Tokoh

Friday, July 6, 2018


(Catatan pemantik)


Wartawan kawakan, Rosihan Anwar, yang sering disebut guru-nya wartawan itu hanya lulusan SMA. Tetapi SMA di zaman Belanda, yang disebut AMS (Algemeene Middelbare School). Waktu itu, se-antero Hindia Belanda jumlah AMS hanya 7 buah.


Jadi bisa dibayangkan, betapa hanya orang-orang tertentu yang bisa mengakses pendidikan jenjang tersebut, itupun sebagian besar siswanya adalah anak Eropa dan Tionghoa.


Selain AMS, ada juga HBS. Hanya kalangan Belanda dan segelintir kaum priyayi saja yang bisa lanjut kesana. HBS meringkas pendidikan SMP dan SMA. Salah satu alumni HBS ini adalah Soekarno.


Sekarang mari simak cerita saya tentang Pak Rosihan :


Belum lama saya "mengenal" Pak Rosihan. Waktu beliau berumur 88 tahun dan masih menulis catatan "napak tilas" ke Belanda, saya baru masuk perguruan tinggi di Malang.


Waktu di Aliyah, meski aktif di Ekstrakurikuler Jurnalistik, namun jika ditanya siapa Jurnalis favorit? Jawaban saya dan sebagian besar yang lain adalah Anchor, seperti yang terkenal waktu itu, Rosiana Silalahi yang masih di liputan6. Arif Suditomo, Aiman Wicaksono, dan Isyana Bagus Okka yang masih di Seputar Indonesia-RCTI.


Najwa Shihab belum populer, begitupun dengan Karni Ilyas, sekalipun sudah sangat senior. Sebab Karni Ilyas baru muncul di panggung akhir-akhir ini, setelah sekian lamanya berproses di balik layar.


Jarang dari kami mengenal nama Rosihan Anwar, BM. Diah, Mochtar Lubis, dan sederet nama lain yang juga tak kalah penting, sebagai wartawan yang menulis dalam beberapa zaman.


Kenapa sosok Rosihan Anwar begitu menarik bagi saya?


Dibanding Dahlan Iskan, Jacob Oetama, atau Goenawan Mohamad, yang wartawan sekaligus pengusaha/bahkan raja media, Rosihan tidak demikian.


Satu-satunya jabatan tertinggi di media adalah ketika memimpin harian Pedoman. Setelah itu, setelah pedoman diberedel orde baru, Rosihan tak lagi bergabung di media, namun terus menulis. Sebagai kontributor, kolomnis, juga aktif mendidik calon-calon wartawan, aktif dalam sejumlah proyek film bersama Usmar Ismail.


Kekuatan terbesar Rosihan sebagai wartawan, justru bukan jabatannya di media, tetapi dari tulisan-tulisannya. Dia pencatat ulung, dokumentator yang canggih, termasuk untuk kisah hidupnya sendiri.


Ingatannya juga kuat, bahkan sebelum meninggal, ia masih aktif bercengkrama, masih sempat mengingat nama-nama suster yang merawatnya, bahkan lengkap dengan tanggal lahir dan asal daerahnya.


Catatan ini saya buat sembari membaca buku berjudul "H. Rosihan Anwar, Wartawan dengan Aneka Citra" yang disunting oleh Tribuana Said. Sebelumnya saya membaca "Napak Tilas ke Belanda", juga menonton beberapa video tentangnya di youtube.


Tentu isi buku di atas lebih lengkap dari catatan ini, hanya saya ingin mengutaran kesan setelah membaca kisah hidup serta tulisan-tulisan Pak Rosihan.


Gaya menulis Pak Rosihan yang khas, yang menurut Jacob Oetama kadang menggunakan gaya "novel".


Ternyata Pak Rosihan sendiri membagi antara wartawan yang sekedar melakukan reportase, dengan wartawan yang sekaligus sebagai pengamat dan pemikir. Itulah kenapa tulisan-tulisan Pak Rosihan tidak saja reportatif, tetapi juga analitis, dengan gaya bahasa yang menarik.


Sepertinya banyak buku sudah beliau baca, termasuk beberapa gaya kepenulisan yang dengan mahir begitu dikuasahi. Entah gaya straight news, feature, esai, hingga sastra.


Satu hal yang juga begitu unik bagi saya, bahwa Pak Rosihan ini lahir tanggal 10 Mei 1922. Pada tanggal dan bulan yang sama, 70 tahun kemudian, saya lahir. 20 tahun berikutnya, saya menjadi pengagum tulisan-tulisan beliau.


Sampai jumpa di catatan berikutnya. []


Blitar, 4 Juli 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Tuesday, April 24, 2018


Oleh A Fahrizal Aziz


Seperti pengetahuan saya tentang Pak Rosihan Anwar, agaknya saya juga terlambat mengetahui sosok satu ini, yang kalau kita cari namanya di google, selalu ditulis pakar kuliner. Pokoknya, sosok satu ini selalu identik dengan makanan.


Padahal, sebelum menjadi presenter acara kuliner, beliau adalah wartawan, dari wartawan biasa sampai menjadi pimpinan redaksi. Tidak banyak yang tahu juga rekam jejaknya sebagai pengusaha. Orang taunya beliau sering incip-incip makanan lalu bilang "maknyus".


Sebenarnya sejak lama saya tahu sosok ini, lewat acara wisata kuliner, atau iklan-iklan di televisi. Beberapa episodenya pernah saya ikuti, terutama ketika mengangkat kuliner di Malang dan Surabaya.


Hanya, saya kurang begitu memperhatikan dengan seksama, sebagimana dulu ketika mendengar nama Rosihan Anwar. Baru setelah membaca esai-esai Pak Rosihan, saya jatuh hati.


Persis, ketika saya melihat playlist channel youtube "Manusia Indonesia" (MI) yang dibawakan Fahmi. Ada sesi wawancara dengan tokoh ini. Pikir saya, kok yang diangkat tokoh ini?


Beberapa episode MI mengangkat tokoh-tokoh "berat" seperti Haidar Bagir, Franz Magnis Suseno, Dahlan Iskan, bahkan pernah juga mengangkat tokoh luar negeri. Kenapa kali ini mengangkat presenter kuliner?


Ah, ternyata saya keliru. Mendengar wawancaranya, ternyata tokoh ini bukan sekedar tukang incip, bukan sekedar presenter kuliner yang sekarang mungkin jumlahnya sudah banyak, dengan wajah yang lebih muda, lebih segar.


Tapi tokoh ini punya perspektif tersendiri soal kuliner, termasuk ketika menjelaskan soal kecap manis.


"Kecap manis ini khas Indonesia, ini pusaka nusantara, kalau kecap asin dari China. Orang sering menganggap sepele kecap, padahal ini mahakarya," jelasnya.


Lalu, apa perbandingannya ketika beliau membawakan acara kuliner, dengan presenter lain? Mungkin kalau presenter lain hanya akan berkomentar biasa : enak, garamnya pas, agak pedas, bumbunya meresap, dagingnya empuk, dan seterusnya.


Tokoh ini agak beda. Waktu di Lawang, Malang, ia sempat mengkritisi rawonnya. Mengkritisi kriteria rawon. "Ini enak, tapi kayaknya tidak cocok disebut rawon. Mungkin sup pedas lebih pas," ujarnya.


Belum lagi, ketika mencicipi masakan di sebuah warung atau rumah makan, selepas mencicip langsung bisa menebak bumbunya, bahkan bumbu yang tidak umum digunakan.


"Ini agak ada rasa pahitnya, dari gingseng ya?" Tanyanya pada pemilik warung, dan pemilik warung langsung membenarkan.


Kadang juga, beliau membandingkan masakan yang dicicipinya, dengan masakan lain di luar negeri. Wawasannya soal "budaya makan" pun juga sungguh memukau.


"Orang eropa, khususnya Italy, mereka lebih suka makanan yang aldente, artinya setelah dimakan rasanya masih nyangkut di gigi dan mulut, seperti spageti. Beda dengan orang Indonesia, yang kalau ada makanan seperti itu, dikiranya belum matang," jelasnya dalam salah satu episode.


Bagaimanapun, tokoh ini memang bukan sekedar presenter, namun adalah seorang Jurnalis. Ketika memutuskan terjun ke dunia kuliner, Jurnalismenya tetap kuat. Kemampuannya mendeskripsikan obyek juga sangat khas. Khas Jurnalis senior.


Meski beliau sendiri merasa khawatir, sebab diusianya yang tidak lagi muda, masih terus incip-incip makanan yang lezat menggoda, yang belum tentu baik untuk tubuhnya.


"Pekerjaan ini sebenarnya mengandung resiko yang besar, saya bisa mati," ucapnya ketika wawancara dengan Rhenald Kasali.


Satu hal yang beliau sesalkan, yaitu pemahaman publik bahwa kuliner berarti makan-makan. Padahal ingin sekali bisa berbagi soal makanan sehat dan bergizi. Namun belum terealisasi, karena program semacam itu ratingnya rendah di televisi.


Sampai akhirnya ia memutuskan pensiun, dan impiannya untuk membuat program televisi makanan sehat juga tidak akan terwujud, sebab Tuhan telah memanggilnya 29 November 2017 lalu, diusia 67 tahun.


Beliau adalah Pak Bondan Winarno. []


Blitar, 24 April 2018


Saturday, November 18, 2017



Sebagai tokoh bangsa, sosok Sukarni sangat lekat dengan peristiwa Rengasdengklok. Ia termasuk dari tokoh muda kala itu, yang mendesak Soekarno-Hatta untuk lekas memproklamirkan kemerdekaan. Namun Sukarni memiliki rekam jejak dalam bidang pergerakan, politik dan pemerintahan yang patut dibaca lebih mendalam.

Masa Kecil dan Remaja

Lahir dengan nama Sukarni Kartodiwirjo, 14 Juli 1916 di desa sumberdiren kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, dari pasangan Kartodiwirjo dan Supiah. Sukarni adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara.

Ayahnya, Kartodiwirjo adalah pemilik jagal sapi, yang menjual daging di pasar Garum, yang masih keturunan Eyang Onggomerto, salah satu prajurit Pangeran Diponegoro. Sehingga, dibandingkan pribumi lain kala itu, kehidupan Sukarni terbilang berkecukupan.

Menurut Ki Purwanto, Budayawan Blitar, eyang Onggomerto lebih dikenal sebagai tabib, karena selain bagian dari Laskar Diponegoro, Eyang Onggomerto juga memiliki keahlian dalam bidang pengobatan, terutama mengobati prajurit yang terluka karena perang.

Sejak masih SR (Sekolah Rakyat) sampai MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau setingkat Sekolah Menengah, Sukarni memang sering membuat masalah dengan Belanda, termasuk seringnya mengajak bertengkar anak-anak Belanda.


(rumah masa kecil Sukarni di Garum)

Pernah ia menantang duel anak-anak Belanda di dekat Kebun raya Blitar (sekarang Kebonrojo), dan pihak yang kalah harus diceburkan ke kolam dekat mereka duel tersebut. Karena terus berulah, Sukarni kemudian dikeluarkan dari MULO.

Keluar dari MULO, ia kemudian disekolahkan ke Yogyakarta. Disana Ia dididik oleh seorang guru bernama Moh. Anwar, pendiri Mardisiswo dari Banyumas, yang juga tokoh Pergerakan nasional. Mardisiswo adalah sebuah lembaga Pendidikan semacam Taman Siswa kala itu, yang mengajarkan tentang nasionalisme dan kebangsaan.

Di usia yang masih belasan tahun ia bergabung dalam sebuah Partai Politik bernama Partindo (Partai Indonesia) dan atas rekomendasi Ibu Sukarmini (atau lebih dikenal dengan nama Ibu Wardoyo) dikirim ke Bandung untuk mengikuti kursus Perkaderan Politik. Disinilah ia bertemu dengan Soekarno yang kala itu menjadi mentor.

Di Bandung, selain mengikuti Perkaderan Politik, Sukarni juga sekolah Jurnalistik di Universitas Rakyat. Dari sinilah wawasan Kejurnalistikannya terasah, sehingga pada kemudian hari bekerja di Lembaga berita Antara bersama Adam Malik, dkk.

Di Bandung, Sukarni indekos di rumah Bu Inggit, Istri Soekarno. Menurut Kiswoto, keponakan Sukarni, sebenarnya antara Bung Karno dan Bung Karni tidak memiliki hubungan kekerabatan. Hanya karena kedekatan keluarga Pak Karto dengan Ibu Wardoyo kala itu.

Hubungan Sukarno dan Sukarni pun akhirnya nampak unik, mungkin karena sama-sama putra Blitar dan sekaligus memiliki nama yang hampir serupa.

Dalam kursus perkaderan politik ini pula, Sukarni berkenalan dengan teman sejawat yang kemudian juga dikenal sebagai tokoh pergerakan Indonesia seperti Wikana, Asmara Adi, dan SK Trimurti.

Sekembalinya dari Bandung, ia mendirikan Organisasi Persatuan Pemuda Kita yang masih satu jaringan dengan Indonesia Muda. Indonesia Muda adalah organisasi kepemudaan yang menyebar ke berbagai daerah, termasuk di Blitar waktu itu. Organisasi ini mendidik anak-anak muda tentang pentingnya nasionalisme, yang salah satu gerakannya menentang pemerintahan kolonial Belanda.

Karena namanya sudah dikenal secara luas, Sukarni yang kala itu menjadi Ketua Cabang Indonesia Muda Blitar, pada tahun 1935 berhasil menjadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda (PBIM).

Masa Perjuangan Menghadapi Penjajah

Karena masifnya gerakan Indonesia Muda, maka Belanda pun menjadi resah dan terus memantau aktivitasnya. Sampai pada tahun 1936, Politieke Inlichtingen Dienst (PID) bentukan Belanda melakukan penggrebekan di kantor PBIM, karena dianggap membahayakan.

Informasi penggrebekan tersebut sudah diketahui Sukarni sebelumnya, sehingga ia bisa melarikan diri. Sampai pada masa terakhir kekuasaan Belanda, Sukarni hidup dalam pelarian. Mulanya ia lari ke Kediri, lalu ke Banyuwangi dan kemudian menyebrang ke Kalimantan.

Sayang ia tertangkap di Balikpapan dan dipenjara di Samarinda tahun 1941. Pengadilan kemudian memutuskan ia dibuang ke Boven Digul, Papua. Namun dalam masa tunggu ia dipenjara di Garut, Jawa Barat. Belum sampai dieksekusi ke Boven Digul, kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang dan Sukarni kemudian dibebaskan.

Meski begitu, keinginan besar Sukarni agar negara Indonesia merdeka tidak pernah surut, apalagi setelah tahu betapa kejamnya Pemerintahan kolonial Jepang. Setelah bebas, ia bekerja di kantor berita antara yang didirikan Adam Malik. Sebelumnya, ia juga sempat bekerja di Sendenbu (departemen propaganda) Pada masa itulah ia berkenalan dengan Tan Malaka, tokoh pergerakan yang sangat mempengaruhi alam berfikirnya.

Aktivitasnya di dunia pergerakan juga terus bergelora. Pada tahun 1943, bersama Chaerul Shaleh ia memimpin Asrama Pemuda di Menteng 31. Tempat ini kemudian menjadi salah satu basis pergerakan anak muda kala itu, dan melahirkan banyak tokoh penting angkatan 45. Tempat itu sekarang bernama gedung joeang.

Jepang pun memberikan janji kemerdekaan kepada Indonesia, dengan membentuk BPUPKI, yang merupakan hasil dari kongres pemuda seluruh Jawa pada 16 Mei 1945 yang diprakarsai Angkatan Muda Indonesia. Kongres tersebut melahirkan dua resolusi yaitu mempersatukan pemuda di bawah pimpinan nasional dan mempercepat proklamasi kemerdekaan.

Namun kubu Sukarni nampak tidak puas karena masih ada campur tangan pihak Jepang. Hal tersebut didukung oleh dua kawannya, Harsono Tjokroaminoto yang juga putra H.O.S Tjokroaminoto dan Chaerul Shaleh. Mereka pun menyiapkan gerakan muda tandingan melalui pertemuan rahasia 3 dan 15 Juni 1945, yang mana pada pertemuan ini dibentuklah Gerakan Angkatan Baru Indonesia.

Gerakan tersebut berjumlah 80 orang dari berbagai unsur, termasuk dari pihak Jepang, golongan Cina, Arab dan Peranakan Eropa. Tanpa sepengetahuan golongan tua dan BPUPKI, mereka melakukan berbagai kampanye dan propaganda agar kemerdekaan Indonesia sepenuhnya lepas dari campur tangan Jepang.

Sementara itu, Kekuatan Militer Jepang semakin melemah karena perang dunia II. Disatu sisi pihak Indonesia, terutama BPUPKI terus mendesak agar ada perundingan lebih lanjut soal Proklamasi Kemerdekaan. Namun justru Jepang membubarkan BPUPKI dan menggantinya dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 7 Agustus 1945 yang diketuai oleh Soekarno, sementara Hatta sebagai wakil dan Ahmad Subarjo sebagai Penasehat.

Golongan muda semakin tak percaya dengan Jepang dan terus melakukan gerakan yang radikal. Apalagi setelah Gunseikan Mayor Jenderal Yamamoto mengatakan bahwa PPKI juga dipilih oleh Jenderal Besar Terauci, sehingga Soekarno-Hatta diundang ke Dalat Vietnam Selatan untuk pengangkatan.

Keinginan kaum muda itu semakin berkobar setelah tahu bahwa Jepang kalah dalam perang dunia II dan menyerah kepada sekutu pada 15 Agustus 1945. Sementara Soekarno-Hatta baru kembali dari Vietnam dan belum mengetahui kabar tersebut.

Kaum muda pimpinan Sukarni, didukung oleh pergerakan bawah tanah pimpinan Sutan Syahrir, kemudian mendesak agar Proklamasi dipercepat, sebelum Indonesia dikuasai oleh sekutu yaitu Inggris dan Amerika. Hal ini berkaca pada pengalaman ketika Belanda kalah dari Jepang dan dengan cepat Indonesia dikuasai Jepang, meskipun taktik Jepang waktu itu sebagai suadara tua.

Golongan muda pun mengutus Wikana dan Darwis untuk menyampaikan hal tersebut kepada Soekarno-Hatta. Sekitar pukul 22.30 keduanya menemui Soekarno. Disana ada Moh. Hatta, dr. Buntaran, dr. Samsi, Mr. Ahmad Subarjo dan Iwa Kusumaningrat.

Golongan muda mendesak malam itu juga lekas diadakan Proklamasi, namun golongan tua menolak, karena besok harinya baru akan diadakan rapat PPKI. Menurut Ki Purwanto, kala itu terjadi ketegangan antara golongan tua, terutama tim PPKI dengan golongan muda. Bahkan Wikana mengancam akan terjadi pertumpahan darah, namun Soekarno justru menantang dan menyerahkan lehernya jika ingin menghabisinya.

Golongan muda ingin Indonesia lekas merdeka tanpa campur tangan Jepang, sementara golongan tua anggota PPKI yang diketuai Soekarno tetap ingin menghormati hasil perundingan dengan pihak Jepang. Sehingga rapat bersama tanggal 16 Agustus tersebut perlu diadakan.

Karena mengalami kebuntuan, dan khawatir PPKI akan dicurangi Jepang, maka golongan muda melakukan tindakan sangat radikal dengan menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya untuk mengamankan Soekarno-Hatta dan agar terhindar bisikan dari Jepang untuk menunda Proklamasi.

Masih menurut Ki Purwanto, tindakan ini sengaja dilakukan untuk memecah suara PPKI atau agar rapat PPKI tidak bisa berjalan. Shudanco Singgih mendapatkan tugas “penculikan” tersebut dibantu oleh Cudanco Latief Hendraningrat yang kala itu sedang menggantikan Daidanco Kasman Singodimedjo yang juga merupakan anggota PPKI.

Pertemuan PPKI pun tanpa dihadiri oleh Soekarno-Hatta, sehingga membuat anggota lain bertanya-tanya. PPKI kemudian diwakili oleh Ahmad Subarjo dan meminta kaum muda agar memulangkan Soekarno-Hatta, namun golongan muda menolak, sampai Ahmad Subarjo kemudian menegaskan, bahkan mempertaruhkan nyawanya bahwa Proklamasi akan dilaksanakan selambat-lambatnya besok pukul 12.00.

Karena jaminan tersebut Soekarno-Hatta pun dikembalikan ke Jakarta dan hari itu juga Proklamasi dipersiapkan, salah satu yang paling penting adalah naskah proklamasi. Soekarno ingin semua yang terlibat menandatangani naskah tersebut, namun Sukarni memberi usul cukup diwakilkan Soekarno-Hatta saja.

Soekarno sempat menolak sampai akhirnya forum menyepakati hal tersebut. Setelah itu, Soekarno-Hatta pun memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dimana Soekarno-Hatta mewakili bangsa Indonesia, sebagaimana usul dari Sukarni.

Kiprah Pasca Kemerdekaan

Peran penting Sukarni selepas kemerdekaan antara lain membentuk Comite van aksi sehari setelah kemerdekaan yang bertujuan mengabarkan kemerdekaan ke seluruh pelosok Indonesia. Melalui jaringannya di kalangan pemuda, dibentuklah Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan karena sebagian besar rakyat Indonesia kala itu sebagai buruh, maka dibentuk pula Barisan Buruh Indonesia (BBI) yang kemudian melahirkan Laskar Buruh dan Laskar Buruh Wanita.

Pada 3 September 1945 ia menginisiasi pengambilalih jawatan Kereta Api, bengkel manggarai, stasiun-stasiun kereta api, angkutan umum, dan stasiun radio yang sebelumnya dikuasahi oleh Jepang, sehingga fasilitas publik tersebut menjadi milik Republik Indonesia.

Ia juga salah satu aktor yang menggelar rapat raksasa di lapangan Ikada yang dihadiri ribuan warga. Rapat ini terjadi 19 September 1945, sebagai bentuk dukungan rakyat terhadap kemerdekaan sekaligus menunjukkan ke dunia International bahwa Indonesia telah sah sebagai negara yang merdeka.

Tahun 1946 Sukarni terpilih menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) dibawah Tan Malaka, yang mana ia sangat keras menentang perundingan antara RI dengan Belanda. Karena sikapnya inilah ia dipenjara, meski tidak berlangsung lama.

Setelah kemerdekaan, Sukarni beberapa kali pulang ke kampung halamannya di Blitar. Menurut Keponakannya, Kiswanto, yang juga putra dari Suparti, adik kandung Sukarni, Sukarni biasanya pulang pada hari raya idul fitri. Kegiatan yang pasti dilakukan ketika pulang adalah berziarah ke makam orang tuanya, yang berjarak sekitar 3,5 kilometer dari rumahnya.

Waktu itu Kiswanto masih kecil dan sering menemani Sukarni berziarah ke makam Orang tua. Yang menarik, Sukarni lebih memilih jalan kaki, sembari membawa sembako atau uang untuk dibagikan kepada warga yang kurang mampu ketika bertemu di jalan.

Pada awal kemerdekaan, setiap kali pulang ke Blitar Sukarni masih sering diincar Belanda yang kala itu berhasrat untuk menguasahi kembali. Karena itu Sukarni tidak pernah tenang, dan harus bersembunyi. Kalau di Blitar, Sukarni sering menepi di lereng gunung kelud untuk menghindari Belanda.

Ketika bersembunyi tersebut, Sukarni sering mendapati penjual minyak tanah yang dipanggul dan lalu menjualkannya, sementara pemiliknya diminta mengikuti dari belakang. Tak hanya penjual tanah, begitu pun dengan penjual klotong. Dahulu banyak yang berjualan dengan cara dipanggul lalu berkeliling jalan kaki.

Selain itu, hal yang selalu dirindukan Sukarni tiap kali pulang ke Blitar adalah pecel. Ia selalu meminta keponakannya untuk membelikan pecel sebagai menu sarapan pagi. Hal-hal unik inilah yang selalu dikenang Kiswanto, tiap kali mengingat sosok Pamannya tersebut.

***
Hubungan dekatnya dengan Tan Malaka kemudian membuahkan sebuah gagasan bersama untuk mendirikan Partai Politik yang disebut Partai Murba (Musyawarah rakyat banyak) tahun 1948. Tokoh lain yang juga terlibat pendirian Partai ini adalah Adam Malik dan Chaerul Shaleh. Namun Tan Malaka menghilang 3 bulan setelah Partai berdiri, yang konon ditembak mati di Kediri.

Sementara Sukarni duduk sebagai ketua Umum. Partai Murba mengikuti dua kali Pemilu di tahun 1955 dan 1971. Partai Murba termasuk salah satu yang menentang PKI waktu itu, dan berselisih paham tentang peristiwa 1926/1927 sejak era Muso. Bahkan Tan Malaka pernah terlibat perdebatan sengit dengan Muso.

Ki Purwanto menjelaskan, meski sama-sama berhaluan Sosialis, namun Partai Murba dan juga Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Sutan Syahrir lebih bercorak humanis. Sementara PKI sangat ekstrem, sampai hendak mempersenjatai para buruh dan petani.

Karir politiknya berlanjut, setelah pada pemilu 1955 ia terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante, lalu menjadi diplomat sebagai duta besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia dari tahun 1961-1964. Salah satu keberhasilan Sukarni sebagai dubes adalah meyakinkan Tiongkok untuk mengakui Irian barat sebagai bagian dari NKRI.

Suhu politik memanas ketika Sukarni kembali ke Indonesia. Waktu itu ia melihat betapa kuatnya PKI dan betapa condongnya Soekarno kepada Partai yang dipimpin D.N Aidit tersebut. Sukarni kemudian menemui Soekarno di Istana Bogor dan memperingatkan agar Soekarno jangan terlalu dekat dengan PKI.

Ternyata Soekarno tidak berkenan, Partai Murba bersama Partai lain termasuk diantaranya Masyumi dan PSI, dibekukan dan tokoh-tokohnya dipenjara termasuk Sukarni. Selama sisa kekuasaan Soekarno, Sukarni mendekam di penjara dan baru dibebaskan setelah gejolak 1965 mereda.

Namun menurut Dr. Emalia, yang juga anak bungsu Sukarni, ketika di Bui itulah Sukarni justru selamat dari penculikan yang ditengarai dilakukan oleh PKI. Waktu itu ada dua tentara Tjakrabirawa yang hendak menjemput Sukarni di dalam penjara, namun gagal karena penjagaan dari Polisi militer.

Pada waktu itu sosok Sukarni tentu sangat penting karena ia pernah mejabat sebagai duta besar untuk Tiongkok, yang merupakan salah satu negara komunis terbesar di dunia setelah Uni Soviet. Tentu Sukarni memiliki banyak informasi terkait gerakan Komunis global.

Partai Murba pun direhabilitasi kembali, dan Sukarni diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sebagai penasehat Presiden Soeharto pada 1967. Ki Purwanto menjelaskan, diangkatnya Sukarni menjadi DPA, selain karena kedekatannya dengan Adam Malik yang saat itu mejabat Wakil Presiden, juga karena Sukarni menjadi salah satu deklarator fusi partai politik.

Di tahun tersebut, Sukarni kehilangan istri tercinta, Nursjiar Machmoed. Perempuan minang tersebut meninggalkan Sukarni dan lima orang anak. Sukarni sendiri meninggal di usia 54 tahun pada 7 Mei 1971 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Menurut informasi dari keluarga, Sukarni meninggal karena serangan jantung.

Pada tanggal 7 November 2014, Sukarni mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo sebagai tokoh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Tentu nama Sukarni sangat layak mendapatkan gelar ini, mengingat kiprahnya dalam mendidik anak-anak muda, serta sumbangsihnya dalam mengabarkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. []

Blitar, 10 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

Sumber tulisan :

Wikipedia
Pahlawancenter.com
Tempo.co
Buku Banjaran Bung Karni Karya Ki Purwanto
Wawancara dengan Ki Purwanto
Wawancara dengan Kiswanto, Keponakan Sukarni






Saturday, November 11, 2017



Tahun ini, FLP Blitar akan menerbitkan buku kumpulan puisi. Ada lebih dari 70 puisi dalam berbagai judul dan gaya, dengan tema besar tentang Blitar. Menariknya, buku ini akan ditutup sebuah Epilog yang ditulis oleh Sastrawan Senior, Tengsoe Tjahjono.

Dalam lebih dari 20 paragraf, beliau menulis sekilas tentang Blitar, apresiasi buku secara umum, sampai mengomentari beberapa puisi yang ada di dalamnya. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri, sebab beliau adalah Sastrawan papan atas, yang sudah malang melintang di dunia sastra, dan juga sebagai akademisi yang mengajarkan sastra di kampus-kampus.

Pak Tengsoe memberikan apresiasi untuk karya penulis Blitar, dalam sebuah pragraf berikut :

".. Kekayaan tradisi, peninggalan budaya, dan alam Blitar itu telah menginspirasi beberapa penulis muda yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena Blitar. Dari tangan mereka lahirlah larik-larik puisi tentang Blitar yang mereka cintai. Di Blitar mereka hidup, pergi, dan kembali. Jatuh bangun mereka bersama Blitar mereka tulis dalam larik-larik apik..."

Epilog lengkapnya bisa dibaca pada buku kumpulan puisi, yang rencana dilaunching pada 10 Desember 2017 nanti. 

Buku tersebut akan dicetak terbatas, jadi jika berminat memilikinya, silahkan pre order di nomor 085755944234 (Wa/sms) dengan format NAMA <spasi> ALAMAT <spasi> JUMLAH EKSEMPLAR.

Nanti akan kami informasikan jika buku telah terbit. Tebal buku sekitar 200-an halaman, dengan harga maksimal 45.000. Saat ini naskah dan desain sudah mencapai 80%.

****
Lalu siapa Pak Tengsoe? Bagi para penyair, pegiat sastra dan atau penikmat puisi, tentu sering mendengar nama beliau. Selain sebagai Sastrawan Senior, beliau juga Akademisi bergelar Doktor.

Menamatkan studinya hingga s3 di Universitas Negeri Malang, yang dulu bernama IKIP, beliau kini menjadi dosen di Universitas Negeri Surabaya dan pernah menjadi dosen tamu di Hankuk University of foreign Studies, Korea.

Karyanya tidak saja berupa puisi, namun juga penelitian ilmiah tentang karya sastra, sampai kritik-kritik sastra. Puisi-puisinya pun juga banyak terserak di media massa, yang sebagian bisa dilacak melalui Internet.

Buku kumpulan puisi karya penulis Blitar ini, yang disumbang oleh banyak orang dari berbagai latar belakang, yang tidak kesemuanya menggeluti dunia tulis menulis, akan menjadi karya referensial dan mungkin monumental bagi Blitar.

Beberapa tokoh dan pegiat sastra juga memberikan endors/komentar pada antologi ini, antara lain Bu Indah Iriani, pendiri Blitar Heritage Society. Pasangan penyair W. Haryanto da Puput Amiranti, Hasnan Bachtiar Mahasiswa S2 Australia National University, Yanu Aribowo wartawan Radar Blitar, dll

Semoga karya ini bisa menjadi, semacam persembahan berharga, untuk mengabadikan Blitar dalam sejumlah puisi yang beraneka rasa. Aamiin.

Blitar, 10 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

Tuesday, November 7, 2017



Saat wawancara, sebagaimana wartawan, saya sering kali mengajukan pertanyaan kritis, namun selalu dijawab santai dengan retorika yang baik.

Maklum, fikir saya, karena beliau adalah doktor bidang Sosiologi. Gaya bertuturnya pun khas seperti Kyai, yang llincah, humoris, nan sulit dibantah.

Misal, ketika saya mengajukan pertanyaan seputar pohon keilmuan yang selalu beliau banggakan, dan menjadi konsep pengembangan keilmuan di kampus. Akar dari pohon itu adalah Filsafat, bahasa, dan ilmu-ilmu dasar. Sementara batangnya Al Qur'an dan Al Hadits.

Kenapa Al Qur'an dan Sunnah tidak dijadikan akar? Itu berarti filsafat dan bahasa lebih penting?

Hal ini juga sempat menjadi pertanyaan banyak orang. Jika begitu maka UIN bisa melahirkan pemikir-pemikir liberal karena mendahululan logika/filsafat dalam mengkaji Al Qur'an dan Sunnah.

Lho? Kalau tidak bisa bahasa arab, kamu bisa baca Al Qur'an? Tanya beliau. Kalau tidak memahami landasan filosofis suatu ilmu, lalu bagaimana kamu mempelajarinya?

Ternyata jawabannya begitu sederhana. Filsafat dalam hal ini bukan untuk membredel Al Qur'an dan Sunnah, melainkan untuk mencari landasan filosofis suatu ilmu. Sementara ilmu, kata beliau, dibagi dalam tiga kelompok besar. Yaitu, sosial, sains, dan humaniora.

Dalam hidup, hal-hal filosofis menjadi sangat penting digali demi menemukan makna-makna. Apa, bagaimana, mengapa. Apa itu ilmu, bagaimana cara memperolehnya, dan untuk apa harus dikuasai/diciptakan?

Nah, dalam rangka mencari ketiganya tersebut, kita perlu membaca Al Qur'an dan Sunnah, sebagai petunjuk. Akan dijelaskan apa itu ilmu, apa saja jenisnya, bagaimana sampai mengapa diciptakan dan mengapa menusia harus mempelajari.

Menarik! Obrolan disela-sela wawancara tersebut seolah merangkum berbagai perkuliahan, atau proses keilmuan yang selama ini saya jalani, yang kadang berlangsung begitu saja.

Soal kemudian disinggung, kembali ke Al Qur'an dan Sunnah, sebenarnya ya tidak jauh berbeda. Kata beliau, konsep keilmuan di kampus ini ya sejalan dengan doktrin Muhammadiyah ruju' ila Qur'an wa Sunnah. Hanya konteksnya dalam hal Ilmu pengetahuan.

Meski kalimat "ruju' ila Qur'an wa Sunnah" terdengar nyaring dan renyah dibaca, namun penerapannya tidak mudah. Bahkan tak sedikit yang kemudian terjebak hanya mencomot terjemahan demi terjemahan, sehingga jadilah ia kaum tekstualis-skripturalis.

Sehingga HPT menjadi penting sebagai "alat bantu" memahami Al Qur'an dan Hadits, sebab tidak semua orang ahli dalam bidang tafsir Qur'an. Apalagi, menafsirkan Al Qur'an juga tidak cukup dengan metodologinya, tapi harus juga mempertimbangkan kajian lain. Buku-buku sosiologi dan sains juga bagian dari "alat bantu" tersebut.

Sepertinya memang sebagian konsep pengembangan keilmuan di kampus ini, disumbang oleh ideologi Muhammadiyah. Prof. Imam sendiri yang mengatakan demikian. Maklum, karena beliau lama bekerja di UMM, 20 tahun lebih. []

Blitar, 7 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz

Disarikan dari berbagai obrolan dengan Prof. Dr. Imam Suprayogo, mantan rektor UIN Malang.

Monday, November 6, 2017



Sebagai wartawan kampus kala itu, setidaknya saya dua kali wawancara beliau, dan dua kali pula, secara esklusif, datang ke kantor untuk menyerahkan undangan acara IMM.

Sebagai rektor yang sibuk, saya kira beliau akan melewatkan begitu saja setiap tulisan yang saya buat, kemudian dengan sengaja saya tag ke akun facebook beliau. Tentu tulisan tersebut yang berkaitan dengan beliau.

Ternyata tidak, bahkan beliau sempat membacanya. Satu tulisan, yang saya buat ketika masih semester pertama, bahkan dikomentari langsung melalui kolom komentar pada note tersebut.

Ketika beliau kemudian ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan lahan kampus II, saya juga membuat tulisan, dan tak dikira pula tulisan tersebut dibaca Prof. Imam, bahkan setelah itu beliau menelepon hampir satu jam lamanya, menjelaskan detail kronologi pengadaan lahan dsb.

Alhamdulilah kemudian kasus itu tidak berlanjut dan status tersangka beliau pun dicabut.

Tapi saya tidak dekat dengan beliau, selain hanya sebagai mahasiswa dan dosen. Meski kerap kali ada anggapan begitu, sebab karena saya bekerja di Majalah Suara Akademika milik Kemahasiswaan, dan karena kedekatan tersebut saya bisa masuk dan jadi P.J rubrik wawancara di kemudian hari.

Tidak begitu adanya, meski Kabag Kemahasiswaan adalah orang yang loyal dengan Prof. Imam, dan terkenal lincah dalam membangun komunikasi dengan OMEK.

Bahkan masuknya saya ke Suara Akademika, tidak atas rekomendasi IMM. Meski ada peluang untuk itu. Saya daftar, mengikuti seleksi sangat ketat, termasuk seleksi lapangan.

Bahkan Kabag Kemahasiswaan baru tahu kalau saya IMM, setelah saya masuk. Seleksi semacam itu konon tidak diberlakukan lagi pada tahun-tahun berikutnya, sehingga Majalah tidak terbit lagi. Karena sifatnya rekomendasi, belum tentu memenuhi kualifikasi.

Prof. Imam pun ketika bertemu saya, belum tentu ingat sepenuhnya, baru ingat kalau misal ditambahi penjelasan, anak IMM, yang ngurusi penelitian.

Ya, sebab ketika saya menjadi Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) PC IMM Malang, meski kala itu statusnya sudah resign, Prof. Imam bersedia hadir mengisi stadium general pada acara Workshop Riset.

Bangga karena beliau bersedia hadir, dan tentu saja selalu menolak diberi fee. Bahkan tak jarang kemudian malah dimarahi, "mahasiswa dana minus kok coba-coba ngasih amplop?" Tentu dengan nada bercanda. Artinya, beliau memang senang berbagai ilmu dan pengalaman, terutama dengan anak-anak IMM.

Tapi ada perbincangan menarik, ketika suatu saat saya menemui beliau di kantor. Suasana sepi waktu itu, Prof. Imam duduk di meja sambil menandatangani sertifikat yang menumpuk. Kantor rektor sangat luas, mewah dan ada kursi tamu yang memanjang.

Waktu itu Prof. Abdul Munir Mulkhan mau datang ke Malang dalam rangka safari buku terbarunya. Informasi tersebut disampaikan oleh mantan pengurus DPP IMM mas Ulul Azmi Rizal.

Saya mengajukan surat permohonan kepada Prof. Imam sebagai pembanding, sekaligus menyerahkan buku terbaru Prof. Munir Mulkhan. "Kok baru bikin buku ndak bilang saya ya?" Ucap Prof. Imam sembari membolak-balik buku tersebut.

"Pak Munir itu selalu, kalau bikin buku mesti yang berat-berat," lanjutnya, disertai tawa.

Tentu Prof. Imam sendiri tidak bisa memastikan apakah waktu itu bisa menjadi pembanding. Saya harus menemui sekretarisnya untuk mengecek jadwal. Pada hari pelaksanaan bedah buku, Prof. Imam akan kedatangan tamu dari Sudan, jam 10 pagi.

Sementara jadwal bedah buku dari jam 08.00-11.30. Itupun biasanya molor. Setelah itu saya kembali ke ruangan Prof. Imam, biasanya kalau ada tamu jam segitu, sudah termasuk pagi. Sehingga agenda lain tidak bisa terpenuhi.

Sayangnya, karena IMM agak telat menyampaikan surat, dan jadwal rektor tentu sangat padat. Tapi saya bilang saja ada waktu, apalagi setelah "agak berbohong" kalau ini langsung permintaan dari Prof. Mulkhan.

Benar, acara dimulai sekitar pukul 09.00. Sementara Prof. Imam berada di forum sampai sekitar pukul 10.30. Berulang kali saya dihubungi sekretaris beliau, karena Prof. Imam jarang buka hp kalau sedang di forum, apalagi kalau sudah berbicara, sangat berapi-api.

Tapi akhirnya sekretaris berhasil juga menjangkau ponsel beliau, sehingga sebelum acara berakhir, beliau pamit kembali ke kantor. Demi IMM, tamu dari Sudan harus menunggu hampir satu jam.

Blitar, 6 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz

Disarikan dari berbagai obrolan dengan Prof. Dr. Imam Suprayogo, mantan rektor UIN Malang.


Sunday, November 5, 2017



Sebagai tokoh bangsa, sosok Sukarni sangat lekat dengan peristiwa Rengasdengklok. Ia termasuk dari tokoh muda kala itu, yang mendesak Soekarno-Hatta untuk lekas memproklamirkan kemerdekaan. Namun Sukarni memiliki rekam jejak dalam bidang pergerakan, politik dan pemerintahan yang patut dibaca lebih mendalam.

Lahir dengan nama Sukarni Kartodiwirjo, 14 Juli 1916 di desa sumberdiren kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Sukarni kecil dikenal hobi berkelahi dengan anak-anak Belanda. Ia sendiri lahir dari keluarga yang cukup berada, dan mendapat pendidikan yang baik.

Ia dididik oleh seorang guru bernama Moh. Anwar, pendiri Mardisiswo. Mardisiswo adalah sebuah lembaga Pendidikan semacam Taman Siswa kala itu, yang mengajarkan tentang nasionalisme dan kebangsaan. Karena itulah sejak kecil ia paham siapa Belanda, yang saat itu menjajah bumi pertiwi.




Di usia yang masih belasan tahun ia bergabung dalam sebuah Partai Politik bernama Partindo (Partai Indonesia) dan dikirim ke Bandung untuk mengikuti kursus Perkaderan Politik. Disinilah ia bertemu dengan Soekarno yang kala itu menjadi mentor. Soekarno yang sudah bergelar Insinyur memang dikenal sebagai tokoh pergerakan yang ulung, dan dipuja banyak orang.

Dalam kursus perkaderan politik ini, Sukarni berkenalan dengan teman sejawat yang kemudian juga dikenal sebagai tokoh pergerakan Indonesia seperti Wikana, Asmara Adi, dan SK Trimurti.

Sekembalinya dari Bandung, ia mendirikan Organisasi Persatuan Pemuda Kita yang masih satu jaringan dengan Indonesia Muda. Indonesia Muda adalah organisasi kepemudaan yang menyebar ke berbagai daerah, termasuk di Blitar waktu itu. Organisasi ini mendidik anak-anak muda tentang pentingnya nasionalisme, yang salah satu gerakannya menentang pemerintahan kolonial Belanda.

Sukarni kemudian terus melanjutkan Pendidikan ke Yogyakarta, sampai merantau ke Jakarta, dan pada tahun 1934 berhasil menjadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda (PBIM). Karena masifnya gerakan Indonesia Muda, maka Belanda pun menjadi resah dan melakukan penggrebekan di kantor PBIM tahun 1936.

Informasi penggrebekan tersebut sudah diketahui Sukarni sebelumnya, sehingga ia bisa melarikan diri. Sampai pada masa terakhir kekuasaan Belanda, Sukarni hidup dalam pelarian. Mulanya ia lari ke Kediri, lalu ke Banyuwangi dan kemudian menyebrang ke Kalimantan.

Sayang ia tertangkap di Balikpapan dan dipenjara di Samarinda. Pengadilan kemudian memutuskan ia dibuang ke Boven Digul, namun dalam masa tunggu ia dipenjara di Garut, Jawa Barat. Belum sampai dieksekusi ke Boven Digul, kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang dan Sukarni kemudian dibebaskan.

Meski begitu, keinginan besar Sukarni agar negara Indonesia merdeka tidak pernah surut, apalagi setelah tahu betapa kejamnya kolonial Jepang. Setelah bebas, ia bekerja di kantor berita antara yang didirikan Adam Malik. Pada masa itulah ia berkenalan dengan Tan Malaka, tokoh pergerakan yang sangat mempengaruhi alam berfikirnya.

Aktivitasnya di dunia pergerakan juga terus bergelora. Pada tahun 1943, bersama Chaerul Shaleh ia memimpin Asrama Pemuda di Menteng 31. Tempat ini kemudian menjadi salah satu basis pergerakan anak muda kala itu, dan melahirkan banyak tokoh penting angkatan 45.

Setelah menyerahnya Jepang kepada kelompok Sekutu, golongan muda pimpinan Sukarni pun mengadakan rapat, hasil rapat tersebut mendesak segera diProklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini juga didukung pergerakan bawah tanah yang dipimpin Sutan Syahrir.

Sukarni mengusulkan nama Soekarno-Hatta sebagai wakil dari Bangsa Indonesia, yang kemudian tertulis dalam teks proklamasi. Meski awalnya permintaan tersebut ditolak dan terjadilah perdebatan sengit antara golongan tua dan muda, sampai akhirnya Soekarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok agar terhindar bisikan dari pihak Jepang untuk menunda Proklamasi.

Setelah itu, Soekarno-Hatta pun memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dimana Soekarno-Hatta mewakili bangsa Indonesia, sebagaimana usul dari Sukarni.

Kiprah Pasca Kemerdekaan

Peran penting Sukarni selepas kemerdekaan antara lain membentuk Comite van aksi sehari setelah kemerdekaan yang bertujuan mengabarkan kemerdekaan ke seluruh pelosok Indonesia. Melalui jaringannya di kalangan pemuda, dibentuklah Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan karena sebagian besar rakyat Indonesia kala itu sebagai buruh, maka dibentuk pula Barisan Buruh Indonesia (BBI) yang kemudian melahirkan Laskar Buruh dan Laskar Buruh Wanita.

Pada 3 September 1945 ia menginisiasi pengambilalih jawatan Kereta Api, bengkel manggarai, stasiun-stasiun kereta api, angkutan umum, dan stasiun radio yang sebelumnya dikuasahi oleh Jepang, sehingga fasilitas publik tersebut menjadi milik Republik Indonesia.

Ia juga salah satu aktor yang menggelar rapat raksasa di lapangan Ikada yang dihadiri ribuan warga. Rapat ini terjadi 19 September 1945, sebagai bentuk dukungan rakyat terhadap kemerdekaan sekaligus menunjukkan ke dunia Internasional bahwa Indonesia telah sah sebagai negara yang merdeka.

Tahun 1946 Sukarni terpilih menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP), yang mana ia sangat keras menentang perundingan antara RI dengan Belanda. Karena sikapnya inilah ia dipenjara, meski tidak berlangsung lama.

Hubungan dekatnya dengan Tan Malaka kemudian membuahkan sebuah gagasan bersama untuk mendirikan Partai Politik yang kemudian disebut Partai Murba (Musyawarah Orang Banyak) tahun 1948. Tokoh lain yang juga terlibat pendirian Partai ini adalah Adam Malik dan Chaerul Shaleh. Namun Tan Malaka menghilang 3 bulan setelah Partai berdiri, yang konon ditembak mati.

Sementara Sukarni duduk sebagai ketua Umum. Partai Murba mengikuti dua kali Pemilu di tahun 1955 dan 1971. Partai Murba termasuk salah satu yang menentang PKI waktu itu, dan berselisih paham dengan peristiwa 1926/1927 era Muso. Bahkan Tan Malaka terlibat perdebatan sengit dengan Muso.

Karir politiknya berlanjut, setelah pada pemilu 1955 ia terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante, lalu menjadi diplomat sebagai duta besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia dari tahun 1961-1964. Salah satu keberhasilan Sukarni sebagai dubes adalah menyakinkan Tiongkok untuk mengakui Irian barat sebagai bagian dari NKRI.

Suhu politik memanas ketika Sukarni kembali ke Indonesia. Waktu itu ia melihat betapa kuatnya PKI dan betapa condongnya Soekarno kepada Partai yang dipimpin Aidit tersebut. Sukarni kemudian menemui Soekarno di Istana Bogor dan memperingatkan agar Soekarno jangan terlalu dekat dengan PKI.

Ternyata itu berbuntut panjang. Partai Murba bersama Partai lain termasuk diantaranya Masyumi dan PSI, dibekukan dan tokoh-tokohnya dipenjara termasuk Sukarni. Selama sisa kekuasaan Soekarno, Sukarni mendekam di penjara dan baru dibebaskan pada masa orde baru.

Tidak hanya itu, Partai Murba pun direhabilitasi kembali, dan Sukarni diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sebagai penasehat Presiden Soeharto. Sukarni meninggal di usia 54 tahun pada 7 Mei 1971 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Pada tanggal 7 November 2014, Sukarni mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo sebagai tokoh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Tentu nama Sukarni sangat layak mendapatkan gelar ini, mengingat kiprahnya dalam mendidik anak-anak muda, serta sumbangsihnya dalam mengabarkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, meski sering kali harus merasakan kerasnya jeruji besi karena berbeda pendapat dengan penguasa. []

Blitar, 5 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

: dari berbagai sumber

Friday, November 3, 2017



Figur Gus Dur sangat melekat pada dua sosok ini. Gus Ipul yang memang keponakan Gus Dur, sementara Khofifah sering disebut "anak ideologis" Gus Dur.

Sewaktu hampir lulus Aliyah, Gus Dur bertanya hendak melanjutkan kemana? Gus Ipul menjawab ingin jadi guru. Gus Dur lalu mengatakan kalau Gus Ipul tidak cocok jadi guru, dan kemudian diajaklah ke Jakarta.

Sampai kemudian Gus Ipul menjadi Politisi besar seperti sekarang ini. Pernah menjadi anggota DPR RI dari FPDIP, Menteri, sampai Sekjend PKB.

Beda halnya dengan Khofifah, sejak remaja ia sudah mengagumi Gus Dur lewat esai-esai di media massa, sampai akhirnya bisa bertemu pada sebuah forum seminar di tahun 1992.

Khofifah juga lah yang menyiapkan berkas-berkas pencalonan Gus Dur sebagai Presiden, yang pada akhirnya Gus Dur menang dalam voting di Parlemen mengalahkan Megawati.

Bagi Gus Dur, keduanya adalah anak emas. Meski selalu berkontestasi dalam arena politik. Tahun ini sepertinya juga demikian, bahkan lebih sengit. Sebab sama-sama Calon Gubernur.

Pada sisi lain, ini juga menunjukkan betapa hebatnya Gus Dur "membesarkan orang". Dibalik nama besarnya, ada nama-nama lain yang juga bermunculan.

Namun figur Gus Dur juga tidak lepas dari kontroversi, dan sepertinya itu konskwensi. Sebagaimana Buya Syafii Maarif di Muhammadiyah.

Buya juga sering pasang badan "melindungi" anak-anak mudanya, terutama yang sedang berdiaspora ke berbagai Universitas di dunia. Tak jarang bermunculan caci maki, bahkan dari kader dan warganya sendiri.

Insyaallah tulisan khusus tentang keduanya akan saya buat tersendiri.

***
Antara Khofifah dan Gus Ipul, keduanya adalah tokoh yang brilian. Sehingga, bagi warga Nahdliyin, entah Khofifah atau Gus Ipul yang nantinya menjadi Gubernur, mungkin itu bukan persoalan.

Meski barangkali tetap ada ketegangan politik, namun tidak akan sekeras di DKI Jakarta.

Jika akhirnya mentok dua pasang saja, sebagai warga Jatim, yang nantinya juga memiliki hak suara, tak ada salahnya untuk berkata, mungkin kini saatnya Bu Khofifah, setelah sekian lamanya. []

Blitar, 3 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com


Tuesday, September 26, 2017




Oleh Ahmad Fahrizal Aziz

Sejak tayang film biopik Nyai Ahmad Dahlan, bermunculan juga jilbab tren Nyai Dahlan. Jilbab yang juga melekat dalam foto resmi atau lukisan Nyai Dahlan. Jilbab yang pada waktu itu nampak berbeda, dibandingkan jilbab kebanyakan. Jilbab tersebut kemudian menjadi ciri khas para anggota Aisyiyah awal-awal berdirinya, termasuk digunakan oleh Siti Maryati ketika berorasi.

Bersama Kyai Ahmad Dahlan, Nyai Walidah mengelola bisnis batik. Jika era sekarang, akan disebut sebagai pengusaha fashion dengan berbagai kreatifitasnya. Bisa jadi jilbab yang dikenakan Nyai Walidah ketika kongres ke-15 Muhammadiyah di Surabaya kala itu, yang kemudian menjadi ikon, memang sengaja didesain khusus, mengingat latar belakangnya sebagai pengusaha dibidang fashion.

Namun “jilbab ikonik” tersebut sepertinya hanya dikenakan ketika acara-acara resmi. Kesehariannya, Nyai Walidah hanya mengenakan jilbab yang semacam kain selempang. Persepsi tentang jilbab, sebagai sebuah pakaian, pada zaman itu sepertinya lebih sederhana dibandingkan saat ini. Apalagi, ketika brand “jilbab syar’i” menjadi trend, yang mana panjang kainnya bisa sampai siku dan lutut.

Tidak saja Nyai Walidah, namun Istri KH. Hasyim Asya’ri dan sederet perempuan Muslim, pejuang dan sebagainya, pada saat itu memang terbiasa mengenakan busana khas daerah masing-masing. Kalau saat ini, nampak juga pada keluarga Alm. Abdurrahman Wahid, Quraish Shihab dan sederet tokoh Islam terkemuka lainnya.

Bisa jadi karena variasi fashion yang tidak sebanyak saat ini, bisa jadi pula bahwa jilbab dipandang lebih substansial, ketimbang hanya sekedar pakaian. Bahwa ada pandangan yang menyatakan jilbab tidak identik dengan pakaian saja, ini sejalan juga dengan pemahaman fiqiyah yang sekurang-kurangnya bersumber dari empat Imam Mahzab.

Aurat sendiri adalah bagian tubuh yang wajib ditutupi. Sebab jika tidak, ia bisa menimbulkan fitnah atau hal-hal buruk lainnya yang menjurus pada dosa. Perempuan dan Lelaki memiliki batasan aurat yang berbeda. Aurat perempuan lebih ketat, Imam Hanafi, Syafii dan Hambali nampak sependapat bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah, telapak tangan, dan kaki. Sementara Imam Maliki membagi antara aurat berat (Mughaladzah) dan aurat ringan (Mukhaffafah).

Sekujur tangan dan tepian rambut bagi Imam Maliki adalah aurat ringan. Meski begitu, dalam melaksanakan shalat tetap wajib menutupi seluruh aurat. Imam Maliki pun juga mengatakan, meskipun itu aurat ringan, kalau khawatir bisa menimbulkan syahwat, maka sebaiknya ditutupi. Semestinya, dalam konteks ini berlaku juga untuk laki-laki, dimana batasan aurat laki-laki hanya pusar sampai bawah lutut.

Variasi fiqh tersebut juga memunculkan beragam persepsi, terutama dalam menggunakan jilbab. Maka sekilas kita bertanya, kenapa orang terdahulu, sekalipun ia seorang Nyai, nampak begitu sederhana dalam berjilbab, bahkan hanya sekedar kain yang ditudungkan, bagian tepi rambutnya masih terlihat. Termasuk Nyai Walidah, termasuk juga Nyai Kapu (Istri KH. Hasyim Asya’ri).

Sebelum kemudian kita saling menyalahkan, bisa kita pahami barangkali fiqh yang digunakan sejalan dengan Malikiyah, yang didasarkan pada  QS. An-Nuur :31 bahwa perempuan dilarang menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Perbedaan semacam itu wajar saja terjadi, ditengah tafsir dan fiqh yang bervariasi. Termasuk ketika Imam Hanafi menyarankan untuk menutup wajah (bercadar), bukan karena wajah itu aurat, tapi ditakutkan memicu syahwat.

Namun secara bahasa, aurat berarti sesuatu yang terbuka, tidak tertutup, kemaluan, telanjang, aib dan cacat. Itu berarti, secara lebih luas, aurat tidak saja bagian tubuh, namun juga sisi lain, seperti perilaku yang bisa menimbulkan aib dan rasa malu dihadapan Tuhan dan masyarakat. Menutup aurat bisa bermakna juga berperilaku baik.

Namun sebagai sebuah mode fashion, tentu perempuan punya hak untuk mengenakan jilbab model apapun, bahkan jika itu berkaitan dengan pemahaman fiqh yang dianut. Tidak ada siapapun yang berhak melarang. Yang terpenting adalah, bagaimana pesan universal tokoh-tokoh perempuan Muslim zaman itu, termasuk Nyai Walidah diantaranya, tidak direduksi hanya sekedar simbol-simbol.

Jilbab Kehidupan

Bahwa ciri khas Muslimah yang kaffah ialah berjilbab, adalah hal yang tidak bisa dibantah. Namun ketika jilbab hanya dikhususkan sekedar simbol, ini yang perlu dipersoalkan. Sebagaimana respon sebagian warganet yang nampak permisif dengan kasus First Travel (FT), hanya karena salah satu bosnya mengenakan jilbab dengan beragam mode fashion terkini, maka jamaah yang dirugikan diminta mengikhlaskan dan memaafkan saja.

Pemikiran semacam ini jelas menggelisahkan nalar keberagamaan kita. Bahwa secara simbol bos FT memang berpakaian tertutup khas Muslimah, tapi secara substansial ia telah menciptakan aib (auratnya) yang akhirnya terlihat oleh publik. Lantas bagaimana jika itu adalah aurat yang sebenarnya? Bukan sekedar bagian tubuh? Sebab kalau hanya menutup bagian tubuh, siapapun asal memiliki uang, bisa melakukannya, bahkan berganti-ganti mode.

Pada sisi yang lain, jilbab sebenarnya juga memberikan ketenangan. Ini terlihat ketika mereka yang terjerat hukum, yang kesehariannya tidak berjilbab, mendadak berjilbab, meski hanya jilbab selempang sederhana. Ada dahaga spiritual yang ia reguk, meski banyak yang berprasangka, bahwa itu hanya untuk menutup aib. Lalu bagaimana dengan mereka yang berjilbab, namun hanya menjadikannya sebatas fashion?

Sangat menggelisahkan pula ketika sosok Nyai Walidah yang saat ini diperbincangkan, namun yang ditangkap dari sosoknya hanya sebatas trend jilbab saja. Hal lain, sebagai pejuang, pembela hak perempuan, hak anak-anak atas pendidikan, pemimpin gerakan perempuan, dan istri yang setia, harus juga ditangkap. Keluasan ilmunya, sehingga orang berbondong-bondong untuk belajar dengannya, jangan juga dilupakan. Wallohu’alam

Blitar, 25 September 2017
)* Presidium Paguyuban Srengenge

Thursday, June 30, 2016



Pertama kali saya berjumpa dengan Pak Pradana Boy pertengahan tahun 2010. Saat itu saya masih semester II, dan belum genap enam bulan menjadi kader IMM. Oleh Komisariat, saya di daftarkan untuk mengikuti pelatihan menulis yang diadakan IMM Koms. Fastco UMM, yang salah satu pematerinya adalah Pak Boy. Selain Pak Boy, Pemateri lain kala itu adalah Mas Subhan Setowara, Mas Hasnan Bachtiar, Mas Haeri Fadly dan Mas Denny Mizhar untuk kategori karya Sastra.


Pak Boy mengisi sesi paling awal, yang sekaligus bercerita soal bukunya yang notabene adalah Tesis Masternya di Australia National University. Selama ini saya hanya mendengar nama Pak Boy, terutama ketika masih mengikuti DAD (Darul Arqam dasar), dimana pemateri ke-Muhammadiyahannya kala itu adalah Mas Ali Muthohirin (yang sekarang Sekjend DPP IMM). Mas Ali beberapa kali menyebut nama Pradana Boy.


Baru kali itu, di acara pelatihan menulis Koms. Fastco UMM, saya bertemu dengan Pak Boy. Seingat saya, agenda pertama itu berlangsung di Aula Masjid AR Fachrudin, baru hari selanjutnya pindah ke GKB. Sosok Pak Boy lebih muda dari bayangan awal saya. Waktu masuk ke ruang forum, saya belum tahu kalau itu Pak Boy, saya kira panitia atau moderator, karena terlihat muda sekali. Ternyata itu Pak Boy, penulis buku yang akan didiskusikan, dan juga senior IMM Malang jebolan Australia.


Tambah meyakinkan, ketika masuk materi. Ada banyak istilah yang membuat saya mengerutkan kening, terlebih ketika membahas istilah konservatif dan Progresif. Ada Islam konservatif, ada Islam progresif. Saya baru tahu kalau ada istilah Islam konservatif. Selama ini, istilah konservatif atau konservasi, seringnya terdengar ketika ada banjir bandang, dimana perlunya konservasi hutan. Sama dengan istilah restorasi yang kini menjadi jargon salah satu parpol. Istilah restorasi pertama kali saya dapati di gerbong kereta api, ada tulisan ‘ruang restorasi’ yang ternyata semacam dapur.


Bagi mahasiswa baru seperti saya, diskusi itu begitu berat. Ada banyak istilah yang belum saya pahami, atau istilah yang sama dengan pemaknaan yang berbeda.


Diskusi berikutnya, berlangsung sekitar akhir 2010 atau awal 2011. Sering kali saya diajak berkeliling oleh senior saya di IMM UIN Malang, namanya Abdul Kholiq, untuk mengikuti diskusi dan kajian. Termasuk kajian di RBC (Rumah baca Cerdas) yang kala itu hadir Prof. Malik Fadjar. Sosok legendaris, tidak saja di Muhammadiyah, tapi juga di UIN Malang. Bahkan rektor saya kala itu, Prof. Imam Suprayogo, dalam berbagai kesempatan berulang kali memuji Prof. Malik sebagai sosok yang sangat berjasa bagi UIN Malang.


Tak berselang lama juga, saya membaca tulisan Pak Boy yang sangat kritis berjudul “PTM dan Demokratisasi”. Tulisan yang ada kaitannya dengan Pak Malik Fadjar itu menjadi viral di internal IMM kala itu, yang membuat logika dan emosi saya teraduk-aduk. Karena waktu itu, selain sebagai kader IMM, saya adalah ‘orang dalam’ yang bekerja untuk sebuah Majalah Kampus. Semacam Bestari kalau di UMM.


Setelah mengikuti kajian di RBC, kemudian saya diajak mengikuti kajian di Resist yang pematerinya adalah Pak Boy. Seingat saya, itu dihari yang sama. Sore ke RBC, malamnya ke Resist. Pertama kali saya mengikuti kajian di Resist, temanya adalah Pos Kolonialism. Sempat disinggung soal Post Modernism juga. Tema yang sebenarnya terlampau berat bagi saya, bahkan hingga saat ini pun.


Selanjutnya, beberapa kali saya mengikuti forum yang narasumbernya Pak Boy. Termasuk forum ‘sarasehan’ selepas pelantikan PC IMM Malang periode 2013-2014 di Villa Kalendra, Batu. Bedanya, pada forum tersebut saya mulai memahami apa yang disampaikan Pak Boy, bahkan sempat mengajukan pertanyaan. Forum itu sendiri memang dikhususkan untuk pengurus cabang periode itu, dibawah kepemimpinan Mas Arif Rahmawan.


Jika selama ini hanya menjadi peserta kajian atau diskusi, akhirnya pada Talk Show selepas pelantikan PC IMM Malang periode 2014-2015 dibawah kepemimpinan Yusuf Hamdani Abdi, saya ‘naik kelas’ menjadi moderator. Ada dua pemateri kala itu, Pak Boy dan Dr. Wahyudi Winarjo. Seiring waktu, cara penyampaian Pak Boy menjadi lebih mudah dipahami karena lebih banyak memulai dari hal-hal yang empiristik, ketimbang teoritik. Bahkan di forum workshop kepenulisan PC IMM Malang akhir tahun 2014 silam, Pak Boy bercerita dengan cair pengalamannya menulis. Bahkan lebih banyak bercerita soal novel dan sastra.


Ketika Pak Boy ber-eksperiment menulis novel, tentu itu sangat mengejutkan. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sudah lahir dua novel. Kata Pak Boy –ketika mengisi workshop kepenulisan PC IMM Malang—bahwa menulis novel adalah hiburan tersendiri. Novel memang memiliki bahasa yang lebih cair, lebih naratif, lebih membidik rasa. Orang yang membaca novel, berarti membaca untuk merasa (learning to feel).


Tambah mengejutkan, ketika profil Pak Boy sebagai novelis kemudian diangkat oleh Kompas, melalui novel Kumbara. Dimana Pak Boy mengangkat sosok Fatih, Mahasiswa yang kehilangan cintanya, Amra, karena dianggap sesat dan befikiran liberal, apalagi latar pendidikan si tokoh sebagai Mahasiswa Filsafat.


Sosok Fatih dalam Kumbara itu mengingatkan kita dengan novel-novel Hamka. Dulu Buya Hamka membuat sosok Hamid yang tidak bisa bersatu dengan Zaenab dalam novel dibawah lindungan Ka’bah, meski keduanya saling mencintai. Hamid dan Zaenab terkendala strata sosial. Begitu pun dengan sosok Zainudin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, yang tidak bisa bersatu karena perbedaan suku, sampai akhirnya “hayati lelah”. 


Semuanya mengangkat kisah percintaan yang pahit, namun syarat akan kritik sosial. Sungguh mengesankan. Bagi saya, kritik yang disampaikan dengan bahasa sastra itu adalah kritik yang romantis. Seperti Mif dan Fauzia dalam novel Kambing dan Hujan, Fatih dan Amra akan menjadi referensi tersendiri. Dan … saya pun semakin iri dengan karya-karya hebat itu. (*)


Blitar, 25 Ramadan 1437 H
A Fahrizal Aziz

Friday, August 28, 2015



Setahun yang lalu, di bulan Ramadhan, saya diajak Mas Adam Muhammad (senior IMM Malang) untuk mengikuti Tadarus Pemikiran Kaum Muda Muhammadiyah. Acara itu diprakarsai oleh JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) dan disupport secara penuh oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Acara dibuka langsung oleh Prof. Din Syamsudin, ketua Umum PP Muhammadiyah.

Pak Haedar Nashir datang mengisi Stadium General, bersanding dengan Hilman Lathif, Ph.D yang merupakan perwakilan dari JIMM. Acara tersebut dimoderatori langsung oleh Pradana Boy ZTF.

Di internal Muhammadiyah, dan terutama di kalangan aktivis IMM, nama Haedar Nashir sudah sangat dikenal. Beliau pernah menjadi sekretaris ketika Buya Syafii Ma’arif menjabat ketua Umum. Sejak masih pelajar, Pak Haedar sudah berkiprah di Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Beliau juga menjadi Pimpinan Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah dan membuat banyak tulisan tentang Muhammadiyah. Bukunya yang berjudul “Muhammadiyah sebagai Gerakan Pembaharuan” menjadi salah satu karya yang sangat referensial.

Esai-esainya pun bisa dinikmati di rubrik “bingkai” Majalah Suara Muhammadiyah.

Muktamar ke-47 Muhammadiyah akhirnya memilih beliau sebagai ketua Umum periode 2015-2020. Dalam berbagai forum diskusi, nama beliau memang digadang-gadang bakal menggantikan Prof. Din Syamsudin. Selain Pak Haedar, nama lain yang diperbincangkan adalah Pak Abdul Mu’ti, Pak Syafiq A Mugni, dan Pak Yunahar Ilyas.

Meski Muktamar Muhammadiyah terlihat teduh, tapi dalam berbagai forum diskusi sempat terjadi dinamika tersendiri. Termasuk ketika Pak Haedar Nashir mengisi acara stadium general tersebut, terjadi dinamika diskusi yang tidak hanya berisi kritik, tapi sebagian juga semacam ‘menggugat’.

Seperti yang kita tahu, isu soal JIMM sempat ramai pada Muktamar di Malang 10 tahun silam. Bahkan, saat Pak Din Syamsudin terpilih menjadi ketua Umum, muncul rasa tidak puas dari anak-anak muda Muhammadiyah. Nama JIMM pun sempat diplesetkan dalam berbagai akronim yang menggelikan. Bahkan dalam bukunya, The Defender of Puritant Islam, Pradana Boy menyebut bahwa Muhammadiyah tengah mengalami pergulatan antara kaum konservatif dan Progresif.

Kemenangan Pak Din kala itu, dianggap representasi dari kekuatan kaum konservatif. Meskipun seiring berjalannya waktu, anggapan itu tidak selalu benar. Karena sebagai ketua Umum, Pak Din cenderung moderat. Bahkan Pak Din juga hadir membuka acara Tadarus JIMM tahun lalu.

Pak Haedar Nashir, dalam forum stadium general tersebut menanggapi dengan tenang beberapa keluhan dan juga gugatan anak-anak muda Muhammadiyah. Dengan retoris beliau berkata : Gagasan yang mana yang tidak bisa diterima Muhammadiyah sekarang?

Dibandingkan tiga ketua Umum sebelumnya, sosok Haedar Nashir memang cenderung ‘hening’. Misal, Pak Amien Rais yang begitu kritis terhadap rezim orba. Buya Syafii Maarif pun juga sangat kritis dalam beberapa aspek, tidak hanya soal keberagaman, tapi juga politik. Pak Din Syamsudin juga banyak berbicara di media dalam banyak hal.

Nama lain di Muhammadiyah yang juga sangat kritis menanggapi isu Sepilis (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme), yang statementnya juga banyak dirujuk oleh Umat Islam di Indonesia adalah Pak Yunahar Ilyas. Karena disamping sebagai pengurus pusat Muhammadiyah, beliau juga salah satu ketua MUI. Pak Yunahar pun mendapatkan suara terbanyak kedua setelah Pak Haedar Nashir dalam pemilihan 13 formatur pada Muktamar ke 47 yang lalu.

Namun ‘heningnya’ Pak Haedar Nashir bukan berarti minus persepsi. Tulisan-tulisannya, baik yang berbentuk buku atau esai bisa kita akses dengan mudah. Bahkan Pak Haedar juga mendorong dakwah publikatif baik melalui Suara Muhammadiyah dan Al Manar. Pak Haedar juga menjadi ketua tim penyusun buku putih Indonesia berkemajuan yang menjadi tagline sekaligus tema besar Muktamar ke 47 ini.

Pak Haedar –meminjam istilah Kuntowijoyo—bekerja dalam sunyi. Tidak terlihat tampil, atau ingin tampil di media. Tidak terlihat ingin dikenal dengan, misalkan, mengomentari berbagai hal-hal fundamental baik itu isu sosial, politik, dan agama. Seolah tidak ada ‘ruang ambisi’ bagi Pak Haedar untuk dikenal Publik dan mendapatkan simpati massa.

Terpilihnya Pak Haedar menjadi ketua Umum Muhammadiyah, yang secara kuantitas memiliki kader dan aset yang cukup besar, mungkin tidak terlalu mengejutkan bagi warga Muhammadiyah sendiri, tapi bagi orang diluar Muhammadiyah yang memang kurang begitu tahu dinamika di internal Muhammadiyah, akan bertanya-tanya.

Mengingat, di era yang serba terkoneksi ini, siapapun akan dinilai berdasarkan popularitas ; seberapa banyak ia muncul dan dibicarakan media, dan seberapa luas publik mengenalnya. Maka ukuran seseorang maju menjadi pemimpin, salah satu indikatornya adalah hasil survey. Secerdas apapun dia, kalau survey-nya lemah, maka akan kalah dengan yang (mungkin) biasa-biasa saja, tapi populer dan survey-nya tinggi.

Untung saja, Muhammadiyah dalam memilih pimpinan tertinggi, tidak menggunakan asas one man one vote. Sistem penjaringan calon-calon pun juga melalui proses yang panjang. Sehingga, dengan sistem seperti ini, ‘ruang-ruang popularitas’ seperti survey-survey tidak terlalu berlaku. Warga Muhammadiyah pun juga tidak perlu terpengaruh oleh ukuran aksebtabilitas calon pimpinannya sebagaimana lembaga survey menilai para calon kepada daerah hingga kepala negara. Atau pimpinan parpol dan orsospol lain.

Maka, ‘heningnya’ sosok Haedar Nashir ini bisa dimaknai beberapa hal : beliau memilih diam karena sudah terlalu banyak yang berkomentar tentang isu-isu tertentu, atau beliau ingin fokus bekerja di dalam Muhammadyah tanpa harus terbebani hal lain diluar itu. Karena di era yang serba terkoneksi ini, statement seorang tokoh bisa dipelintir oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan, dan kadangkala, sang tokoh tersebut harus menyisakan waktunya untuk mengklarifikasi hal-hal yang sebenarnya tidak pernah ia maksudkan.

Sosok Haedar Nashir sangat tepat memimpin Muhammadiyah sekarang ini. Mengingat Muhammadiyah memiliki basis massa yang sangat besar. Basis massa ini secara politik sangat menggiurkan. Muhammadiyah juga memiliki aset besar berupa amal usaha yang harus di rawat dan dikembangkan dengan baik. Yang tak kalah pentingnya, mainstream Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan, Islam Kosmopolite, Islam yang mampu berdialog dengan kemajuan zaman, juga harus selalu dijaga.

Pak Haedar Nashir, dengan pembawaannya yang tenang, santun, dan ‘hening’ ini, Insyaallah akan bisa menjaga itu semua. Kita tidak bisa membayangkan jika Muhammadiyah yang begini besarnya, dipimpin oleh seseorang yang ambisius dan politis. Kekuatan Muhammadiyah yang harusnya bisa digunakan untuk memajukan Umat, bisa dibelokkan untuk hal-hal lain.

Tapi, sejauh yang saya pahami selama ini, melihat penjaringan pimpinan yang begitu tersistem dengan rapi, Insyaallah Muhammadiyah akan selalu melahirkan pemimpin yang tepat. Dan sebagai sebuah Ormas Islam, ini adalah sebuah kebanggan yang patut kita syukuri. Selamat memimpin, Pak Haedar. (*)

Blitar, 8 Agustus 2015
A Fahrizal Aziz
(Mantan Aktivis IMM Malang)

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi