Tuesday, July 31, 2018
Apakah budaya ngopi warga Blitar cukup menggembirakan?
Sepertinya iya, terbukti dari banyaknya kedai kopi "ideal", yang sebagian hadir dalam festival kopi pada 29 Juli 2018 lalu, di Pendopo Kanigoro.
Sebagian kedai itu pernah saya datangi, ada yang sampai beberapa kali. Membandingkan rasa sekaligus mencicipi biji-biji kopi yang berbeda. Meski kadang lidah saya sulit membedakan untuk biji-biji kopi arabika.
Sejak mengenal "kopi ideal" awalnya kaget juga, kok agak mahal ya? Bayangan kita kalau kopi itu ya sebagaimana yang tersaji di dapur. Hanya bubuk, gula, diseduh dengan air panas.
Kopi ideal ini, menggunakan teknik seduh yang bermacam-macam. Apa dibuat kental menjadi espresso, atau agak encer seperti americano, atau tubruk saja?
Maka kita akan menemukan "acidity" atau keasaman yang berbeda, juga kadar manis atau "sweetness" yang berbeda pula, dari teknik seduh yang bermacam-macam itu.
Kopi pertama yang saya cicipi adalah gayo. Begitu terkenalnya kopi ini. Pakai gula putih atau merah. Meski bagi coffe holic, pantang menambahkan campuran apapun.
Dalam catatan saya, selain gayo, pernah juga mencicipi biji kopi Kintamani, Simalungun, Arjuna, Sindikalang, Litong, Java robusta, kopi lampung, dan lidah saya begitu cocok dan berselera justru dengan biji kopi kalosi asal Sulawesi.
Kalau begitu, kira-kira kopi hitam sachetan yang bermerk itu dari biji kopi apa ya?
Diantara sederet nama biji kopi terkenal, kopi asal Blitar tak begitu populer. Meski Blitar adalah penghasil kopi robusta dan excelsa.
Apa itu excelsa? Sebab selama ini yang kita kenal hanya arabika dan robusta.
Ternyata excelsa adalah varian tersendiri, yang bisa tumbuh didataran rendah seperti halnya robusta. Berbeda dengan biji kopi arabica, yang hanya bisa tumbuh di dataran tinggi.
Excelsa ini di beberapa negara masuk varian kopi liberika. Titik tumbuhnya lebih tinggi dari robusta, dan lebih rendah dari arabica.
Tetapi biji kopi arabica memang paling populer dan diminati. Mungkin karena tumbuhnya di dataran tinggi, dan perawatannga lebih sulit, jadi kualitas rasanya juga lebih unggul.
Memang agak sulit untuk bisa menggeser gayo, simalungun, atau kalosi, yang merupakan biji arabica. Namun kopi excelsa memang tergolong langka, dan salah satunya ditanam di lereng gunung kelud.
Tetapi apa sebenarnya yang menggembirakan dari mulai maraknya budaya ngopi dan meningkatnya wawasan masyarakat tentang kopi?
Paling sering disebut tentu segi ekonomi. Tetapi apakah kopi hanya sekedar produk komoditi?
Kopi mengandung cafein, juga kandungan lain yang memberikan dampak setelah meminumnya. Pikiran dan mata lebih awas dan terjaga, sehingga ngopi perlu punya nilai tersendiri. Bukan sekadar sebagai minuman.
Produktifitas kerja dan berkarya harusnya lebih meningkat, disamping dari prospek ekonominya. Itulah salah satu bedanya ngopi dengan minum air putih biasa.
Festival Kopi yang sudah dua kali diadakan di Blitar ini, tentu menarik, mengajak orang memahami banyak varian kopi dan story yang berbeda dari penyajiannya, juga filosofinya.
Kenapa orang suka kopi yang hitam kental, kenapa ada yang suka latte atau cappucino, ditambah susu dan krimer, ada juga yang suka kopi encer, ada yang kalau minum harus dengan cethe-nya.
Sulit bagi Blitar untuk menyaingi daerah-daerah produsen kopi yang punya dataran tinggi itu. Sulit juga menggeser lidah masyarakat yang sudah gandrung dengan arabica, untuk mau beralih ke robusta atau excelsa.
Namun setidaknya ada kesadaran ngopi yang dibangun masyarakat. Pengetahuan tentang betapa kayanya produk kopi Indonesia, juga betapa semestinya ngopi juga diiringi dengan hidup yang lebih produktif.
Itulah filosofinya ngopi. Selamat menikmati kopi masing-masing. Selamat merayakan ngopi. []
Blitar, 31 Juli 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Friday, July 27, 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Minum kopi memang menjadi kebiasaan sejak lama, di rumah-rumah, atau kedai-kedai yang kemudian dikenal dengan warung kopi. Padahal yang dijual tidak hanya kopi, ada teh, susu, gorengan, sampai mie instan.
Baru belakangan saja muncul kedai kopi ideal. Apa yang dimaksud ideal?
Umumnya warung kopi menyajikan kopi sachet, yang tinggal dituang dan diaduk dengan air panas. Kopi yang entah seberapa kandungan kopinya.
Karena itu harganya murah, atau standart lah. Antara 3000-5000 segelas. Beda dengan kopi ideal, yang murni biji kopi, bahkan biji kopinya tersaji di meja untuk kemudian dihaluskan dengan blender khusus kopi.
Karena itu harganya lebih mahal. Harga disesuaikan dengan teknik penyajian atau seduh. Paling murah tentu saja tubruk, setelah biji kopi diblender, hanya perlu dituang ke dalam cangkir dan diaduk.
Ada beberapa teknik penyajian,dengan alat yang berbeda dan tentunya keterampilan khusus. Oleh sebab itu ada sekolah barista, yang tidak murah. Sebab lulusan sekolah barista ini punya skill dalam bidang penyajian kopi.
Semua penuh perhitungan. Sampai muncul rasa khas kopi, yang benar-benar khas karena hasil penyajian tersebut. Bukan karena tambahan gula atau sejenisnya.
Karenanya kita bisa membedakan rasa kopi dari biji yang berbeda, misalkan kopi gayo berbeda dengan kopi kintamani. Kopi kalosi berbeda dengan sindikalang, dst.
Kedai kopi ideal tersebut belakangan banyak muncul di Blitar. Mulai dari yang terkonsep minimalis, sampai yang coffe place-nya terdesain dengan apik.
Padahal modalnya tidak sedikit. Untuk beli alat-alatnya, mulai dari Coffe blend hingga alat seduh. Mempersiapkan properti khusus agar beda dengan warung kopi biasa, plus desain lampu-lampunya.
Beli biji kopi yang tentu tidak murah, karena pure biji kopi. Apalagi bagi kedai yang tidak nyetok, alias menyajikan biji fresh. Belum lagi fasilitas listrik dan free wifi, dan kalau lokasinya masih sewa.
Modal sepertu itu, untuk ukuran di Blitar, kadang tidak sebanding. Misalkan, pengunjung datang hanya memesan kopi. Ya katakanlah harganya yang 15rb. Duduk berjam-jam, sambil ngobrol dan wifian.
Kita bandingkan penjual soto yang mungkin desain warungnya biasa, harga soto semangkok 10rb. Tetapi mampir sebentar saja, untuk sekedar makan. Setelah itu pulang dan berganti dengan pembeli lain.
Jika dibandingkan untuk buka kedai kopi ideal semacam itu, jelas tak sebanding, namun mungkin saja pendapatannya justru lebih banyak warung soto tersebut.
Apalagi di kota berpenduduk sedikit seperti Blitar, butuh perjuangan tersendiri. Belum lagi kalau ada yang bilang ngopi disitu mahal. Padahal semahal-mahalnya kedai kopi ideal, sebenarnya hampir sama ketika kita makan di warung.
Hanya orang-orang masih menimang, masa uang segitu hanya untuk ngopi?
Ini mungkin soal budaya. Tak sedikit kedai kopi ideal di Blitar yang akhirnya tutup, tak lagi bertahan. Entah mahal pada produksinya atau sewa tempatnya.
Salah satu cara bertahan adalah dengan memberi tambahan menu, snack atau minuman non kopi, yang tentu lebih terjangkau harganya.
Apakah kedai kopi ideal hanya untuk kalangan menengah ke atas? Rasanya tidak juga. Ini hanya soal selera dan kebiasaan, dan teman ngopi. hehe
Blitar, 26 Juli 2018
Tuesday, June 19, 2018
By Ahmad Fahrizal Aziz
Es kepal milo begitu mewabah. Dalam hitungan minggu, sudah banyak orang jualan. Sepanjang jalan, bahkan di daerah yang sama, bisa ada 3-4 stand.
Tulisan ini saya buat sebagai pengingat. Bahwa di tahun ini (2018), terutama antara bulan April-Juni, es kepal milo jadi trend. Jika tulisan ini dibaca beberapa tahun mendatang, mungkin trendnya sudah berganti.
Mewabahnya es kepal milo tak terlepas dari sosial media. Orang gampang penasaran dan terpengaruh dengan trend. Hal tersebut ditangkap dengan baik oleh pelaku usaha.
Dan, bangsa Indonesia memang terkenal kreatif. Pembelajar sejati. Tidak harus sekolah khusus, untuk menguasahi sesuatu. Tinggal see and do. (Lihat dan praktekkan).
Itulah kenapa banyak yang tidak pernah sekolah otomotif atau perbengkelan, tetapi bisa membuka jasa bengkel. Banyak yang tidak sekolah elektro, atau sejenisnya, namun punya usaha jasa servis alat elektronik, dan Hp.
Tidak perlu sertifikat atau ijasah, sebab yang dibenahi adalah benda mati. Bahkan untuk urusan kesehatan, hidup dan mati, kadang ada jalur khusus yang ditempuh.
Ketika orang sakit dan berobat kemana-mana namun tak kunjung sembuh, larinya ke "orang pintar" : dukun, paranormal, tetua, dsj.
Atau keluarga dikumpulkan, mengundang tetangga terdekat. Lantas dibacakan yasin. Menurut kepercayaan, setelah dibacakan yasin, jika masih bisa sembuh maka akan disembuhkan. Jika sudah waktunya, maka "jalan pulang" akan dimudahkan.
Sewaktu tetangga saya sakit keras, dan nafasnya nampak tersendat di bagian perut, ada orang pintar berkata : satu jam lagi akan dijemput. Maksudnya dijemput malaikat.
Sebagian besar orang percaya, meski ada satu orang yang cara berfikirnya ilmiah, menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit. Sebab kakinya masih hangat. Itu berarti jantung masih berfungsi dengan baik, tranmisi darah masih lancar.
Tetapi kadung percaya orang pintar itu, padahal prediksinya keliru. Baru keesokan harinya, lewat 15 jam kemudian akhirnya meninggal. Memang sulit memprediksi nasib orang, dan seharusnya memang jangan dibuat main-main.
Kembali ke es kepal milo, yang sedang jadi trend. Ternyata bisa dengan mudah ditirukan. Barangkali dengan bantuan google, atau tutorial di youtube atau dari membeli lalu membuat sendiri.
Kita harus menyadari betapa banyak orang kreatif di sekitar kita, dalam berbagai bidang, tanpa perlu sertifikat atau ijasah tertentu.
Proses kreatif yang sebenarnya merupakan warisan leluhur, yang ahli mengolah. Bayangkan, ketela saja bisa diolah menjadi macam-macam. Berbagai menu masakan tercipta, dengan ke-khasan daerah masing-masing.
Bahkan nasi sisa pun masih diolah, dipanasakan jadi karak atau jadi kerupuk puli.
Kecerdasan-kecerdasan tradisional seperti ini, jarang sekali kita hayati. []
Blitar, 18 Juni 2018
Wednesday, June 13, 2018
Oleh Ahmad Fahrizal Aziz
Akhir 2009, dalam sebuah percakapan, seseorang menceritakan pengalamannya berkunjung ke Blitar. Dia asal Pekalongan, dan tergerak untuk datang ke Blitar karena ada "Bung Karno" disana.
Katanya, Kota Blitar begitu sepi. Ia mampir ke alun-alun, sama sekali tak ada yang istimewa. Hanya serupa lapangan biasa, dan deretan penjual yang mengitarinya.
Kota-kota lain mungkin menawarkan lebih, apalagi kami yang kala itu sama-sama sedang kuliah di Malang. Blitar kalah segalanya : tata kota, pusat belanja, tempat nongkrong, hiburan, kampus, dan lain-lain.
Blitar hanya menang satu hal saja ; disini ada makam Bung Karno. Tokoh revolusi. Hanya lokasinya ratusan kilometer dari Ibukota Jakarta. Teman sekamar saya di asrama, yang asal Medan, baru tahu kalau Bung Karno dimakamkam di Blitar.
***
Awal 2010, dalam sebuah pidato perpisahannya sebagai Walikota, Djarot mendapat pertanyaan : Blitar ini kok tidak maju-maju pak? Anak-anak muda kalau belanja dan nonton film saja harus ke kota tetangga.
Djarot memang menolak pendirian mal. Sangat tegas menolak. Idealismenya kuat soal ini. Jawabnya : jangan sampai anak-anak Blitar terjangkiti virus hedonisme dan konsumerisme.
Terasa ketika saya aliyah, di malam minggu yang panjang, tak ada fikiran untuk sekedar nongkrong di cafe. Paling hanya warung kopi. Mungkin juga karena coffe culture belum populer seperti sekarang.
Baru setelah berpindah ke kota sebelah, terasa bedanya ; kerlap kerlip lampu kota, kerumunan orang di berbagai sudut, dan suasana malam yang hidup.
Saya baru menyadari jika Blitar memang sangat sepi. Kota pensiun kata orang-orang. Kota yang menghendaki ketenangan. Mula-mula memang menjenuhkan, terapi seperti jadi ciri khas tersendiri.
Setiap Jum'at malam di akhir bulan, ketika kereta api penataran menghantarkan saya pulang, terasa syahdu melihat perempatan kawi yang lengang.
***
Akhir 2011 dan seterusnya, sepertinya ada banyak perbedaan. Gedung Dipayana yang legendaris, yang di waktu saya kecil sering dijadikan tempat pertunjukan ludruk, ketoprak, dan teater, dipagari tinggi. Konon akan dibangun mal.
Cafe-cafe mulai menjamur. Minimarket juga tumbuh bersaing pada jarak yang berdekatan. Sekolah-sekolah mulai diseragamkan, dari tas sampai kaos olahraga. Hal-hal simbolik kembali dimunculkan, seperti busana djadoel.
Sekolah baru, dibangun begitu megah. Guru-guru terbaik dimutasi kesana. Dua kali saya masuk, mengamati dari dekat, dan terasa begitu diprioritaskannya.
Blitar bukan lagi kota pensiun. Sekarang cukup ramai. Ada taman dibangun di depan alun-alun. Taman di depan taman. Saling berhadapan.
Kawasan mastrip yang legendaris itu juga digusur, dipugar, dirapikan. Jalanan dibelah dua dan dilebarkan. Banyak kios dan ruko di sekitarnya. Saya mencari-cari gerobak penjual buku loak, yang sepertinya sudah tak ada.
Kota Blitar telah menjelma dalam wujud baru, yang lebih gemerlap. Ada banyak tempat nongkrong, pusat belanja, taman-taman, dan fasilitas lainnya.
Ada "kemajuan" yang dulu diimpikan. Sebagaimana kota-kota lain yang sedang tumbuh. Di areal wisata makam Bung Karno, ada beberapa titik pedestrian. Paving-paving untuk pejalan kaki.
Lebih indah, kata orang. Seperti khas-nya trotoar sepanjang jalan Braga atau Malioboro yang selalu terkenang dan sayang jika dilewatkan, untuk sekedar berfoto.
Kota ini memang tumbuh, dan terus tumbuh, meski tanpa lagi ingatan. Semua kota akan sama pada akhirnya. Jadi obyek proyek-proyek ambisius.
Sayangnya, seringkali proyek ambisius itu, menelan korban. Kalau hanya walikota yang diciduk KPK, itu biasa. Lebih dari itu, ada pergulatan sosial-budaya. Ada proses penggerusan, dan kita hanya bisa kembali merenung bersama buku-buku sejarah yang jarang lagi disentuh. []
Blitar, 13 Juni 2018
Di Penghujung Ramadan