musik
Wednesday, March 9, 2016

Dalam sebuah wawancara dengan Daud Yousuf di Malaysia, Anggun ditanya begini : Kenapa banyak penyanyi Indonesia tidak sukses seperti anda menjadi Penyanyi antara bangsa (International) ? Nampaknya Agnez Mo juga tidak sukses.
Dengan sederhana dan seperti biasa, diiringi senyum ramahnya, Anggun menjawab : Bukan tidak sukses, tapi mungkin belum. Anggun pun tak lantas mengomentari lebih jauh, sampai akhirnya Daud Yousuf melempar pertanyaan baru : apa yang membuat anda sukses?
Tentu Anggun tak ingin Jumawa. Ia bahkan memulai jawabannya dengan memuji penyanyi lain, salah satunya Yuna dari Malaysia. "I love her voice," kata Anggun.
Anggun menjelaskan, dan penjelasannya mirip dengan tabakan saya, meski tak 100% mirip. "Saya hanya ingin menjadi diri sendiri, punya style sendiri, dan cara bernyanyi sendiri. Hanya ada satu Anggun di dunia ini."
Anggun C. Sasmi memang Lady Rock asal Indonesia yang berhasil Go International dan menjadi best selling Indonesian Artist di World Music Awards. Tapi yang menarik, identitasnya sebagai orang Indonesia masih begitu kuat. Selain tentu saja, karakter dasarnya yang ramah dan smiling face. Nuansa keIndonesian Anggun nampak dalam lagu dan penampilannya di Panggung.
Instrument sunda dalam lagu A Rose Wind, serta gerakan jari tangannya yang konon terinspirasi dari Tari Bali. Ketika identitasnya itu dikombinasikan dengan warna musik barat, disitulah barangkali muncul sesuatu yang baru, yang membuat lagu-lagu Anggun pun memiliki nilai beda. Anggun, dengan style dan kesederhanaannya benar-benar mencerminkan sisi perempuan Asia yang sempurna. Di beberapa media asing, karena mungkin ada yang belum mengenal Indonesia, Anggun disangka berasal dari India karena kulit eksotiknya.
Agnez Mo kini juga mulai show to the world. Tapi sejauh mana tingkat kesuksesannya? Sejauh manakah lagu-lagunya dalam bahasa Inggris menjadi hitz seperti halnya lagu-lagunya yang berbahasa Indonesia?
Tentu bukan lagi skill bernyanyi yang kita bincangkan. Karena Agnez termasuk powerfull singer. Stamina panggungnya sangat kuat. Tapi perbedaan yang mencolok sebenarnya ada pada karakter. Karakter. Local image. Kita tahu hegemoni musik barat begitu kuat, termasuk di Indonesia. As a market place. Lagu-lagu Anggun nampak begitu kuat unsur lokalnya. Instrument ketimuran. Bahkan dalam lagu hitsnya Snow On the Sahara. Ada nuansa arab. Terasa sangat "mistik".
Saya sangat menyukai lagu-lagu Agnez Mo(nica). Sejak lama, yang berbahasa Indonesia. Liriknya kuat berpadu dengan instrumentnya. Tapi entah kenapa saya kurang bisa enjoy dengan lagu-lagunya yang berbahasa Inggris. Atau mungkin karena saya tidak paham genre musik itu. Ibaratnya, Agnez Mo --melalui album internationalnya-- telah jauh "meninggalkan Indonesia".
Tapi perjuangan menuju panggung International memang tidak mudah. Joe Alexander beserta keluarganya saja memutuskan untuk pindah ke New York demi karir Internationalnya. Tapi Joe bisa disebut bejo alias beruntung karena berhasil tampil di Grammy Award tahun lalu.
Setiap mimpi awalnya memang berawal dari bayang-bayang Ilusi. Angan-angan untuk dikenal secara lebih luas. Anggun yang memang penyanyi senior, sudah menunjukkan itu. Meski sudah berganti kewarganegaraan, tapi rasa Indonesianya masih bisa kita nikmati.
Itulah pentingnya mengajarkan karakter budaya sejak dini. Karena identitas itu penting. Jangan sampai, seperti yang pernah disampaikan Agnez Mo ketika menjadi coach di The Voice Indonesia, hanya menjadi medioker. (*)
9 Maret 2016
A Fahrizal Aziz
posted from Bloggeroid
Tuesday, March 8, 2016

Tulisan ini sebenernya saya buat setelah membaca postingan teman di facebook yang menyatakan bahwa musik di jaman dulu (entah jaman dulunya kapan) dan profesi penyanyi adalah profesi rendahan, budak, penghibur. Tapi kenapa sekarang sangat diminati dan dipuji-puji.
Kalau ada audisi pencarian bakat menyanyi, entah dangdut atau non dangdut, selalu membludak peminat. Bahkan puluhan hingga ratusan ribu orang ikut audisi diberbagai kota. Ketika tayang pun, penontonnya juga banyak. Buktinya ratingnya tinggi dan iklannya banyak.
Belakangan, setelah dirunut, konteks dari musik & pemusik sebagai profesi rendahan, budak, dan penghibur itu, terjadi di era kerajaan. Dimanapun kerjaannya. Tidak di dunia barat, timur, timur tengah, hingga barat timur. Biasanya, musik dan penyanyi itu diiringi penari latar. Di beberapa kasus, konon penari ini ada yang menari stripis dan bisa dijadikan 'teman tidur' oleh paduka Raja.
Apakah konteks sekarang sama? Ini yang harus difikirkan agar kita tidak mudah menggeneralisir. Musik memang menghibur, tapi kadang bukan hiburan itu sendiri tujuannya. Musik memang gampang dinikmati karena memiliki instrumentasi. Tapi lirik-lirik yang digubah tak sedikit yang berisi petuah, nasehat dan perenungan yang mendalam.
Bukan tidak mungkin, musik mampu memberikan ruang perenungan tersendiri. Musik mampu menjadi nasehat, sebagaimana lagu-lagu melayu. Musik juga bisa diarahkan sebagai media kritik, perjuangan, dan pengobaran semangat. Tidak melulu untuk "menghibur tuan". Mungkin ada banyak penguasa yang panas telinganya ketika mendengarkan lagu-lagu kritik.
Kita pun tidak bisa memungkiri masih banyaknya lagu-lagu dengan lirik yang dangkal dan cenderung nakal. Tapi musik bisa menjadi medium yang efektif untuk mengajak orang memaknai kembali hidupnya. Selebihnya, musik bisa menjadi petuah.
Semestinya kita bisa memandang lebih terbuka dan positif. Begitulah. (*)
8 Maret 2016
A Fahrizal Aziz
posted from Bloggeroid
Subscribe to:
Posts (Atom)