di Unisba pada 2010. Namun tidak aktif mengurus organisasinya.

Saya kemudian bergabung dengan FLP Ranting UIN Malang pada pertengahan 2010 itu. Setahun kemudian jadi sekretaris, pada pertengahan 2012 menjadi ketua selama 20 bulan, hingga akhir 2013.

Setelah itu saya memang tidak ingin aktif lagi di FLP. Meski yang lain masih aktif, bahkan yang lebih lama dari saya, masih aktif di kepengurusan cabang dan ranting misalkan.

Kenapa tidak ingin aktif lagi? Sebaiknya berorganisasi itu jangan terlalu lama. Kalau sudah re-organisasi, cukup jadi penyemangat kepengurusan yang baru.

Kalau memang ada kesempatan ke struktur yang lebih tinggi, misalnya Wilayah atau Pusat, ya bisa lanjut disana. Kalau tidak, mending tidak perlu jadi pengurusnya lagi.

Asalkan jangan meninggalkan generasi yang lemah.

###

Awal 2015 kesibukan saya di Malang tak terlalu padat, sehingga bisa bolak balik ke Blitar untuk mempersiapkan "agenda baru". Hingga pertengahan 2015 bisa benar-benar kembali ke Blitar.

Akhirnya komunikasi dengan FLP Blitar terjalin lagi, sekaligus bersepakat untuk menghidupkan kegiatan di dalamnya. Padahal saya sempat tidak ingin aktif lagi di FLP, namun yang menjadi pemikiran waktu itu, saya belum pernah benar-benar aktif di FLP Blitar.

Bagi saya, ini menyambung keterputusan sejak pertengahan 2009 silam. Tentu dengan pengalaman yang berbeda, dengan semangat dan mood yang berbeda pula.

Dari 2015 hingga 2018 kini, sudah hampir 4 tahun FLP Blitar kembali eksis. Bahkan sangat eksis, dengan 2 kali menerbitkan buku, rutin pertemuan mingguan, agenda-agenda kepenulisan yang dijalankan, sampai masuk koran radar Blitar. Hehe

Dari 2008-2018 pula FLP Blitar memiliki empat ketua, periode Mbak Gesang Sari Mawarni dan Mbak Lilik Nuktihana dari 2008-2015. Lalu Ahmad Saifudin dan Rosy Nursita dari 2015 hingga sekarang.

Sejak kembali ke Blitar pada pertengahan 2015, saya memang ingin aktif ber-literasi di Blitar. Bertemu Alfa Anisa dan Rere, yang kemudian bisa silaturahim ke LPM di kampus-kampus.

Selain tetap menengok adik-adik di Ekstrakurikuler Jurnalistik Man Kota Blitar, tempat saya pertama kali belajar menulis dan berkegiatan literasi.

###

2017 FLP Blitar begitu eksis, selain pertemuan rutin, ada juga kegiatan Goes To School, dua kali mengadakan kegiatan puisi : perayaan hari puisi dan gempa puisi, serta melengkapinya dengan menerbitkan buku antologi puisi.

Bersama kawan-kawan FLP Blitar, saya mewujudkan keinginan yang terpendam sejak lama, yaitu ikut memeriahkan kegiatan literasi, sastra, dan budaya. Mengabdi di tanah kelahiran sendiri.

Akan tetapi, kelemahan terbesar dari sebuah komunitas, tidak adanya pengelolaan organisasi yang formal dan terstruktur. Termasuk kaderisasi. Padahal FLP Blitar termasuk organisasi kaderisasi penulis.

Misalkan saja, soal sistem penerimaan anggota baru, kaderisasi di dalamnya, hingga sistem pergantian kepengurusan, dari ketua dan jajarannya. Hal semacam itu perlu dipikirkan, agar ada proses berkesinambungan.

Agar tidak vakum ketika ditinggal penggeraknya yang lama. Meski untuk menjalankan sistem keorganisasian tersebut juga tidak mudah.

Itulah kenapa komunitas, apalagi komunitas literasi, kadang timbul tenggelam. Eksis, vakum, lalu eksis lagi, dan ada kemudian yang benar-benar vakum selamanya.

Karena sifatnya komunitas, maka orang yang bergabung pun juga membidik sesuatu, katakanlah, ingin bisa menulis. Setelah hal itu didapat, akan pergi.

Atau ada juga, setelah masuk dan bergabung, tidak menemukan yang dicari, lalu pergi. Ada juga yang masuk, aktif beberapa kali diawal, lalu tidak istiqomah.

Ya itulah variasinya, sedikit sekali yang berfikir soal regenerasi dan keberlangsungan organisasi.

Artinya komunitas kepenulisan tidak hanya melahirkan orang yang bisa menulis, namun juga melahirkan orang-orang yang bisa mengajarkan menulis ke yang lain.

Karenanya wadahnya perlu dirawat, komunitasnya perlu tetap eksis sebagai wadah tersebut.

10 tahun FLP Blitar ini sudah cukup lumayan. Meski sempat vakum dan aktif kembali pada 2015 hingga saat ini, berjalan 3 tahun lebih.

Namun seberapa usaha untuk menghidupkan komunitas literasi, wabil khusus dalam bidang kepenulisan, tetap akan kembali pada kesadaran bahwa, menulis adalah kegiatan individual.

Seperti halnya membaca, sudah berapa banyak komunitas baca yang tidak eksis lagi. Sebab membaca adalah kegiatan individu. Ruang yang benar-benar personal.

Saya pun pada akhirnya, setelah banyak momentum bersama komunitas saya lalui, akan kembali merenung pada aspek ini : sudahkah saya sendiri menulis?

Jika Nabi bersabda bahwa hari ini harus lebih produktif dari kemaren, maka yang terjadi pada FLP Blitar justru sebaliknya.

Bagi saya itu hal wajar dan maklum, ada saat semua perlu jeda, merenung sejenak dari semua yang telah dilalui. Hingga pada akhirnya FLP Blitar vakum kembali, seperti sebelum 2015, maka memang sudah saatnya.

Ada saatnya ruang aktualisasi kita pun berganti, asalkan jangan sampai terhenti. Selamat ber-literasi, dari diri sendiri. []

Blitar, 30 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz


Sunday, June 10, 2018


Oleh Ahmad Fahrizal Aziz


"Kalau tempat ini dibuat diskusi boleh ya Pak?"


Tanya saya suatu ketika, lebih setahun silam, pada Pak Budi Kastowo, "juru kunci" buku-buku koleksi khusus Bung Karno.


Tempat itu lebih sering sepi. Lokasinya ada di lantai II sebelah barat. Sesekali nampak ada interaksi, jika kebetulan ada tamu dari luar kota yang hendak menggali referensi tentang Bung Karno. Atau jika ada diskusi publik.


Kebetulan setiap minggu siang, saya dan beberapa teman dari Forum Lingkar Pena datang ke area perpustakaan, duduk melingkar di selasar untuk berbincang soal kepenulisan. Saya jadi ingat ruang atas, bagaimana kalau pindah ke atas saja?


Kehadiran kami disambut Pak Budi Kastowo, yang kadang ikut dalam diskusi, kadang pula ikut berpraktek menulis, jika dalam materi diskusi mentor mengharuskan kami untuk praktek menulis.


Berikutnya kami makin akrab dengan petugas yang lain, sampai-sampai kami tidak perlu lagi lewat jalan utama menuju lantai II tersebut. Kami nerobos lewat Museum, padahal disana tertulis : selain karyawan dilarang masuk.


Entah siapa yang memulai, kalau tidak salah Rosy Nursita. Sebelum dia jadi ketua Lingkar Pena, saya pernah lihat dia duduk di lantai dua dengan mengenakan jaket hitam dan membawa tas. Loh kok boleh?


Padahal kalau masuk perpustakaan, tas dan jaket harus dititipkan di bawah. Ternyata dia lewat museum, dan setelah itu ditirukan yang lain.


Atau bisa juga, karena ada Adinda Kinasih, yang sempat magang disitu, karena program PPL-nya sebagai mahasiswi jurusan Ilmu Perpustakaan. Banyak orang perpus sudah mengenalnya, yang kemudian juga mengenalnya sebagai anggota Lingkar Pena.


Jadi seperti previlage tersendiri, bisa menggunakan ruangan di lantai II, bercengkrama, berdiskusi, dan saling berbagi. Kadang juga saling tukar-pinjam buku, apalagi yang sudah punya kartu anggota perpustakaan, tinggal bergeser ke ruang sebelah untuk memilih buku-buku yang ingin dipinjam.


Saya yang malas baca pun akhirnya juga tergerak untuk bikin kartu anggota perpustakaan. Sekarang bikin kartu itu mudah sekali, cukup bawa KTP, isi formulir lembaran dan pada komputer yang disediakan, lalu berfoto, dan tinggal menunggu beberapa menit kartu pun jadi.


Inilah fasilitas publik yang harusnya diakses oleh masyarakat. Semua serba gratis.


***
Di tempat yang sama kemudian, saya berbincang dengan Pak Budi soal rendahnya budaya baca. Rasanya sudah cukup untuk terus-terusan mengeluh apalagi mengumpat.


Diskusi soal budaya baca tentu menjadi perhatian serius, terutama bagi pengelola perpustakaan seperti Pak Budi. Salah satu i'tikad Pustakawan, tentu adalah bagaimana masyarakat suka membaca, dan mengakses buku-buku yang sudah disediakan negara.


Tetapi ya berat untuk mengajak orang suka membaca buku, apalagi ditengah gempuran digital, ditengah generasi kini yang dimanjakan google. Ditengah kepraktisan orang mencari informasi yang mereka butuhkan.


Karenanya, lebih baik kita bikin perkumpulan. Tidak harus yang suka baca, justru buat yang malas baca. Biar mendengarkan dulu. Tetapi memang harus ada yang "berkorban" untuk membaca buku, lalu menyampaikannya.


Jadi membaca bukan lagi untuk diri sendiri, tetapi untuk disampaikan ke orang lain. Membaca bukan lagi sebagai ruang privat, tetapi menjadi upaya untuk menggerakkan.


Grup whatsapp pun dibuat untuk memperluas silaturahim dan partisipasi masyarakat. Meski yang hadir dalam pertemuan rutin setiap Jum'at kemudian, antara belasan sampai puluhan.


Bagi saya itu tak masalah, berapapun yang hadir, minimal saya sendiri juga membutuhkan. Sedikit atau banyak, tak terlalu berpengaruh. Meski mungkin ada orang yang menertawakan.


Ketika FLP Blitar vacum selama kurang lebih tiga tahun, yang menghidupkannya kembali toh hanya 5 orang. Sampai nyaris setahun kemudian peserta yang hadir ya tetap antara 5 orang itu.


***
Saya rutin hadir dalam diskusi setiap hari Jum'at, dan berharap akan banyak yang datang, tetapi kalaupun tidak banyak, minimal saya sendiri juga butuh untuk datang ; butuh untuk mendengarkan, butuh untuk tahu hal-hal baru, butuh untuk terus belajar.


Tepat 8 Juni 2018, ada Undangan ke rumah Pak Budi Kastowo yang terletak di utara Kota. Rumah dengan suasana sekitar yang asri. Undangan itu untuk diskusi dan berbuka bersama.


Kira-kira satu minggu ini, di teras depan yang luas, sudah dibuka sebuah cafe. Sudah ada LCD dan sekaligus pengeras suara, beserta free wifi. Tepat disamping perguruan "ilmu sejati".


Saya membuka diskusi, dilanjutkan Pak Budi yang menceritakan bagaimana Bung Karno menggali Pancasila, sampai waktu berbuka tiba. Sebagian kami melaksanakan shalat magrib berjamaah.


Selepas itu, beberapa hidangan sudah tersaji. Ada beberapa jenang merah, sebab malam ini ada satu lagi agenda penting, yaitu peresmian nama untuk kegiatan rutin kami setiap hari Jum'at itu.


Mbah Kakung, Bambang In Mardiono, atau yang biasa disapa Mbah Gudel memimpin hajatan tersebut, dengan bahasa Indonesia bercampur Jawa, beserta filosofinya.


Lalu apa nama yang cocok? Jujur saya pribadi, Kang Khabib, Karas, dan lainnya, tak sempat menemukan nama yang pas. Nama "komunitas malas baca" dirasa cukup, penuh kritik sekaligus dalam rangka menertawakan diri sendiri yang kadang malas untuk membaca.


Atau karena kami dari Muhammadiyah, yang kurang mesakralkan soal nama. Orang Muhammadiyah sendiri ketika menamai Amal Usahanya, kadang hanya mencari nama lain yang sekiranya cocok dengan logo : seperti surya dan mentari.


Tetapi Pak Budi Kastowo dan Mbah Gudel mungkin punya nilai-nilai tersendiri soal nama, dan berharap agenda mingguan ini tetap langgeng sampai waktu yang lama, dan berdampak. Ya, begitulah doa kami semua.


Ternyata pada malam itu, nama "dititipkan" oleh seseorang yang baru hadir hari itu, mahasiswa STIT Al Muslihun bernama Hamid Firdaus. Ia mengusulkan sebuah nama yang kemudian disepakati.


Komunitas Malas Baca pun berubah menjadi Komunitas Muara Baca. Kata "Muara" bermakna dua hal : sebagai tempat pertemuan dan tujuan, juga karena peresmian malam itu berlokasi di jalan muara takus.


Sepertinya hadirin sepakat, dan tanpa waktu lama kemudian diresmikan, lalu ditutup dengan doa oleh Gus Imam, tokoh masyarakat Sentul yang turut hadir malam itu.


Selanjutnya, cukuplah kita menyebut komunitas itu dengan "Muara" saja, atau komunitas muara. Dan semoga mereka yang suka membaca, atau yang masih malas membaca sekalipun, bisa bermuara disini, di komunitas ini.


Jadi ada sharing wawasan, ada atmosfir positif untuk kembali membuka-buka isi buku, yang rasanya sudah seperti barang antik akhir-akhir ini.


Ada sebuah gerakan membaca. Semoga.


Blitar, 10 Juni 2018

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi