buku

Tuesday, July 24, 2018

Ahmad Fahrizal Aziz


Apa nikmatnya membaca? Mungkin bisa dijawab, tetapi belum tentu bisa "menyalurkan" rasa yang sama.


Persis ketika dulu saya bersama teman datang ke tempat pemancingan ikan, membayar tiket masuknya dan duduk semedi sembari menanti utas kail dicaplok ikan.


Padahal dapatnya hanya berapa ekor, uang tiket masuk tadi kalau dibelikan ikan ke pasar dapatnya juga ikan segitu. Malah tidak perlu bawa pancing dan buang-buang waktu.


Tetapi nikmatnya justru ketika memancing itu, melihat kolam berisi ikan-ikan yang berenang, memegang kail dan menyawatkan talinya ke kolam, sambil menanti, memperkirakan, menebak-nebak, kemana ikan berenang. Apakah sedang mendekati umpan kita atau justru tak tertarik sama sekali.


Membaca? Menariknya dari kafer buku atau dari apa?


Sejak aliyah saya sering ke perpustakaan : membaca koran, majalah, dan meminjam buku. Terutama novel, yang selalu memberikan daya tarik. Apa isinya ya?


Isinya pasti tulisan, kumpulan huruf, rangkaian kata dan kalimat, atau kadang-kadang ilustrasi sederhana. Itu saja, tidak lebih.


Tak seperti kalau kita membeli minuman di warung : ada teh, kopi, wedang jahe, jus, soda gembira, dll. Beda bentuk, beda rasa, sekalipun semua mengandung air, dengan beragam campuran yang membuatnya beda-beda.


Buku juga demikian, meski bahannya sama-sama kertas, dan isinya sama-sama huruf yang dirangkai, tetapi ada "racikan" yang beda. Yang ketika membaca membuat kita jadi ngantuk, atau justru berdecak-decak.


Hanya beda cara menikmatinya, tidak dengan lidah seperti halnya makanan dan minuman. Tetapi hati, pikiran, daya logika, imajinasi, dan sensitifitas masing-masing.


Bagaimana hal tersebut bisa ditularkan? Sulit, bahkan tidak bisa. Harus menemukan sendiri. Ibarat kita sebut gula itu manis, orang lain baru merasakan hal yang sama kalau sudah mencicipinya. Tidak bisa sepenuhnya percaya, hanya karena kesaksian orang lain.


Novel akan jadi sajian yang bagi kita begitu menarik, ketika daya imajinasi kita tertantang dengan kata-kata. Begitupun dengan buku-buku sejarah. Tentu teramat membosankan kalau hanya mengunyah kata per kata. Perlu melibatkan daya logika dan imajinasi.


Ketika kalimat tersebut mendeskripsikan sesuatu, maka otak kita mengimajinasikan hal itu.
Ketika ada kalimat "perempuan cantik sedang duduk sendiri di bangku taman dekat pohon beringin", maka kita mengimajinasikan yang cantik itu seperti apa atau siapa, sementara taman berpohon beringin itu bisa saja membawa bayangkan kita kemanapun, bahkan pada tempat yang tak pernah kita singgahi.


Ketika penulis buku menawarkan argumentasi tertentu, maka kita bisa bertanya balik : apakah benar begini, kenapa tidak begitu? Soalnya yang saya tahu begini.


Ada imajinasi, ada dialog, ada logika yang tertantang, dan ada suasana hati yang terwakili. Setelah itu, setiap melihat buku tergeletak, atau tertata rapi di rak-rak, ada rasa penasaran yang membuncah, ada keingin tahuan yang mengetuk, tentang hal-hal menarik apa dalam buku tersebut.


Selamat menikmati membaca. []


Blitar, 17 Juli 2018

Friday, July 6, 2018


(Catatan pemantik)


Wartawan kawakan, Rosihan Anwar, yang sering disebut guru-nya wartawan itu hanya lulusan SMA. Tetapi SMA di zaman Belanda, yang disebut AMS (Algemeene Middelbare School). Waktu itu, se-antero Hindia Belanda jumlah AMS hanya 7 buah.


Jadi bisa dibayangkan, betapa hanya orang-orang tertentu yang bisa mengakses pendidikan jenjang tersebut, itupun sebagian besar siswanya adalah anak Eropa dan Tionghoa.


Selain AMS, ada juga HBS. Hanya kalangan Belanda dan segelintir kaum priyayi saja yang bisa lanjut kesana. HBS meringkas pendidikan SMP dan SMA. Salah satu alumni HBS ini adalah Soekarno.


Sekarang mari simak cerita saya tentang Pak Rosihan :


Belum lama saya "mengenal" Pak Rosihan. Waktu beliau berumur 88 tahun dan masih menulis catatan "napak tilas" ke Belanda, saya baru masuk perguruan tinggi di Malang.


Waktu di Aliyah, meski aktif di Ekstrakurikuler Jurnalistik, namun jika ditanya siapa Jurnalis favorit? Jawaban saya dan sebagian besar yang lain adalah Anchor, seperti yang terkenal waktu itu, Rosiana Silalahi yang masih di liputan6. Arif Suditomo, Aiman Wicaksono, dan Isyana Bagus Okka yang masih di Seputar Indonesia-RCTI.


Najwa Shihab belum populer, begitupun dengan Karni Ilyas, sekalipun sudah sangat senior. Sebab Karni Ilyas baru muncul di panggung akhir-akhir ini, setelah sekian lamanya berproses di balik layar.


Jarang dari kami mengenal nama Rosihan Anwar, BM. Diah, Mochtar Lubis, dan sederet nama lain yang juga tak kalah penting, sebagai wartawan yang menulis dalam beberapa zaman.


Kenapa sosok Rosihan Anwar begitu menarik bagi saya?


Dibanding Dahlan Iskan, Jacob Oetama, atau Goenawan Mohamad, yang wartawan sekaligus pengusaha/bahkan raja media, Rosihan tidak demikian.


Satu-satunya jabatan tertinggi di media adalah ketika memimpin harian Pedoman. Setelah itu, setelah pedoman diberedel orde baru, Rosihan tak lagi bergabung di media, namun terus menulis. Sebagai kontributor, kolomnis, juga aktif mendidik calon-calon wartawan, aktif dalam sejumlah proyek film bersama Usmar Ismail.


Kekuatan terbesar Rosihan sebagai wartawan, justru bukan jabatannya di media, tetapi dari tulisan-tulisannya. Dia pencatat ulung, dokumentator yang canggih, termasuk untuk kisah hidupnya sendiri.


Ingatannya juga kuat, bahkan sebelum meninggal, ia masih aktif bercengkrama, masih sempat mengingat nama-nama suster yang merawatnya, bahkan lengkap dengan tanggal lahir dan asal daerahnya.


Catatan ini saya buat sembari membaca buku berjudul "H. Rosihan Anwar, Wartawan dengan Aneka Citra" yang disunting oleh Tribuana Said. Sebelumnya saya membaca "Napak Tilas ke Belanda", juga menonton beberapa video tentangnya di youtube.


Tentu isi buku di atas lebih lengkap dari catatan ini, hanya saya ingin mengutaran kesan setelah membaca kisah hidup serta tulisan-tulisan Pak Rosihan.


Gaya menulis Pak Rosihan yang khas, yang menurut Jacob Oetama kadang menggunakan gaya "novel".


Ternyata Pak Rosihan sendiri membagi antara wartawan yang sekedar melakukan reportase, dengan wartawan yang sekaligus sebagai pengamat dan pemikir. Itulah kenapa tulisan-tulisan Pak Rosihan tidak saja reportatif, tetapi juga analitis, dengan gaya bahasa yang menarik.


Sepertinya banyak buku sudah beliau baca, termasuk beberapa gaya kepenulisan yang dengan mahir begitu dikuasahi. Entah gaya straight news, feature, esai, hingga sastra.


Satu hal yang juga begitu unik bagi saya, bahwa Pak Rosihan ini lahir tanggal 10 Mei 1922. Pada tanggal dan bulan yang sama, 70 tahun kemudian, saya lahir. 20 tahun berikutnya, saya menjadi pengagum tulisan-tulisan beliau.


Sampai jumpa di catatan berikutnya. []


Blitar, 4 Juli 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Tuesday, May 29, 2018


Ahmad Fahrizal Aziz


Dua novel karya Buya Hamka sudah difilmkan : Tenggelamnya kapal Van Der Wijck dan Di bawah Lindungan Ka'bah.


Sekilas, jika penonton ditanya apa cerita besarnya? Mungkin akan banyak yang menjawab kisah cinta. Tidak salah, sebab memang ada kisah cinta di dalamnya. Kisah cinta yang sama-sama kandas.


Meskipun ada kompleksitas yang hendak disampaikan Buya. Tentang Islam yang menentang kesukuan dan kasta. Yang satu tidak bisa bersama karena berbeda suku, yang satu lagi karena beda kasta ekonomi.


Semoga pesan besar itu tertangkap oleh penonton. Bukan sekadar kisah tragis dan asmara yang mangharu biru, atau ketampanan dan kemolekan pemerannya saja.


Termasuk ketika "Dilan" di-filmkan. Yang populer adalah gombalan-gombalannya, atau perjuangannya mendapatkan hati Milea.


Padahal ada karakter lain dalam sosok Dilan. Memang sering terlibat tawuran, tetapi Dilan punya jiwa pemberani, penentang ketidak adilan, mudah bergaul dengan orang, perhatian, apa adanya, dan smart.


Tiap tokoh dalam sebuah novel memang menyimpan karakternya tersendiri, yang itu sulit ditirukan dengan sempurna, apalagi dikonversi dalam sebuah lakon drama.


Setiap mereka yang hendak memerankan tokoh dalam novel, sudah terikat dalam norma umum. Sebagian besar pasti mengecewakan, sebab goresan pena lebih mampu melecutkan imajinasi, ketimbang tampilan visual yang tinggal dinikmati.


"Bumi Manusia" nanti, ketika menjadi sebuah film, mungkin akan lebih menonjol kisah asmara Minke dan Annelis. Tokoh lain, seperti Sanikem/Nyai Ontosoroh, mungkin tak begitu digubris. Padahal tak akan terjalin kisah Minke dan Annelis tanpa Nyai Ontosoroh.


Minke yang, menurut Pram, adalah "penjelmaan" dari Raden Mas Tirto Adi Suryo, memiliki karakter besar seorang bangsawan, kritikus, serta penulis yang mahir.


Dalam opera, sosok Minke diperankan oleh Reza Rahardian, pewatak ulung. Reza bisa memerankan sosok B.J Habibie dengan nyaris sempurna. Reza juga memerankan sederet tokoh besar lain seperti H.O.S Tjokroaminoto dan Sosro Kartono.


Maka tak berlebihan jika Minke dalam "Bumi Manusia" menjadi perbincangan luas, sampai muncul petisi menolak Iqbal Cjr sebagai pemerannya. Butuh waktu bagi Iqbal untuk meyakinkan publik.


Tetapi untuk siswa HBS, rasanya Reza Rahardian terlalu senior. Termasuk jika diperankan Adipati Dolken, yang aktingnya dalam beberapa film cukup memukau.


Berlebihan? Sepertinya tidak. Ekspektasi publik begitu tinggi untuk novel ini. Publik, terutama pembaca novel, ingin film ini "mendarat" dengan aman. Barangkali juga banyak sutradara yang ingin memfilmkan novel legendaris ini, tetapi mengurungkan niatnya.


Kisah cinta Minke dan Annalis memang syahdu, sekaligus pedih. Sebab pada akhirnya Annalis menyerah pada keadaan. Mereka pun berpisah. Cinta terhalang oleh stigma.


Tetapi ada yang lebih penting dari sekadar kisah asmara mereka berdua. Apa itu? Silahkan baca sendiri. []


Blitar, 29 Mei 2018


Tuesday, January 16, 2018




“Mungkinkah jika diadakan semacam diskusi buku rutin disini?” tanya saya, disela-sela obrolan minggu pagi (14/01). Sembari kegiatan kumpul rutin penulis Blitar, yang sekaligus hari itu kedatangan “para peminat baru”, Pak Budi Kastowo yang juga pustakawan Perpus Bung Karno tersebut menjelaskan program yang bernama “aku membaca untukmu”.

Melihat betapa rendahnya minta baca bangsa Indonesia, sebab sebelum kultur baca terbentuk, kita sudah dibombardir oleh ponsel pintar yang beraneka jenisnya, sehingga membaca buku semakin ditinggalkan, dan disatu sisi mencipta rasa malas untuk membaca buku.

(Ngobrol dengan Pak Budi Kastowo)



Pemerintah pun agaknya mulai menyadari hal ini, sehingga literasi digencarkan ke sekolah-sekolah. Salah satu caranya dengan mewajibkan siswa membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Semoga program semacam ini berhasil, meski tidak semua sekolah menerapkannya.

Selain itu, buku-buku di Perpustakaan Bung Karno, terutama bagian koleksi khusus bisa diakses oleh siapapun. Koleksi khususnya memang banyak berkaitan dengan Soekarno, tapi sebenarnya lintas disiplin. Kita bisa mengkaji beragam sejarah, ideologi, dan mungkin nilai-nilai perjuangan dari tokoh lain.

Di lantai II sebelah barat Perpustakaan Bung Karno terdapat tempat diskusi yang representatif. Tempat tersebut mungkin hanya digunakan sekali dua kali dalam seminggu. Setiap minggu siang FLP Blitar rutin kumpul disana, namun dibagian tempat baca. Bukan di kursi-kursi hitam yang berjejer banyak, sebab jumlah kami hanya sedikit. Maksimal mungkin hanya 20 orang.

agenda rutin FLP Blitar



Lalu bagaimana dengan klub baca tersebut? tempat itu bisa dimanfaatkan untuk diskusi buku atau sharing bacaan. Pertama akan dibuat semacam klub kecil di grup WA, lalu siapapun bisa bergabung disitu. Agenda diskusi buku kemungkinan 2 minggu sekali. Dua minggu sebelum diskusi, kita akan informasikan buku yang harus dibaca.

Buku-buku tersebut bisa diakses di perpustakaan Bung Karno atau pada sesama anggota klub yang memilikinya. Setiap pertemuan akan dipilih satu atau dua anggota klub yang akan menceritakan isi buku tersebut, bergiliran. Peserta lain, yang masih malas membaca, boleh hanya menyimak menjadi pendengar, atau berpendapat dari bacaan lain.

Dalam forum ini, kita berupaya bagaimana agar memahami isi buku, meski tidak membaca sendiri. Jika dalam sebulan ada dua kali diskusi, maka dalam sebulan tersebut kita sudah menggali isi dua buah buku, yang belum tentu khatam kalau kita baca sendiri.

Klub buku ini akan berjalan santai dan informal. Pustakawan dari Perpus BK pun siap berbagi wawasan tentang buku yang pernah dibaca. Kita berharap siapapun bisa bergabung dalam klub ini, terutama yang masih malas atau tidak punya waktu untuk membaca. Tentu sangat disayangkan jika banyaknya buku disana, hanya menjadi pajangan dan tidak sempat kita akses.

Melalui klub ini, kita akan belajar memahami isi buku, meski tidak langsung membacanya. Sedikit demi sedikit, secara bertahap, kita berharap minat baca itu bisa tumbuh seiring waktu melalui upaya sederhana ini. Info selanjutnya menyusul. []

Blitar, 16 Januari 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi