refleksi

Monday, October 5, 2020




Jumat, 21 Februari 2020

Namanya memang bukan Panti Jompo, tetapi Taman Lansia. Meskipun sebenarnya sama saja. Kendati demikian, pemilihan nama sangat berpengaruh secara psikologis.

Panti Jompo, ada kata jompo yang membuatnya terlihat muram. Tempat berkumpulnya orang-orang jompo, yang fisiknya sudah renta, sering masuk angin, encok, asam urat, dan sebagainya.

Kalau taman, adalah tempat yang indah, sejuk nan membahagiakan. Tempat untuk rekreasi atau bersantai.

Itulah kenapa Ki Hajar Dewantara menamai sekolahnya Taman Siswa. Bahwa agar terkesan jika belajar itu asyik, indah, menyenangkan.

-00-

Sebagian yang tinggal di Taman Lansia, karena keinginan sendiri. Bukan karena anaknya kurang perhatian. Anaknya rutin mengisi saldo rekening bulanan, namun kesibukan kerja di luar kota tak bisa ditawar.

Berkumpul dengan teman seumuran, meski sama-sama sudah renta, itu membahagiakan. Kalau di rumah, kesepian sekali. Apalagi, jika teman seusia satu per satu telah tiada. 

Pagi hari, di masa-masa pensiun, biasanya berbincang dengan teman A, teman B, ya untuk mengisi waktu. Berbagi rasa dan cerita. Namun mereka telah berpulang. Satu per satu.

Dada saya berdesir tiap kali mendengar kata "berpulang", apalagi diucapkan langsung oleh penghuni taman lansia.

Tiap kali ada teman sebaya yang berpulang, rasanya sesak di dada. Atau ketika teman sesama penghuni taman lansia dijemput keluarga. Entah karena kondisi kesehatan atau alasan lainnya, belum tentu mereka akan kembali.

Meski rata-rata baru kenal, namun keakraban di rumah singgah itu begitu erat. Rasa haru dan sedih mendalam ketika tersiar kabar ada yang berpulang, sembari mengingat kapan dan topik apa yang dibahas saat terakhir kali berbincang dengan teman yang berpulang itu.

Waktu memang pergi, namun kenangan tetap tinggal. Begitu kata pepatah.

"Kalau batas rata-rata usia manusia itu 63 tahun, berarti mbah sudah bonus nak," Ucap salah seorang.

Saya tersenyum mendengarnya. Jadi jika usia saya sekarang 27, kira-kira saya hidup 36 tahun lagi ya? bisa lebih, bisa kurang, wallohu'alam.

"Rasanya jadi tua itu gini, sakit-sakitan, mau mengeluh takut merepotkan anak, mau kerja sudah ndak kuat, rasanya hidup cuma jadi beban," Sahut yang lain.

Susah payah saya menahan diri untuk tidak menitikkan air mata, berulang kali menatap ke langit-langit dan menghela nafas panjang. Rasanya pilu sekali.

Apalagi, ketika salah seorang melantunkan tembang jawa sembari menenun, meski tone suaranya sudah aus, masih terdengar begitu merdu. Benar-benar menyesap ke dalam hati.

Bernyanyi adalah salah satu cara menghibur diri, dan itupun juga sering saya lakukan.

"Tetapi kita semua bahagia kan," Salah seorang pendamping pun berusaha memecahkan suasana.

-00-

"Kuliah di mana?"

Seorang kakek menanyai saya, kala duduk di teras Masjid daerah Kertoraharjo Kota Malang, selepas shalat ashar.

Kesehariannya, beliau rutin ke Masjid, karena sudah pensiun. Namun fisiknya nampak masih bugar.

Kami berbincang sejenak, beliau bercerita tentang kegiatannya, juga pekerjaannya terdahulu. Sesekali menceritakan kesuksesan anak-anaknya.

Namun, bisa kumpul semua hanya saat lebaran. Istrinya sudah berpulang, mendahuluinya. Aktivitasnya lebih banyak di Masjid.

"Asyik juga kalau bisa menulis, ingin sekali menuliskan kisah hidup," Komentar beliau, saat saya sedikit menjelaskan kegiatan dan komunitas.

Sore itu, saya juga baru selesai liputan, dan sedang memangku laptop, menulis berita di teras Masjid.

Menulis adalah cara produktif menghabiskan hari tua. Tentu ada banyak pengalaman sewaktu muda, lebih dari setengah abad hidup di dunia.

Sayangnya, semakin bertambahnya usia, ingatan berangsur lemah. Sebab tidak semua orang memiliki ingatan tajam seperti Alm. Rosihan Anwar yang bisa tetap menulis dengan rapi dan runtut di usia 80 tahun.

Ada banyak cara mengisi hari-hari menuju tua, yang kerap terhinggapi rasa sepi. Sepi yang sebenarnya sepi. []

Kedai MuaRa
Ahmad Fahrizal Aziz

Monday, October 1, 2018



Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Dalam kebutuhan ada keinginan, namun tidak semua keinginan mengandung kebutuhan.

Makan adalah kebutuhan, namun muncul keinginan untuk memilih apa yang dimakan. Nasi pecel, nasi padang, atau nasi borang.

Keinginan tersebut bisa terpenuhi jika memiliki kemampuan, misalkan memiliki uang lebih untuk mewujudkan keinginan tersebut. Sehingga, meskipun di rumah ada nasi liwet lauk tempe, karena dorongan keinginan, tetap akan pergi ke warung nasi padang.

Termasuk dalam kebutuhan lain, seperti berpakaian. Manusia butuh berpakaian agar lebih sehat, tidak masuk angin, gatal-gatal dan lain sebagainya.

Namun keinginan, membuatnya akan memilih jenis pakaian, mulai dari jenis kain, warna, hingga modelnya. Keinginan kadang juga disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.

Karena tubuhnya bagus, kekar, maka menggunakan kaos yang ketat. Atau karena tubuhnya langsing dan seksi, maka menggunakan celana ketat.

Keinginan juga berkaitan dengan prestise atau kesan orang terhadapnya. Kenapa menggunakan batik, baju koko, kemeja polos, hingga hal-hal yang bersifat asesoris seperti jam tangan, syal, kalung, dan lain sebagainya.

Dua hal di atas adalah keinginan yang berkaitan dengan kebutuhan. Lalu bagaimana dengan keinginan yang tidak berkaitan dengan kebutuhan?

Sebenarnya berbeda tipis. Bahkan keduanya nyaris sama. Seperti kebutuhan makan tadi. Dia bisa saja makan nasi yang ada di rumah, kebutuhan sudah terpenuhi. Namun karana ada keinginan lain, sehingga makan ke warung.

Dia sebenarnya tidak perlu ke warung, karena di rumah sudah ada makanan, yang meski rasanya tidak seenak di warung.

Namun jika itu dikontrol, mungkin tidak akan ada yang mubazir. Uang yang seharusnya dia gunakan ke warung, barangkali bisa untuk hal lain.

Artinya ke warung bukan lagi kebutuhan. Lebih karena keinginan.

Akan tetapi keinginan manusia selalu berkembang, dan bahkan berada pada tahap irasional.

Seperti keinginan untuk dihargai, dipuji, dikagumi, dicintai dan lain sebagainya. Itu semua keinginan yang sama sekali tak berkait dengan kebutuhan. Meski keinginan yang terus diburu akan jadi semacam kebutuhan baru.

Keinginan bisa terhenti karena tidak adanya kemampuan. Misalkan, ingin beli mobil mewah tetapi tak punya cukup uang.

Ingin beli hape terbaru, model jaket terbaru, merk sepatu yang sedang trend, tas dengan brand tertentu, dan lain sebagainya, namun tidak memiliki kemampuan.

Sementara, pergaulan sosial memberikan tampat khusus dan stigma tersendiri bagi mereka yang memiliki barang-barang tersebut.

Keinginan kemudian menjadi hal yang sungguh menyiksa, ketika tak memiliki kemampuan untuk mewujudkan.

Pada akhirnya, sebagaimana teori Sigmund Freud, ada konflik dalam diri. Ada ketidakseimbangan karena ego yang berupa keinginan dan kepuasan tersebut tidak terpenuhi.

Hal tersebut akan terus terjadi, baik ketika ada atau tidaknya kemampuan untuk mewujudkan keinginan. Arti dari "kebutuhan" pun kian bergeser.

Itu barangkali lebih berat secara psikologis, dibandingkan mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti makan.

Itulah kenapa banyak kasus orang yang menurut kita hidupnya enak dan berkecukupan, namun tiba-tiba bunuh diri.

Kulminasi keinginan yang tidak pernah terpuaskan, sebab benar kata Freud, keinginan tak akan terpuaskan. Sehingga perlu kontrol atas diri (introyeksi), yang kita kenal dengan istilah superego.

Kemampuan memilah mana yang benar-benar kebutuhan, dengan keinginan yang akhirnya menjelma jadi kebutuhan.

Memilah mana keinginan yang wajar, dan keinginan yang berlebihan. Keinginan yang bisa dipenuhi tanpa menimbulkan masalah, dengan keinginan yang bisa meledakkan masalah dikemudian hari.

Mengontrol itu tidak mudah, apalagi jika punya kemampuan untuk mewujudkannya. Apalagi keinginan tersebut bersifat hedonis dan pragmatis berupa hasrat dan kenikmatan sekejap.

Semoga kita mampu mengontrol keinginan kita sendiri. []

Blitar, 28 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Saturday, June 23, 2018


By Ahmad Fahrizal Aziz


Pidato pembukaan Dr. Suyatno, kepala Perpustakaan Bung Karno tadi pagi sangat menarik : Peziarah makam Bung Karno jangan hanya dapat abu-nya Bung Karno, namun juga api-nya. Maka harus tahu pemikiran dan konsep-konsepnya.


Jelas ini tidak mudah. Dari sekian ratus ribu peziarah setiap tahunnya, berapa kira-kira yang punya waktu untuk berkunjung ke Perpustakaan atau sekadar mengkaji foto-foto yang terpampang di museum?


Dua simbol ini : perpustakaan dan museum, barangkali adalah "wujud Bung Karno" sesungguhnya. Bung Karno yang gandrung membaca, berwawasan, dan melek sejarah. Maka ada pesan Jas Merah ; jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.


Dialog kebangsaan hari ini (21/06/18) mungkin salah satu cara untuk mengobarkan api bung karno. Ada sejarah yang dikaji, ada reflektifitas dari pikiran-pikiran besar bung karno. Ada sekitar 500 undangan disebar, dari unsur pelajar, pegiat budaya dan literasi, birokrat, dan lain sebagainya.


Dengan waktu yang singkat, enam narasumber berbicara banyak hal mulai dari sejarah, budaya, politik, ekonomi, agama, dan perspektif birokrasi.


Rata-rata memang menyampaikan secara teoritik-faktual, meski ada juga yang terlampau akademik seperti Dr. Alexander Ludi Avanto, tetapi menarik, dan menurut saya justru paling menarik. Juga Prof. Pawito, Ph.D yang sangat reflektif.


Pagi hari sebelum datang ke acara, sembari melihat-lihat sosial media, saya baru tahu kalau hari ini adalah ulang tahun Jokowi. Pada tanggal yang sama, Bung Karno meninggal dan Jokowi lahir. Meski tahunnya berbeda.


Jokowi berusia sekitar 10 tahun ketika Bung Karno wafat. Masih hidup sebagai anak tukang kayu yang miskin, yang masih mengontrak rumah, dan sering digusur.


Tak menyangka jika dikemudian hari, Jokowi lah yang berhasrat untuk meneruskan ide-ide besar Bung Karno. Trisakti misalnya, Nawacita, poros maritim, dan revolusi mental.


Tetapi antara Bung Karno dan Jokowi terasa kontras berbeda. Soal ciri khas berpakaian misal, Bung Karno yang parlente dan Jokowi yang sederhana. Gaya pidato apalagi. Bung Karno yang meledak-ledak, penuh metafor. Dan Jokowi yang datar-datar saja.


Tetapi Jokowi punya kesempatan lebih lapang, dengan suasana politik yang lebih tenang untuk melaksanakan ide-ide Bung Karno, ketimbang Bung Karno sendiri.


Buya Syafii Maarif pernah mengatakan, bahwa ide Soekarno sangatlah brilian dan visioner, hanya Soekarno sendiri kehabisan waktu untuk melaksanakannya. Dirundung suasana politik yang kacau.


Tetapi apakah mudah? Jelas tak semudah itu. Sebab kapitalisme sudah kadung mencengkram, mencekik dari berbagai arah, tanpa kita sadari, dan kita hanya bisa mengumpat sambil menikmati.


Misalkan, mengumpat kapitalisme di sosial media, memanfaatkan ponsel pintar. Padahal sosial media juga ditopang oleh perusahaan besar, pelaku kapitalisme itu sendiri. lewat iklan-iklan yang berseliweran.


Trisakti yang kita dengungkan dan perjuangkan, harus melawan itu semua. Ongkos politik mahal, sehingga butuh pemodal. Ekonomi rakyat, juga beradu dengan korporasi. Pasar-pasar tradisional bersaing dengan pasar modern yang serba ada, dalam satu tempat.


Budaya? Juga sedang mengalami pergulatan sengit, sebab teknologi informasi yang kini tak terbendung, yang membuat tidak ada lagi sekat wilayah. Kita bisa dengan mudah menonton sinetron telenovela dari negara latin, tanpa sensor, melalui internet.


Semua penuh tantangan. Akan tetapi apakah tak ada harapan?


Kira-kira pikiran Bung Karno memang masih relevan. Terkait pancasila, yang bila diperas lagi menjadi ekasila, trisila, dan jika diperas lagi maka jadilah gotong royong.


Hanya gotong royong yang seperti apa? Gotong royong yang secara riil kita sering dapati antara lain seperti kerja bakti, yang secara praksis diajarkan di sekolah.


Bagaimana gotong royong untuk kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam budaya? Perlu ada rumusan yang riil, yang mudah dicerna.


Prof. Pawito memberikan gambaran sangat menarik, seperti misalkan minum kopi. Kopi yang tumbuh dan ditanam oleh petani kita sendiri. Juga, mengurangi konsumsi roti, yang terbuat dari gandum.


"Di Indonesia tidak tumbuh gandum, jadi harus impor, tetapi hampir setiap waktu orang mengkonsumsi gandum. Hampir setiap acara ada suguhan roti," ujar guru besar FISIP Universitas Negeri Surakarta tersebut.


Tragis. Ketergantungan pada bahan impor. Prof. Rhenald Kasali sempat menulis dalam sebuah artikel, kenapa buah tropis seperti pisang, salak, dlsb kalah dibandingkan buah impor. Apel, melon, anggur yang berlabel "bahasa mandarin" lebih mendominasi minimarket.


Jika ditulis lagi apa-apa saja ketergantungan kita pada produk luar negeri, pasti akan makin tragis dan mengenaskan, belum lagi produk transportasi dan telekomunikasi.


Orang bisa dengan mudah menghujat Tiongkok, melalui ponsel Huawei, Xiomi, Oppo, atau produk ZTE yang produksinya disana.


Tetapi bagaimanapun, yang dipakai tetaplah konsep revolusi. Perubahan secara cepat dan mendasar. Ibarat orang yang sudah terpojok, terikat tangan dan kaki, dengan leher tercekik, tapi masih berharap bisa lepas, dengan cepat.


Maka jangan begitu menyalahkan pemerintah yang kini ngebut bangun macam-macam. Salah satu implementasi dari revolusi. Harus cepat, sebab persaingan begitu ketat. Terlepas kita sepakat atau tidak.


Kita yang selama ini "hidup enak" dengan subsidi dan semacamnya, jadi kaget karena dicabuti satu-satu, terasa apa-apa mahal. Masyarakat menjerit.


Mental memang harus berubah. Bukan lagi berharap pemerintah me-murahkan segala kebutuhan, tetapi dengan pembangunan yang ada, harus kita manfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Bisnis perlu dikuatkan, sebab jalur distribusi sudah lebih mudah.


Masalahnya, kini pesaingnya bukan hanya orang dalam negeri. Tetapi dari luar negeri, yang akan masuk dengan konsep yang mungkin lebih matang. Maka perlu revolusi mental.


Kita yang belum siap, hanya menggerutu, mengumpat, pasrah. Berharap pemerintahan ganti, agar tidak begini keadaannya. Padahal siapa menjamin? Kita sudah kadung tercekik, dan akan terus tercekik.


Perlu gotong royong agar pemerintah ganti, eh maksudnya gotong royong untuk menjalankan trisakti. Dengan cara :


Berpartisipasi aktif dalam politik, terutama dalam mengendors tokoh-tokoh kompeten. Agar masyarakat makin kenal, agar biaya kampanye berkurang, agar orang berduit atau pemodal atau aktor kapital tidak "menawarkan bantuan" yang pasti minta imbal balik nantinya.


Perlu gotong royong, dan merubah mindset untuk berbelanja ke pasar tradisional. Yang disana banyak pedagang, yang artinya tidak dikuasahi satu orang saja.


Perlu menggali lagi budaya kita, filosofi bangsa, nilai-nilai hidup. Agar tak tercerabut dari akar kebudayaan kita, agar jadi cermin kepribadian.


Dalam perspektif birokrasi, kebijakan program dan anggaran, kita juga berharap yang sama, pada tanggal dimana sang penggali wafat, namun sang penerus merayakan hari lahirnya.


Kepergian meninggalkan luka dan kesedihan, sementara kelahiran mencipta kebahagiaan dan harapan. Meski jangan juga terlalu berharap. []


Blitar, 21 Juni 2018

Tuesday, June 19, 2018


By Ahmad Fahrizal Aziz


Es kepal milo begitu mewabah. Dalam hitungan minggu, sudah banyak orang jualan. Sepanjang jalan, bahkan di daerah yang sama, bisa ada 3-4 stand.


Tulisan ini saya buat sebagai pengingat. Bahwa di tahun ini (2018), terutama antara bulan April-Juni, es kepal milo jadi trend. Jika tulisan ini dibaca beberapa tahun mendatang, mungkin trendnya sudah berganti.


Mewabahnya es kepal milo tak terlepas dari sosial media. Orang gampang penasaran dan terpengaruh dengan trend. Hal tersebut ditangkap dengan baik oleh pelaku usaha.


Dan, bangsa Indonesia memang terkenal kreatif. Pembelajar sejati. Tidak harus sekolah khusus, untuk menguasahi sesuatu. Tinggal see and do. (Lihat dan praktekkan).


Itulah kenapa banyak yang tidak pernah sekolah otomotif atau perbengkelan, tetapi bisa membuka jasa bengkel. Banyak yang tidak sekolah elektro, atau sejenisnya, namun punya usaha jasa servis alat elektronik, dan Hp.


Tidak perlu sertifikat atau ijasah, sebab yang dibenahi adalah benda mati. Bahkan untuk urusan kesehatan, hidup dan mati, kadang ada jalur khusus yang ditempuh.


Ketika orang sakit dan berobat kemana-mana namun tak kunjung sembuh, larinya ke "orang pintar" : dukun, paranormal, tetua, dsj.


Atau keluarga dikumpulkan, mengundang tetangga terdekat. Lantas dibacakan yasin. Menurut kepercayaan, setelah dibacakan yasin, jika masih bisa sembuh maka akan disembuhkan. Jika sudah waktunya, maka "jalan pulang" akan dimudahkan.


Sewaktu tetangga saya sakit keras, dan nafasnya nampak tersendat di bagian perut, ada orang pintar berkata : satu jam lagi akan dijemput. Maksudnya dijemput malaikat.


Sebagian besar orang percaya, meski ada satu orang yang cara berfikirnya ilmiah, menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit. Sebab kakinya masih hangat. Itu berarti jantung masih berfungsi dengan baik, tranmisi darah masih lancar.


Tetapi kadung percaya orang pintar itu, padahal prediksinya keliru. Baru keesokan harinya, lewat 15 jam kemudian akhirnya meninggal. Memang sulit memprediksi nasib orang, dan seharusnya memang jangan dibuat main-main.


Kembali ke es kepal milo, yang sedang jadi trend. Ternyata bisa dengan mudah ditirukan. Barangkali dengan bantuan google, atau tutorial di youtube atau dari membeli lalu membuat sendiri.


Kita harus menyadari betapa banyak orang kreatif di sekitar kita, dalam berbagai bidang, tanpa perlu sertifikat atau ijasah tertentu.


Proses kreatif yang sebenarnya merupakan warisan leluhur, yang ahli mengolah. Bayangkan, ketela saja bisa diolah menjadi macam-macam. Berbagai menu masakan tercipta, dengan ke-khasan daerah masing-masing.


Bahkan nasi sisa pun masih diolah, dipanasakan jadi karak atau jadi kerupuk puli.


Kecerdasan-kecerdasan tradisional seperti ini, jarang sekali kita hayati. []


Blitar, 18 Juni 2018


Wednesday, June 13, 2018


Oleh Ahmad Fahrizal Aziz


Akhir 2009, dalam sebuah percakapan, seseorang menceritakan pengalamannya berkunjung ke Blitar. Dia asal Pekalongan, dan tergerak untuk datang ke Blitar karena ada "Bung Karno" disana.


Katanya, Kota Blitar begitu sepi. Ia mampir ke alun-alun, sama sekali tak ada yang istimewa. Hanya serupa lapangan biasa, dan deretan penjual yang mengitarinya.


Kota-kota lain mungkin menawarkan lebih, apalagi kami yang kala itu sama-sama sedang kuliah di Malang. Blitar kalah segalanya : tata kota, pusat belanja, tempat nongkrong, hiburan, kampus, dan lain-lain.


Blitar hanya menang satu hal saja ; disini ada makam Bung Karno. Tokoh revolusi. Hanya lokasinya ratusan kilometer dari Ibukota Jakarta. Teman sekamar saya di asrama, yang asal Medan, baru tahu kalau Bung Karno dimakamkam di Blitar.


***
Awal 2010, dalam sebuah pidato perpisahannya sebagai Walikota, Djarot mendapat pertanyaan : Blitar ini kok tidak maju-maju pak? Anak-anak muda kalau belanja dan nonton film saja harus ke kota tetangga.


Djarot memang menolak pendirian mal. Sangat tegas menolak. Idealismenya kuat soal ini. Jawabnya : jangan sampai anak-anak Blitar terjangkiti virus hedonisme dan konsumerisme.


Terasa ketika saya aliyah, di malam minggu yang panjang, tak ada fikiran untuk sekedar nongkrong di cafe. Paling hanya warung kopi. Mungkin juga karena coffe culture belum populer seperti sekarang.


Baru setelah berpindah ke kota sebelah, terasa bedanya ; kerlap kerlip lampu kota, kerumunan orang di berbagai sudut, dan suasana malam yang hidup.


Saya baru menyadari jika Blitar memang sangat sepi. Kota pensiun kata orang-orang. Kota yang menghendaki ketenangan. Mula-mula memang menjenuhkan, terapi seperti jadi ciri khas tersendiri.


Setiap Jum'at malam di akhir bulan, ketika kereta api penataran menghantarkan saya pulang, terasa syahdu melihat perempatan kawi yang lengang.


***
Akhir 2011 dan seterusnya, sepertinya ada banyak perbedaan. Gedung Dipayana yang legendaris, yang di waktu saya kecil sering dijadikan tempat pertunjukan ludruk, ketoprak, dan teater, dipagari tinggi. Konon akan dibangun mal.


Cafe-cafe mulai menjamur. Minimarket juga tumbuh bersaing pada jarak yang berdekatan. Sekolah-sekolah mulai diseragamkan, dari tas sampai kaos olahraga. Hal-hal simbolik kembali dimunculkan, seperti busana djadoel.


Sekolah baru, dibangun begitu megah. Guru-guru terbaik dimutasi kesana. Dua kali saya masuk, mengamati dari dekat, dan terasa begitu diprioritaskannya.


Blitar bukan lagi kota pensiun. Sekarang cukup ramai. Ada taman dibangun di depan alun-alun. Taman di depan taman. Saling berhadapan.


Kawasan mastrip yang legendaris itu juga digusur, dipugar, dirapikan. Jalanan dibelah dua dan dilebarkan. Banyak kios dan ruko di sekitarnya. Saya mencari-cari gerobak penjual buku loak, yang sepertinya sudah tak ada.


Kota Blitar telah menjelma dalam wujud baru, yang lebih gemerlap. Ada banyak tempat nongkrong, pusat belanja, taman-taman, dan fasilitas lainnya.


Ada "kemajuan" yang dulu diimpikan. Sebagaimana kota-kota lain yang sedang tumbuh. Di areal wisata makam Bung Karno, ada beberapa titik pedestrian. Paving-paving untuk pejalan kaki.


Lebih indah, kata orang. Seperti khas-nya trotoar sepanjang jalan Braga atau Malioboro yang selalu terkenang dan sayang jika dilewatkan, untuk sekedar berfoto.


Kota ini memang tumbuh, dan terus tumbuh, meski tanpa lagi ingatan. Semua kota akan sama pada akhirnya. Jadi obyek proyek-proyek ambisius.


Sayangnya, seringkali proyek ambisius itu, menelan korban. Kalau hanya walikota yang diciduk KPK, itu biasa. Lebih dari itu, ada pergulatan sosial-budaya. Ada proses penggerusan, dan kita hanya bisa kembali merenung bersama buku-buku sejarah yang jarang lagi disentuh. []


Blitar, 13 Juni 2018
Di Penghujung Ramadan


Sunday, June 3, 2018


Ahmad Fahrizal Aziz


Sejak pertengahan 2007, saya mulai benar-benar aktif dalam komunitas. Mulanya melalui ekskul Jurnalistik sekolah.


Pada moment MOS (Masa Orientasi Siswa), saya jadi panitia, dan harus presentasi ekskul tersebut dihadapan siswa baru. Setelah MOS, masih door to door ke kelas-kelas untuk menyebar brosur ekskul. Meyakinkan para siswa untuk ikut ekskul Jurnalistik.


Perjuangan tersebut tidak sia-sia, sebab ternyata ekskul Jurnalistik kala itu paling banyak diminati siswa baru. Jangan bandingkan dengan Pramuka, yang memang selalu diprioritaskan dan dikhususkan oleh sekolah.


***
Pertengahan 2008, di masa akhir amanah sebagai ketua ekskul, saya terlibat "promosi" lagi. Yaitu menyebarkan brosur launching FLP Blitar ke sekolah-sekolah. Sekaligus memperkenalkan kepada mereka bahwa ada komunitas kepenulisan di Blitar ini.


Semua panitia berjuang. Hasilnya cukup menggembirakan. Aula penuh sampai kursi belakang. Banyak juga kemudian yang mengambil formulir, mengisinya, dan kemudian datang pada pertemuan berikutnya.


***
Akhir 2012, saya ditunjuk sebagai ketua ranting FLP UIN Malang. Setelah itu, bersama "sisa kepengurusan" yang ada, kami menempel pamflet ke sudut-sudut kampus. Menulis berita di koran lokal dan buletin bahwa FLP UIN baru punya ketua baru dan sedang membuka pendaftaran.


Peminatnya membludak. Lebih dari seratus, dan yang hadir dalam acara OR sekitar 90, yang benar-benar aktif kemudian hanya belasan.


Kala itu benar-benar penuh perjuangan dalam keterbatasan yang ada.


Sekembalinya ke Blitar, ternyata hal tersebut masih berlanjut. Bersama empat orang waktu itu, pada pertengahan 2015, menghidupkan kembali FLP Blitar. Sampai kini, dan untuk pertama kalinya ada Musyawarah Cabang. Pergantian ketua melalui musyawarah, meski sistemnya masih jauh dari kata sempurna.


Bersyukur bisa berjumpa dengan mereka yang punya gairah literasi, dan rela meluangkan sekaligus memprioritaskan waktunya untuk terus menghidupi organisasi.


Meski disela-sela itu, ada pertanyaan reflektif dalam diri. Sebab karena sibuknya pada organisasi, sampai lupa membuat karya. Lantas apa gunanya?


Iya, apa gunanya? Komunitas atau organisasi dibentuk untuk menguatkan motivasi, berbagi, dan menebar inspirasi. Juga sebagai media untuk belajar. Tetapi lupa berkarya? Sampai orang tanya mana buku yang sudah kamu terbitkan?


Pernah juga saya berbincang dengan teman yang aktif menulis. Dia tidak ikut organisasi, dan memilih "berkarya sendiri". Tulisannya masuk koran-koran. Saya iri. Meskipun dalam suasana iri tersebut, toh saya juga "tidak sempat" menulis untuk koran atau majalah.


Otak saya sudah mengepul dengan tugas menulis wajib, mengurus bisnis kecil-kecilan, dan memikirkan organisasi. Nyaris tak ada ruang perenungan khusus, hingga melahirkan puisi atau cerpen yang layak muat ke media.


Sebab yang difikirkan bukan hanya satu organisasi. Ada beberapa, dengan kompleksitas yang ada. Belum lagi permasalahan hidup yang juga harus diselesaikan. Berat!


Sebagai hiburan, saya bercocok tanam. Merawat tanaman sekitar rumah, beternak ayam, juga mengover lagu dan kadang mengunggahnya ke sosial media (soundcloud).


Kalau tidak begitu, nongkrong dan ngopi dengan teman hingga larut malam. Sesekali jalan-jalan : ke hutan, air terjun, pantai, dan tanpa berfoto-foto. Menghirup segarnya udara, menyesap energi alam yang diberikan gratis oleh Tuhan.


Apakah lebih baik saya break ber-organisasi, atau ber-komunitas, dan kemudian "berkarya mandiri" saja?


Atau sebaiknya saya menjalani kehidupan formal yang sempat saya tinggalkan. Kerja di kantor, menggarap berkas, bersepatu pantofel, berkemeja, berjas dan berdasi, padahal udara panas.


Atau masuk gelanggang politik, sebab hasrat politik saya cukup kuat, termasuk ketika seringnya menulis soal politik. Namun politik dalam sebuah tulisan, dan realitas, sungguh jauh berbeda.


Apakah benar kata seorang teman, bahwa saya mengorbankan banyak kesempatan dan tawaran, hanya karena ingin hidup bebas. Sebebas "manusia jalang"-nya Chairil Anwar.


Saya sempat ingin break sejenak. Menepi, menyelesaikan novel. Tetapi tangan selalu gatal untuk menulis yang lain. Terbayang website saya sendiri yang jarang terisi, padahal terlanjur dibayar. Juga "peternakan blog" yang lama saya tinggalkan.


Kadang tidak perlu ber-organisasi, toh banyak juga yang produktif menulis tanpa perlu ikut organisasi atau komunitas kepenulisan, dan juga terkenal. Bahkan justru diundang ceramah atau khotbah soal kepenulisan.


Tetapi saya tidak bisa. Tidak betah lama-lama di rumah, duduk berjam jam di depan laptop. Saya harus keluar, bertemu orang, berbincang, atau membuat forum-forum diskusi.


Karena dengan begitulah, sebenarnya, saya justru punya bahan untuk menulis. []


Blitar, 3 Juni 2018

Wednesday, May 30, 2018


Ahmad Fahrizal Aziz


Melalui Permendikbud nomor 14 tahun 2018, penerimaan peserta didik baru (PPDB) akan menggunakan sistem zonasi. Terutama untuk tingkat sekolah menengah.


Kriteria penerimaan murid baru lebih memprioritaskan pada jarak atau radius terdekat dari sekolah. Bukan pada nilai UN, atau prestasi non akademik lainnya.


Bahkan, Kemdikbud mensyaratkan minimal 90% siswa baru harus berdomisili pada radius zona terdekat. 5 persen sisanya untuk jalur prestasi, 5 persen lagi untuk anak pindahan atau terjadi bencana alam.


Jadi, misalkan si A ingin sekolah di luar zonasinya, tetap terbuka peluang, meski hanya 5%. Itupun karena memiliki prestasi tertentu, sehingga diprioritaskan.


Jika demikian, maka pemerintah semacam mewajibkan siswa "mengisi" sekolah terdekat mereka. Kompetisi antar sekolah bisa sedikit diminimalisir, sebab sekolah sudah bisa membayangkan calon siswa baru mereka, berdasar kebijakan ini.


Karena itu, bisa saja terjadi pemerataan. Meski ada juga dampak negatif lain, seperti menurunnya gairah belajar, karena siswa masuk pada sekolah yang tak diinginkan.


Sebab paradigma sekolah maju dan terbelakang, favorit dan buangan, sudah kadung melekat, selama puluhan tahun.


Waktu lulus SD, saya berhasrat sekolah ke kota, ke sebuah Tsanawiyah yang sedang naik daun waktu itu. Alasannya karena sekolahnya maju : siswanya pilihan, gurunya kompeten, fasilitas belajar cukup lengkap, dan iklim belajarnya kondusif.


Beda dengan sekolah yang siswanya sering terlibat tawuran, kompetensi gurunya diragukan, gedungnya tak terurus, dan fasilitas ala kadarnya.


Sekilas ada nuansa kompetisi. Ada ikhtiar yang lebih dari pengelola sekolah, sehingga sekolahnya maju. Publik kemudian menilai, mana pengelola sekolah yang inovatif dan visioner, dengan yang asal jalan.


Makanya, ada kriteria sekolah maju dan tidak maju. Sekolah maju akan banyak peminat, income dari SPP besar, program-program sekolah bisa berjalan karena didukung wali murid, penyaluran minat-bakat makin terwadahi.


Belum lagi jika siswanya banyak berprestasi, pemerintah pun ikut senang, sehingga program sekolah tersebut akan diprioritaskan, termasuk soal pendanaan misalnya. Lembaga Funding pun juga mudah masuk.


Karena mendapat label sekolah maju, maka untuk masuk pun butuh kriteria lebih. Selain Nilai rapor/hasil UN yang tinggi, prestasi tertentu juga jadi pertimbangan, misalkan dalam bidang seni dan olahraga.


Artinya, sekolah pun juga memainkan branding. Ada kompetisi. Ada yang bisa menyedot banyak peminat, ada yang tidak laku.


Dengan sistem zonasi, maka kriteria di atas mungkin tak begitu berlaku. Sebab sekolah sudah "ditakdirkan" mendapatkan siswa dari lingkungan sekitar, atau dalam zona kelurahan dan kecamatan.


Apalagi jika dalam zona tertentu, jumlah penduduknya sangat padat. Sekolah tidak perlu sibuk promosi, tidak perlu capek membranding, siswa sudah datang dengan sendirinya.


Sekolah-sekolah favorit, terutama yang negeri, juga tidak lagi mematok kriteria tertentu. Status mereka akan sama dengan sekolah negeri lainnya, yang sebelumnya tidak begitu diminati.


Apakah kedepan, terutama dalam 3 tahun kedepan, tidak ada lagi label sekolah favorit? Sebab siswa tak begitu punya preferensi untuk menentukan sekolah mereka.


Sebenarnya saya kurang setuju dengan sistem ini, sebab sekolah adalah pilihan. Hanya saja mungkin pemerintah punya pertimbangan lain, terutama pemerataan. Mengingat ledakan penduduk yang besar.


Akan tetapi, apakah kebijakan ini nantinya bisa melecutkan sekolah-sekolah untuk lebih berprestasi, atau justru semangat makin kendor sebab tidak ada lagi kompetisi?


Ibaratnya, kerja keras atau tidak, tak begitu berpengaruh. Siswa pun juga tidak lagi punya sekolah impian. Pergaulan mereka pun juga hanya pada zona sendiri. []


Blitar, 30 Mei 2018


Sunday, May 20, 2018

Lawan kata individualis, sebenarnya bukan bersosial. Bergitupun ketika menyebut introvert, bukan lawan sifat dari ekstrovert. Harusnya pengertian ini lebih diperluas.


Individualis juga tak berarti apatis. Tak berarti pula anti sosial. Meskipun individualis, dalam beragam pengertiannya lebih berfikir individu atau diri sendiri. Akan tetapi menjadi individualis itu perlu.


Sifat individualis memang melekat pada masyarakat perkotaan, tetapi perkotaan elite, atau minimal kelas menengah. Sebab perkotaan pinggiran, atau perkampungan dempet, hubungan sosio-kulturalnya tak berbeda jauh dengan masyarakat pedesaan.


Ciri masyarakat individualis sebenarnya bukan tidak peduli dengan lingkungan atau tetangga. Tetapi waktu mereka memang lebih banyak untuk urusan yang kaitannya dengan pribadi, terutama pekerjaan.


Sifat individualis ada sisi positif, yaitu tidak suka mencampuri urusan orang lain, juga tidak suka urusannya dicampuri. Sehingga tradisi ghibah tidak akan berkembang dikalangan masyarakat individualis.


Sisi positif lainnya, orang individualis biasanya independen. Tidak suka bergerombol, apalagi memanfaatkan gerombolan untuk menjadi tameng dirinya. Meski ada kecenderungan egois dan keras kepala.


Kaum individualis juga bisa aktif dalam komunitas, organisasi, bisa juga bekerja tim. Mereka bukan mahluk apatis, apalagi anti sosial. Mereka bersosial, namun lebih introspektif, apa yang bisa ia perbuat dalam kelompok sosial itu? Mereka tidak mau sekedar mengekor.


Pada dasarnya, sifat individualis dimiliki semua orang, namun tidak semua orang mampu benar-benar berperikalu individualis. Dalam bependapat, kaum individualis akan lebih getol bersuara, karena ia memiliki independensi. Sementara lainnya hanya ikut suara terbanyak.


Orang individualis selalu punya "me time", waktu khusus untuk merefleksikan dirinya sendiri. Inilah yang tidak dimiliki banyak orang. Karenanya ia disebut individualis.


Padahal proses refleksi itu juga untuk kehidupan bersosialnya. Seorang pemimpin selalu ingin menyendiri, karena dalam kesendiriannya itu ada banyak hal yang ia fikirkan, untuk kepentingan orang banyak.


Seorang musikus juga demikian. Musikus atau seniman secara umum sering disebut mahluk paling individualis ; sulit diatur, dan tidak selalu mau ikut aturan. Tetapi karya-karyanya bisa dinikmati banyak orang, bahkan merasuk ke relung hati dan jiwa banyak orang.


Penulis juga demikian, menghabiskan waktu membaca dan menulis dalam kesendiriannya. Tetapi setelah tulisan jadi, pembacanya banyak orang, penikmatnya banyak orang. Untuk siapa ia menulis? Jelas bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain.


Sekarang bandingkan dengan yang nampak bergerumul dengan masyarakat, menyerap aspirasi demi aspirasi, tetapi punya kepentingan untuk sebuah posisi.


Jika nantinya ia berhasil memperolehnya, belum tentu gajinya akan dibagi, belum tentu keuntungan materi yang menyertainya, akan juga kita nikmati.


Seorang individualis itu memang terlihat seperti penyendiri, egois, tak mau kalah, keras kepala, tetapi mereka sesungguhnya sangat peduli. Hanya caranya saja yang kadang bikin geregetan. []


Blitar, 20 Mei 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Saturday, May 12, 2018


Diskusi Mingguan di Perpustakaan Bung Karno, yang digelar setiap hari Jum'at, sudah masuk pertemuan ke-6. Sudah 6 buku dibahas, dengan 6 penyaji yang berbeda.


Jum'at berikutnya, sudah masuk bulan ramadan, masuk pula dalam zona khusyuk beribadah. Sehingga ada pertanyaan, apakah diskusi ini berlanjut? Atau break dulu sampai selepas lebaran?


Juga yang terpenting, apakah diskusi ini masih ada peminatnya?


Kadang-kadang saya hadir lebih awal, sekitar jam 1 siang untuk singgah dulu di lantai bawah, membaca majalah atau tabloid. Terutama majalah Tempo dan Gatra.


Setengah jam kemudian naik ke atas, masih sepi. Kalau tidak bertemu Pak Budi, biasanya Mbah Gudel, atau Mas Fauzi. Juga beberapa pustakawan lain yang belum sempat berkenalan.


Mungkin hanya pada pertemuan kedua, edisi Tan Malaka, saya datang terlambat. Disana sudah ramai orang, beberapa kursi yang biasanya kosong pun terisi.


Ketika kita menggagas sebuah diskusi, dan kemudian banyak yang hadir, tentu muncul kegembiraan tersendiri. Ada letupan semangat. Apalagi ini diskusi yang sebenarnya agak berat.


"Kali ini yang datang kok banyak?" Canda kami, yang selepas acara, ngopi bareng di kedai telkom. Mulanya, sebelum bertemu Pak Budi untuk menawarkan diskusi mingguan ini, kami duduk berempat membahas konsep.


Empat orang ini harus menjadi penyaji awal ; mencari buku, membacanya, lalu menyampaikannya. Sementara pustakawan akan mengomentari dari perspektif berbeda.


Setelah konsep diskusi disepakati, maka disebarkanlah informasi, termasuk grup whatsapp yang bernama "Males baca", mirip komunitas yang sementara kami jadikan nama, agar tak berpretensi terlalu tinggi.


Yang masuk grup begitu banyak. Entah, apakah sempat membaca pengumuman yang tersebar atau tidak, sehingga banyak yang bergabung, dan apa kira-kira tujuannya bergabung? Sebab grup itu hanya sebagai sarana informasi untuk pertemuan di dunia nyata, bukan sekedar grup maya seperti yang lainnya.


Minimal, kalau 50% saja anggota grup wa itu ikut diskusi, maka semua kursi bisa terpenuhi. Tetapi tidak demikian adanya. Sehingga grup kadang hanya menjadi arena berbagi postingan demi postingan.


Beberapa orang menyarankan agar harinya diganti, begitu pula dengan jamnya. Hari Jum'at memang hari aktif. Anak sekolah, mahasiswa, atau yang kerja masih ada aktivitas sampai setidaknya jam 3 sore.


Karenanya, ada beberapa yang ingin hadir dalam diskusi, namun terkendala ruang dan waktu.


Tetapi kami sampaikan banyak terima kasih yang sudah rutin bergabung setiap Jum'atnya, meluangkan waktu untuk datang, dan kadang hanya sebagai pendengar.


Inginnya setiap diskusi kami dokumentasikan dalam bentuk video, lalu mempostingnya ke youtube, agar yang tidak hadir bisa ikut menyimak. Namun upaya itu belum maksimal.


Kami sebenarnya sangat merindukan adanya diskusi mingguan semacam ini. Apalagi di Kota seperti Blitar. Terlebih ditunjang oleh adanya Perpustakaan Bung Karno yang megah dan representatif.


Sampai jumpa pada diskusi-diskusi berikutnya. []


Blitar, 12 Mei 2018
Ahmad Fahrizal Aziz


Thursday, April 19, 2018

Apa kira-kira menariknya aktif menggerakkan literasi? Membuat forum diskusi gratisan, meluangkan waktu untuk sekedar sharing menulis, tanpa (mungkin) keuntungan materi yang menggiurkan.


Nah, pertanyaan semacam ini, yang bagi saya merupakan pertanyaan realistis. Sebab ya, realitanya setiap kegiatan paling tidak mendatangkan keuntungan materi yang cukup.


Itu sangat manusiawi. Tidak ada yang keliru, sebab orang memang butuh materi untuk keberlangsungan hidup, juga mungkin untuk memenuhi keinginan-keinginan lain seperti jalan-jalan, liburan, punya motor, mobil, ponsel bagus, dan lain sebagainya.


Karenanya orang membagi antara "zona kering" dan "zona basah". Mengurusi komunitas literasi, termasuk "zona kering", meskipun dibuat "agak basah", tetap saja rasanya masih kering.


Lalu bagaimana komunitas literasi tetap hidup? Entahlah, namanya juga rezeki dari Tuhan, tetap saja ada jalannya.


Tiba-tiba kita dipertemukan dengan seseorang, dan dari pertemuan tersebut ada kesepahaman dan rezekinya sendiri. Kita diperkenankan mengakses sesuatu, yang jika di-rupiahkan mungkin lumayan mahal.


Ketika kita bikin program diskusi, yang tertarik juga tak begitu banyak. Bahkan hanya segelintir saja. Ada perasaan sepi, sedih, dan mungkin juga bosan. Kenapa tidak laku ya?


Masyarakat kebanyakan adalah masyarakat pendengar, kalau mau bikin sesuatu yang laku, jangan bikin sesuatu yang berat. Jangan bikin diskusi-diskusi yang njelimet. Makanya para caleg atau calon kepala daerah, lebih senang mengadakan konser dangdut, ketimbang seminar kebijakan publik.


Kalau ada konser dangdut, orang tinggal datang, diajak bergoyang, happy, dan jumlahnya pasti membludak. Apalagi artis yang didatangkan cukup terkenal.


Atau yang agak mending, adakan pengajian, mengundang dai kondang yang pandai membuat humor. Pasti laku, jamaah membludak.


Ya, masyarakat pendengar itu jumlahnya banyak. Bedakan ketika ada pengajian atau dzikir akbar, jumlahnya pasti membludak. Tetapi kalau ngaji kitab, misalkan ngaji kitab Riyadus Shalihin di Masjid A, jumlahnya pasti menyusut. Karena ngaji kitab lebih berat.


Sama halnya, ketika ada seminar kepenulisan yang mendatangkan penulis kondang, yang hadir juga membludak. Namun yang serius untuk mendalaminya, dalam forum-forum kepenulisan, jumlahnya bisa dihitung jari.


Jadi kita harus sadar diri, bahwa yang kita tempuh adalah "jalan sunyi". Menggerakkan literasi, berarti menuju tradisi baru, dari masyarakat pendengar ke masyarakat pembaca. Dalam aktivitas membaca, ada kegiatan mencerna dan menganalisis kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf.


Disinilah letak perjuangannya. Tetapi membaca tidak hanya sekedar teks, menganalisis bisa saja dari realita. Karena itu kita sedikit paham,bagaimana sebuah gagasan diproduksi, bagaimana agitasi dan provokasi didistribusi.


Pada masyarakat pendengar, dua hal itu jadi pelecut emosi. Sementara masyarakat pembaca akan menimang sejenak ; ah masa benar begitu, apa alasannya, kenapa itu terjadi, dan kira-kira ada kepentingan apa?


Jadi forum-forum diskusi yang kita anggap basa-basi itu, atau kegiatan-kegiatan literasi yang tak selalu mendatangkan materi, memiliki dampak yang cukup besar dalam membentuk tradisi.


Disitulah letak "perjuangan sosialnya", yang meskipun tidak selalu berhasil. Tanpa konsitensi dan kesabaran, tentu hal-hal demikian akan terasa membosankan. Karenanya perlu dibutuhkan penjiwaan, tidak hanya badan yang bergerak, tetapi jiwa kita harus selalu membersamainya.


Selamat berjuang.


Blitar, 16 April 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Thursday, February 22, 2018

Pagi hari, 20 Februari 2018, kami memacu motor ke arah yang berbeda. Saya terus ke utara, sementara keluarga saya belok ke timur, ke sebuah kerumunan yang tengah berduka. Kemarin ada kabar bahwa Mbokde (bibi Ibu saya) meninggal.

Mbokde adalah kakak dari nenek saya yang meninggal 15 tahun silam. Karena harus memandu sebuah acara dan tidak bisa digantikan, maka saya tidak ikut dalam rombongan takziah.

Terakhir bertemu mbokde sekitar dua bulan lalu, pada pernikahan cucunya yang seorang bidan itu. Namun sejak beberapa tahun belakangan, mbokde memang telah hilang ingatan. Mungkin semacam demensia. Tidak ada perbincangan, sebab tidak satu pun orang yang ia kenali, termasuk keluarganya sendiri.

Pada lebaran yang lalu, ketika kami mampir ke rumahnya yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pantai serang, tiba-tiba suasana haru menyeruak.

Teringat waktu masih sehat dulu, Mbokde sering menawarkan kopi hitam racikannya yang kental, atau menawarkan barang dagangannya, yang tentu diberikan cuma-cuma.

Teringat pula sambutan hangatnya ketika kami datang, yang sangat kontras berbeda dalam tiga tahun terakhir. Mbokde hanya duduk diam dan nampak linglung, melihat kami, sambil (mungkin) berusaha mengingat.

Pada suasana ini saya menyadari betapa sedihnya menjadi pikun. Sebab pada kondisi tertentu, kita mungkin pernah lupa pada sesuatu hal yang ingin sekali kita ingat. Lalu bagaimana jika yang lupa hampir semuanya?

Ingatan dan kesadaran adalah anugrah yang sering kita lupakan. Sebab ketika semuanya hilang, kita bukan lagi apa-apa. Pikun menjadi hal yang menakutkan di masa depan.

Selamat jalan Mbokde.

Blitar, 22 Februari 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

Tuesday, January 23, 2018



Kenapa program kewirausahaan selalu menjadi domain utama organisasi pemuda, terutama yang sebagian anggotanya berusia diatas 25 tahun? Atau prioritas lainnya adalah jejaring politik yang memberikan jabatan dan posisi tertentu?

Ya, kebutuhan hidup menjadi sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Maisah atau mata pencaharian untuk menopang keberlangsungan hidup. Apalagi usia-usia muda yang dalam proses menata ekonomi. Karena itu, sebuah organisasi mungkin bisa membantu mewujudkan hal tersebut.

Sebab apalagi yang lebih menggairahkan selain posisi atau tawaran lain untuk meningkatkan pendapatan materi?

Baru setelah logistik tercukupi, mungkin bisa bergerak ke hal yang lain. Namun sampai kriteria apakah ketercukupan logistik tersebut?

Pada akhirnya kebutuhan atas logistik menjadi pengikat tersendiri. Lini bisnis yang menggurita, membuat gerak dibatasi oleh berbagai macam perhitungan. Bahkan dalam organisasi yang semestinya menjadi ruang berbagi dan beraktualisasi, fikiran yang ada hanya bagaimana mengamankan materi.

Namun rezeki orang memang tidak sama. Sebab rezeki sangat berkait dengan cara pandang. Sebagian orang berpendapat rezeki itu semacam gaji bulanan, atau honor-honor lain diluar itu.

Sebagian lagi berfikir, bahwa kedamaian adalah rezeki terbesar. Kebebasan waktu, berfikir, dan bebas dari keterikatan-keterikatan yang tak nampak.

Ketercukupan logistik pada akhirnya juga bermuara pada hal tersebut. Dia akan merasa damai dan bahagia jika logistik cukup, kebutuhan hidup terpenuhi, dan keinginan-keinginan bisa terlaksana.

Sebagian orang memimpikan bisa terbang bebas seperti burung, sementara dirinya nampak memiliki segalanya, akan tetapi nyaris tak bisa bergerak. []

Blitar, 23 Januari 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

Monday, January 8, 2018




Apakah ada orang yang benar-benar menjalani hidup secara ideal? Ini menjadi pertanyaan menarik dan sekaligus membingungkan, sebab ideal dalam banyak aspek tentu bermacam-macam. Dalam kehidupan sehari-hari, idealnya pebisnis tentu beda dengan idealnya pegawai. Idealnya pejabat juga berbeda dengan idealnya seniman, begitulah seterusnya.

Dalam hal beragama juga demikian, nyatanya orang tidak bisa sama. Selalu ada beda, bahkan dari cara berpakaian. Ada yang menganggap cara berpakaian tertentu adalah yang paling ideal, namun ada pula yang menganggap bahwa itu bukan ideal, namun hanya kebiasaan. Lantas yang ideal bagaimana?

Dalam suatu kelompok, ideal bisa berarti sebuah kesepakatan. Jika keluar dari kesepakatan tersebut, maka sudah dianggap tidak ideal. Mereka yang kemudian disebut idealis, adalah yang kekeh agar sesuatu itu berjalan sebagaimana idealnya. Sebab seringkali sesuatu berubah karena ada kompromi.

Namun hal-hal ideal biasanya juga berhubungan dengan nilai-nilai universal. Misalkan, idealnya orang harus jujur. Kejujuran adalah hal ideal bagi manusia. Idealnya satu sama lain tidak saling menyakiti, idealnya pemimpin itu melindungi rakyatnya, idealnya orang beragama itu hidupnya penuh kedamaian, dan ideal-ideal lainnya.

Namun ternyata banyak yang tidak ideal dalam hidup ini, bahkan menimpa segolongan orang yang seharusnya menjadi yang terdepan mengupayakan idealitas tersebut. Misalkan, jamaah yang berbeda dalam satu agama saling berebut Masjid, padahal Masjid tersebut dimanakan Al Islah. Ini menjadi paradoks yang sangat nampak.

Banyak kasus tak etik terjadi di lembaga Pendidikan, yang merupakan institusi penting dalam mewujudkan idealitas hidup. Banyak hal tidak ideal terjadi misalkan di lembaga pemerintahan atau lembaga politik. Sampai pada titik tertentu orang menjadi sangat pesimis tentang hal-hal ideal.

Maka seringkali idealisme itu hanya menjadi bahan tertawaan, gurauan, dan candaan. Orang idealis sering disebut mahluk ilusi. Karena itulah jumlahnya makin berkurang setiap hari, bahkan nyaris punah.

Namun anehnya, kadang seringkali kita muak dan bosan dengan kompromi. Apalagi jikalau yang dikompromikan adalah sisi fundamental seperti hukum. Hukum harus diupayakan ideal, sebab idealnya hukum adalah adil. Kita muak dengan kompromi-kompromi dengan istilah “orang dalam”.

Kita menganggap idealisme itu bulshit dan omong kosong, namun sejujurnya dari hati yang terdalam, kita berharap segala hal itu berjalan sebagaimana idealnya. Sebab hilangnya idealitas bisa berdampak buruk. Sebuah lembaga yang tidak merekrut orang-orang profesional, dan hanya memasukkan orang tak berkompeten atas bantuan “orang dalam”, bisa mengalami kebangkrutan.

Sebuah lembaga yang tidak ideal dalam bergerak, akan dengan mudah dijadikan alat oleh segelintir orang, dan dikuasai lalu dikendalikan sekehendak kebutuhan. Betapa mengerikannya ketika banyak hal tidak berjalan ideal, dan selalu bisa dikompromikan. Memang ada hal-hal yang bisa dikompromikan, untuk menghindari dampak buruk. Namun jika hasil kompromi justru melahirkan kebijakan yang lebih buruk, tentu sangat celaka.

Idealisme itu memang bulshit dan omong kosong. Tentu, tapi kita selalu berharap, berdoa, dan berupaya agar itu terwujud, sekalipun dari hal-hal terkecil sekalipun. []

Blitar, 5 Januari 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

Sunday, December 24, 2017





Menulis adalah pembelajaran panjang, bahkan sampai saat ini. Sepertinya tidak ada kata tuntas dalam belajar menulis, sebab cara dan gaya menulis selalu berkembang. Sejak tahun 2007, saya sudah jatuh cinta dengan menulis. Kesenangan mengungkapkan banyak hal melalui sebuah tulisan, entah lewat catatan sederhana semacam ini, lewat puisi, cerpen atau bahkan novel.

Menulis novel—meski lewat buku tulis—menjadi semacam terapi tersendiri ketika masih duduk di bangku Aliyah, cara lain mengatasi psikologi hidup yang rumit. Di masa awal perkuliahan, menulis puisi menjadi “obat” tersendiri, sampai terkumpul lebih dari 200 puisi.

Semua itu bukan karena uang, lebih karena kesenangan, atau lebih tepatnya keterwakilan perasaan. Seringkali orang bertanya, menulis begitu dapat uang berapa? Pertanyaan yang super konyol, sebab segala sesuatu hampir dikaitkan dengan uang. Meski tetap saja ada jalan mendapatkan uang banyak dan melimpah dari menulis, misalkan menjadi ghost writer.

Saya sendiri juga menulis konten, yang dari konten tersebut mendapatkan bayaran. Juga pernah bekerja di media yang tentu kita akan dibayar karena jeri payah menulis kita, entah menulis artikel, berita atau laporan wawancara. Namun kepuasan lain, yang tak ternominalkan, salah satunya dengan membuat catatan sederhana semacam ini.

Entah kenapa, kadang-kadang saya perlu menuliskan sebuah obrolan, perjumpaan, kesan, peristiwa, dan lain sebagainya. Menggali sisi lain yang belum tergali. Mungkin ini disebut passion atau sejenisnya, sebab tidak berfikir apakah saya akan dibayar ketika menulis catatan sederhana semacam ini.

Meski kalau diposting di website, tetap akan ada nilai nominal karena menggunakan google adsense, namun itu bukan tujuan utama. Bukan pula berkeinginan agar tenar dan dipuja, lebih baik orang “mengenal” tulisan saya, daripada mengenal diri saya sebagai penulisnya. Sebab apalah arti itu semua.

Menulis sebagai gerakan

Kira-kira sejak 2008, saya turut andil menjadi bagian dari “gerakan menulis”. Meski apakah layak menulis disebut sebagai gerakan, namun bagaimana bila ada sekelompok orang berkumpul dan bersama-sama mempertajam kemampuan menulisnya? Barangkali itu bisa disebut gerakan.

Setiap hari minggu siang, kami berkumpul untuk sekedar sharing. Bukan meluangkan waktu, tapi karena bagi saya itu prioritas, sehingga sudah terjadwal rapi. Kadang masuk ke sekolah-sekolah untuk kampanye menulis, atau misal diundang ke forum-forum diskusi untuk berbagai tips dan trik. Atau juga, melayani permintaan teman yang mulai tertarik untuk menulis.






Sehingga label sebagai penulis itupun melekat. Meski kadang sungkan juga disebut penulis, karena meski sudah banyak membuat tulisan, artikel, esai, berita atau karya semisal puisi dan cerpen, namun dibandingkan yang lain, yang sudah memiliki belasan bahkan puluhan buku, apalah artinya saya. Atau dibandingkan mereka yang karyanya banyak nangkring di koran dan majalah.

Di laptop pribadi, saya membuat folder khusus yang menampung tulisan-tulisan saya. Totalnya lebih dari 2000 judul. Jadi, tak terasa, saya sudah menulis lebih dari 2000 judul dari berbagai bentuk. Terbanyak tentu catatan semacam ini, sisanya mungkin puisi yang tak terpublikasi. Itu belum termasuk artikel konten yang saya buat, yang tentu tak bernama alias tak tercantum nama penulisnya.

Lantas mungkinkah berhenti menulis?

Beberapa aktivitas baru sempat terfikirkan, misalkan dengan mulai belajar berbinis dengan memanfaatkan layanan start up. Apalagi beberapa media online yang saya kelola juga akan habis awal januari, sementara mungkin akan diteruskan tim yang lain, lainnya mungkin akan dibiarkan kadaluwarsa. Termasuk media komunitas yang saya terlibat menjadi pengelolanya.

Berhentinya menulis, pada akhirnya juga akan mengurangi aktivitas di komunitas kepenulisan (literasi) yang selama ini saya ikuti. Waktu yang selama ini saya dedikasikan untuk menulis, entah menulis untuk kesenangan atau pendapatan, tentu akan berganti dengan aktivitas lain.





Jika setiap pagi saya menulis artikel konten sampai kira-kira jam 10, dan meluangkan waktu untuk membuat catatan sederhana semacam ini selepas subuh atau sore hari, maka barangkali aktivitas tersebut juga akan berganti.

Dengan mengurangi aktivitas menulis artikel konten, tentu akan ada banyak waktu luang. Anda tahu betapa menulis artikel konten, selain aktivitas menulisnya, juga mencari sumber-sumbernya yang jelas menyita waktu. Ya, meski ada bayaran untuk itu, yang membuat bertahan untuk menulis.

Namun menulis artikel konten besar kemungkinan akan saya tinggalkan, dan sempat berganti untuk membuat konsep baru, yang kembali menguatkan sisi jurnalisme. Rindu untuk kembali wawancara, bertanya sekaligus mendengar banyak cerita inspiratif dari para penggerak dalam segala bidang.

Apakah itu mungkin terwujud?

Disisi lain, saya juga ingin mendalami bisnis. Terdengar lucu, namun begitulah adanya. Orang tua saya hidup dari berdagang. Meski saya tidak (atau belum) memiliki kemampuan dalam hal tersebut, namun gejolak jiwa yang ingin bebas, tanpa terikat, barangkali muncul dari situ.

Pada intinya, ada sebagian manusia yang tidak ingin melakukan hal yang sama dalam waktu yang terlalu lama. Saya barangkali salah satunya. Menulis jadi semacam ritus dari kehidupan yang selama ini saya jalani, tentu akan sangat sulit melepaskannya.

Beberapa wartawan, penulis, atau bahkan penyair banyak pula yang “berhenti” dari aktivitasnya, lalu secara ekstrem memulai aktivitas baru. Sebagian ke politik, menjadi pegawai, mengelola bisnis, sampai ada yang memilih mengelola hutan sengon. Entah karena bosan, atau mungkin karena tuntutan ekonomi, aktivitas menulis ditinggalkan sama sekali.

Sisa beberapa hari di tahun 2017 ini, akan menjadi perenungan mendalam bagi diri saya. Batang usia yang terus bertambah, yang sudah melebihi dua dasawarsa. []

Blitar, 24 Desember 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi