psikologi

Monday, October 1, 2018



Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Dalam kebutuhan ada keinginan, namun tidak semua keinginan mengandung kebutuhan.

Makan adalah kebutuhan, namun muncul keinginan untuk memilih apa yang dimakan. Nasi pecel, nasi padang, atau nasi borang.

Keinginan tersebut bisa terpenuhi jika memiliki kemampuan, misalkan memiliki uang lebih untuk mewujudkan keinginan tersebut. Sehingga, meskipun di rumah ada nasi liwet lauk tempe, karena dorongan keinginan, tetap akan pergi ke warung nasi padang.

Termasuk dalam kebutuhan lain, seperti berpakaian. Manusia butuh berpakaian agar lebih sehat, tidak masuk angin, gatal-gatal dan lain sebagainya.

Namun keinginan, membuatnya akan memilih jenis pakaian, mulai dari jenis kain, warna, hingga modelnya. Keinginan kadang juga disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.

Karena tubuhnya bagus, kekar, maka menggunakan kaos yang ketat. Atau karena tubuhnya langsing dan seksi, maka menggunakan celana ketat.

Keinginan juga berkaitan dengan prestise atau kesan orang terhadapnya. Kenapa menggunakan batik, baju koko, kemeja polos, hingga hal-hal yang bersifat asesoris seperti jam tangan, syal, kalung, dan lain sebagainya.

Dua hal di atas adalah keinginan yang berkaitan dengan kebutuhan. Lalu bagaimana dengan keinginan yang tidak berkaitan dengan kebutuhan?

Sebenarnya berbeda tipis. Bahkan keduanya nyaris sama. Seperti kebutuhan makan tadi. Dia bisa saja makan nasi yang ada di rumah, kebutuhan sudah terpenuhi. Namun karana ada keinginan lain, sehingga makan ke warung.

Dia sebenarnya tidak perlu ke warung, karena di rumah sudah ada makanan, yang meski rasanya tidak seenak di warung.

Namun jika itu dikontrol, mungkin tidak akan ada yang mubazir. Uang yang seharusnya dia gunakan ke warung, barangkali bisa untuk hal lain.

Artinya ke warung bukan lagi kebutuhan. Lebih karena keinginan.

Akan tetapi keinginan manusia selalu berkembang, dan bahkan berada pada tahap irasional.

Seperti keinginan untuk dihargai, dipuji, dikagumi, dicintai dan lain sebagainya. Itu semua keinginan yang sama sekali tak berkait dengan kebutuhan. Meski keinginan yang terus diburu akan jadi semacam kebutuhan baru.

Keinginan bisa terhenti karena tidak adanya kemampuan. Misalkan, ingin beli mobil mewah tetapi tak punya cukup uang.

Ingin beli hape terbaru, model jaket terbaru, merk sepatu yang sedang trend, tas dengan brand tertentu, dan lain sebagainya, namun tidak memiliki kemampuan.

Sementara, pergaulan sosial memberikan tampat khusus dan stigma tersendiri bagi mereka yang memiliki barang-barang tersebut.

Keinginan kemudian menjadi hal yang sungguh menyiksa, ketika tak memiliki kemampuan untuk mewujudkan.

Pada akhirnya, sebagaimana teori Sigmund Freud, ada konflik dalam diri. Ada ketidakseimbangan karena ego yang berupa keinginan dan kepuasan tersebut tidak terpenuhi.

Hal tersebut akan terus terjadi, baik ketika ada atau tidaknya kemampuan untuk mewujudkan keinginan. Arti dari "kebutuhan" pun kian bergeser.

Itu barangkali lebih berat secara psikologis, dibandingkan mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti makan.

Itulah kenapa banyak kasus orang yang menurut kita hidupnya enak dan berkecukupan, namun tiba-tiba bunuh diri.

Kulminasi keinginan yang tidak pernah terpuaskan, sebab benar kata Freud, keinginan tak akan terpuaskan. Sehingga perlu kontrol atas diri (introyeksi), yang kita kenal dengan istilah superego.

Kemampuan memilah mana yang benar-benar kebutuhan, dengan keinginan yang akhirnya menjelma jadi kebutuhan.

Memilah mana keinginan yang wajar, dan keinginan yang berlebihan. Keinginan yang bisa dipenuhi tanpa menimbulkan masalah, dengan keinginan yang bisa meledakkan masalah dikemudian hari.

Mengontrol itu tidak mudah, apalagi jika punya kemampuan untuk mewujudkannya. Apalagi keinginan tersebut bersifat hedonis dan pragmatis berupa hasrat dan kenikmatan sekejap.

Semoga kita mampu mengontrol keinginan kita sendiri. []

Blitar, 28 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Thursday, September 27, 2018



Acara Tausiyah, khususnya tausiyah keagamaan yang dibawakan Ustad-ustad kondang selalu penuh dengan jamaah, bahkan jadi fenomena tersendiri.

Padahal mungkin isi tausiyahnya biasa saja, bahkan lebih menarik humornya. Bingkisan humor itu sering disebut sebagai daya tarik. Namun, ternyata bukan itu, ada sisi lain yang menjadikan kegiatan tausiyah keagamaan jadi semacam kebutuhan.

Selain kebutuhan fisik, manusia juga membutuhkan sentuhan spiritual. Misalkan, Abu Zaid Ahmad Ibn Sahl al-Balkhi membagi antara kesehatan ruhani (tibb al-ruhani) dan kesehatan mental (tibb al-qalb).

Ada perbedaan antara ruhani yang lebih terkait pada sisi psikologi seseorang, dengan qalb (kalbu) yang lebih menyoroti mental.

Sebagaimana tubuh yang harus rutin menerima asupan makanan agar berenergi dan tidak sakit, tausiyah keagamaan disisi lain juga asupan bagi qalb (kalbu).

Ruhani dan qalb setiap manusia sangat rawan terserang penyakit, seperti depresi, rasa sedih, cemas, ketakutan dan lain-lain.

Penyakit tersebut jika menyerang seseorang, akan berdampak pada gangguan fisiknya. Hanya saja, ketika diteliti secara medis, tidak ditemukan tanda-tanda ada penyakit dalam tubuhnya.

Fenomena ini disebut psikosomatik. Jika ditelusur, psikosomatik ini nyaris mirip dengan sebutan orang seperti "sakit pikir", artinya ada orang yang sakit-sakitan karena tidak kuat menanggung beban pikiran.

Tausiyah keagamaan jadi menemukan relevansinya, ketika orang merasa tenang dan damai berkumpul dengan jamaah lain, mendengar apa yang disampaikan dai. Ada nilai spiritual yang dirasakan.

Manusia membutuhkan nasehat orang lain, apalagi orang tersebut tokoh yang bisa membimbing ke jalan spiritual. Hal tersebut bisa meredam pikiran negatifnya sendiri, yang sering dihinggapi kesedihan, kekhawatiran, kecemasan, rasa takut, dan sebagainya.

Mereka yang hadir dalam keadaan pasrah, percaya sepenuhnya pada yang disampaikan, tanpa perlu mempertanyakan. Itu kuncinya.

Meski tidak semua orang begitu, ada yang bisa mendamaikan dirinya sendiri, dengan mengembangkan pikiran positif dalam dirinya sendiri.

Pada dasarnya, manusia akan selalu mencari kebahagiaan. Dalam rutinitas kerja yang padat misalkan, disela libur ada agenda piknik, agar pikiran segar kembali.

Dalam bayang-bayang kesedihan, kecemasan dan ketakutan dalam hidup misalkan, manusia akan mencari ketenangan. Mencari ketenangan beda hal dengan hanya sekedar mencari kebahagiaan atau kesenangan.

Untuk mencari ketenangan bisa juga dengan ikut dzikir akbar. Ada juga yang menjalankan meditasi, ada yang cukup dengan ngopi dan berbincang bersama teman. Namun teman yang mengajak untuk berpikir positif.

Sementara hadir di acara tausiyah akbar adalah salah satu alternatif yang paling populer : dapat wawasan, rasa tenang, bisa tertawa, dan ... dapat pahala.

Blitar, 26 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Monday, September 24, 2018



Sifat fanatik memicu hilangnya kesadaran. Hal inilah yang pernah dikaji oleh Ibnu Sina, ahli kedokteran atau fisiologi, tentang gangguan mental seseorang karena terlalu suka (maniak) pada sesuatu.

Teori ini kemudian disebut frenologi.

Rasa suka dan bangga adalah hal wajar, namun tidak wajar lagi jika sudah menjadi maniak. Karenanya istilah "mania" atau "maniak" sebenarnya istilah untuk menyebut seseorang yang mengalami gangguan jiwa, sayangnya justru dijadikan kebanggaan.

Tiga abad sebelum masehi, Plato sudah mengidentifikasi 3 kelas jiwa. Salah satunya, Thumoeides, yaitu jiwa yang hanya mengandalkan amarah.

Jika dikaitkan, sifat fanatik melahirkan banyak Thumoeides, lebih suka bermain kasar, mengedepankan amarah, bahkan rela berkorban nyawa.

Dalam kelompok tertentu, Thumoeides ini sering dijadikan "tukang gebuk". Suasana mental dan jiwanya dikondisikan untuk itu. Maka jangan heran jika ada orang rela jadi tumbal bom bunuh diri, demi kebanggaan pada sesuatu yang ia sangat fanatik terhadapnya.

Lalu, bagaimana dengan fanatik terhadap club sepakbola? Sampai ada tragedi baku hantam antar supporter yang menyebabkan nyawa melayang. Apa sebenarnya yang dicari dari itu semua?

Memang sangat membingungkan, apalagi dalam kelompok massa. Kesadaran diukur dari kelompok tersebut. Misalkan, ada maling ayam dihajar warga hingga tewas, tanpa berfikir bahwa perlakuan itu justru jauh lebih keji dari sekedar mencuri ayam.

Persinggungan massa memang sulit dihentikan. Termasuk ketika dua massa dari kelompok yang berseteru bertemu, ya katakanlah antar supporter club bola yang memiliki sejarah perseteruan yang panjang.

Meski generasi berubah, meski pelatih dan pemain itu telah berganti, mungkin kepemilikan club juga berganti, termasuk sebagian besar supporternya sudah beda generasi, namun sentimen keduanya tetap abadi.

Berbeda dengan fanatik terhadap agama misalnya, yang masih punya dasar teologis, Tafsir bahwa dengan sikap tersebut, ia akan mendapat surga misalkan.

Bisa juga fanatik pada organisasi, pada tokoh yang ia junjung, bahwa kepatuhan dan loyalitas tersebut akan memberikan keberkahan misalkan.

Lalu bagaimana dengan fanatik dengan club sepakbola, yang pemain dan pelatihnya terus berganti, yang tidak memiliki justifikasi teologi. Tidak ada yang berani bilang dengan mendukung klub tertentu akan jadi kaya atau masuk surga.

Apakah yang semacam itu perlu dimaklumi? Mengingat fanatisme itu ada dimana-mana, termasuk pada pasangan capres dan cawapres. Tidak hanya pada klub sepakbola. []

Blitar, 24 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Sunday, May 20, 2018

Lawan kata individualis, sebenarnya bukan bersosial. Bergitupun ketika menyebut introvert, bukan lawan sifat dari ekstrovert. Harusnya pengertian ini lebih diperluas.


Individualis juga tak berarti apatis. Tak berarti pula anti sosial. Meskipun individualis, dalam beragam pengertiannya lebih berfikir individu atau diri sendiri. Akan tetapi menjadi individualis itu perlu.


Sifat individualis memang melekat pada masyarakat perkotaan, tetapi perkotaan elite, atau minimal kelas menengah. Sebab perkotaan pinggiran, atau perkampungan dempet, hubungan sosio-kulturalnya tak berbeda jauh dengan masyarakat pedesaan.


Ciri masyarakat individualis sebenarnya bukan tidak peduli dengan lingkungan atau tetangga. Tetapi waktu mereka memang lebih banyak untuk urusan yang kaitannya dengan pribadi, terutama pekerjaan.


Sifat individualis ada sisi positif, yaitu tidak suka mencampuri urusan orang lain, juga tidak suka urusannya dicampuri. Sehingga tradisi ghibah tidak akan berkembang dikalangan masyarakat individualis.


Sisi positif lainnya, orang individualis biasanya independen. Tidak suka bergerombol, apalagi memanfaatkan gerombolan untuk menjadi tameng dirinya. Meski ada kecenderungan egois dan keras kepala.


Kaum individualis juga bisa aktif dalam komunitas, organisasi, bisa juga bekerja tim. Mereka bukan mahluk apatis, apalagi anti sosial. Mereka bersosial, namun lebih introspektif, apa yang bisa ia perbuat dalam kelompok sosial itu? Mereka tidak mau sekedar mengekor.


Pada dasarnya, sifat individualis dimiliki semua orang, namun tidak semua orang mampu benar-benar berperikalu individualis. Dalam bependapat, kaum individualis akan lebih getol bersuara, karena ia memiliki independensi. Sementara lainnya hanya ikut suara terbanyak.


Orang individualis selalu punya "me time", waktu khusus untuk merefleksikan dirinya sendiri. Inilah yang tidak dimiliki banyak orang. Karenanya ia disebut individualis.


Padahal proses refleksi itu juga untuk kehidupan bersosialnya. Seorang pemimpin selalu ingin menyendiri, karena dalam kesendiriannya itu ada banyak hal yang ia fikirkan, untuk kepentingan orang banyak.


Seorang musikus juga demikian. Musikus atau seniman secara umum sering disebut mahluk paling individualis ; sulit diatur, dan tidak selalu mau ikut aturan. Tetapi karya-karyanya bisa dinikmati banyak orang, bahkan merasuk ke relung hati dan jiwa banyak orang.


Penulis juga demikian, menghabiskan waktu membaca dan menulis dalam kesendiriannya. Tetapi setelah tulisan jadi, pembacanya banyak orang, penikmatnya banyak orang. Untuk siapa ia menulis? Jelas bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain.


Sekarang bandingkan dengan yang nampak bergerumul dengan masyarakat, menyerap aspirasi demi aspirasi, tetapi punya kepentingan untuk sebuah posisi.


Jika nantinya ia berhasil memperolehnya, belum tentu gajinya akan dibagi, belum tentu keuntungan materi yang menyertainya, akan juga kita nikmati.


Seorang individualis itu memang terlihat seperti penyendiri, egois, tak mau kalah, keras kepala, tetapi mereka sesungguhnya sangat peduli. Hanya caranya saja yang kadang bikin geregetan. []


Blitar, 20 Mei 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Saturday, November 19, 2016





Kalau kita baca The Phantom of Opera karya Gaston Leroux, kita akan mengingat sosok jenius namun buruk rupa bernama Erik. Sayang kejeniusannya justru tidak diarahkan untuk hal yang lebih produktif karena ia terlibat pada cinta segitiga. Ia sangat mencintai penyanyi opera cantik bernama Christine. Namun harapannya untuk memiliki Christine mungkin tak akan terwujud karena disaat yang sama ada lelaki tampan yang juga mendekatinya, seorang viscount bernama Raoul.

Frustasi karena kalah bersaing dengan Raoul, Erik pun menjelmakan dirinya menjadi hantu opera. Ia menyetting tempat itu seolah angker dan mengerikan, sehingga orang-orang sekitar merasa ketakutan dan terteror, termasuk Christine yang ia cintai itu.

Fenomena Erik mungkin satu dari sekian banyak orang yang merasa terjebak dalam tubuh yang tidak ia kehendaki. Bagaimana bisa dikehendaki, karena tubuh bukan sesuatu yang bisa kita pilih. Entah lahir sebagai lelaki atau perempuan, itu sebuah takdir yang hanya bisa kita jalani. Termasuk bentuk wajah, ukuran tubuh, dan sejenisnya.

Jauh hari, di era munculnya Filsafat, persoalan itu sudah dibahas oleh Pythagoras. Dalam buku Sejarah Filsafat Barat yang ditulis Bernard Delfgaauw, Pythagoras menyebut jiwa sebagai substansia, sementara raga hanya media pemurnian. Raga sebagai katarsis. Jika pemurnian berhasil, maka pasca kematian, jiwa akan ditampung dalam alam kebahagiaan. Sementara, ketika pemurnian tidak berhasil atau kurang cukup, selepas mati jiwa kita akan mendiami raga lain.

Sayang tidak dijelaskan apa kriteria cukup atau tidak cukupnya dalam proses pemurnian tersebut. Namun pada era selanjutnya, terutama era Plato, raga/tubuh disebut sebagai penjara bagi jiwa. Hal ini disebutkan oleh Pythagoras diawal, bahwa raga/tubuh sebenarnya adalah hal yang asing bagi jiwa. Sebuah keterasingan. Mungkin karena itulah dalam hidup manusia terus berproses mencari jati dirinya.

Terlepas dari kita percaya atau tidak dengan uraian dua filsuf diatas, hal senada juga dijelaskan dalam filsafat jawa, bahwa tubuh adalah kerangka jiwa (rogo iku ragangane jiwo), artinya itu bersifat sementara, bahkan jika menggunakan perhitungan matematik, konon hanya sepersekian dari usia jiwa sesungguhnya. Dalam agama dijelaskan, bahwa kebangkitan setelah hari kiamat, manusia akan menempati wujud yang berbeda-beda. Ada yang kepalanya dibawah, ada yang seperti babi, dll.

Nalar intelektual Pythagoras atau Plato sebenarnya dijawab oleh Agama, dimana permurnian itu bisa berarti amal perbuatan. Tapi segala hal yang berkaitan dengan suasana pasca kematian, kita semua tidak ada yang tahu pasti. Meski Agama pun juga berbeda memberikan ajarannya. Menurut agama Buddha, setelah mati manusia akan bereinkarnasi kembali menjadi manusia yang lebih baik atau lebih buruk, atau bisa jadi bereinkarnasi menjadi hewan dan siluman jika amalnya ketika hidup sangatlah buruk.

***
Dalam diskusi dengan mereka yang menamai LGBT sekitar empat tahun silam, ada yang bercerita persis dengan istilah “terjebak dalam tubuh”. Ada lelaki yang merasa dirinya perempuan, namun terjebak dalam tubuh lelaki. Ada perempuan yang merasa dirinya lelaki, namun terjebak dalam tubuh lelaki. Yang lebih susah dipahami, ada orang yang merasa dalam dirinya ada unsur lelaki dan perempuan. Yang tak kalah membingungkan juga, ada lelaki yang merasa dirinya pure lelaki, tapi menyukai lelaki. Begitupun juga, ada perempuan yang merasa dirinya perempuan namun menyukai sesama perempuan.

Diluar dari LGBT, sebagaimana sosok Erik, merasa terjebak dalam tubuh yang tidak diinginkan. Kaum perempuan paling banyak mengalami perasaan ini. Meski Ilmu Kedokteran bedah kemudian menemukan solusinya, yaitu dengan operasi plastik. Ilmu Farmasi menjawabnya dengan menciptakan beragam produk kosmetik, serta obat-obat pemutih kulit, dlsb. Akhirnya mereka yang memiliki cukup uang, melakukan upaya tersebut.

Karena bukan anak Psikologi, saya agak dibuat pusing dengan hal-hal semacam ini. Mulailah saya membaca literatur tentang psikologi. Namun dalam kaitannya isu LGBT, ternyata praktisi psikologi pun juga berbeda pendapat. Ada yang menyebut itu sebagai penyakit, ada yang menyebut itu preferensi, ada yang menyebut itu hal yang alamiah. Terserah kita lebih percaya yang mana, karena sekali lagi, tidak ada Ilmu yang mengandung kebenaran mutlak.

Ketika teori Ilmu Pengetahuan saling berbenturan, maka sebagian orang kemudian mengembalikannya kepada Agama, spiritualitas dikuatkan. Hal ini memang tak mudah, karena tubuh adalah pusat segala rasa, terutama yang berkaitan dengan kenikmatan indrawi, serta respon sosial. Itulah kenapa kita merias diri, menggunakan pakaian yang sekiranya enak dipandang. Dalam kondisi tertentu, penampilan juga mempengaruhi rasa percaya diri.

Meski hal tersebut tidak mutlak, dan kita sadari itu semua. Pada taraf yang berbeda, ada sebagian orang yang berfikir “melampaui tubuh”, ia yakin bahwa persona tidak diciptakan oleh bentuk tubuh maupuan trend busana. Ada yang lebih bersifat abadi : intelektualitas, attitude, integritas, dan semacamnya. Orang-orang pada level ini barangkali tak terlalu menggubris, apa ia terlihat cantik atau tampan, seksi atau atletis. Baginya yang terpenting adalah persona dari dalam. Inner beauty, kalau istilah perempuan.

Tulisan ini mungkin akan dibaca sangat biasa bagi mereka yang sudah “melampaui tubuh”, namun akan dibaca dengan perasaan menggelisahkan bagi yang belum menerima tubuhnya sendiri. Bahkan, saya yang menulisnya saja, masih ada rasa kegelisahan. []

Blitar, 19 November 2016
A Fahrizal Aziz

Wednesday, November 16, 2016





Ternyata banyak hal yang mempengaruhi emosi seseorang. Tidak saja karena perlakuan orang lain, namun juga sebab hari dan cuaca. Dalam buku Mood and Temperament, yang diterbitkan Guilford Publications, karya D. Watson, emosi negatif sering muncul pada awal pekan, dan akhir pekan sering mendatangkan emosi positif. Emosi negatif antara lain, marah, depresi sampai bad mood. Emosi positif meliputi rasa bahagia dan syukur.

Namun emosi adalah hal yang dibutuhkan manusia. Manusia tanpa emosi, kata A Ben-Ze'ev, masuk klasifikasi nonemosional. Emosi dibutuhkan untuk merespon keadaan. Emosi memberikan gejolak bagi seseorang untuk bergerak dan bertindak dalam mencapai tujuan hidup. Emosi yang dikelola dengan baik akan menjadi power untuk meraih sesuatu, semisal menduduki sebuah jabatan tertentu, atau mencipta suasana tertentu. Maka orang tanpa emosi justru problem tersendiri.

Maka istilah “jangan sampai emosi” itu sebenarnya kurang tepat. Karena emosi itu bisa positif bisa negatif. Secara biologis, emosi diproses dalam sistem limbik otak. Semakin aktif sistem limbik otak, justru yang muncul adalah emosi negatif. Terutama marah. dalam beberapa literature, emosi negatif muncul ketika otak tak mampu berfikir rasional. Negatif tidaknya emosi seseorang sangat dipengaruhi oleh rasionalitas fikirannya.

Ada hadist riwayat Bukhari-Muslim yang populer : Jangan mengadili antara dua orang waktu sedang marah. Hadits ini ternyata memiliki landasan psikologis yang kuat. Karena marah bisa dipengaruhi dari rasa benci, atau tidak suka atas perilaku seseorang, yang membuat ia tak begitu mampu berfikir jernih dan rasional. Maka dimata hukum, setiap pelaku kejahatan selalu memiliki asas praduga tak bersalah.

Ciri emosi negatif akhibat tidak bisa berfikir rasional lainnya ialah, melakukan kejahatan diluar batas, sampai menghancurkan sesuatu atau membunuh. Kadar yang lebih rendah dari itu, ialah suka menghujat atau menghina dengan kata-kata yang tidak elok diucapkan.

Karena dalam kajian psikologis, marah pun bisa dikelola. Marah yang rasional akan melahirkan kritik. Kritik itu bersifat mengkritisi, artinya membenarkan apa yang menurutnya keliru. Tidak mudah orang mengkritik. Orang yang mengkritik harus paham duduk persoalannya, dan sebisa mungkin memberikan jalan keluar (solusi) atas apa yang ia kritisi. Namun marah yang tidak terkontrol akan melahirkan hujatan, caci maki, dan sejenisnya yang tidak pernah menyelesaikan masalah, justru akan melahirkan konflik dan kekacauan baru.

Memang ada banyak faktor yang mempengaruhi emosi seseorang, seperti faktor lingkungannya. Dulu ada yang mengkritisi kenapa ada Mantan Jenderal yang kalau bicara begitu menusuk dan emosional. Kita bisa pahami karena latar belakangnya dulu sebagai prajurit, yang sering dihadapkan pada situasi genting. Itu membuatnya menciptakan fikiran yang selalu waspada atas suatu hal, baik seseorang atau gerakan.

Atau, ada orang yang terlihat nampak emosional dan meledak ledak. Selain faktor karakter dasar, juga karena faktor lingkungan. Mungkin ia sering dihujat, dihina, dilecehkan, diremehkan, atau disalah salahkan. Dalam beberapa artikel Psikologi, banyak anjuran agar jangan sering menyalahkan anak kecil. Karena itu menjadi sebab menguatnya emosi negatif, yang membuat anak tidak bahagia, dan bisa tumbuh menjadi sosok yang tempramental.

Memang tidak semua teori-teori tersebut berlaku, karena tidak ada yang mutlak dalam Ilmu Pengetahuan. Namun ada fakta empiris yang bisa kita benarkan dan jadikan acuan.

Tapi dengan membaca literature diatas, sedikit banyak membuat saya sendiri menggeser persepsi dan tidak terlalu responsif terhadap orang yang marah. Apalagi di Sosmed. Terutama di WA, yang antara bahasa tulis, tutur, dan ekspresinya bisa sangat berbeda. Sebenarnya bukan faktor orangnya, tapi faktor fikiran kita menangkap bahasa tersebut.

Ada yang kalau bertemu cenderung santun, tapi di WA sering share tulisan-tulisan provokatif nan emosional. Kita tidak bisa mengidentifikasinya, karena bisa jadi itu bukan tulisan yang ia buat. Namun tulisan orang lain yang mungkin wewakili fikiran dan emosinya, namun secara pribadi ia tak akan membuat tulisan semacam itu.

Di era digital ini tantangan terbesarnya memang mengelola emosi. Karena seringnya salah paham, atau salah tafsir bahasa. Sekalipun sudah ada emoticon. Karena merubah orang lain itu tidak mudah, maka cara terdekat adalah merubah fikiran kita sendiri. Bersabar untuk tak reaktif dengan bahasa tak elok. Susah memang, tapi harus terus berusaha. []

Blitar, 16 November 2016
A Fahrizal Aziz

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi