lawas

Monday, June 1, 2015



 
Malam itu saya berkunjung ke warnet, hendak memposting beberapa tulisan ke blog dan mengirimkan hasil editan untuk majalah melalui email. Warnet lumayan ramai. Hanya tersisa satu komputer yang kosong. Saya masuk biliknya dan seorang yang berada di bilik depan memanggil saya “Mas..” saya hanya memberikan isyarat ekspresif. “Sampean sini saja, saya sudah bilang operator pindah kesitu,” lanjutnya.

Akhirnya kami bertukar tempat. Ia baru saja menutup billing, jadi saya tinggal login saja, tak perlu menghidupkan komputer seperti biasanya. Saat baru masuk, Masyaallah. Ada banyak sekali situs porno yang masih terdisplay dengan jelas. Ditengahnya ada keterangan closing tab or cancel. Mungkin lelaki paruh baya tersebut baru saja membuka banyak situs porno dan sudah menekan tombol (x). Tapi karena dia membuka banyak situs dengan open link new tab, jadi belum hilang. Sementara dia sudah logout. Barangkali, dengan logout billing, otomatis hilang juga tab mozila fork-nya.

Saya hanya tertawa geli melihat apa yang baru saja bapak itu tonton. Tapi kenapa dia pindah komputer? Lalu saya klik closing tab dan memulai browser baru. Membuka email, facebook, dan 4songs.PK sekaligus mendownload lagu. Jujur, saya tak begitu tertarik dengan video-video porno tersebut. Bukannya saya sok suci. Tidak. Tapi saya sudah bosan menonton begituan. Saya sudah mengenal internet sejak kelas 3 SMP dan dulunya juga pernah menonton begituan, sampai mata saya kena minus. Dan isinya ya begitu-begitu saja. Tak ada yang menarik.

Untungnya, saya tak kecanduan. Dan andaikan kini menolak untuk menonton video porno seperti itu, saya punya alasan logis. Bagi saya video porno itu hanyalah semacam seksualitas properti, adegan seksnya serba artifisial. Mulai dari cerita, mimik ekspresi dan desahannya. Kita hanya bisa menikmatinya dengan mata dan rasa. No more. Sama seperti melihat pajangan-pajangan di etalase mall atau di pameran lukisan. Hanya sekedar properti saja. Apa yang menarik?

Video porno lebih banyak kita nikmati dalam fantasi dan imajinasi. Isn’t real.Apalagi video porno komersial yang memang didesain untuk pasar tertentu. Kita bisa mendapati pentrasi seksual yang bukan karena cinta, tapi karena kebuasan dan libidoistik. Menonton video porno membuat kita semakin dangkal melihat manusia, terutama lawan jenis. Kita hanya akan melihat lawan jenis sekedar properti, obyek seksual, seperangkat daging yang bisa memuaskan hasrat kita. kita akan kesusahaan melihatnya lebih mendalam. Terutama dari sisi nilai-nilai (values).

Pola pikir kita akhirnya tereparasi. Istilah ‘cinta pada pandangan pertama’ itu, seolah mengukuhkan budaya dangkal tersebut. Perempuan, yang pertama adalah bentuk fisiknya, seksi, putih, cantik, manis, montok, dll. Yang tidak memiliki kriteria tersebut, berusaha semaksimal mungkin untuk berdandan, diet, ke salon, membeli baju-baju mahal agar terlihat cantik fisik dan menarik. Ini sungguh mengerikan. Kaum lelaki yang suka nonton video porno, tapi kaum perempuan ikut terkena imbas psikologisnya. Gila!

Perempuan yang tidak ikut arus seperti itu, dan sibuk belajar, sibuk berkarya, sibuk aktif di kegiatan sosial masyarakat, dianggap melawan kodrat. Di tuduh memperjuangkan gender yang merupakan budaya barat. Padahal, budaya barat yang mana? seksualitas properti itu jauh lebih ‘barat’ dibandingkan perempuan yang sibuk belajar, menjadi pintar, dan akhirnya menggugat. Tragis!

Tak salah, jika pekerjaan yang menggunakan brain ‘seksual properti’ mendapatkan gaji tinggi, dan banyak orang yang mau membayar mahal untuk itu. PSK yang masih montok, seksi, muda, dan cantik, penghasilan perbulannya bisa belasan juta. Hanya modal fisik. Artis yang modal kecantikan, menjadi sangat populer, digilai, dan di bayar tinggi dalam sebuah pertujukan. Kalau pun nyanyi, kadang suaranya pas-pasan. Tapi yang penting ia cantik dan seksi. Dan yang mematok itu adalah industri. Industri pun berfikiran seperti itu karena ada pasar.

Jangan coba membandingkan gaji orang-orang diatas dengan Guru, dosen, atau aktivis perempuan lainnya, yang bekerja di kantoran, sebagai karyawan dll. Jauh. harga “tubuh” jauh lebih mahal dari harga “otak”. Tubuh hanya perlu dipoles dengan make up, tapi otak tidak bisa demikian. Butuh proses untuk mengolah otak lebih berguna. Akhirnya, banyak perempuan terjebak memoles tubuh dan malas mengolah otak. Padahal, tak sedikit juga perempuan yang otaknya cerdas, menduduki jabatan menarik atau berpenghasilan tinggi. Tapi sekali lagi –mereka tak akan pernah bisa menjadi trend. Yang menjadi trend tetaplah yang mengeksplore tubuh.

Inikah efek dari seksualitas properti tersebut?

Saya sudah jengah memikirkan hal itu. Saya fokus kembali ke layar monitor. Beberapa lagu sudah selesai saya download, dan berniat mendengarkannya dengan headseat. Tapi ternyata headseat tak berfungsi dengan baik. Suaranya cetar tak beraturan, membuat telinga sakit. Saya melirik lagi lelaki paruh baya yang berpindah ke bilik depan.

Pantas saja dia berpindah tempat! Kampret!

28 Desember 2014
A Fahrizal Aziz

Saya termasuk salah satu pendukung “kebebasan” sebagai sebuah diksi kemanusiaan. Tetapi pernah ada yang mengkritik demikian “Kalau begitu anda mendukung anak punk yang malas sekolah, sukanya ngamen dan tak mau ikut aturan itu dong?” saya terdiam sejenak. Memang anak punk itu punya ide kebebasan? Justru saya berfikir kebalikannya. Anak punk itu tidak bebas. Meskipun dia mengklaim diri sebagai pengusung ide kebebasan yang tak mau ikut aturan formal.

Saya pernah berbincang dengan anak punk. Tidak hanya satu atau dua orang, tapi beberapa. Saya lantas bertanya, kenapa kamu berpakaian seperti ini? dia menjawab kalau itu identitas komunitas. Terutama kalau lagi ngamen atau ada acara internal. Apa anak punk jenis pakaiannya harus seperti itu? rambut mohak, disemir dan setelan bajunya juga seperti itu. sekali lagi itu identitas. Lantas saya membayangkan, bagaimana jika anak punk, tatkala dalam komunitas, menggunakan baju koko, berkopyah rapi, dan wangi, lalu mengklaim diri sebagai anak punk. Bagaimana kalau anak punk rajin sekolah, rajin organisasi, dan tidak mengamen?

Ya tidak bisa disebut anak punk! Jawabnya. Lah, kalau dia sukanya pakai baju koko, berkopyah dan menggunakan minyak wangi, bagaimana? Kalau begitu anak punk tidak punya pilihan “fashion” donk. Tidak punya pilihan dalam bersikap, tidak punya pilihan dalam berfikir. Semua sama. Mono-fashion, mono-thinking, mono-values. Katanya kebebasan? Kalau begitu bukan kebebasan namanya. Tapi penyeragaman.

Kalau bebas, maka ada banyak ragam ide, sikap, dan perilaku. Lantas, kalau dalam satu komunitas, anak punk harus begitu –atau kalaupun tidak ada aturan tertulis—anggota punk, mau tak mau, karena lingkungan atau sistem nilai yang dibangun di dalamnya, harus berpakaian demikian, berfikir demikian, dan bersikap demikian. Makna kebebasan yang diperjuangankan komunitas punk pun menjadi sumir, absurd, dan paradoks.

Beda lagi dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang konon menyuarakan kebebasan berfikir, dan kebebasan menafsir ulang doktrin fiqiyah yang sudah mapan. Rata-rata eksponen JIL membolehkan pengucapan dan perayaan Natal bagi umat Islam. Lantas, andaikan saya bergabung dengan JIL, haruskah saya berfikiran sama dengan mereka. Apakah kalau saya anggota JIL, saya tak boleh membantah kebolehan pengucapan dan perayaan natal? Karena saya punya pendapat yang berbeda?

Dari semua teman rohis, saya termasuk salah satu yang tak terlalu reaksioner dengan JIL. Sikap saya biasa-biasa saja. Karena menurut saya JIL itu biasa saja. Berbeda dengan teman saya yang sampai berbusa-busa mengkritisi JIL, bahkan melabeli sesat dan kafir. Karena saya tidak sepakat dengan caranya, maka saya dibilang pendukung JIL. Padahal, saya sama sekali bukan pendukung, supporter, atau fans JIL. Mendaftar ke JIL saja tidak pernah.

Waktu hari natal kemarin, saya tidak mengucapkan selamat natal dan tidak ikut merayakan. Dia kemudian nyeletuk. Ente kan JIL, kok nggak ikut natalan? Lalu saya bertanya balik. Andai saya JIL, apa saya harus punya pendapat yang sama dengan JIL? Bukannya Liberal itu artinya bebas. Bebas berpendapat dan mengeluarkan sikap. Kalau JIL kemudian satu firm semua, jadinya bukan bebas lagi. Sama seperti komunitas punk diatas. Makna bebas menjadi sangat paradoks.

Jadi kebebasan itu bukan satu diksi penyeragaman. Apa bebas itu harus seperti komunitas punk semua? Apa bebas itu harus seperti JIL? Tidak. bebas itu adalah satu hak untuk bersuara, berpendapat dan memperoleh hak-hak yang lain. Bebas tidak harus sama, tapi lebih pada penerimaan, menghargai kebebasan orang lain.

Saya berfikir bebas, maka saya tidak harus sejalan dengan pola pikir kebebasan JIL. Saya bisa saja mengkritik JIL. Tapi saya juga harus menghargai pendapat yang dicetuskan JIL, sekalipun pendapat itu berbeda dengan saya. Karena itu kebebasan masing-masing dalam berpendapat. Yang menjadi permasalahan, kalau setiap orang tidak menghargai kebebasan dan kemudian membuat satu keputusan hukum : dosa, sesat, kafir. Ini sudah diluar dari ambang kebebasan, tapi sudah penghakiman.

Jadi jangan sampai salah tafsir soal kebebasan.

A Fahrizal Aziz

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi