menulis

Wednesday, September 19, 2018



Secara umum tulisan hanya dibagi dalam dua bentuk : puisi dan prosa.

Puisi itu yang pendek, padat, dan tersirat. Sementara prosa lebih panjang, sampai membentuk paragraf dan berlembar-lembar jumlahnya.

Meskipun belakangan ada juga puisi yang panjang menyerupai prosa, namun itu faktor lain.

Jika dilihat dari bentuknya, maka setiap tulisan yang panjang-panjang, masuk kategori prosa, entah itu cerpen, esai, berita, resensi dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana dengan penjelasan fiksi dan non fiksi?

Fiksi sering digunakan untuk kategori tulisan yang tidak berdasar fakta, alias imajinasi, fantasi, atau rekaan. Berkebalikan dengan non fiksi. Umumnya esai dan berita masuk non fiksi.

Pada pengertian di atas, seharusnya istilah fiksi atau non fiksi tidak digunakan untuk membedakan bentuk tulisan.

Misalkan, cerpen masuk kategori fiksi. Apakah selalu? Bisa saja cerpen itu diangkat dari kisah nyata. Tidak ada yang imajinatif disitu, apalagi fantasi. Begitu pun dengan puisi, atau novel-novel yang diangkat dari kisah nyata.

Dalam pengertian ini, fiksi dan non fiksi memiliki kelemahan jika digunakan untuk membagi tulisan berdasar bentuknya.

Lalu bagaimana jika ada orang menulis berita lalu isinya ngarang semua? Meskipin semua unsurnya terpenuhi, 5W+1H, tetapi peristiwa aslinya tidak ada.

Sehingga istilah fiksi dan non fiksi lebih tepat untuk membagi kategori tulisan berdasar isi/kontennya.

Bentuk-bentuk tulisan di era kini

Bentuk tulisan seringkali cukup mengganggu bagi mereka yang mulai belajar menulis. Seringkali saya sendiri harus menjelaskan dulu, dan sebenarnya itu tidak baik, karena justru bisa malah membingungkan.

Ibaratnya, montir bengkel yang disuruh membenahi kerusakan motor, tetapi motor yang mau dibenahi tidak ada, tetapi harus mengira-ngira apa kerusakannya.

Kebingungan itu makin diperparah karena banyaknya orang menulis bebas di sosial media. Bahkan seringkali yang melakukan itu adalah editor senior koran harian.

Sosial media menerabas batas formal aturan-aturan tersebut, dan celakanya mereka yang baru belajar menulis menjadikannya sebagai rujukan, bukan koran, majalah, atau media online yang masih cukup ketat menerapkan aturan kepenulisan.

Masalahnya pula, justru gaya penulisan bebas itu yang banyak diminati. Sebut saja tulisan-tulisan di Mojok.co. Sementara tulisan-tulisan yang formal dan prosedurnya ketat, dianggap monoton dan membosankan.

Membedakan Bentuk

Saya membagi pengertian antara "jenis tulisan" dan "bentuk tulisan". Fiksi dan non fiksi itu jenis tulisan. Sementara puisi, esai, berita, cerpen, resensi, itu bentuk tulisan.

Kenapa harus menyebutnya bentuk? Karena ada perbedaan dalam cara penulisan, unsur-unsur di dalamnya, konten, dan lain sebagainya yang bisa kita cari perbedaannya. Sehingga nantinya mudah menganalisis.

Bentuk tulisan, dalam analisis saya sejauh ini hanya empat : puisi, cerpen, esai, dan berita.

Dari keempatnya, yang paling mudah dibedakan adalah puisi. Jadi siapapun tahu bahwa tulisan yang dibaca adalah puisi, tanpa perlu menganalisis.

Cirinya, bahasanya lebih padat, tidak langsung menyampaikan maksud aslinya, kalimatnya bersayap, penuh majas, dan beberapa mengedepankan unsur estetika bahasa.

Begitupun dengan cerpen. Meski dari gaya bahasa, kadang ada juga esai yang mirip cerpen, atau berita yang mirip cerpen. Ada, namanya news feature.

Meski demikian, sangat mudah untuk menganalisis apakah itu cerpen atau bukan, karena cerpen wajib memiliki unsur intrinsik seperti tokoh, dialog, plot/alur, setting waktu dan tempat.

Esai dan berita tidak memiliki unsur di atas. Diantara keduanya, berita sudah begitu familiar karena bisa dibaca di koran-koran. Sehingga masyarakat tahu apakah ini berita atau bukan.

Justru bentuk esai ini yang masih membuat orang bingung. Karena selain esai, bertebaran istilah-istilah seperti artikel, opini, dan sejenisnya.

Definisi esai

Definisi esai bisa dibaca pada KBBI, namun sebelum kesana, mari kita ingat kembali pertama kali istilah esai kita dengar, yaitu pada soal ujian sekolah.

Setidaknya ada 3 jenis soal ujian, yaitu pilihan ganda, jawaban singkat, dan esai/uraian.

Sebenarnya istilah esai itu sudah lama kita kenal, yaitu menuliskan atau mengungkapkan sesuatu sepintas dari sudut pandang penulisnya.

Jadi soal esai itu melatih kemampuan intelektual siswa, sebab siswa harus mengungkapkan sesuatu dari sudut pandang mereka.

Sayangnya, yang terjadi justru tidak demikian. Banyak soal uraian/esai justru hanya tempat "menempel" ingatan yang didapat dari buku.

Opini dan Artikel

Lalu apakah opini masuk esai? Opini dalam koran, majalah, atau media online hanya nama rubrik. Bukan bentuk tulisan.

Sehingga opini adalah esai itu sendiri, karena menulis suatu subyek atau masalah dari sudut pandang penulisnya.

Begitupun dengan artikel. Mulanya artikel adalah sebutan untuk isi majalah atau tabloid. Artikel sendiri bukan bentuk tulisan, sebagaimana opini, hanya untuk menamai tulisan yang masuk di dalam majalah atau tabloid.

Artikel bisa berbentuk esai, bisa juga berita.

Esai dan Berita

Salah satu perbedaan esai dengan berita, adalah pada subyektifitas tulisan. Esai lebih subyektif, sementara berita tidak boleh. Subyektif yang dimaksud adalah adanya opini, penilaian, dan kesan dari penulisnya.

Berita hanya menuliskan berdasar fakta yang ditemukan. Tidak ada sudut pandang penulis yang disampaikan. Bahasanya pun lugas, tidak berbelit, sehingga mudah dipahami.

Sementara esai bisa menggunakan gaya bahasa yang bermacam-macam. Bisa lugas, ilmiah, atau puitik. Selengkapnya nanti akan kita bahas dalam tulisan yang khusus membahas esai.

Blitar, 18 Desember 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Sunday, June 3, 2018


Ahmad Fahrizal Aziz


Sejak pertengahan 2007, saya mulai benar-benar aktif dalam komunitas. Mulanya melalui ekskul Jurnalistik sekolah.


Pada moment MOS (Masa Orientasi Siswa), saya jadi panitia, dan harus presentasi ekskul tersebut dihadapan siswa baru. Setelah MOS, masih door to door ke kelas-kelas untuk menyebar brosur ekskul. Meyakinkan para siswa untuk ikut ekskul Jurnalistik.


Perjuangan tersebut tidak sia-sia, sebab ternyata ekskul Jurnalistik kala itu paling banyak diminati siswa baru. Jangan bandingkan dengan Pramuka, yang memang selalu diprioritaskan dan dikhususkan oleh sekolah.


***
Pertengahan 2008, di masa akhir amanah sebagai ketua ekskul, saya terlibat "promosi" lagi. Yaitu menyebarkan brosur launching FLP Blitar ke sekolah-sekolah. Sekaligus memperkenalkan kepada mereka bahwa ada komunitas kepenulisan di Blitar ini.


Semua panitia berjuang. Hasilnya cukup menggembirakan. Aula penuh sampai kursi belakang. Banyak juga kemudian yang mengambil formulir, mengisinya, dan kemudian datang pada pertemuan berikutnya.


***
Akhir 2012, saya ditunjuk sebagai ketua ranting FLP UIN Malang. Setelah itu, bersama "sisa kepengurusan" yang ada, kami menempel pamflet ke sudut-sudut kampus. Menulis berita di koran lokal dan buletin bahwa FLP UIN baru punya ketua baru dan sedang membuka pendaftaran.


Peminatnya membludak. Lebih dari seratus, dan yang hadir dalam acara OR sekitar 90, yang benar-benar aktif kemudian hanya belasan.


Kala itu benar-benar penuh perjuangan dalam keterbatasan yang ada.


Sekembalinya ke Blitar, ternyata hal tersebut masih berlanjut. Bersama empat orang waktu itu, pada pertengahan 2015, menghidupkan kembali FLP Blitar. Sampai kini, dan untuk pertama kalinya ada Musyawarah Cabang. Pergantian ketua melalui musyawarah, meski sistemnya masih jauh dari kata sempurna.


Bersyukur bisa berjumpa dengan mereka yang punya gairah literasi, dan rela meluangkan sekaligus memprioritaskan waktunya untuk terus menghidupi organisasi.


Meski disela-sela itu, ada pertanyaan reflektif dalam diri. Sebab karena sibuknya pada organisasi, sampai lupa membuat karya. Lantas apa gunanya?


Iya, apa gunanya? Komunitas atau organisasi dibentuk untuk menguatkan motivasi, berbagi, dan menebar inspirasi. Juga sebagai media untuk belajar. Tetapi lupa berkarya? Sampai orang tanya mana buku yang sudah kamu terbitkan?


Pernah juga saya berbincang dengan teman yang aktif menulis. Dia tidak ikut organisasi, dan memilih "berkarya sendiri". Tulisannya masuk koran-koran. Saya iri. Meskipun dalam suasana iri tersebut, toh saya juga "tidak sempat" menulis untuk koran atau majalah.


Otak saya sudah mengepul dengan tugas menulis wajib, mengurus bisnis kecil-kecilan, dan memikirkan organisasi. Nyaris tak ada ruang perenungan khusus, hingga melahirkan puisi atau cerpen yang layak muat ke media.


Sebab yang difikirkan bukan hanya satu organisasi. Ada beberapa, dengan kompleksitas yang ada. Belum lagi permasalahan hidup yang juga harus diselesaikan. Berat!


Sebagai hiburan, saya bercocok tanam. Merawat tanaman sekitar rumah, beternak ayam, juga mengover lagu dan kadang mengunggahnya ke sosial media (soundcloud).


Kalau tidak begitu, nongkrong dan ngopi dengan teman hingga larut malam. Sesekali jalan-jalan : ke hutan, air terjun, pantai, dan tanpa berfoto-foto. Menghirup segarnya udara, menyesap energi alam yang diberikan gratis oleh Tuhan.


Apakah lebih baik saya break ber-organisasi, atau ber-komunitas, dan kemudian "berkarya mandiri" saja?


Atau sebaiknya saya menjalani kehidupan formal yang sempat saya tinggalkan. Kerja di kantor, menggarap berkas, bersepatu pantofel, berkemeja, berjas dan berdasi, padahal udara panas.


Atau masuk gelanggang politik, sebab hasrat politik saya cukup kuat, termasuk ketika seringnya menulis soal politik. Namun politik dalam sebuah tulisan, dan realitas, sungguh jauh berbeda.


Apakah benar kata seorang teman, bahwa saya mengorbankan banyak kesempatan dan tawaran, hanya karena ingin hidup bebas. Sebebas "manusia jalang"-nya Chairil Anwar.


Saya sempat ingin break sejenak. Menepi, menyelesaikan novel. Tetapi tangan selalu gatal untuk menulis yang lain. Terbayang website saya sendiri yang jarang terisi, padahal terlanjur dibayar. Juga "peternakan blog" yang lama saya tinggalkan.


Kadang tidak perlu ber-organisasi, toh banyak juga yang produktif menulis tanpa perlu ikut organisasi atau komunitas kepenulisan, dan juga terkenal. Bahkan justru diundang ceramah atau khotbah soal kepenulisan.


Tetapi saya tidak bisa. Tidak betah lama-lama di rumah, duduk berjam jam di depan laptop. Saya harus keluar, bertemu orang, berbincang, atau membuat forum-forum diskusi.


Karena dengan begitulah, sebenarnya, saya justru punya bahan untuk menulis. []


Blitar, 3 Juni 2018

Wednesday, May 16, 2018

Apakah yang sederhana tidak bermutu?


Inginnya orang menulis yang berat-berat ; soal politik, budaya, pendidikan, ekonomi, konspirasi global dan segala macamnya.


Padahal menulis "berat" juga butuh waktu, butuh referensi, butuh data yang kuat. Tidak asal yang ada dalam fikiran, lalu dituangkan begitu saja. Ada pertanggung jawaban lebih.


Menulis berat butuh sumber eksternal. Makanya kadang butuh waktu, untuk menulis sebuah opini saja, kadang butuh beberapa hari demi menguatkan data dan referensi lainnya.


Lalu apa yang disebut tulisan ringan atau sederhana?


Tulisan yang sumbernya dari kita. Sumber internal sekaligus primer. Bisa pengalaman pribadi, hal-hal yang kita temui, sampai perbincangan dengan orang lain. Tentu itu sangat mudah.


Apakah bermutu? Sebab seringkali pengalaman pribadi kita tak selalu menarik untuk dituangkan dalam tulisan. Terlalu klise dan mudah ditebak, seperti sinetron.


Kalau pernah baca blognya Dee Lestari yang lama, dee-ideas.blogspot.com, rasanya pengalaman pribadi menjadi sangat menarik. Menariknya, karena racikan kalimatnya. Padahal yang diceritakan biasa saja, sangat personal.


Misal Dee bercerita tentang pelatihan membuat pupuk kompos. Selain diksi yang ia gunakan, sisi menariknya terletak pada "bumbu-bumbu" dalam tulisannya, yang mengaitkan dengan pemanasan global, kerusakan tanah, bahaya sampah plastik dll.


Artinya, hal sederhana pun bisa jadi menarik, tinggal bagaimana mengolahnya, bagaimana menyajikannya. Secara psikologis pun, ada rasa puas tersendiri, karena telah membagi pengalaman hidup.


Selamat mencoba.


Blitar, 10 Mei 2018
Ahmad Fahrizal Aziz


Tulisan ini juga bisa dibaca di plukme.com

Monday, March 12, 2018

Perjalanan Menulis

Sebuah catatan yang saya buat untuk mengenang awal mula belajar menulis, sampai terjun ke dunia kepenulisan. Memang tidak fenomenal, catatan terakhir saya buat tahun 2014, sementara aktivitas menulis saya masih berlanjut sampai saat ini.

Catatan ini sekaligus ungkapan terima kasih kepada orang-orang yang secara eksplisit saya sebut dalam catatan 1 hingga 35. Semoga ada guna, manfaat, serta memberikan inspirasi. Aamiin.



oleh Ahmad Fahrizal Aziz
Selamat membaca 

(klik link berikut)

Bagian 1) http://bit.ly/perjalananulis1

Bagian 2) http://bit.ly/2cfnxdm

Bagian 3) http://bit.ly/2snwiwi

Bagian 4) http://bit.ly/2bkdnjr

Bagian 5) http://bit.ly/2bjzwdv

Bagian 6) http://bit.ly/2ooywyu

Bagian 7) http://bit.ly/2elfrfu

Bagian 8) http://bit.ly/2gdia6b

Bagian 9) http://bit.ly/2ejkohd

Bagian 10) http://bit.ly/2okkeci

Bagian 11) http://bit.ly/2gadxon

Bagian 12) http://bit.ly/2ezqgcm

Bagian 13) http://bit.ly/2ejlsrn

Bagian 14) http://bit.ly/2exnihp

Bagian 15) http://bit.ly/2sjonfd

Bagian 16) http://bit.ly/2cbffla

Bagian 17) http://bit.ly/2evxkpz

Bagian 18) http://bit.ly/2ccwqbd

Bagian 19) http://bit.ly/2hej50o

Bagian 20) http://bit.ly/2CBGKAc

Bagian 21 http://bit.ly/2HClwpG

Bagian 22 http://bit.ly/2onaSds

Bagian 23 http://bit.ly/2sInpO2

Bagian 24 http://bit.ly/2FnnpWu

Bagian 25 http://bit.ly/2BIYKM7

Bagian 26 http://bit.ly/2EJOnKH

Bagian 27 http://bit.ly/2ohcTZk

Bagian 28 http://bit.ly/2EMGYdX

Bagian 29 http://bit.ly/2EMH6tX

Bagian 30 http://bit.ly/2FkZM0L

Bagian 31 http://bit.ly/2CCbbGA

Bagian 32 http://bit.ly/2FkR0ji

Bagian 33 http://bit.ly/2EYDnZa

Bagian 34 http://bit.ly/2EIBZH2

Bagian 35-habis http://bit.ly/2CCbPE0

Terima kasih sudah membaca

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi