Monday, October 5, 2020
Monday, October 1, 2018
Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Dalam kebutuhan ada keinginan, namun tidak semua keinginan mengandung kebutuhan.
Makan adalah kebutuhan, namun muncul keinginan untuk memilih apa yang dimakan. Nasi pecel, nasi padang, atau nasi borang.
Keinginan tersebut bisa terpenuhi jika memiliki kemampuan, misalkan memiliki uang lebih untuk mewujudkan keinginan tersebut. Sehingga, meskipun di rumah ada nasi liwet lauk tempe, karena dorongan keinginan, tetap akan pergi ke warung nasi padang.
Termasuk dalam kebutuhan lain, seperti berpakaian. Manusia butuh berpakaian agar lebih sehat, tidak masuk angin, gatal-gatal dan lain sebagainya.
Namun keinginan, membuatnya akan memilih jenis pakaian, mulai dari jenis kain, warna, hingga modelnya. Keinginan kadang juga disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.
Karena tubuhnya bagus, kekar, maka menggunakan kaos yang ketat. Atau karena tubuhnya langsing dan seksi, maka menggunakan celana ketat.
Keinginan juga berkaitan dengan prestise atau kesan orang terhadapnya. Kenapa menggunakan batik, baju koko, kemeja polos, hingga hal-hal yang bersifat asesoris seperti jam tangan, syal, kalung, dan lain sebagainya.
Dua hal di atas adalah keinginan yang berkaitan dengan kebutuhan. Lalu bagaimana dengan keinginan yang tidak berkaitan dengan kebutuhan?
Sebenarnya berbeda tipis. Bahkan keduanya nyaris sama. Seperti kebutuhan makan tadi. Dia bisa saja makan nasi yang ada di rumah, kebutuhan sudah terpenuhi. Namun karana ada keinginan lain, sehingga makan ke warung.
Dia sebenarnya tidak perlu ke warung, karena di rumah sudah ada makanan, yang meski rasanya tidak seenak di warung.
Namun jika itu dikontrol, mungkin tidak akan ada yang mubazir. Uang yang seharusnya dia gunakan ke warung, barangkali bisa untuk hal lain.
Artinya ke warung bukan lagi kebutuhan. Lebih karena keinginan.
Akan tetapi keinginan manusia selalu berkembang, dan bahkan berada pada tahap irasional.
Seperti keinginan untuk dihargai, dipuji, dikagumi, dicintai dan lain sebagainya. Itu semua keinginan yang sama sekali tak berkait dengan kebutuhan. Meski keinginan yang terus diburu akan jadi semacam kebutuhan baru.
Keinginan bisa terhenti karena tidak adanya kemampuan. Misalkan, ingin beli mobil mewah tetapi tak punya cukup uang.
Ingin beli hape terbaru, model jaket terbaru, merk sepatu yang sedang trend, tas dengan brand tertentu, dan lain sebagainya, namun tidak memiliki kemampuan.
Sementara, pergaulan sosial memberikan tampat khusus dan stigma tersendiri bagi mereka yang memiliki barang-barang tersebut.
Keinginan kemudian menjadi hal yang sungguh menyiksa, ketika tak memiliki kemampuan untuk mewujudkan.
Pada akhirnya, sebagaimana teori Sigmund Freud, ada konflik dalam diri. Ada ketidakseimbangan karena ego yang berupa keinginan dan kepuasan tersebut tidak terpenuhi.
Hal tersebut akan terus terjadi, baik ketika ada atau tidaknya kemampuan untuk mewujudkan keinginan. Arti dari "kebutuhan" pun kian bergeser.
Itu barangkali lebih berat secara psikologis, dibandingkan mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti makan.
Itulah kenapa banyak kasus orang yang menurut kita hidupnya enak dan berkecukupan, namun tiba-tiba bunuh diri.
Kulminasi keinginan yang tidak pernah terpuaskan, sebab benar kata Freud, keinginan tak akan terpuaskan. Sehingga perlu kontrol atas diri (introyeksi), yang kita kenal dengan istilah superego.
Kemampuan memilah mana yang benar-benar kebutuhan, dengan keinginan yang akhirnya menjelma jadi kebutuhan.
Memilah mana keinginan yang wajar, dan keinginan yang berlebihan. Keinginan yang bisa dipenuhi tanpa menimbulkan masalah, dengan keinginan yang bisa meledakkan masalah dikemudian hari.
Mengontrol itu tidak mudah, apalagi jika punya kemampuan untuk mewujudkannya. Apalagi keinginan tersebut bersifat hedonis dan pragmatis berupa hasrat dan kenikmatan sekejap.
Semoga kita mampu mengontrol keinginan kita sendiri. []
Blitar, 28 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Saturday, June 23, 2018
By Ahmad Fahrizal Aziz
Pidato pembukaan Dr. Suyatno, kepala Perpustakaan Bung Karno tadi pagi sangat menarik : Peziarah makam Bung Karno jangan hanya dapat abu-nya Bung Karno, namun juga api-nya. Maka harus tahu pemikiran dan konsep-konsepnya.
Jelas ini tidak mudah. Dari sekian ratus ribu peziarah setiap tahunnya, berapa kira-kira yang punya waktu untuk berkunjung ke Perpustakaan atau sekadar mengkaji foto-foto yang terpampang di museum?
Dua simbol ini : perpustakaan dan museum, barangkali adalah "wujud Bung Karno" sesungguhnya. Bung Karno yang gandrung membaca, berwawasan, dan melek sejarah. Maka ada pesan Jas Merah ; jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Dialog kebangsaan hari ini (21/06/18) mungkin salah satu cara untuk mengobarkan api bung karno. Ada sejarah yang dikaji, ada reflektifitas dari pikiran-pikiran besar bung karno. Ada sekitar 500 undangan disebar, dari unsur pelajar, pegiat budaya dan literasi, birokrat, dan lain sebagainya.
Dengan waktu yang singkat, enam narasumber berbicara banyak hal mulai dari sejarah, budaya, politik, ekonomi, agama, dan perspektif birokrasi.
Rata-rata memang menyampaikan secara teoritik-faktual, meski ada juga yang terlampau akademik seperti Dr. Alexander Ludi Avanto, tetapi menarik, dan menurut saya justru paling menarik. Juga Prof. Pawito, Ph.D yang sangat reflektif.
Pagi hari sebelum datang ke acara, sembari melihat-lihat sosial media, saya baru tahu kalau hari ini adalah ulang tahun Jokowi. Pada tanggal yang sama, Bung Karno meninggal dan Jokowi lahir. Meski tahunnya berbeda.
Jokowi berusia sekitar 10 tahun ketika Bung Karno wafat. Masih hidup sebagai anak tukang kayu yang miskin, yang masih mengontrak rumah, dan sering digusur.
Tak menyangka jika dikemudian hari, Jokowi lah yang berhasrat untuk meneruskan ide-ide besar Bung Karno. Trisakti misalnya, Nawacita, poros maritim, dan revolusi mental.
Tetapi antara Bung Karno dan Jokowi terasa kontras berbeda. Soal ciri khas berpakaian misal, Bung Karno yang parlente dan Jokowi yang sederhana. Gaya pidato apalagi. Bung Karno yang meledak-ledak, penuh metafor. Dan Jokowi yang datar-datar saja.
Tetapi Jokowi punya kesempatan lebih lapang, dengan suasana politik yang lebih tenang untuk melaksanakan ide-ide Bung Karno, ketimbang Bung Karno sendiri.
Buya Syafii Maarif pernah mengatakan, bahwa ide Soekarno sangatlah brilian dan visioner, hanya Soekarno sendiri kehabisan waktu untuk melaksanakannya. Dirundung suasana politik yang kacau.
Tetapi apakah mudah? Jelas tak semudah itu. Sebab kapitalisme sudah kadung mencengkram, mencekik dari berbagai arah, tanpa kita sadari, dan kita hanya bisa mengumpat sambil menikmati.
Misalkan, mengumpat kapitalisme di sosial media, memanfaatkan ponsel pintar. Padahal sosial media juga ditopang oleh perusahaan besar, pelaku kapitalisme itu sendiri. lewat iklan-iklan yang berseliweran.
Trisakti yang kita dengungkan dan perjuangkan, harus melawan itu semua. Ongkos politik mahal, sehingga butuh pemodal. Ekonomi rakyat, juga beradu dengan korporasi. Pasar-pasar tradisional bersaing dengan pasar modern yang serba ada, dalam satu tempat.
Budaya? Juga sedang mengalami pergulatan sengit, sebab teknologi informasi yang kini tak terbendung, yang membuat tidak ada lagi sekat wilayah. Kita bisa dengan mudah menonton sinetron telenovela dari negara latin, tanpa sensor, melalui internet.
Semua penuh tantangan. Akan tetapi apakah tak ada harapan?
Kira-kira pikiran Bung Karno memang masih relevan. Terkait pancasila, yang bila diperas lagi menjadi ekasila, trisila, dan jika diperas lagi maka jadilah gotong royong.
Hanya gotong royong yang seperti apa? Gotong royong yang secara riil kita sering dapati antara lain seperti kerja bakti, yang secara praksis diajarkan di sekolah.
Bagaimana gotong royong untuk kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam budaya? Perlu ada rumusan yang riil, yang mudah dicerna.
Prof. Pawito memberikan gambaran sangat menarik, seperti misalkan minum kopi. Kopi yang tumbuh dan ditanam oleh petani kita sendiri. Juga, mengurangi konsumsi roti, yang terbuat dari gandum.
"Di Indonesia tidak tumbuh gandum, jadi harus impor, tetapi hampir setiap waktu orang mengkonsumsi gandum. Hampir setiap acara ada suguhan roti," ujar guru besar FISIP Universitas Negeri Surakarta tersebut.
Tragis. Ketergantungan pada bahan impor. Prof. Rhenald Kasali sempat menulis dalam sebuah artikel, kenapa buah tropis seperti pisang, salak, dlsb kalah dibandingkan buah impor. Apel, melon, anggur yang berlabel "bahasa mandarin" lebih mendominasi minimarket.
Jika ditulis lagi apa-apa saja ketergantungan kita pada produk luar negeri, pasti akan makin tragis dan mengenaskan, belum lagi produk transportasi dan telekomunikasi.
Orang bisa dengan mudah menghujat Tiongkok, melalui ponsel Huawei, Xiomi, Oppo, atau produk ZTE yang produksinya disana.
Tetapi bagaimanapun, yang dipakai tetaplah konsep revolusi. Perubahan secara cepat dan mendasar. Ibarat orang yang sudah terpojok, terikat tangan dan kaki, dengan leher tercekik, tapi masih berharap bisa lepas, dengan cepat.
Maka jangan begitu menyalahkan pemerintah yang kini ngebut bangun macam-macam. Salah satu implementasi dari revolusi. Harus cepat, sebab persaingan begitu ketat. Terlepas kita sepakat atau tidak.
Kita yang selama ini "hidup enak" dengan subsidi dan semacamnya, jadi kaget karena dicabuti satu-satu, terasa apa-apa mahal. Masyarakat menjerit.
Mental memang harus berubah. Bukan lagi berharap pemerintah me-murahkan segala kebutuhan, tetapi dengan pembangunan yang ada, harus kita manfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Bisnis perlu dikuatkan, sebab jalur distribusi sudah lebih mudah.
Masalahnya, kini pesaingnya bukan hanya orang dalam negeri. Tetapi dari luar negeri, yang akan masuk dengan konsep yang mungkin lebih matang. Maka perlu revolusi mental.
Kita yang belum siap, hanya menggerutu, mengumpat, pasrah. Berharap pemerintahan ganti, agar tidak begini keadaannya. Padahal siapa menjamin? Kita sudah kadung tercekik, dan akan terus tercekik.
Perlu gotong royong agar pemerintah ganti, eh maksudnya gotong royong untuk menjalankan trisakti. Dengan cara :
Berpartisipasi aktif dalam politik, terutama dalam mengendors tokoh-tokoh kompeten. Agar masyarakat makin kenal, agar biaya kampanye berkurang, agar orang berduit atau pemodal atau aktor kapital tidak "menawarkan bantuan" yang pasti minta imbal balik nantinya.
Perlu gotong royong, dan merubah mindset untuk berbelanja ke pasar tradisional. Yang disana banyak pedagang, yang artinya tidak dikuasahi satu orang saja.
Perlu menggali lagi budaya kita, filosofi bangsa, nilai-nilai hidup. Agar tak tercerabut dari akar kebudayaan kita, agar jadi cermin kepribadian.
Dalam perspektif birokrasi, kebijakan program dan anggaran, kita juga berharap yang sama, pada tanggal dimana sang penggali wafat, namun sang penerus merayakan hari lahirnya.
Kepergian meninggalkan luka dan kesedihan, sementara kelahiran mencipta kebahagiaan dan harapan. Meski jangan juga terlalu berharap. []
Blitar, 21 Juni 2018
Tuesday, June 19, 2018
By Ahmad Fahrizal Aziz
Es kepal milo begitu mewabah. Dalam hitungan minggu, sudah banyak orang jualan. Sepanjang jalan, bahkan di daerah yang sama, bisa ada 3-4 stand.
Tulisan ini saya buat sebagai pengingat. Bahwa di tahun ini (2018), terutama antara bulan April-Juni, es kepal milo jadi trend. Jika tulisan ini dibaca beberapa tahun mendatang, mungkin trendnya sudah berganti.
Mewabahnya es kepal milo tak terlepas dari sosial media. Orang gampang penasaran dan terpengaruh dengan trend. Hal tersebut ditangkap dengan baik oleh pelaku usaha.
Dan, bangsa Indonesia memang terkenal kreatif. Pembelajar sejati. Tidak harus sekolah khusus, untuk menguasahi sesuatu. Tinggal see and do. (Lihat dan praktekkan).
Itulah kenapa banyak yang tidak pernah sekolah otomotif atau perbengkelan, tetapi bisa membuka jasa bengkel. Banyak yang tidak sekolah elektro, atau sejenisnya, namun punya usaha jasa servis alat elektronik, dan Hp.
Tidak perlu sertifikat atau ijasah, sebab yang dibenahi adalah benda mati. Bahkan untuk urusan kesehatan, hidup dan mati, kadang ada jalur khusus yang ditempuh.
Ketika orang sakit dan berobat kemana-mana namun tak kunjung sembuh, larinya ke "orang pintar" : dukun, paranormal, tetua, dsj.
Atau keluarga dikumpulkan, mengundang tetangga terdekat. Lantas dibacakan yasin. Menurut kepercayaan, setelah dibacakan yasin, jika masih bisa sembuh maka akan disembuhkan. Jika sudah waktunya, maka "jalan pulang" akan dimudahkan.
Sewaktu tetangga saya sakit keras, dan nafasnya nampak tersendat di bagian perut, ada orang pintar berkata : satu jam lagi akan dijemput. Maksudnya dijemput malaikat.
Sebagian besar orang percaya, meski ada satu orang yang cara berfikirnya ilmiah, menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit. Sebab kakinya masih hangat. Itu berarti jantung masih berfungsi dengan baik, tranmisi darah masih lancar.
Tetapi kadung percaya orang pintar itu, padahal prediksinya keliru. Baru keesokan harinya, lewat 15 jam kemudian akhirnya meninggal. Memang sulit memprediksi nasib orang, dan seharusnya memang jangan dibuat main-main.
Kembali ke es kepal milo, yang sedang jadi trend. Ternyata bisa dengan mudah ditirukan. Barangkali dengan bantuan google, atau tutorial di youtube atau dari membeli lalu membuat sendiri.
Kita harus menyadari betapa banyak orang kreatif di sekitar kita, dalam berbagai bidang, tanpa perlu sertifikat atau ijasah tertentu.
Proses kreatif yang sebenarnya merupakan warisan leluhur, yang ahli mengolah. Bayangkan, ketela saja bisa diolah menjadi macam-macam. Berbagai menu masakan tercipta, dengan ke-khasan daerah masing-masing.
Bahkan nasi sisa pun masih diolah, dipanasakan jadi karak atau jadi kerupuk puli.
Kecerdasan-kecerdasan tradisional seperti ini, jarang sekali kita hayati. []
Blitar, 18 Juni 2018
