respon

Thursday, August 30, 2018



Dalam suasana super sensitif, orang kadang sulit membedakan antara azan, orang yang azan, dan pengeras suara atau speaker.

Dikiranya, orang yang mempermasalahkan pengeras suara, atau mempermasalahkan orang yang mengumandangkan azan, sama halnya mempermasalahkan azan itu sendiri. Lalu menuduh semaunya.

Padahal tidak begitu, adakalanya azan juga harus dapat sentuhan estetik. Itulah kenapa Rosulullah selalu meminta Bilal untuk mengumandangkan azan, sebab suaranya yang merdu dan mendamaikan.

Dalam rapat-rapat ta'mir Masjid pun selalu ada perbincangan tentang, siapa yang suaranya bagus untuk azan?

Keinginan untuk menampilkan azan yang bagus pasti ada, hanya orangnya tidak selalu ada, dan azan harus tetap dikumandangkan lima kali sehari. Tentu akan sangat sedih dan menggelisahkan jika akhirnya diganti dengan rekaman.

Pernah suatu ketika, pada moment idul fitri, saya dan teman-teman mampir ke sebuah Masjid untuk Shalat ashar. Azannya bagus sekali. Setelah sampai masjid, tidak ada satu orang pun. Ealah ternyata rekaman.

Masalah yang mungkin banyak terjadi di daerah-daerah pelosok terutama, tidak punya muadzin khusus, maka siapapun yang hadir duluan di Masjid atau Mosholla akhirnya yang mengumandangkan azan, dan orang tersebut juga belum tentu ahli dalam mengoperasikan sound sistem.

Untung kalau volumenya kekecilan, kalau sampai kebesaran? Maka azan yang harusnya bisa dinikmati dan dikhidmati, jadi terdistorsi oleh pengeras suara.

Ini soal teknis dan sebenarnya biasa saja. Hanya kita pun harus saling memahami juga.

Saya sendiri juga pernah merasa kurang nyaman mendengar orang mengumandangkan azan yang bagi saya, kurang memperhatikan ketepatannya. Termasuk tadarusan Al Qur'an yang bacanya terlalu cepat.

Kenapa tidak pelan-pelan saja? Dihayati ayat per ayat, agar tajwid dan Makhorij al-hurufnya juga terdengar jelas. Dikhidmati. Tidak perlu cepat dan terburu-buru, hanya karena ingin mengejar cepat khatam.

Namun disatu sisi kita juga perlu memaklumi, sebab karena pada waktu azan itu, tidak ada orang lain, sementara sudah masuk waktu shalat.

Sementara yang rajin ke Masjid atau Musholla biasanya justru yang sudah sepuh, yang tone suaranya sudah turun, yang kurang akrab dengan peralatan elektronik.

Justru perlu koreksi diri kita sendiri, kenapa kita yang muda ini, hanya jadi pendengar dan tak berniat menggantikan?

Artinya perlu juga untuk memperhatikan orang yang azan, tidak hanya dilombakan. Waktu TPA dan SD, saya sering mewakili sekolah/TPQ untuk lomba azan, meski hanya sampai juara harapan II, namun tak pernah ada pelatihan azan, atau memang saya yang belum tahu?

Pelatihan Tilawah bil nagham justru banyak, termasuk yang menggunakan nagham atau langgam Jawa, meski sering tidak dipakai ketika tadarusan Al Qur'an, paling hanya dipakai ketika pembukaan sebuah acara.

Soal keyakinan memang sensitif, hanya seringkali keributan semacam ini justru jadi alat untuk menjatuhkan orang, misalkan untuk menjatuhkan Menteri agama dan Mendikbud, yang konon akan menghapus pelajar agama.

Andai banyak muazin mengumandangkan azan yang baik, tentu betapa damai didengar, apalagi jika pengaturan volumenya tepat.

Toh ini hanya soal pengaturan echo, bass, mixer, kualitas sound sistem dan microphone, apakah masih baik atau saatnya diganti. []

Blitar, 30 Agustus 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Saturday, June 23, 2018


By Ahmad Fahrizal Aziz


Pidato pembukaan Dr. Suyatno, kepala Perpustakaan Bung Karno tadi pagi sangat menarik : Peziarah makam Bung Karno jangan hanya dapat abu-nya Bung Karno, namun juga api-nya. Maka harus tahu pemikiran dan konsep-konsepnya.


Jelas ini tidak mudah. Dari sekian ratus ribu peziarah setiap tahunnya, berapa kira-kira yang punya waktu untuk berkunjung ke Perpustakaan atau sekadar mengkaji foto-foto yang terpampang di museum?


Dua simbol ini : perpustakaan dan museum, barangkali adalah "wujud Bung Karno" sesungguhnya. Bung Karno yang gandrung membaca, berwawasan, dan melek sejarah. Maka ada pesan Jas Merah ; jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.


Dialog kebangsaan hari ini (21/06/18) mungkin salah satu cara untuk mengobarkan api bung karno. Ada sejarah yang dikaji, ada reflektifitas dari pikiran-pikiran besar bung karno. Ada sekitar 500 undangan disebar, dari unsur pelajar, pegiat budaya dan literasi, birokrat, dan lain sebagainya.


Dengan waktu yang singkat, enam narasumber berbicara banyak hal mulai dari sejarah, budaya, politik, ekonomi, agama, dan perspektif birokrasi.


Rata-rata memang menyampaikan secara teoritik-faktual, meski ada juga yang terlampau akademik seperti Dr. Alexander Ludi Avanto, tetapi menarik, dan menurut saya justru paling menarik. Juga Prof. Pawito, Ph.D yang sangat reflektif.


Pagi hari sebelum datang ke acara, sembari melihat-lihat sosial media, saya baru tahu kalau hari ini adalah ulang tahun Jokowi. Pada tanggal yang sama, Bung Karno meninggal dan Jokowi lahir. Meski tahunnya berbeda.


Jokowi berusia sekitar 10 tahun ketika Bung Karno wafat. Masih hidup sebagai anak tukang kayu yang miskin, yang masih mengontrak rumah, dan sering digusur.


Tak menyangka jika dikemudian hari, Jokowi lah yang berhasrat untuk meneruskan ide-ide besar Bung Karno. Trisakti misalnya, Nawacita, poros maritim, dan revolusi mental.


Tetapi antara Bung Karno dan Jokowi terasa kontras berbeda. Soal ciri khas berpakaian misal, Bung Karno yang parlente dan Jokowi yang sederhana. Gaya pidato apalagi. Bung Karno yang meledak-ledak, penuh metafor. Dan Jokowi yang datar-datar saja.


Tetapi Jokowi punya kesempatan lebih lapang, dengan suasana politik yang lebih tenang untuk melaksanakan ide-ide Bung Karno, ketimbang Bung Karno sendiri.


Buya Syafii Maarif pernah mengatakan, bahwa ide Soekarno sangatlah brilian dan visioner, hanya Soekarno sendiri kehabisan waktu untuk melaksanakannya. Dirundung suasana politik yang kacau.


Tetapi apakah mudah? Jelas tak semudah itu. Sebab kapitalisme sudah kadung mencengkram, mencekik dari berbagai arah, tanpa kita sadari, dan kita hanya bisa mengumpat sambil menikmati.


Misalkan, mengumpat kapitalisme di sosial media, memanfaatkan ponsel pintar. Padahal sosial media juga ditopang oleh perusahaan besar, pelaku kapitalisme itu sendiri. lewat iklan-iklan yang berseliweran.


Trisakti yang kita dengungkan dan perjuangkan, harus melawan itu semua. Ongkos politik mahal, sehingga butuh pemodal. Ekonomi rakyat, juga beradu dengan korporasi. Pasar-pasar tradisional bersaing dengan pasar modern yang serba ada, dalam satu tempat.


Budaya? Juga sedang mengalami pergulatan sengit, sebab teknologi informasi yang kini tak terbendung, yang membuat tidak ada lagi sekat wilayah. Kita bisa dengan mudah menonton sinetron telenovela dari negara latin, tanpa sensor, melalui internet.


Semua penuh tantangan. Akan tetapi apakah tak ada harapan?


Kira-kira pikiran Bung Karno memang masih relevan. Terkait pancasila, yang bila diperas lagi menjadi ekasila, trisila, dan jika diperas lagi maka jadilah gotong royong.


Hanya gotong royong yang seperti apa? Gotong royong yang secara riil kita sering dapati antara lain seperti kerja bakti, yang secara praksis diajarkan di sekolah.


Bagaimana gotong royong untuk kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam budaya? Perlu ada rumusan yang riil, yang mudah dicerna.


Prof. Pawito memberikan gambaran sangat menarik, seperti misalkan minum kopi. Kopi yang tumbuh dan ditanam oleh petani kita sendiri. Juga, mengurangi konsumsi roti, yang terbuat dari gandum.


"Di Indonesia tidak tumbuh gandum, jadi harus impor, tetapi hampir setiap waktu orang mengkonsumsi gandum. Hampir setiap acara ada suguhan roti," ujar guru besar FISIP Universitas Negeri Surakarta tersebut.


Tragis. Ketergantungan pada bahan impor. Prof. Rhenald Kasali sempat menulis dalam sebuah artikel, kenapa buah tropis seperti pisang, salak, dlsb kalah dibandingkan buah impor. Apel, melon, anggur yang berlabel "bahasa mandarin" lebih mendominasi minimarket.


Jika ditulis lagi apa-apa saja ketergantungan kita pada produk luar negeri, pasti akan makin tragis dan mengenaskan, belum lagi produk transportasi dan telekomunikasi.


Orang bisa dengan mudah menghujat Tiongkok, melalui ponsel Huawei, Xiomi, Oppo, atau produk ZTE yang produksinya disana.


Tetapi bagaimanapun, yang dipakai tetaplah konsep revolusi. Perubahan secara cepat dan mendasar. Ibarat orang yang sudah terpojok, terikat tangan dan kaki, dengan leher tercekik, tapi masih berharap bisa lepas, dengan cepat.


Maka jangan begitu menyalahkan pemerintah yang kini ngebut bangun macam-macam. Salah satu implementasi dari revolusi. Harus cepat, sebab persaingan begitu ketat. Terlepas kita sepakat atau tidak.


Kita yang selama ini "hidup enak" dengan subsidi dan semacamnya, jadi kaget karena dicabuti satu-satu, terasa apa-apa mahal. Masyarakat menjerit.


Mental memang harus berubah. Bukan lagi berharap pemerintah me-murahkan segala kebutuhan, tetapi dengan pembangunan yang ada, harus kita manfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Bisnis perlu dikuatkan, sebab jalur distribusi sudah lebih mudah.


Masalahnya, kini pesaingnya bukan hanya orang dalam negeri. Tetapi dari luar negeri, yang akan masuk dengan konsep yang mungkin lebih matang. Maka perlu revolusi mental.


Kita yang belum siap, hanya menggerutu, mengumpat, pasrah. Berharap pemerintahan ganti, agar tidak begini keadaannya. Padahal siapa menjamin? Kita sudah kadung tercekik, dan akan terus tercekik.


Perlu gotong royong agar pemerintah ganti, eh maksudnya gotong royong untuk menjalankan trisakti. Dengan cara :


Berpartisipasi aktif dalam politik, terutama dalam mengendors tokoh-tokoh kompeten. Agar masyarakat makin kenal, agar biaya kampanye berkurang, agar orang berduit atau pemodal atau aktor kapital tidak "menawarkan bantuan" yang pasti minta imbal balik nantinya.


Perlu gotong royong, dan merubah mindset untuk berbelanja ke pasar tradisional. Yang disana banyak pedagang, yang artinya tidak dikuasahi satu orang saja.


Perlu menggali lagi budaya kita, filosofi bangsa, nilai-nilai hidup. Agar tak tercerabut dari akar kebudayaan kita, agar jadi cermin kepribadian.


Dalam perspektif birokrasi, kebijakan program dan anggaran, kita juga berharap yang sama, pada tanggal dimana sang penggali wafat, namun sang penerus merayakan hari lahirnya.


Kepergian meninggalkan luka dan kesedihan, sementara kelahiran mencipta kebahagiaan dan harapan. Meski jangan juga terlalu berharap. []


Blitar, 21 Juni 2018

Sunday, May 27, 2018

Apakah Iqbal cocok memerankan Minke dalam roman "Bumi Manusia" yang fenomenal itu?


Tentu kita belum tahu, meski sebagian pembaca "Bumi Manusia" sudah ketar-ketir. Sosok Minke pasti memunculkan imajinasi masing-masing pembaca. Tidak seragam. Minke dalam imajinasi saya bisa jadi berbeda dengan Minke dalam imajinasi anda.


Kita harus adil terhadap Iqbal.


Tetapi ketika memerankan Dilan, Iqbal seolah wujud yang berbeda. Aktingnya bagus, tetapi apa iya Dilan begitu? Sekalipun sosoknya dipilih langsung oleh sang penulis novelnya.


Iqbal dan Dilan seolah dua figur yang berbeda. Dilan sang anak tentara, anggota geng motor, tetapi menyimpan sisi jeniusnya. Tidak sekedar suka tawuran atau pandai menggombali Milea. Begitulah kalau kita membaca novelnya.


Memang sulit mengadaptasi novel, apalagi novel populer, menjadi sebuah film. Sulit juga mengkonversi sekian ratus halaman, menjadi sekian ratus menit dalam tayangan visual.


Pembaca sudah kadung membawa ekspektasinya masing-masing, apalagi untuk novel sekelas "Bumi Manusia" karya penulis legendaris Pramoedya Ananta Toer.


Fans Iqbal tentu akan menyambut gembira, dan sekaligus akan marah jika idolanya dianggap tidak cocok memerankan tokoh tertentu. Akan tetapi, tidak semua fans Iqbal juga pernah membaca "Bumi Manusia". Apakah generasi Z yang lahir setelah tahun 2000.


Apakah Iqbal dipilih agar film menjadi laris? Agar penonton membludak? Mengingat Iqbal kini sebagai aktor muda yang tengah naik daun.


Tetapi rasanya untuk novel sekelas "Bumi Manusia", hal itu tak terlalu penting. Novel itu sudah terkenal sejak dulu, sudah fenomenal. Ada baiknya belajar dari Laskar Pelangi.


Ketika diangkat menjadi film, Laskar Pelangi sudah terkenal. Pemainnya pun diambil dari anak-anak lokal, tak dikenal sebelumnya. Tetapi filmnya sukses. Lebih dari 4,4 juta penonton.


Jika popularitas aktor atau aktris yang jadi pertimbangan, ingatlah bahwa ada film yang tak begitu laku, padahal diangkat dari novel yang terkenal : Supernova- Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh (KPBJ).


Novel mega best seller yang melambungkan nama Dee Lestari. Dimainkan pula oleh aktor dan aktris terkenal, bahkan film tersebut bertabur bintang. Tetapi hanya mampu menarik ratusan ribu penonton.


Saya sebagai penikmat Supernova pun juga berhak kecewa, sebab novel yang sebegitu kompleks dan bagusnya, tak bisa terwakili dalam film.


Mengangkat novel menjadi film memang penuh resiko.


Kadang juga penonton ingin sosok baru. Seperti film Sang Pemimpi, sosok Arai secara sukses dimainkan oleh Randy Ahmad. Aktor pendatang baru. Meski dalam film tersebut juga memainkan Lukman Sardi dan Ariel Noah, pada durasi yang tak begitu lama.


Sekarang giliran Iqbal yang diperbincangkan. Ada keraguan, termasuk pada sutradara yang akan men-direct film tersebut. Trauma dengan film Sang Pencerah, yang sebenarnya bagus namun kurang mengena. Atau juga film Ayat-ayat Cinta.


Terkecuali Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Ketika Cinta Bertasbih, hampir semua novel yang diangkat menjadi film tak selalu memuaskan pembaca.


Membaca tetap lebih asyik, dan karena membaca pulalah kita jadi punya ekspektasi. Berbeda halnya jika belum pernah membaca novelnya, langsung menonton filmnya.


"Bumi Manusia" termasuk novel yang kompleks dan detail, jadi jangan berharap film tersebut bisa mewujudkan secara utuh ekspektasi-imajinasi kita. Namun kita berdoa saja akan lebih banyak lagi yang membaca novelnya. []


Blitar, 27 Mei 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Sunday, April 29, 2018

Acara Kick Andy selalu menghibur, sekalipun genre-nya bukan acara hiburan. Kick Andy sebenarnya adalah talk show formal, yang berat, dan mungkin kurang mainstream.


Berbeda drastis dengan acara yang labelnya hiburan, seperti infotaintment atau entertaintment, yang kalau kita tonton justru bikin dongkol. Entah karena lawakannya yang norak, atau karena drama serinya yang muter-muter.


Malah tak jarang orang justru jengkel dan emosi setelah menonton sinetron, padahal tayangan tersebut dibuat untuk hiburan, untuk menghibur.


Kick Andy, dalam empat fungsi pers mungkin lebih kuat aspek edukasi, tetapi menghibur penonton. Hiburannya terletak pada sisi-sisi inspiratif yang diangkat. Pada cerita-cerita heroik yang ditampilkan.


Sehingga, rasanya, setelah menonton acara tersebut, jiwa seperti baru di-cas kembali. Ada energi baru untuk hidup, ada gairah lebih untuk bangkit. Itu sangat membahagiakan.


Pada aspek ini, hiburan tidak harus lawak, tidak melulu konser musik koplo yang serba goyang, atau barangkali pesta oplosan yang justru menimbulkan masalah lain.


Hiburan adalah perasaan bahagia, karena jiwa yang selalu optimistik menghadapi perubahan hidup yang di dalamnya mungkin penuh tantangan dan cobaan yang tak mudah. Penuh deraian airmata, penuh tangis sesak, yang perih tak terkira.


Kick Andy adalah salah satu tayangan yang perlu di tonton, dan semoga tayangan ini bisa bertahan lebih lama lagi. []


Blitar, 28 April 2018
Ahmad Fahrizal Aziz


Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi