Friday, September 11, 2020
Wednesday, October 10, 2018
Tentu tidak. Apalagi kita tidak pernah benar-benar serius belajar menulis (baca : mengarang). Dan apakah itu perlu?
Sejak SD hingga SMA, bahkan sampai kuliah, selalu dicekoki pelajaran bahasa Indonesia. Selalu. Materinya berputar-putar, dari stuktur kalimat, ejaan, tanda baca, hingga majas-majas.
Muter-muter disitu saja, dan tragisnya setelah lulus banyak yang lupa. Lihat saja postingan-postingan orang di sosial media. Tidak semua bagus. Tidak semua bahasanya tertata, dan itu jumlahnya dominan.
Lalu untuk apa bertahun-tahun belajar bahasa Indonesia? Seolah tak ada gunanya. Sia-sia. Buang-buang waktu. Meski ujian nasional nilai bahasa Indonesianya tinggi.
Tentu itu menggelisahkan, sekaligus jadi refleksi bersama tentang kegiatan sekolah selama ini, yang tidak efektif membentuk siswa agar bisa berbahasa Indonesia dengan baik.
Padahal bahasa itu penting. Tidak saja sebagai alat komunikasi, namun juga identitas bangsa, instrument budaya, dan nasionalisme yang paling awal membentuk bangsa ini.
Selepas merdeka pada 1945, hanya bahasa Indonesia yang bisa menjadi alat pemersatu. Sebagian besar masyarakat belum tahu soal ideologi negara, bangsa, dan sebagainya.
Ketika orang Papua bertemu orang Sunda, orang Bugis bertemu orang Jawa, orang Minang berjumpa orang Madura, yang menandakan mereka satu adalah bahasa Indonesia.
Karenanya merawat bahasa Indonesia penting. Selain di sekolah, juga melalui gerakan-gerakan literasi, khususnya kepenulisan, yang mana bahasa Indonesia dengan serius dijadikan kajian sekaligus "diamalkan", dituangkan lewat tulisan.
Lalu jika sekolah saja tidak mampu, bagaimana dengan gerakan-gerakan literasi yang hanya swadaya?
Inilah tantangan peliknya. Tidak semua orang bersedia. Tidak ada duitnya. Beberapa yang biasanya melapak buku, menyediakan buku bacaan gratis, juga sedikit yang bertahan.
Lainnya gulung tikar ; tak digubris, sering diremehkan, buku-bukunya dipinjam dan tak kembali, yang meminjam pun belum tentu baca.
Bagi para pejuang literasi yang saya temui, jika buku dipinjam dan tak dikembalikan, itu tak jadi soal. Namun yang jadi masalah, ketika buku-buku sudah tidak lagi dibaca.
Lalu lebih sulit mana dengan mengelola komunitas kepenulisan? Ibarat tangga, menulis adalah tangga berikutnya dari membaca. Tentu tidak gampang pula. Meski optimisme selalu ada.
Mereka yang mau menulis, tentu harus melewati dulu "tangga membaca" tersebut. Karena itu jadi salah satu bahan bakarnya.
Karena itulah jumlah yang menulis pasti tidak lebih banyak dari pembaca. Jumlah pembaca juga jauh lebih sedikit dari pendengar dan penonton.
Orang lebih suka melihat dan mendengar, dibanding membaca dan menulis. Maka jumlah penulis tidak banyak, namun tidak sedikit. Banyak yang bisa menulis di antara yang sedikit tersebut.
Akan tetapi membaca (dan menulis) menjadi ukuran kemajuan sebuah negara. Mereka yang menulis, otomatis seorang pembaca yang baik. Setidaknya, memiliki pengetahuan kosa kata yang cukup.
Serta, semua orang bisa menulis. Ahli ekonomi, budaya, politik, kesehatan, pertanian, nuklir dan lain sebagainya, kadang juga perlu menuliskan bidang keilmuan mereka, agar dipelajari generasi berikutnya.
Setiap orang, terutama di era digital seperti ini, ketika sosial media dan media daring mudah diakses, menulis jadi menemukan relevansinya tersendiri. Salah satunya, menuliskan pengalaman pribadi.
Ada banyak hal pribadi yang asyik dan mungkin penting untuk ditulis. Tulisan yang barangkali akan dibaca keluarga, teman, anak, cucu dan seterusnya. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda.
Sekolah bisa membiasakan untuk itu, komunitas kepenulisan perlu menguatkan iklim menulis tersebut. Namun pasti tidak banyak yang tertarik.
Terlalu banyak godaan, seperti ponsel pintar. Daripada menulis panjang-panjang, mending ambil foto dengan sedikit kutipan, atau ambil video. Menulis bikin capek.
Karenanya tidak semua orang akan menulis, kendati menulis tetap perlu. Bahkan sebuah tulisan bisa lebih komplit "memotret" suasana hati dan pikiran. []
Blitar, 10 Oktober 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Sunday, September 30, 2018
2018 adalah tahun ke-10 berdirinya FLP Blitar, sejak diresmikan pada 31 Agustus 2008, di Aula Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Kota Blitar, dihadiri langsung oleh Ketua FLP Pusat kala itu Pak Irfan Hidayatullah.
Pada kesempatan itupula diadakan Musyawarah wilayah, dan memilih ketua FLP Wilayah Jatim. Terpilihlah Bu Sinta Yudisia, yang dikemudian hari menjadi ketua FLP Pusat.
Jadi, dalam kapasitasnya yang baru berdiri, FLP Blitar pernah jadi tuan rumah Musyawarah wilayah.
Saat itu, saya masih 16 tahun. Meluangkan waktu disela sekolah, sekaligus mengurus ekstrakurikuler Jurnalistik, dari situlah berjumpa dengan orang-orang yang kemudian bersama-sama mendirikan FLP Blitar.
Sayangnya saya hanya bisa aktif sampai Juli 2009. Karena setelah itu hijrah ke Malang, kuliah dari Senin-Jum'at, dan berbagai kegiatan tambahan pada Sabtu dan Ahad.
Sejak itu saya vakum dari FLP Blitar. Sesekali datang pada acaranya, seperti seminar kepenulisan di Unisba pada 2010. Namun tidak aktif mengurus organisasinya.
Saya kemudian bergabung dengan FLP Ranting UIN Malang pada pertengahan 2010 itu. Setahun kemudian jadi sekretaris, pada pertengahan 2012 menjadi ketua selama 20 bulan, hingga akhir 2013.
Setelah itu saya memang tidak ingin aktif lagi di FLP. Meski yang lain masih aktif, bahkan yang lebih lama dari saya, masih aktif di kepengurusan cabang dan ranting misalkan.
Kenapa tidak ingin aktif lagi? Sebaiknya berorganisasi itu jangan terlalu lama. Kalau sudah re-organisasi, cukup jadi penyemangat kepengurusan yang baru.
Kalau memang ada kesempatan ke struktur yang lebih tinggi, misalnya Wilayah atau Pusat, ya bisa lanjut disana. Kalau tidak, mending tidak perlu jadi pengurusnya lagi.
Asalkan jangan meninggalkan generasi yang lemah.
###
Awal 2015 kesibukan saya di Malang tak terlalu padat, sehingga bisa bolak balik ke Blitar untuk mempersiapkan "agenda baru". Hingga pertengahan 2015 bisa benar-benar kembali ke Blitar.
Akhirnya komunikasi dengan FLP Blitar terjalin lagi, sekaligus bersepakat untuk menghidupkan kegiatan di dalamnya. Padahal saya sempat tidak ingin aktif lagi di FLP, namun yang menjadi pemikiran waktu itu, saya belum pernah benar-benar aktif di FLP Blitar.
Bagi saya, ini menyambung keterputusan sejak pertengahan 2009 silam. Tentu dengan pengalaman yang berbeda, dengan semangat dan mood yang berbeda pula.
Dari 2015 hingga 2018 kini, sudah hampir 4 tahun FLP Blitar kembali eksis. Bahkan sangat eksis, dengan 2 kali menerbitkan buku, rutin pertemuan mingguan, agenda-agenda kepenulisan yang dijalankan, sampai masuk koran radar Blitar. Hehe
Dari 2008-2018 pula FLP Blitar memiliki empat ketua, periode Mbak Gesang Sari Mawarni dan Mbak Lilik Nuktihana dari 2008-2015. Lalu Ahmad Saifudin dan Rosy Nursita dari 2015 hingga sekarang.
Sejak kembali ke Blitar pada pertengahan 2015, saya memang ingin aktif ber-literasi di Blitar. Bertemu Alfa Anisa dan Rere, yang kemudian bisa silaturahim ke LPM di kampus-kampus.
Selain tetap menengok adik-adik di Ekstrakurikuler Jurnalistik Man Kota Blitar, tempat saya pertama kali belajar menulis dan berkegiatan literasi.
###
2017 FLP Blitar begitu eksis, selain pertemuan rutin, ada juga kegiatan Goes To School, dua kali mengadakan kegiatan puisi : perayaan hari puisi dan gempa puisi, serta melengkapinya dengan menerbitkan buku antologi puisi.
Bersama kawan-kawan FLP Blitar, saya mewujudkan keinginan yang terpendam sejak lama, yaitu ikut memeriahkan kegiatan literasi, sastra, dan budaya. Mengabdi di tanah kelahiran sendiri.
Akan tetapi, kelemahan terbesar dari sebuah komunitas, tidak adanya pengelolaan organisasi yang formal dan terstruktur. Termasuk kaderisasi. Padahal FLP Blitar termasuk organisasi kaderisasi penulis.
Misalkan saja, soal sistem penerimaan anggota baru, kaderisasi di dalamnya, hingga sistem pergantian kepengurusan, dari ketua dan jajarannya. Hal semacam itu perlu dipikirkan, agar ada proses berkesinambungan.
Agar tidak vakum ketika ditinggal penggeraknya yang lama. Meski untuk menjalankan sistem keorganisasian tersebut juga tidak mudah.
Itulah kenapa komunitas, apalagi komunitas literasi, kadang timbul tenggelam. Eksis, vakum, lalu eksis lagi, dan ada kemudian yang benar-benar vakum selamanya.
Karena sifatnya komunitas, maka orang yang bergabung pun juga membidik sesuatu, katakanlah, ingin bisa menulis. Setelah hal itu didapat, akan pergi.
Atau ada juga, setelah masuk dan bergabung, tidak menemukan yang dicari, lalu pergi. Ada juga yang masuk, aktif beberapa kali diawal, lalu tidak istiqomah.
Ya itulah variasinya, sedikit sekali yang berfikir soal regenerasi dan keberlangsungan organisasi.
Artinya komunitas kepenulisan tidak hanya melahirkan orang yang bisa menulis, namun juga melahirkan orang-orang yang bisa mengajarkan menulis ke yang lain.
Karenanya wadahnya perlu dirawat, komunitasnya perlu tetap eksis sebagai wadah tersebut.
10 tahun FLP Blitar ini sudah cukup lumayan. Meski sempat vakum dan aktif kembali pada 2015 hingga saat ini, berjalan 3 tahun lebih.
Namun seberapa usaha untuk menghidupkan komunitas literasi, wabil khusus dalam bidang kepenulisan, tetap akan kembali pada kesadaran bahwa, menulis adalah kegiatan individual.
Seperti halnya membaca, sudah berapa banyak komunitas baca yang tidak eksis lagi. Sebab membaca adalah kegiatan individu. Ruang yang benar-benar personal.
Saya pun pada akhirnya, setelah banyak momentum bersama komunitas saya lalui, akan kembali merenung pada aspek ini : sudahkah saya sendiri menulis?
Jika Nabi bersabda bahwa hari ini harus lebih produktif dari kemaren, maka yang terjadi pada FLP Blitar justru sebaliknya.
Bagi saya itu hal wajar dan maklum, ada saat semua perlu jeda, merenung sejenak dari semua yang telah dilalui. Hingga pada akhirnya FLP Blitar vakum kembali, seperti sebelum 2015, maka memang sudah saatnya.
Ada saatnya ruang aktualisasi kita pun berganti, asalkan jangan sampai terhenti. Selamat ber-literasi, dari diri sendiri. []
Blitar, 30 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Sunday, June 10, 2018
Oleh Ahmad Fahrizal Aziz
"Kalau tempat ini dibuat diskusi boleh ya Pak?"
Tanya saya suatu ketika, lebih setahun silam, pada Pak Budi Kastowo, "juru kunci" buku-buku koleksi khusus Bung Karno.
Tempat itu lebih sering sepi. Lokasinya ada di lantai II sebelah barat. Sesekali nampak ada interaksi, jika kebetulan ada tamu dari luar kota yang hendak menggali referensi tentang Bung Karno. Atau jika ada diskusi publik.
Kebetulan setiap minggu siang, saya dan beberapa teman dari Forum Lingkar Pena datang ke area perpustakaan, duduk melingkar di selasar untuk berbincang soal kepenulisan. Saya jadi ingat ruang atas, bagaimana kalau pindah ke atas saja?
Kehadiran kami disambut Pak Budi Kastowo, yang kadang ikut dalam diskusi, kadang pula ikut berpraktek menulis, jika dalam materi diskusi mentor mengharuskan kami untuk praktek menulis.
Berikutnya kami makin akrab dengan petugas yang lain, sampai-sampai kami tidak perlu lagi lewat jalan utama menuju lantai II tersebut. Kami nerobos lewat Museum, padahal disana tertulis : selain karyawan dilarang masuk.
Entah siapa yang memulai, kalau tidak salah Rosy Nursita. Sebelum dia jadi ketua Lingkar Pena, saya pernah lihat dia duduk di lantai dua dengan mengenakan jaket hitam dan membawa tas. Loh kok boleh?
Padahal kalau masuk perpustakaan, tas dan jaket harus dititipkan di bawah. Ternyata dia lewat museum, dan setelah itu ditirukan yang lain.
Atau bisa juga, karena ada Adinda Kinasih, yang sempat magang disitu, karena program PPL-nya sebagai mahasiswi jurusan Ilmu Perpustakaan. Banyak orang perpus sudah mengenalnya, yang kemudian juga mengenalnya sebagai anggota Lingkar Pena.
Jadi seperti previlage tersendiri, bisa menggunakan ruangan di lantai II, bercengkrama, berdiskusi, dan saling berbagi. Kadang juga saling tukar-pinjam buku, apalagi yang sudah punya kartu anggota perpustakaan, tinggal bergeser ke ruang sebelah untuk memilih buku-buku yang ingin dipinjam.
Saya yang malas baca pun akhirnya juga tergerak untuk bikin kartu anggota perpustakaan. Sekarang bikin kartu itu mudah sekali, cukup bawa KTP, isi formulir lembaran dan pada komputer yang disediakan, lalu berfoto, dan tinggal menunggu beberapa menit kartu pun jadi.
Inilah fasilitas publik yang harusnya diakses oleh masyarakat. Semua serba gratis.
***
Di tempat yang sama kemudian, saya berbincang dengan Pak Budi soal rendahnya budaya baca. Rasanya sudah cukup untuk terus-terusan mengeluh apalagi mengumpat.
Diskusi soal budaya baca tentu menjadi perhatian serius, terutama bagi pengelola perpustakaan seperti Pak Budi. Salah satu i'tikad Pustakawan, tentu adalah bagaimana masyarakat suka membaca, dan mengakses buku-buku yang sudah disediakan negara.
Tetapi ya berat untuk mengajak orang suka membaca buku, apalagi ditengah gempuran digital, ditengah generasi kini yang dimanjakan google. Ditengah kepraktisan orang mencari informasi yang mereka butuhkan.
Karenanya, lebih baik kita bikin perkumpulan. Tidak harus yang suka baca, justru buat yang malas baca. Biar mendengarkan dulu. Tetapi memang harus ada yang "berkorban" untuk membaca buku, lalu menyampaikannya.
Jadi membaca bukan lagi untuk diri sendiri, tetapi untuk disampaikan ke orang lain. Membaca bukan lagi sebagai ruang privat, tetapi menjadi upaya untuk menggerakkan.
Grup whatsapp pun dibuat untuk memperluas silaturahim dan partisipasi masyarakat. Meski yang hadir dalam pertemuan rutin setiap Jum'at kemudian, antara belasan sampai puluhan.
Bagi saya itu tak masalah, berapapun yang hadir, minimal saya sendiri juga membutuhkan. Sedikit atau banyak, tak terlalu berpengaruh. Meski mungkin ada orang yang menertawakan.
Ketika FLP Blitar vacum selama kurang lebih tiga tahun, yang menghidupkannya kembali toh hanya 5 orang. Sampai nyaris setahun kemudian peserta yang hadir ya tetap antara 5 orang itu.
***
Saya rutin hadir dalam diskusi setiap hari Jum'at, dan berharap akan banyak yang datang, tetapi kalaupun tidak banyak, minimal saya sendiri juga butuh untuk datang ; butuh untuk mendengarkan, butuh untuk tahu hal-hal baru, butuh untuk terus belajar.
Tepat 8 Juni 2018, ada Undangan ke rumah Pak Budi Kastowo yang terletak di utara Kota. Rumah dengan suasana sekitar yang asri. Undangan itu untuk diskusi dan berbuka bersama.
Kira-kira satu minggu ini, di teras depan yang luas, sudah dibuka sebuah cafe. Sudah ada LCD dan sekaligus pengeras suara, beserta free wifi. Tepat disamping perguruan "ilmu sejati".
Saya membuka diskusi, dilanjutkan Pak Budi yang menceritakan bagaimana Bung Karno menggali Pancasila, sampai waktu berbuka tiba. Sebagian kami melaksanakan shalat magrib berjamaah.
Selepas itu, beberapa hidangan sudah tersaji. Ada beberapa jenang merah, sebab malam ini ada satu lagi agenda penting, yaitu peresmian nama untuk kegiatan rutin kami setiap hari Jum'at itu.
Mbah Kakung, Bambang In Mardiono, atau yang biasa disapa Mbah Gudel memimpin hajatan tersebut, dengan bahasa Indonesia bercampur Jawa, beserta filosofinya.
Lalu apa nama yang cocok? Jujur saya pribadi, Kang Khabib, Karas, dan lainnya, tak sempat menemukan nama yang pas. Nama "komunitas malas baca" dirasa cukup, penuh kritik sekaligus dalam rangka menertawakan diri sendiri yang kadang malas untuk membaca.
Atau karena kami dari Muhammadiyah, yang kurang mesakralkan soal nama. Orang Muhammadiyah sendiri ketika menamai Amal Usahanya, kadang hanya mencari nama lain yang sekiranya cocok dengan logo : seperti surya dan mentari.
Tetapi Pak Budi Kastowo dan Mbah Gudel mungkin punya nilai-nilai tersendiri soal nama, dan berharap agenda mingguan ini tetap langgeng sampai waktu yang lama, dan berdampak. Ya, begitulah doa kami semua.
Ternyata pada malam itu, nama "dititipkan" oleh seseorang yang baru hadir hari itu, mahasiswa STIT Al Muslihun bernama Hamid Firdaus. Ia mengusulkan sebuah nama yang kemudian disepakati.
Komunitas Malas Baca pun berubah menjadi Komunitas Muara Baca. Kata "Muara" bermakna dua hal : sebagai tempat pertemuan dan tujuan, juga karena peresmian malam itu berlokasi di jalan muara takus.
Sepertinya hadirin sepakat, dan tanpa waktu lama kemudian diresmikan, lalu ditutup dengan doa oleh Gus Imam, tokoh masyarakat Sentul yang turut hadir malam itu.
Selanjutnya, cukuplah kita menyebut komunitas itu dengan "Muara" saja, atau komunitas muara. Dan semoga mereka yang suka membaca, atau yang masih malas membaca sekalipun, bisa bermuara disini, di komunitas ini.
Jadi ada sharing wawasan, ada atmosfir positif untuk kembali membuka-buka isi buku, yang rasanya sudah seperti barang antik akhir-akhir ini.
Ada sebuah gerakan membaca. Semoga.
Blitar, 10 Juni 2018
Sunday, June 3, 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Sejak pertengahan 2007, saya mulai benar-benar aktif dalam komunitas. Mulanya melalui ekskul Jurnalistik sekolah.
Pada moment MOS (Masa Orientasi Siswa), saya jadi panitia, dan harus presentasi ekskul tersebut dihadapan siswa baru. Setelah MOS, masih door to door ke kelas-kelas untuk menyebar brosur ekskul. Meyakinkan para siswa untuk ikut ekskul Jurnalistik.
Perjuangan tersebut tidak sia-sia, sebab ternyata ekskul Jurnalistik kala itu paling banyak diminati siswa baru. Jangan bandingkan dengan Pramuka, yang memang selalu diprioritaskan dan dikhususkan oleh sekolah.
***
Pertengahan 2008, di masa akhir amanah sebagai ketua ekskul, saya terlibat "promosi" lagi. Yaitu menyebarkan brosur launching FLP Blitar ke sekolah-sekolah. Sekaligus memperkenalkan kepada mereka bahwa ada komunitas kepenulisan di Blitar ini.
Semua panitia berjuang. Hasilnya cukup menggembirakan. Aula penuh sampai kursi belakang. Banyak juga kemudian yang mengambil formulir, mengisinya, dan kemudian datang pada pertemuan berikutnya.
***
Akhir 2012, saya ditunjuk sebagai ketua ranting FLP UIN Malang. Setelah itu, bersama "sisa kepengurusan" yang ada, kami menempel pamflet ke sudut-sudut kampus. Menulis berita di koran lokal dan buletin bahwa FLP UIN baru punya ketua baru dan sedang membuka pendaftaran.
Peminatnya membludak. Lebih dari seratus, dan yang hadir dalam acara OR sekitar 90, yang benar-benar aktif kemudian hanya belasan.
Kala itu benar-benar penuh perjuangan dalam keterbatasan yang ada.
Sekembalinya ke Blitar, ternyata hal tersebut masih berlanjut. Bersama empat orang waktu itu, pada pertengahan 2015, menghidupkan kembali FLP Blitar. Sampai kini, dan untuk pertama kalinya ada Musyawarah Cabang. Pergantian ketua melalui musyawarah, meski sistemnya masih jauh dari kata sempurna.
Bersyukur bisa berjumpa dengan mereka yang punya gairah literasi, dan rela meluangkan sekaligus memprioritaskan waktunya untuk terus menghidupi organisasi.
Meski disela-sela itu, ada pertanyaan reflektif dalam diri. Sebab karena sibuknya pada organisasi, sampai lupa membuat karya. Lantas apa gunanya?
Iya, apa gunanya? Komunitas atau organisasi dibentuk untuk menguatkan motivasi, berbagi, dan menebar inspirasi. Juga sebagai media untuk belajar. Tetapi lupa berkarya? Sampai orang tanya mana buku yang sudah kamu terbitkan?
Pernah juga saya berbincang dengan teman yang aktif menulis. Dia tidak ikut organisasi, dan memilih "berkarya sendiri". Tulisannya masuk koran-koran. Saya iri. Meskipun dalam suasana iri tersebut, toh saya juga "tidak sempat" menulis untuk koran atau majalah.
Otak saya sudah mengepul dengan tugas menulis wajib, mengurus bisnis kecil-kecilan, dan memikirkan organisasi. Nyaris tak ada ruang perenungan khusus, hingga melahirkan puisi atau cerpen yang layak muat ke media.
Sebab yang difikirkan bukan hanya satu organisasi. Ada beberapa, dengan kompleksitas yang ada. Belum lagi permasalahan hidup yang juga harus diselesaikan. Berat!
Sebagai hiburan, saya bercocok tanam. Merawat tanaman sekitar rumah, beternak ayam, juga mengover lagu dan kadang mengunggahnya ke sosial media (soundcloud).
Kalau tidak begitu, nongkrong dan ngopi dengan teman hingga larut malam. Sesekali jalan-jalan : ke hutan, air terjun, pantai, dan tanpa berfoto-foto. Menghirup segarnya udara, menyesap energi alam yang diberikan gratis oleh Tuhan.
Apakah lebih baik saya break ber-organisasi, atau ber-komunitas, dan kemudian "berkarya mandiri" saja?
Atau sebaiknya saya menjalani kehidupan formal yang sempat saya tinggalkan. Kerja di kantor, menggarap berkas, bersepatu pantofel, berkemeja, berjas dan berdasi, padahal udara panas.
Atau masuk gelanggang politik, sebab hasrat politik saya cukup kuat, termasuk ketika seringnya menulis soal politik. Namun politik dalam sebuah tulisan, dan realitas, sungguh jauh berbeda.
Apakah benar kata seorang teman, bahwa saya mengorbankan banyak kesempatan dan tawaran, hanya karena ingin hidup bebas. Sebebas "manusia jalang"-nya Chairil Anwar.
Saya sempat ingin break sejenak. Menepi, menyelesaikan novel. Tetapi tangan selalu gatal untuk menulis yang lain. Terbayang website saya sendiri yang jarang terisi, padahal terlanjur dibayar. Juga "peternakan blog" yang lama saya tinggalkan.
Kadang tidak perlu ber-organisasi, toh banyak juga yang produktif menulis tanpa perlu ikut organisasi atau komunitas kepenulisan, dan juga terkenal. Bahkan justru diundang ceramah atau khotbah soal kepenulisan.
Tetapi saya tidak bisa. Tidak betah lama-lama di rumah, duduk berjam jam di depan laptop. Saya harus keluar, bertemu orang, berbincang, atau membuat forum-forum diskusi.
Karena dengan begitulah, sebenarnya, saya justru punya bahan untuk menulis. []
Blitar, 3 Juni 2018
Tuesday, January 16, 2018
| (Ngobrol dengan Pak Budi Kastowo) |
| agenda rutin FLP Blitar |
Tuesday, June 27, 2017
Yang menarik adalah tidak adanya batasan usia atau jenjang untuk bergabung dengan FLP Blitar. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja profesional, sampai Ibu rumah tangga. Semua tumpah ruah.
Dari segi kajian, memang tidak mematok tema berat sebagaimana yang dikaji di kampus-kampus, atau komunitas yang mengukhususkan satu ideologi tertentu. Semisal ideologi kebebasan.
Bisa saling berbagi soal buku bacaan, sehingga antar anggota mulai cinta membaca saja sudah sangat disyukuri. Lebih-lebih jika mau menulis, entah esai sederhana seputar pengalaman hidup, sampai menulis karya sastra.
Lebih bersyukur lagi jika sampai ada karya yang masuk media massa. Minimal mewarnai jagad dunia maya dengan tulisan-tulisan di website FLP Blitar.
Beberapa kegiatan lain seperti Goes to School, berkunjung ke sekolah-sekolah untuk lebih memperkenalkan dunia sastra dan kepenulisan, juga bagian dari bentuk pengabdian.
Memang tidak semua siswa yang dikunjungi akan merespon positif, bahkan ada yang hanya menganggapnya angin lewat. Namun entah hanya satu atau dua orang, pasti ada yang tertarik untuk mendalami.
Itulah sebagian kecil dari bentuk pengabdian lewat FLP Blitar. Memang tidak menawarkan secara langsung keuntungan materi, tapi lebih menguatkan lagi hal-hal immaterial seperti pengayaan wawasan, perspektif, sampai perenungan.
Karena bagaimanapun, ketika mencipta karya, proses perenungan, pembacaan atas diri sendiri secara langsung akan terjadi. Mungkin dengan begitu akan menemukan makna-makna.
Dalam hidup, kehilangan makna jauh lebih mengerikan dari kehilangan apapun. Kehilangan makna berarti pula kehilangan hidup. Untuk apa melakukan ini itu, memiliki ini itu, tapi terasa hambar dan tak bermakna.
Kehadiran sesepuh di FLP Blitar, seperti Pak Budiyono dan Oma Merry Moe yang turut serta aktif dalam kegiatan, semakin memperkuat para pegiat di FLP Blitar untuk mendiskusikan soal makna-makna.
Selamat mengabdi : Berbakti, Berkarya, Berarti. []
~ A Fahrizal Aziz
Monday, June 26, 2017
Rasanya lebih tepat menyebut FLP Blitar sebagai komunitas literasi, ketimbang komunitas kepenulisan. Meskipun keduanya tidak terlalu memiliki perbedaan yang signifikan.
Secara sederhana, literasi itu mencakup dua hal saja, yaitu membaca dan menulis. Komunitas literasi, berarti memfokuskan program dan kegiatan dalam rangka menyemarakkan tradisi membaca dan menulis.
Kalaupun hanya menggunakan nama komunitas kepenulisan, toh juga tidak akan jauh-jauh dari kegiatan membaca. Sebab membaca dan menulis, adalah dua hal yang sulit dipisahkan.
Lagipula, tidak semua yang bergabung dengan FLP Blitar, siap untuk menulis. Tapi seiring waktu, menulis adalah tujuan utamanya. Artinya tidak komplit, jika gabung ke FLP Blitar tapi tidak menulis.
Memang ada yang berkata, gabung ke FLP Blitar tidak harus menulis. Mungkin bisa fokus untuk mengurus administrasi. Tapi bukan berarti menulis ditinggalkan begitu saja, tetap harus diupayakan.
Seperti orang ikut perguruan pencak silat, untuk apa kalau tidak belajar silat? Soal administrasi, keorganisasian itu bisa berjalan seiring, namun bukan tujuan utama.
Meskipun, FLP sendiri bergerak pada tiga ranah : kepenulisan, keIslaman, dan Keorganisasian. Belakangan, kepenulisan pun berganti kekaryaan. Artinya bisa lebih luas, tidak hanya tulisan, bisa karya lain yang masih berhubungan, seperti film dan media kreatif lain.
***
Membaca tentu sangat penting bagi proses kehidupan seseorang. Dengan membaca, maka wawasannya bertambah. Jika wawasan bertambah maka fikiran terbuka.
Dalam aspek yang lain, komunitas literasi mewadahi siapapun untuk melakukan kegiatan positif, terutama anak muda, ditengah budaya pop yang kian menakutkan.
Di era sekarang, orang yang memiliki budaya literasi begitu terlihat, terutama ketika bersosial media. Mereka yang tidak memiliki budaya baca, maka akan mudah terpengaruh dengan postingan-postingan bombastis yang kental unsur kepentingan tertentu.
Mereka akan menjadi follower, konsumen yang menjadi korban. Mereka yang memiliki budaya baca, apalagi menulis, sangat kecil kemungkinan terbawa arus demikian itu, karena mereka bisa memproduksi sendiri gagasannya, tulisannya, dan terbiasa mencerna bacaan.
Tentu dengan menggerakkan komunitas literasi, dan mengajak banyak orang untuk bergabung, bagian dari pengabdian panjang untuk menciptakan manusia yang seutuhnya, dalam arti bukan sebagai korban atau sekedar konsumen isu.
Itulah point penting kenapa literasi harus dibudayakan. []
~ A Fahrizal Aziz
Rasanya lebih tepat menyebut FLP Blitar sebagai komunitas literasi, ketimbang komunitas kepenulisan. Meskipun keduanya tidak terlalu memiliki perbedaan yang signifikan.
Secara sederhana, literasi itu mencakup dua hal saja, yaitu membaca dan menulis. Komunitas literasi, berarti memfokuskan program dan kegiatan dalam rangka menyemarakkan tradisi membaca dan menulis.
Kalaupun hanya menggunakan nama komunitas kepenulisan, toh juga tidak akan jauh-jauh dari kegiatan membaca. Sebab membaca dan menulis, adalah dua hal yang sulit dipisahkan.
Lagipula, tidak semua yang bergabung dengan FLP Blitar, siap untuk menulis. Tapi seiring waktu, menulis adalah tujuan utamanya. Artinya tidak komplit, jika gabung ke FLP Blitar tapi tidak menulis.
Memang ada yang berkata, gabung ke FLP Blitar tidak harus menulis. Mungkin bisa fokus untuk mengurus administrasi. Tapi bukan berarti menulis ditinggalkan begitu saja, tetap harus diupayakan.
Seperti orang ikut perguruan pencak silat, untuk apa kalau tidak belajar silat? Soal administrasi, keorganisasian itu bisa berjalan seiring, namun bukan tujuan utama.
Meskipun, FLP sendiri bergerak pada tiga ranah : kepenulisan, keIslaman, dan Keorganisasian. Belakangan, kepenulisan pun berganti kekaryaan. Artinya bisa lebih luas, tidak hanya tulisan, bisa karya lain yang masih berhubungan, seperti film dan media kreatif lain.
***
Membaca tentu sangat penting bagi proses kehidupan seseorang. Dengan membaca, maka wawasannya bertambah. Jika wawasan bertambah maka fikiran terbuka.
Dalam aspek yang lain, komunitas literasi mewadahi siapapun untuk melakukan kegiatan positif, terutama anak muda, ditengah budaya pop yang kian menakutkan.
Di era sekarang, orang yang memiliki budaya literasi begitu terlihat, terutama ketika bersosial media. Mereka yang tidak memiliki budaya baca, maka akan mudah terpengaruh dengan postingan-postingan bombastis yang kental unsur kepentingan tertentu.
Mereka akan menjadi follower, konsumen yang menjadi korban. Mereka yang memiliki budaya baca, apalagi menulis, sangat kecil kemungkinan terbawa arus demikian itu, karena mereka bisa memproduksi sendiri gagasannya, tulisannya, dan terbiasa mencerna bacaan.
Tentu dengan menggerakkan komunitas literasi, dan mengajak banyak orang untuk bergabung, bagian dari pengabdian panjang untuk menciptakan manusia yang seutuhnya, dalam arti bukan sebagai korban atau sekedar konsumen isu.
Itulah point penting kenapa literasi harus dibudayakan. []
~ A Fahrizal Aziz
Saya jadi ingat Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian-pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat. Dari ketiganya, sempat saya bertanya lebih jauh soal Pengabdian Masyarakat. Apakah harus komunitas, dalam konteks desa?
Program KKN, PM, Posdaya, dsj adalah cara kampus untuk menerjunkan Mahasiswanya ke Masyarakat, untuk lebih jauh mengaplikasikan ilmunya.
Tapi dalam konteks yang lebih luas, pengabdian masyarakat tidak selalu dalam komunitas heterogen seperti diatas. Barangkali bisa melalui organisasi dan komunitas, termasuk yang bersifat homogen seperti komunitas kepenulisan.
Saya aktif dalam beberapa organisasi dan komunitas, dengan tujuan mengabdi. Salah satu bidangnya adalah literasi dan kepenulisan. FLP Blitar saya rasa termasuk komunitas yang paling terbuka.
Ada banyak komunitas sejenis, tapi rata-rata bersifat tertutup. Tidak perlu saya sebut namanya secara spesifik, tapi ciri ketertutupannya adalah tidak melakukan open recruitment, alias tidak menerima anggota baru.
FLP Blitar terbuka bagi siapapun, sehingga orang bisa keluar masuk. Tidak juga bersifat mengikat. Bahkan menerima anggota baru yang mulai belajar menulis dari nol.
Karena itu, lewat FLP Blitar, fungsi pembelajaran tersebut bisa berjalan. Tidak kemudian hanya menerima anggota yang sudah jadi, sudah mahir, lalu menjadi bagian dari lingkarannya.
Ada proses dari belum bisa menjadi bisa, ada pendidikan di dalamnya. Sehingga, aktif di FLP Blitar, selain juga terus belajar (karena belajar tidak mengenal kata berhenti), juga sekaligus saling berbagai, saling mengisi.
Lantas dimanakah letak strategis dari gerakan literasi semacam ini? Insyallah bersambung ke tulisan berikutnya. []
~ A Fahrizal Aziz
Saturday, December 31, 2016
Tuesday, March 15, 2016
Friday, March 4, 2016
Buka Puasa Bersama dengan Crew Majalah Suara Akademika beberapa tahun silam :)
Ngobrol santai bersama Pengurus IMM Blitar di Kedai Ketan.
Pose di samping Perpustakaan Bung Karno bersama Komunitas Penulis Blitar.
Ngobrol santai di Fansop Durian Malang, bersama Fiqh Vredian dan M. Luthfi Fajari.
Memilih buku di Perpustakaan Bung Karno (Koleksi Umum) bersama para Presidium Paguyuban Srengenge Blitar.
Komunitas menulis kerjanya ya menulis. Kalau bikin program ya bikin program yang bisa mewadahi orang buat bisa menulis. Tapi tujuan akhirnya adalah bisa menghasilkan karya tulis. Simpel sekali sebenarnya.
Kalau misalkan komunitas menulis, tapi tidak menghasilkan karya tulis, itu lucu.
Kemarin saya diundang salah satu LPM karena menyelenggarakan Diklat. Ini undangan ketiga. Komentar saya sederhana "ini kok diklat terus lalu kapan nulisnya? Mana medianya?"
Jangan sampai panitia hanya puas karena berhasil menjalankan program diklat dan pelatihan menulis, tapi tidak juga menghadirkan karya tulis. Tidak pula melahirkan kritisisme. Kalau begitu apa bedanya dengan EO?
Ini semacam paradoks tersendiri. Mending kurangi diklat-diklat, dan mulailah take action. Cari isu yang bisa dikritisi dan sampaikan kritik itu dalam bentuk tulisan.
Begitu pun komunitas menulis lain. Take action. Diklat menulis itu hanya faktor tambahan. Intinya adalah melahirkan karya tulis tersebut.
1 Maret 2016
A Fahrizal Aziz




