FLP

Friday, September 11, 2020




Saat itu saya hadir dalam sebuah agenda Ekstrakurikuler, namun pesertanya tampak lesu. Pemandangan ini sangat berbeda ketika zaman saya dulu menjadi peserta seperti mereka. Apa sudah terjadi pergeseran?

Usut punya usut, ternyata sekolah mewajibkan siswanya untuk--minimal--mengikuti satu ekstrakurikuler. Banyak dari mereka yang akhirnya memilih ikut ekstrakurikuler tersebut tanpa memiliki tujuan yang jelas. Pokok ikut, asal sudah memenuhi kewajiban dari sekolah.

Memang tidak semuanya lesu. Ada yang bersemangat, meskipun sepertinya kurang dari 50%. Mereka yang bersemangat biasanya memang karena memiliki tujuan, karena itu pilihan mereka, semangatnya pun berbeda.

Saya termasuk yang tidak sepakat dengan suatu yang diwajibkan, apalagi pada usia SMA dan mahasiswa. Usia yang seharusnya dilatih untuk menentukan pilihannya sendiri. Karena sesuatu yang diwajibkan, ketika diikuti biasanya tidak maksimal.

Pada lingkup yang berbeda, saya pernah juga menghadiri suatu pertemuan, didalamnya ada perwakilan instansi pemerintah yang memiliki program literasi. Forum yang harusnya jadi ruang diskusi, gagasan dan usul program itu, jadi forum keluh kesah. Anggaran kurang lah, minat masyarakat rendah lah, dan lain sebagainya.

Saya mewakili komunitas, dan berharap agar komunitas yang saya kelola turut membantu dan bisa lebih bersinergi. Lho, apa tidak keliru? Kami kan hanya komunitas?

Memahami komunitas

Memang ada banyak jenis komunitas, utamanya yang berbasis hobi. Komunitas sering diasosikan tempat berkumpulnya orang dikala punya waktu luang, dengan tujuan rekreasi dan piknik. Intinya bersenang-senang di tengah sibuk dan memusingkannya pekerjaan.

Sebut saja, komunitas bersepeda, vespa, mobil tua, dan sebagainya. Berkomunitas inginnya refreshing, penyegaran, bukan? Namun bagaimana dengan komunitas literasi?

Literasi adalah suatu istilah yang berat. Secara sederhana, komunitas literasi biasanya bergerak dalam dua bidang utama : membaca dan menulis.

Saya dan teman-teman di Blitar turut serta mengelola komunitas kepenulisan, yaitu Forum Lingkar Pena. Komunitas itu memang hirarkis, ada level ranting, cabang, wilayah sampai pusat. Namun soal geraknya sangat mandiri. Swadaya.

Mereka yang bergabung ada yang memang ingin belajar menulis, ada yang mencari teman membahas segala hal tentang kepenulisan, ada yang ingin berbagi ilmu.

Namun tetap ada program kerjanya, layaknya organisasi. Ada strukturnya dari ketua, sekretaris, bendahara dan divisi-divisi.

Kadang, tidak semuanya bisa aktif. Divisi yang harusnya ia kelola jadi terbengkalai, program yang harusnya berjalan jadi macet.

Jika yang bersangkutan bilang mundur, itu berarti akan ada peralihan posisi. Biasanya yang belum masuk struktur akan dimasukkan. Jika tidak ada orang lagi, maka yang lain harus merangkap. Saya pernah merangkap 3 divisi sekaligus.

Marah, kesal, pasti. Itu wajar. Dalam psikologi, menurut Mark Mansoon, tu termasuk Thinking mind (respon otomatis). Kadang saya juga begitu. Tetapi kita harus kembali sadar, bahwa ini komunitas, kan?

Artinya, orang gabung karena sukarela. Tidak dibayar. Kita juga tak bisa berbuat apa-apa jika mereka memutuskan mundur, tidak aktif, atau hilang tiada kabar.

Meskipun, masing-masing kita juga punya kesibukan yang sama, makan nasi yang sama, beban cicilannya pun juga mungkin tak jauh berbeda. Namun satu orang harus mendapat beban lebih dari yang lain dalam komunitas.

Sekali lagi, ini komunitas. Dalam komunitas tidak ada yang bisa saling memaksa. Dia aktif atau tidak, dia mundur atau tetap di dalam, atau hilang tiada kabar, tidak tanggung jawab, kita juga tidak bisa menekannya.
Tetapi jangan sedih. Tidak semua begitu, yang tetap bertahan dan survive kan selalu ada, kan? Ya mereka lah pejuang. Sebab meluangkan waktu di sela kesibukan, mungkin juga direwangi bertengkar dengan istri, suami dan keluarga yang kurang senang dengan aktivitasnya. Selama yakin bahwa yang dijalaninya baik, sampai akhirnya keluarganya mengerti.

Pada intinya, tidak ada keluarga yang menentang anggota keluarganya  melakukan hal baik, namun kadang-kadang mereka menentang sebab ada hal lain yang menurutnya lebih prioritas. Apalagi, pertemuan komunitas sering dipilih hari libur atau hari Ahad, waktu family time.

Hal-hal semacam itu memang harus dimengerti satu sama lain, dan bila pada akhirnya satu orang harus menanggung beban lebih dalam komunitas karena banyaknya tanggung jawab dari anggota lain yang tidak menunaikannya, ya bersabar saja.

Mustinya, jika sudah gabung komunitas, apalagi bersedia jadi pengurus, sebaiknya menimbang sejak awal. Bagaimana kedepannya. Jika memang ragu, mending tidak usah ikut atau menolak sejak awal, daripada nantinya merepotkan banyak orang. Harus tegas sejak dari diri sendiri.

Jika sudah bersedia, dan tidak aktif (padahal bisa aktif), ada waktu untuk bertaubat. Berubah sikap. Daripada nanti jadi beban pikiran, perasaan tak enak terus menerus. Cuma mungkin tingkat kepercayaan orang akan berkurang.

Namanya komunitas itu simpel, ada suka dan duka saat mengelolanya. Namun ketika sebuah komunitas yang kita kelola bisa berkembang, dikenal, menghasilkan banyak karya dan sosok hebat, maka itu sekaligus mengkonfirmasi atau jadi cermin jika diri kita juga telah berkembang. Ada kemajuan dalam hidup kita, minimal lewat komunitas yang kita kelola.

Tetap semangat. Salam literasi. []


Thursday, June 29, 2017

Rumah Cahaya merupakan singkatan dari Rumah baca dan hasilkan karya. Bahasa gaulnya adalah Rumcay. Ini merupakan nama untuk markas Forum Lingkar Pena.


Fungsinya, selain sebagai sekretariatan juga sebagai tempat diskusi, rumah baca dan barangkali juga tempat penyemaian bibit-bibit penulis. Meskipun tiap daerah memiliki program yang berbeda.


Bahkan, menurut Bu Helvy Tiana Rosa, ada Rumcay yang pernah digunakan untuk resepsi pernikahan anggota FLP di daerah tertentu.


Rumah Cahaya kemudian di fungsikan sebagai TBM (Taman Baca Masyarakat). Makanya, di belakang nama Rumah Cahaya selalu diawali dengan TBM. Semisal TBM Rumah Cahaya Depok.


Karena menjadi taman baca, otomatis tersedia buku-buku, yang bisa diakses oleh masyarakat.


Kita juga patut bersyukur karena FLP Blitar, atas kebaikan seseorang, juga memiliki Rumcay yang baru saja diresmikan 23 Juni 2017 yang lalu.


Namun belum dibahas lebih lanjut konsep pengelolaannya nanti. Apakah akan dijadikan TBM, atau sekedar menjadi sekretariatan mengingat tempat pertemuan rutin selama ini dilakukan di Perpustakaan Bung Karno.


Tapi tak ada salahnya untuk difungsikan sebagai TBM. Lalu darimana bukunya? Dan bagaimana prosedur peminjamannya? Insyaallah ditulisan berikutnya.


~ A Fahrizal Aziz

Tuesday, December 6, 2016






04 Desember 2016 adalah hari bersejarah, tidak saja bagi FLP Blitar yang akhirnya menerbitkan antologi cerpen JJKK (Jejak-jejak Kota Kecil), juga bagi Blitar raya. Bahwa satu dari beberapa komunitas menulis, akhirnya menelurkan sebuah karya. Ini sekaligus memberikan atmosfir tersendiri bagi gerakan literasi di bumi bung karno.

Tahun 2008, diusia 16 tahun, saya terlibat kepanitiaan pendirian FLP Blitar bersama para senior, orang-orang hebat yang sudah lama mengenal dunia literasi, para praktisi pendidikan, dan para pecandu baca. Mendengar nama FLP, langsung terlintas nama-nama penulis beken yang bukunya banyak nangkring di rak-rak toko buku dan perpustakaan. Suasana penuh semangat, serta hasrat meluap-luap untuk lekas menghasilkan karya.

Sayang, belum genap setahun pasca berdirinya, saya harus hijrah ke Malang untuk urusan pendidikan. Saya pun beralih nimbrung ke FLP Malang, bertemu penulis-penulis hebat, para juara lomba, akademisi yang menguasahi seluk beluk karya sastra, serta para writerpreneur yang getol menerbitkan karya-karya secara independen. Meski saya memilih untuk menekuni dunia Jurnalistik, ketimbang dunia sastra yang dulu memberikan energi tersendiri ketika mengenal FLP. Mungkin dunia jurnalistik kala itu memberikan ruang yang lebih nyaman bagi mahasiswa, yang kadang harus bergelut dalam dunia aktivis.

Dunia sastra jadi serasa sebagai jalan sunyi, bahkan untuk sekedar menulis puisi pun, saya harus menguras isi perasaan. Meski diam-diam saya menyakini ucapan Mathew Arnold, bahwa sastra adalah organisasi tertinggi dari kegiatan intelektual manusia.

Bersama FLP, menerbitkan buku adalah impian tersendiri. Pertengahan tahun 2013, harapan itu terwujud ketika saya mendapatkan amanah menjadi ketua FLP Ranting UIN Malang. Terbit antologi cerpen berjudul “Bianglala Lakon”. Sebelumnya, FLP Malang juga baru menerbitkan dua antologi cerpen : Perempuan Merah Lelaki Haru, dan Ada Kisah di Setiap Jejak. Terbitnya antologi Bianglala Lakon membuat gelar karya di tahun itu semakin meriah.

Tinggal FLP Blitar, kapan?

Awal tahun 2015, di hari ahad yang cerah, saya bertemu Mbak Lilik dan Mas Saifudin di lobi Perpustakaan Bung Karno. Sejak kepindahan Mbak Gesang Sari ke Jakarta, Mbak Lilik lah yang sementara menjadi penanggung jawab FLP Blitar. Dalam beberapa pertemuan tersebut, hadir pula Alfa Anisa, Rere dan Adinda. Kami ngobrol sederhana seputar dunia kepenulisan, dan bagaimana menghidupkan kembali diskusi kepenulisan di Blitar raya.

Setelah itu, terjadilah diskusi kecil untuk memilih Ketua FLP Blitar di Lt. II Perpustakaan Bung Karno. Terjadilah tarik ulur dan rasa sungkan. Mbak Lilik sudah tidak bersedia karena didera kesibukan, begitupun dengan Mas Saifudin awalnya, sampai kemudian muncul nama Alfa Anisa, yang kebetulan masih Mahasiswa, dan puisi-puisinya sudah termuat di beberapa koran. Namun Alfa pun juga tidak bersedia. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, Mas Ahmad Saifudin bersedia menjadi Ketua FLP Blitar.

Maka untuk membuka informasi awal, dibuatlah fanspage Komunitas Penulis Kota Blitar di Facebook. Dari fanspage tersebut banyak orang bertanya tentang keberadaan komunitas penulis Blitar, dua diantaranya adalah Bu Imro’ dan Bu Dewi Arifin, yang kemudian turut serta dalam kegiatan FLP Blitar. Sebelum itu, Irsyad yang sepertinya sedang galau berat, tumben-tumbenan bertanya tentang hari kumpulnya FLP Blitar, yang membuatnya bergabung. Mbak Sari pun memberikan isyarat untuk menghubungi beberapa anggota sebelumnya, namun tidak semuanya terjangkau. Yang terjangkau, salah satunya adalah Nezli. Informasi tentang FLP Blitar pun kian terdengar, yang membuat beberapa orang bergabung, salah satunya Mbak Rizkha.

Tempat kegiatan pun beberapa kali berganti. Pernah mendapatkan tempat khusus di SMK Telkom, kadang juga di Lobi Perpustakaan Bung Karno, di beberapa cafe, sampai kemudian Pak Budi Kastowo (Pustakawan dari Perpustakaan Bung Karno), memberikan isyarat untuk menggunakan lt. II sebelah barat, tempat koleksi khusus buku-buku Soekarno, atau tentang Soekarno. Tempatnya representatif, ber-AC, dan berdinding kaca.

Singkat kata, salah satu program untuk menandai kembali kebangkitan FLP Blitar adalah dengan menerbitkan buku. Berdasar kesepakatan, dipilhlah buku kumpulan cerpen. Pasca lebaran 2015, niat itu dilaksanakan. Cerpen dikumpulkan, beberapa dibedah terlebih dahulu, untuk kemudian direvisi. Sempat beberapa kali berganti formasi karena proses seleksi. Rencananya satu penulis satu cerpen. Namun karena mempertimbangkan tebal buku, maka beberapa penulis menyumbangkan dua cerpen.

Sembari menunggu layout dan desain cover selesai, maka dipilihlah beberapa alternatif penerbitan. Karya perdana ini akan diterbitkan secara mandiri, dengan dana dari beberapa penulis sendiri. Diskusi alot juga terjadi untuk menentukan judul antologi, sampai kemudian dipilihlah jalan tengahnya, JJKK (Jejak-jejak Kota Kecil).

Antologi ini memang tidak memiliki tema besar. Temanya bebas, namun titik fokusnya ada pada setting tempat. Sebagaimana judul, settingnya sebagian besar berlokasi di Blitar. Meski beberapa cerpen yang tidak bersetting Blitar, juga tetap dimunculkan karena alasan tertentu.

Cerpen saya yang berjudul “Lelaki Pilihan Abi” dipasang di halaman depan. Cerita dalam cerpen itu memang umum ditulis oleh para penulis FLP, setidaknya, baik tema maupun penokohannya. Dalam cerpen itu ada adegan kenduri, yang notabene adalah tradisi NU. Lucunya, tak berselang lama antologi ini mendapatkan sponsor dan support dari UNU (Universitas Nahdlatul Ulama) Blitar.

Teman saya yang pernah tahu cerpen ini kemudian mengomentari, dikiranya cerpen itu memang ditaruh di depan karena launchingnya di Aula PCNU, dan sponsornya adalah UNU. Padahal tidak demikian. Mungkin berjodoh saja. Teman-teman FLP Blitar pun tahu kalau saya Muhammadiyah. Saya merasa tidak harus membatasi diri pada ideologi, bahkan membatasi diri pada yang berbeda sama sekali.

Termasuk satu cerpen saya yang berjudul “Sylira & kenangan hujan” yang agak “nyamping”, sempat menjadi obyek kritik. Kita hanya belum terbiasa untuk yang tak biasa.

Setelah naskah terkumpul, desain cover sudah ditentukan, serta layout selesai, butuh sekitar 15 hari untuk proses percetakan sampai pengiriman. Akhirnya 100 eksemplar perdana antologi JJKK datang ke Blitar dengan selamat, melalui jasa travel dari Jogja.

Secara bersamaan, pengurus FLP Blitar juga sedang memikirkan bagaimana agar gerakan literasi kedepan bisa lebih meriah. Selain agenda launching, juga digagaslah dua agenda lain, yaitu motivasi kepenulisan dan open recruitment (OR). Tiga sesi dalam satu acara. Dibuatlah pamflet dan disebarkan ke berbagai sekolah dan lembaga. Satu hari jelang hari H, lebih dari 100 pendaftar masuk. Bahkan pada hari H, berdasar catatan buku registrasi, lebih dari 150 yang datang.

Formulir pun dibagikan, ada 53 yang mendaftarkan diri. 53 pendaftar ini pun akan ditindaklanjuti, untuk kemudian melalui sesi OR yang sesungguhnya. Jumlah tersebut terbilang banyak, melebihi ekspektasi awal. Dengan begitu, gerakan literasi di Blitar kedepan bisa lebih meriah. Atmosfir positif untuk mengkampanyekan membaca dan menulis. Perpustakaan Bung Karno lt. II akan semakin ramai ketika hari ahad siang, dimana itulah jadwal kami berkumpul rutinan.

Akhirnya, sambil menyeruput secangkir cappucino, saya ucapkan selamat atas munculnya kembali gerakan literasi di Blitar raya, yang dimotori oleh FLP Blitar dan Penulis hebat di dalamnya. Nasrun minnallah wa fathun qarib.

Blitar, 6 Desember 2016
A Fahrizal Aziz
www.fahrizal-aziz.id

Kumpulan foto :














Tuesday, August 25, 2015



Saya berjumpa Rafif Amir atau Lukman Hakim sekitar tujuh tahun yang lalu dalam acara Writing Camp FLP Malang 2009 di Kota Batu. Kala itu status saya masih pelajar kelas 3 SMA dan Mas Rafif sebagai mahasiswa Unej (Universitas Negeri Jember). Ketua FLP Jatim kala itu dijabat Bunda Sinta Yudisia yang sekarang menjadi ketua FLP Pusat. Ketua FLP Malang masih dijabat oleh Pak Faris Khoirul Anam, dan ketua panitia dalam acara itu adalah Mbak Fauziyah Rachmawati yang pada waktu yang sama adalah ketua FLP Ranting UM.

Dalam acara itu juga ada Masdhar Zainal sang cerpenis, hanya saja belum terkenal seperti sekarang ini. Juga ada Rasyid Ridho yang lekat dengan resensi-resensinya itu. Hadir juga seorang penulis perempuan yang populer dan juga pengamat media Bu Sirikit Syah sebagai narasumber.

Saya hadir dalam acara tersebut sebagai peserta bersama Jega Arufa, anggota FLP Blitar yang dua tahun lebih muda dari saya. Selepas acara tersebut, sebenarnya saya tidak terlalu sering lagi mengikuti agenda FLP. Selain akhirnya pindah sementara ke Malang untuk melakukan studi, saya juga vakum selama sekitar tiga tahun. Baru setelah itu aktif di FLP Ranting UIN Malang dan sekarang kembali ke FLP Blitar.

Selain itu, saya juga tidak begitu ‘gaul’ di dunia maya. Selain facebook dan twitter. Itu pun intensitasnya tidak begitu masif. Apalagi WA dan BBM. Praktis. Setelah itu saya tidak tahu banyak tentang FLP. Terakhir adalah Munas di Bali yang lalu.

Kemarin (23/08/15), saya dan tiga orang FLP Blitar datang ke Sidoarjo untuk agenda Silatwil FLP Jatim sekaligus Musywil. Saya baru tahu kalau tempatnya di rumah Mas Rafif yang banyak buku-bukunya itu, yang juga difungsikan sebagai rumah cahaya FLP Sidoarjo. Mas Rafif sendiri pernah menjabat sebagai ketua FLP Sidoarjo dan FLP Jember. Meskipun aslinya orang Sumenep. Ini adalah perjumpaan kedua sejak tujuh tahun lalu.

Silatwil sekaligus Musywil itu sendiri pun sebenarnya adalah inisiatif dari FLP Sidoarjo yang ingin agar terjadi regenerasi di lingkup FLP Jatim. Hanya saja memang terlalu sederhana untuk ukuran Musywil. Musywil semestinya tidak hanya pemilihan ketua baru, tapi juga ada agenda LPJ dan sederet Musyawarah lainnya yang lebih prosedural.

Semoga di tangan Mas Rafif, FLP Jatim lebih maju, terutama membangun jejaring antar Cabang dan Ranting. Mengingat Jatim adalah salah satu FLP terbesar di Indonesia dengan lebih dari 10 cabang. Tentu kuantitas yang banyak ini bisa dimaksimalkan dengan baik. Sangat jarang ada komunitas kepenulisan dengan jumlah yang begitu signifikan seperti FLP ini.

FLP Blitar sendiri, dibawah kepemimpinan Saifudin Ahmad juga tengah menata kembali eksistensnya. Ada banyak calon penulis bagus disini, seperti Alfa Anisa yang kuat sekali sense of sastranya, dan mungkin saja akan menjadi sastrawati di masa depan. Ada Rere Riand dan Adinda R.D Kinasih yang concern menulis cerpen dan merupakan murid dari Achi TM. Juga beberapa lainnya yang tidak hanya fokus di karya fiksi, tapi juga non fiksi. Mereka juga aktif di LPM (Lembaga Pers Mahasiswa di kampusnya masing-masing.

Keikutsertaan FLP Blitar dalam Musywil ini sekaligus menjadi moment penting untuk memperkenalkan kembali komposisi FLP Blitar yang baru selepas Mbak Gesang Sari Mawarni. Memang masih kembali merangkak, belum berjalan lancar bahkan berlari. Dalam waktu dekat, FLP Blitar akan menerbitkan antologi cerpen yang pertama, serta agenda lain seperti kelas menulis yang nantinya akan fokus pada cerpen, esai, dan puisi.

Selain itu, membangun jejaring di dalam Kota sendiri, salah satunya dengan UPT Bung Karno, LPM (Lembaga Pers Mahasiswa), Jurnalistik di sekolah-sekolah, lembaga kesenian dan juga instansi terkait. Yang terdekat adalah pengadaan sekretariat. Insyaallah, bulan September ini FLP Blitar sudah memiliki sekretariat.

Agenda rutinan lainnya, semisal bedah karya dan ekspansi karya ke media-media juga terus digalakkan. Semoga, FLP Blitar bisa bersinergi dengan FLP Jatim dan Cabang lainnya. Saya pun juga masuk menjadi pengurus FLP Jatim sebagai perwakilan dari Blitar.

Kita berharap FLP Jatim semakin maju pesat. Maju bukan hanya program momentualnya, tapi juga karya-karyanya. Karena tujuan FLP adalah menciptakan Penulis, bukan memperbanyak program kerja. Program kerja yang ada, tentu saja bertujuan untuk meningkatkan kualitas penulis-penulisnya.

Mari bersama-sama berfastabiqul khoirot untuk terus berkarya. (*)

Blitar, 25 Agustus 2015
A Fahrizal Aziz

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi