Friday, July 6, 2018
(Catatan pemantik)
Wartawan kawakan, Rosihan Anwar, yang sering disebut guru-nya wartawan itu hanya lulusan SMA. Tetapi SMA di zaman Belanda, yang disebut AMS (Algemeene Middelbare School). Waktu itu, se-antero Hindia Belanda jumlah AMS hanya 7 buah.
Jadi bisa dibayangkan, betapa hanya orang-orang tertentu yang bisa mengakses pendidikan jenjang tersebut, itupun sebagian besar siswanya adalah anak Eropa dan Tionghoa.
Selain AMS, ada juga HBS. Hanya kalangan Belanda dan segelintir kaum priyayi saja yang bisa lanjut kesana. HBS meringkas pendidikan SMP dan SMA. Salah satu alumni HBS ini adalah Soekarno.
Sekarang mari simak cerita saya tentang Pak Rosihan :
Belum lama saya "mengenal" Pak Rosihan. Waktu beliau berumur 88 tahun dan masih menulis catatan "napak tilas" ke Belanda, saya baru masuk perguruan tinggi di Malang.
Waktu di Aliyah, meski aktif di Ekstrakurikuler Jurnalistik, namun jika ditanya siapa Jurnalis favorit? Jawaban saya dan sebagian besar yang lain adalah Anchor, seperti yang terkenal waktu itu, Rosiana Silalahi yang masih di liputan6. Arif Suditomo, Aiman Wicaksono, dan Isyana Bagus Okka yang masih di Seputar Indonesia-RCTI.
Najwa Shihab belum populer, begitupun dengan Karni Ilyas, sekalipun sudah sangat senior. Sebab Karni Ilyas baru muncul di panggung akhir-akhir ini, setelah sekian lamanya berproses di balik layar.
Jarang dari kami mengenal nama Rosihan Anwar, BM. Diah, Mochtar Lubis, dan sederet nama lain yang juga tak kalah penting, sebagai wartawan yang menulis dalam beberapa zaman.
Kenapa sosok Rosihan Anwar begitu menarik bagi saya?
Dibanding Dahlan Iskan, Jacob Oetama, atau Goenawan Mohamad, yang wartawan sekaligus pengusaha/bahkan raja media, Rosihan tidak demikian.
Satu-satunya jabatan tertinggi di media adalah ketika memimpin harian Pedoman. Setelah itu, setelah pedoman diberedel orde baru, Rosihan tak lagi bergabung di media, namun terus menulis. Sebagai kontributor, kolomnis, juga aktif mendidik calon-calon wartawan, aktif dalam sejumlah proyek film bersama Usmar Ismail.
Kekuatan terbesar Rosihan sebagai wartawan, justru bukan jabatannya di media, tetapi dari tulisan-tulisannya. Dia pencatat ulung, dokumentator yang canggih, termasuk untuk kisah hidupnya sendiri.
Ingatannya juga kuat, bahkan sebelum meninggal, ia masih aktif bercengkrama, masih sempat mengingat nama-nama suster yang merawatnya, bahkan lengkap dengan tanggal lahir dan asal daerahnya.
Catatan ini saya buat sembari membaca buku berjudul "H. Rosihan Anwar, Wartawan dengan Aneka Citra" yang disunting oleh Tribuana Said. Sebelumnya saya membaca "Napak Tilas ke Belanda", juga menonton beberapa video tentangnya di youtube.
Tentu isi buku di atas lebih lengkap dari catatan ini, hanya saya ingin mengutaran kesan setelah membaca kisah hidup serta tulisan-tulisan Pak Rosihan.
Gaya menulis Pak Rosihan yang khas, yang menurut Jacob Oetama kadang menggunakan gaya "novel".
Ternyata Pak Rosihan sendiri membagi antara wartawan yang sekedar melakukan reportase, dengan wartawan yang sekaligus sebagai pengamat dan pemikir. Itulah kenapa tulisan-tulisan Pak Rosihan tidak saja reportatif, tetapi juga analitis, dengan gaya bahasa yang menarik.
Sepertinya banyak buku sudah beliau baca, termasuk beberapa gaya kepenulisan yang dengan mahir begitu dikuasahi. Entah gaya straight news, feature, esai, hingga sastra.
Satu hal yang juga begitu unik bagi saya, bahwa Pak Rosihan ini lahir tanggal 10 Mei 1922. Pada tanggal dan bulan yang sama, 70 tahun kemudian, saya lahir. 20 tahun berikutnya, saya menjadi pengagum tulisan-tulisan beliau.
Sampai jumpa di catatan berikutnya. []
Blitar, 4 Juli 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Tuesday, April 24, 2018
Oleh A Fahrizal Aziz
Seperti pengetahuan saya tentang Pak Rosihan Anwar, agaknya saya juga terlambat mengetahui sosok satu ini, yang kalau kita cari namanya di google, selalu ditulis pakar kuliner. Pokoknya, sosok satu ini selalu identik dengan makanan.
Padahal, sebelum menjadi presenter acara kuliner, beliau adalah wartawan, dari wartawan biasa sampai menjadi pimpinan redaksi. Tidak banyak yang tahu juga rekam jejaknya sebagai pengusaha. Orang taunya beliau sering incip-incip makanan lalu bilang "maknyus".
Sebenarnya sejak lama saya tahu sosok ini, lewat acara wisata kuliner, atau iklan-iklan di televisi. Beberapa episodenya pernah saya ikuti, terutama ketika mengangkat kuliner di Malang dan Surabaya.
Hanya, saya kurang begitu memperhatikan dengan seksama, sebagimana dulu ketika mendengar nama Rosihan Anwar. Baru setelah membaca esai-esai Pak Rosihan, saya jatuh hati.
Persis, ketika saya melihat playlist channel youtube "Manusia Indonesia" (MI) yang dibawakan Fahmi. Ada sesi wawancara dengan tokoh ini. Pikir saya, kok yang diangkat tokoh ini?
Beberapa episode MI mengangkat tokoh-tokoh "berat" seperti Haidar Bagir, Franz Magnis Suseno, Dahlan Iskan, bahkan pernah juga mengangkat tokoh luar negeri. Kenapa kali ini mengangkat presenter kuliner?
Ah, ternyata saya keliru. Mendengar wawancaranya, ternyata tokoh ini bukan sekedar tukang incip, bukan sekedar presenter kuliner yang sekarang mungkin jumlahnya sudah banyak, dengan wajah yang lebih muda, lebih segar.
Tapi tokoh ini punya perspektif tersendiri soal kuliner, termasuk ketika menjelaskan soal kecap manis.
"Kecap manis ini khas Indonesia, ini pusaka nusantara, kalau kecap asin dari China. Orang sering menganggap sepele kecap, padahal ini mahakarya," jelasnya.
Lalu, apa perbandingannya ketika beliau membawakan acara kuliner, dengan presenter lain? Mungkin kalau presenter lain hanya akan berkomentar biasa : enak, garamnya pas, agak pedas, bumbunya meresap, dagingnya empuk, dan seterusnya.
Tokoh ini agak beda. Waktu di Lawang, Malang, ia sempat mengkritisi rawonnya. Mengkritisi kriteria rawon. "Ini enak, tapi kayaknya tidak cocok disebut rawon. Mungkin sup pedas lebih pas," ujarnya.
Belum lagi, ketika mencicipi masakan di sebuah warung atau rumah makan, selepas mencicip langsung bisa menebak bumbunya, bahkan bumbu yang tidak umum digunakan.
"Ini agak ada rasa pahitnya, dari gingseng ya?" Tanyanya pada pemilik warung, dan pemilik warung langsung membenarkan.
Kadang juga, beliau membandingkan masakan yang dicicipinya, dengan masakan lain di luar negeri. Wawasannya soal "budaya makan" pun juga sungguh memukau.
"Orang eropa, khususnya Italy, mereka lebih suka makanan yang aldente, artinya setelah dimakan rasanya masih nyangkut di gigi dan mulut, seperti spageti. Beda dengan orang Indonesia, yang kalau ada makanan seperti itu, dikiranya belum matang," jelasnya dalam salah satu episode.
Bagaimanapun, tokoh ini memang bukan sekedar presenter, namun adalah seorang Jurnalis. Ketika memutuskan terjun ke dunia kuliner, Jurnalismenya tetap kuat. Kemampuannya mendeskripsikan obyek juga sangat khas. Khas Jurnalis senior.
Meski beliau sendiri merasa khawatir, sebab diusianya yang tidak lagi muda, masih terus incip-incip makanan yang lezat menggoda, yang belum tentu baik untuk tubuhnya.
"Pekerjaan ini sebenarnya mengandung resiko yang besar, saya bisa mati," ucapnya ketika wawancara dengan Rhenald Kasali.
Satu hal yang beliau sesalkan, yaitu pemahaman publik bahwa kuliner berarti makan-makan. Padahal ingin sekali bisa berbagi soal makanan sehat dan bergizi. Namun belum terealisasi, karena program semacam itu ratingnya rendah di televisi.
Sampai akhirnya ia memutuskan pensiun, dan impiannya untuk membuat program televisi makanan sehat juga tidak akan terwujud, sebab Tuhan telah memanggilnya 29 November 2017 lalu, diusia 67 tahun.
Beliau adalah Pak Bondan Winarno. []
Blitar, 24 April 2018
Saturday, November 18, 2017
Sebagai tokoh bangsa, sosok Sukarni sangat lekat dengan peristiwa Rengasdengklok. Ia termasuk dari tokoh muda kala itu, yang mendesak Soekarno-Hatta untuk lekas memproklamirkan kemerdekaan. Namun Sukarni memiliki rekam jejak dalam bidang pergerakan, politik dan pemerintahan yang patut dibaca lebih mendalam.
Masa Kecil dan Remaja
Lahir dengan nama Sukarni Kartodiwirjo, 14 Juli 1916 di desa sumberdiren kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, dari pasangan Kartodiwirjo dan Supiah. Sukarni adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara.
Ayahnya, Kartodiwirjo adalah pemilik jagal sapi, yang menjual daging di pasar Garum, yang masih keturunan Eyang Onggomerto, salah satu prajurit Pangeran Diponegoro. Sehingga, dibandingkan pribumi lain kala itu, kehidupan Sukarni terbilang berkecukupan.
Menurut Ki Purwanto, Budayawan Blitar, eyang Onggomerto lebih dikenal sebagai tabib, karena selain bagian dari Laskar Diponegoro, Eyang Onggomerto juga memiliki keahlian dalam bidang pengobatan, terutama mengobati prajurit yang terluka karena perang.
Sejak masih SR (Sekolah Rakyat) sampai MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau setingkat Sekolah Menengah, Sukarni memang sering membuat masalah dengan Belanda, termasuk seringnya mengajak bertengkar anak-anak Belanda.
(rumah masa kecil Sukarni di Garum)
Pernah ia menantang duel anak-anak Belanda di dekat Kebun raya Blitar (sekarang Kebonrojo), dan pihak yang kalah harus diceburkan ke kolam dekat mereka duel tersebut. Karena terus berulah, Sukarni kemudian dikeluarkan dari MULO.
Keluar dari MULO, ia kemudian disekolahkan ke Yogyakarta. Disana Ia dididik oleh seorang guru bernama Moh. Anwar, pendiri Mardisiswo dari Banyumas, yang juga tokoh Pergerakan nasional. Mardisiswo adalah sebuah lembaga Pendidikan semacam Taman Siswa kala itu, yang mengajarkan tentang nasionalisme dan kebangsaan.
Di usia yang masih belasan tahun ia bergabung dalam sebuah Partai Politik bernama Partindo (Partai Indonesia) dan atas rekomendasi Ibu Sukarmini (atau lebih dikenal dengan nama Ibu Wardoyo) dikirim ke Bandung untuk mengikuti kursus Perkaderan Politik. Disinilah ia bertemu dengan Soekarno yang kala itu menjadi mentor.
Di Bandung, selain mengikuti Perkaderan Politik, Sukarni juga sekolah Jurnalistik di Universitas Rakyat. Dari sinilah wawasan Kejurnalistikannya terasah, sehingga pada kemudian hari bekerja di Lembaga berita Antara bersama Adam Malik, dkk.
Di Bandung, Sukarni indekos di rumah Bu Inggit, Istri Soekarno. Menurut Kiswoto, keponakan Sukarni, sebenarnya antara Bung Karno dan Bung Karni tidak memiliki hubungan kekerabatan. Hanya karena kedekatan keluarga Pak Karto dengan Ibu Wardoyo kala itu.
Hubungan Sukarno dan Sukarni pun akhirnya nampak unik, mungkin karena sama-sama putra Blitar dan sekaligus memiliki nama yang hampir serupa.
Dalam kursus perkaderan politik ini pula, Sukarni berkenalan dengan teman sejawat yang kemudian juga dikenal sebagai tokoh pergerakan Indonesia seperti Wikana, Asmara Adi, dan SK Trimurti.
Sekembalinya dari Bandung, ia mendirikan Organisasi Persatuan Pemuda Kita yang masih satu jaringan dengan Indonesia Muda. Indonesia Muda adalah organisasi kepemudaan yang menyebar ke berbagai daerah, termasuk di Blitar waktu itu. Organisasi ini mendidik anak-anak muda tentang pentingnya nasionalisme, yang salah satu gerakannya menentang pemerintahan kolonial Belanda.
Karena namanya sudah dikenal secara luas, Sukarni yang kala itu menjadi Ketua Cabang Indonesia Muda Blitar, pada tahun 1935 berhasil menjadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda (PBIM).
Masa Perjuangan Menghadapi Penjajah
Karena masifnya gerakan Indonesia Muda, maka Belanda pun menjadi resah dan terus memantau aktivitasnya. Sampai pada tahun 1936, Politieke Inlichtingen Dienst (PID) bentukan Belanda melakukan penggrebekan di kantor PBIM, karena dianggap membahayakan.
Informasi penggrebekan tersebut sudah diketahui Sukarni sebelumnya, sehingga ia bisa melarikan diri. Sampai pada masa terakhir kekuasaan Belanda, Sukarni hidup dalam pelarian. Mulanya ia lari ke Kediri, lalu ke Banyuwangi dan kemudian menyebrang ke Kalimantan.
Sayang ia tertangkap di Balikpapan dan dipenjara di Samarinda tahun 1941. Pengadilan kemudian memutuskan ia dibuang ke Boven Digul, Papua. Namun dalam masa tunggu ia dipenjara di Garut, Jawa Barat. Belum sampai dieksekusi ke Boven Digul, kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang dan Sukarni kemudian dibebaskan.
Meski begitu, keinginan besar Sukarni agar negara Indonesia merdeka tidak pernah surut, apalagi setelah tahu betapa kejamnya Pemerintahan kolonial Jepang. Setelah bebas, ia bekerja di kantor berita antara yang didirikan Adam Malik. Sebelumnya, ia juga sempat bekerja di Sendenbu (departemen propaganda) Pada masa itulah ia berkenalan dengan Tan Malaka, tokoh pergerakan yang sangat mempengaruhi alam berfikirnya.
Aktivitasnya di dunia pergerakan juga terus bergelora. Pada tahun 1943, bersama Chaerul Shaleh ia memimpin Asrama Pemuda di Menteng 31. Tempat ini kemudian menjadi salah satu basis pergerakan anak muda kala itu, dan melahirkan banyak tokoh penting angkatan 45. Tempat itu sekarang bernama gedung joeang.
Jepang pun memberikan janji kemerdekaan kepada Indonesia, dengan membentuk BPUPKI, yang merupakan hasil dari kongres pemuda seluruh Jawa pada 16 Mei 1945 yang diprakarsai Angkatan Muda Indonesia. Kongres tersebut melahirkan dua resolusi yaitu mempersatukan pemuda di bawah pimpinan nasional dan mempercepat proklamasi kemerdekaan.
Namun kubu Sukarni nampak tidak puas karena masih ada campur tangan pihak Jepang. Hal tersebut didukung oleh dua kawannya, Harsono Tjokroaminoto yang juga putra H.O.S Tjokroaminoto dan Chaerul Shaleh. Mereka pun menyiapkan gerakan muda tandingan melalui pertemuan rahasia 3 dan 15 Juni 1945, yang mana pada pertemuan ini dibentuklah Gerakan Angkatan Baru Indonesia.
Gerakan tersebut berjumlah 80 orang dari berbagai unsur, termasuk dari pihak Jepang, golongan Cina, Arab dan Peranakan Eropa. Tanpa sepengetahuan golongan tua dan BPUPKI, mereka melakukan berbagai kampanye dan propaganda agar kemerdekaan Indonesia sepenuhnya lepas dari campur tangan Jepang.
Sementara itu, Kekuatan Militer Jepang semakin melemah karena perang dunia II. Disatu sisi pihak Indonesia, terutama BPUPKI terus mendesak agar ada perundingan lebih lanjut soal Proklamasi Kemerdekaan. Namun justru Jepang membubarkan BPUPKI dan menggantinya dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 7 Agustus 1945 yang diketuai oleh Soekarno, sementara Hatta sebagai wakil dan Ahmad Subarjo sebagai Penasehat.
Golongan muda semakin tak percaya dengan Jepang dan terus melakukan gerakan yang radikal. Apalagi setelah Gunseikan Mayor Jenderal Yamamoto mengatakan bahwa PPKI juga dipilih oleh Jenderal Besar Terauci, sehingga Soekarno-Hatta diundang ke Dalat Vietnam Selatan untuk pengangkatan.
Keinginan kaum muda itu semakin berkobar setelah tahu bahwa Jepang kalah dalam perang dunia II dan menyerah kepada sekutu pada 15 Agustus 1945. Sementara Soekarno-Hatta baru kembali dari Vietnam dan belum mengetahui kabar tersebut.
Kaum muda pimpinan Sukarni, didukung oleh pergerakan bawah tanah pimpinan Sutan Syahrir, kemudian mendesak agar Proklamasi dipercepat, sebelum Indonesia dikuasai oleh sekutu yaitu Inggris dan Amerika. Hal ini berkaca pada pengalaman ketika Belanda kalah dari Jepang dan dengan cepat Indonesia dikuasai Jepang, meskipun taktik Jepang waktu itu sebagai suadara tua.
Golongan muda pun mengutus Wikana dan Darwis untuk menyampaikan hal tersebut kepada Soekarno-Hatta. Sekitar pukul 22.30 keduanya menemui Soekarno. Disana ada Moh. Hatta, dr. Buntaran, dr. Samsi, Mr. Ahmad Subarjo dan Iwa Kusumaningrat.
Golongan muda mendesak malam itu juga lekas diadakan Proklamasi, namun golongan tua menolak, karena besok harinya baru akan diadakan rapat PPKI. Menurut Ki Purwanto, kala itu terjadi ketegangan antara golongan tua, terutama tim PPKI dengan golongan muda. Bahkan Wikana mengancam akan terjadi pertumpahan darah, namun Soekarno justru menantang dan menyerahkan lehernya jika ingin menghabisinya.
Golongan muda ingin Indonesia lekas merdeka tanpa campur tangan Jepang, sementara golongan tua anggota PPKI yang diketuai Soekarno tetap ingin menghormati hasil perundingan dengan pihak Jepang. Sehingga rapat bersama tanggal 16 Agustus tersebut perlu diadakan.
Karena mengalami kebuntuan, dan khawatir PPKI akan dicurangi Jepang, maka golongan muda melakukan tindakan sangat radikal dengan menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya untuk mengamankan Soekarno-Hatta dan agar terhindar bisikan dari Jepang untuk menunda Proklamasi.
Masih menurut Ki Purwanto, tindakan ini sengaja dilakukan untuk memecah suara PPKI atau agar rapat PPKI tidak bisa berjalan. Shudanco Singgih mendapatkan tugas “penculikan” tersebut dibantu oleh Cudanco Latief Hendraningrat yang kala itu sedang menggantikan Daidanco Kasman Singodimedjo yang juga merupakan anggota PPKI.
Pertemuan PPKI pun tanpa dihadiri oleh Soekarno-Hatta, sehingga membuat anggota lain bertanya-tanya. PPKI kemudian diwakili oleh Ahmad Subarjo dan meminta kaum muda agar memulangkan Soekarno-Hatta, namun golongan muda menolak, sampai Ahmad Subarjo kemudian menegaskan, bahkan mempertaruhkan nyawanya bahwa Proklamasi akan dilaksanakan selambat-lambatnya besok pukul 12.00.
Karena jaminan tersebut Soekarno-Hatta pun dikembalikan ke Jakarta dan hari itu juga Proklamasi dipersiapkan, salah satu yang paling penting adalah naskah proklamasi. Soekarno ingin semua yang terlibat menandatangani naskah tersebut, namun Sukarni memberi usul cukup diwakilkan Soekarno-Hatta saja.
Soekarno sempat menolak sampai akhirnya forum menyepakati hal tersebut. Setelah itu, Soekarno-Hatta pun memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dimana Soekarno-Hatta mewakili bangsa Indonesia, sebagaimana usul dari Sukarni.
Kiprah Pasca Kemerdekaan
Peran penting Sukarni selepas kemerdekaan antara lain membentuk Comite van aksi sehari setelah kemerdekaan yang bertujuan mengabarkan kemerdekaan ke seluruh pelosok Indonesia. Melalui jaringannya di kalangan pemuda, dibentuklah Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan karena sebagian besar rakyat Indonesia kala itu sebagai buruh, maka dibentuk pula Barisan Buruh Indonesia (BBI) yang kemudian melahirkan Laskar Buruh dan Laskar Buruh Wanita.
Pada 3 September 1945 ia menginisiasi pengambilalih jawatan Kereta Api, bengkel manggarai, stasiun-stasiun kereta api, angkutan umum, dan stasiun radio yang sebelumnya dikuasahi oleh Jepang, sehingga fasilitas publik tersebut menjadi milik Republik Indonesia.
Ia juga salah satu aktor yang menggelar rapat raksasa di lapangan Ikada yang dihadiri ribuan warga. Rapat ini terjadi 19 September 1945, sebagai bentuk dukungan rakyat terhadap kemerdekaan sekaligus menunjukkan ke dunia International bahwa Indonesia telah sah sebagai negara yang merdeka.
Tahun 1946 Sukarni terpilih menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) dibawah Tan Malaka, yang mana ia sangat keras menentang perundingan antara RI dengan Belanda. Karena sikapnya inilah ia dipenjara, meski tidak berlangsung lama.
Setelah kemerdekaan, Sukarni beberapa kali pulang ke kampung halamannya di Blitar. Menurut Keponakannya, Kiswanto, yang juga putra dari Suparti, adik kandung Sukarni, Sukarni biasanya pulang pada hari raya idul fitri. Kegiatan yang pasti dilakukan ketika pulang adalah berziarah ke makam orang tuanya, yang berjarak sekitar 3,5 kilometer dari rumahnya.
Waktu itu Kiswanto masih kecil dan sering menemani Sukarni berziarah ke makam Orang tua. Yang menarik, Sukarni lebih memilih jalan kaki, sembari membawa sembako atau uang untuk dibagikan kepada warga yang kurang mampu ketika bertemu di jalan.
Pada awal kemerdekaan, setiap kali pulang ke Blitar Sukarni masih sering diincar Belanda yang kala itu berhasrat untuk menguasahi kembali. Karena itu Sukarni tidak pernah tenang, dan harus bersembunyi. Kalau di Blitar, Sukarni sering menepi di lereng gunung kelud untuk menghindari Belanda.
Ketika bersembunyi tersebut, Sukarni sering mendapati penjual minyak tanah yang dipanggul dan lalu menjualkannya, sementara pemiliknya diminta mengikuti dari belakang. Tak hanya penjual tanah, begitu pun dengan penjual klotong. Dahulu banyak yang berjualan dengan cara dipanggul lalu berkeliling jalan kaki.
Selain itu, hal yang selalu dirindukan Sukarni tiap kali pulang ke Blitar adalah pecel. Ia selalu meminta keponakannya untuk membelikan pecel sebagai menu sarapan pagi. Hal-hal unik inilah yang selalu dikenang Kiswanto, tiap kali mengingat sosok Pamannya tersebut.
***
Hubungan dekatnya dengan Tan Malaka kemudian membuahkan sebuah gagasan bersama untuk mendirikan Partai Politik yang disebut Partai Murba (Musyawarah rakyat banyak) tahun 1948. Tokoh lain yang juga terlibat pendirian Partai ini adalah Adam Malik dan Chaerul Shaleh. Namun Tan Malaka menghilang 3 bulan setelah Partai berdiri, yang konon ditembak mati di Kediri.
Sementara Sukarni duduk sebagai ketua Umum. Partai Murba mengikuti dua kali Pemilu di tahun 1955 dan 1971. Partai Murba termasuk salah satu yang menentang PKI waktu itu, dan berselisih paham tentang peristiwa 1926/1927 sejak era Muso. Bahkan Tan Malaka pernah terlibat perdebatan sengit dengan Muso.
Ki Purwanto menjelaskan, meski sama-sama berhaluan Sosialis, namun Partai Murba dan juga Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Sutan Syahrir lebih bercorak humanis. Sementara PKI sangat ekstrem, sampai hendak mempersenjatai para buruh dan petani.
Karir politiknya berlanjut, setelah pada pemilu 1955 ia terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante, lalu menjadi diplomat sebagai duta besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia dari tahun 1961-1964. Salah satu keberhasilan Sukarni sebagai dubes adalah meyakinkan Tiongkok untuk mengakui Irian barat sebagai bagian dari NKRI.
Suhu politik memanas ketika Sukarni kembali ke Indonesia. Waktu itu ia melihat betapa kuatnya PKI dan betapa condongnya Soekarno kepada Partai yang dipimpin D.N Aidit tersebut. Sukarni kemudian menemui Soekarno di Istana Bogor dan memperingatkan agar Soekarno jangan terlalu dekat dengan PKI.
Ternyata Soekarno tidak berkenan, Partai Murba bersama Partai lain termasuk diantaranya Masyumi dan PSI, dibekukan dan tokoh-tokohnya dipenjara termasuk Sukarni. Selama sisa kekuasaan Soekarno, Sukarni mendekam di penjara dan baru dibebaskan setelah gejolak 1965 mereda.
Namun menurut Dr. Emalia, yang juga anak bungsu Sukarni, ketika di Bui itulah Sukarni justru selamat dari penculikan yang ditengarai dilakukan oleh PKI. Waktu itu ada dua tentara Tjakrabirawa yang hendak menjemput Sukarni di dalam penjara, namun gagal karena penjagaan dari Polisi militer.
Pada waktu itu sosok Sukarni tentu sangat penting karena ia pernah mejabat sebagai duta besar untuk Tiongkok, yang merupakan salah satu negara komunis terbesar di dunia setelah Uni Soviet. Tentu Sukarni memiliki banyak informasi terkait gerakan Komunis global.
Partai Murba pun direhabilitasi kembali, dan Sukarni diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sebagai penasehat Presiden Soeharto pada 1967. Ki Purwanto menjelaskan, diangkatnya Sukarni menjadi DPA, selain karena kedekatannya dengan Adam Malik yang saat itu mejabat Wakil Presiden, juga karena Sukarni menjadi salah satu deklarator fusi partai politik.
Di tahun tersebut, Sukarni kehilangan istri tercinta, Nursjiar Machmoed. Perempuan minang tersebut meninggalkan Sukarni dan lima orang anak. Sukarni sendiri meninggal di usia 54 tahun pada 7 Mei 1971 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Menurut informasi dari keluarga, Sukarni meninggal karena serangan jantung.
Pada tanggal 7 November 2014, Sukarni mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo sebagai tokoh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Tentu nama Sukarni sangat layak mendapatkan gelar ini, mengingat kiprahnya dalam mendidik anak-anak muda, serta sumbangsihnya dalam mengabarkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. []
Blitar, 10 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com
Sumber tulisan :
Wikipedia
Pahlawancenter.com
Tempo.co
Buku Banjaran Bung Karni Karya Ki Purwanto
Wawancara dengan Ki Purwanto
Wawancara dengan Kiswanto, Keponakan Sukarni
Saturday, November 11, 2017
Tahun ini, FLP Blitar akan menerbitkan buku kumpulan puisi. Ada lebih dari 70 puisi dalam berbagai judul dan gaya, dengan tema besar tentang Blitar. Menariknya, buku ini akan ditutup sebuah Epilog yang ditulis oleh Sastrawan Senior, Tengsoe Tjahjono.
Dalam lebih dari 20 paragraf, beliau menulis sekilas tentang Blitar, apresiasi buku secara umum, sampai mengomentari beberapa puisi yang ada di dalamnya. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri, sebab beliau adalah Sastrawan papan atas, yang sudah malang melintang di dunia sastra, dan juga sebagai akademisi yang mengajarkan sastra di kampus-kampus.
Pak Tengsoe memberikan apresiasi untuk karya penulis Blitar, dalam sebuah pragraf berikut :
".. Kekayaan tradisi, peninggalan budaya, dan alam Blitar itu telah menginspirasi beberapa penulis muda yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena Blitar. Dari tangan mereka lahirlah larik-larik puisi tentang Blitar yang mereka cintai. Di Blitar mereka hidup, pergi, dan kembali. Jatuh bangun mereka bersama Blitar mereka tulis dalam larik-larik apik..."
Epilog lengkapnya bisa dibaca pada buku kumpulan puisi, yang rencana dilaunching pada 10 Desember 2017 nanti.
Buku tersebut akan dicetak terbatas, jadi jika berminat memilikinya, silahkan pre order di nomor 085755944234 (Wa/sms) dengan format NAMA <spasi> ALAMAT <spasi> JUMLAH EKSEMPLAR.
Nanti akan kami informasikan jika buku telah terbit. Tebal buku sekitar 200-an halaman, dengan harga maksimal 45.000. Saat ini naskah dan desain sudah mencapai 80%.
****
Lalu siapa Pak Tengsoe? Bagi para penyair, pegiat sastra dan atau penikmat puisi, tentu sering mendengar nama beliau. Selain sebagai Sastrawan Senior, beliau juga Akademisi bergelar Doktor.
Menamatkan studinya hingga s3 di Universitas Negeri Malang, yang dulu bernama IKIP, beliau kini menjadi dosen di Universitas Negeri Surabaya dan pernah menjadi dosen tamu di Hankuk University of foreign Studies, Korea.
Karyanya tidak saja berupa puisi, namun juga penelitian ilmiah tentang karya sastra, sampai kritik-kritik sastra. Puisi-puisinya pun juga banyak terserak di media massa, yang sebagian bisa dilacak melalui Internet.
Buku kumpulan puisi karya penulis Blitar ini, yang disumbang oleh banyak orang dari berbagai latar belakang, yang tidak kesemuanya menggeluti dunia tulis menulis, akan menjadi karya referensial dan mungkin monumental bagi Blitar.
Beberapa tokoh dan pegiat sastra juga memberikan endors/komentar pada antologi ini, antara lain Bu Indah Iriani, pendiri Blitar Heritage Society. Pasangan penyair W. Haryanto da Puput Amiranti, Hasnan Bachtiar Mahasiswa S2 Australia National University, Yanu Aribowo wartawan Radar Blitar, dll
Semoga karya ini bisa menjadi, semacam persembahan berharga, untuk mengabadikan Blitar dalam sejumlah puisi yang beraneka rasa. Aamiin.
Blitar, 10 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com
Tuesday, November 7, 2017
Saat wawancara, sebagaimana wartawan, saya sering kali mengajukan pertanyaan kritis, namun selalu dijawab santai dengan retorika yang baik.
Maklum, fikir saya, karena beliau adalah doktor bidang Sosiologi. Gaya bertuturnya pun khas seperti Kyai, yang llincah, humoris, nan sulit dibantah.
Misal, ketika saya mengajukan pertanyaan seputar pohon keilmuan yang selalu beliau banggakan, dan menjadi konsep pengembangan keilmuan di kampus. Akar dari pohon itu adalah Filsafat, bahasa, dan ilmu-ilmu dasar. Sementara batangnya Al Qur'an dan Al Hadits.
Kenapa Al Qur'an dan Sunnah tidak dijadikan akar? Itu berarti filsafat dan bahasa lebih penting?
Hal ini juga sempat menjadi pertanyaan banyak orang. Jika begitu maka UIN bisa melahirkan pemikir-pemikir liberal karena mendahululan logika/filsafat dalam mengkaji Al Qur'an dan Sunnah.
Lho? Kalau tidak bisa bahasa arab, kamu bisa baca Al Qur'an? Tanya beliau. Kalau tidak memahami landasan filosofis suatu ilmu, lalu bagaimana kamu mempelajarinya?
Ternyata jawabannya begitu sederhana. Filsafat dalam hal ini bukan untuk membredel Al Qur'an dan Sunnah, melainkan untuk mencari landasan filosofis suatu ilmu. Sementara ilmu, kata beliau, dibagi dalam tiga kelompok besar. Yaitu, sosial, sains, dan humaniora.
Dalam hidup, hal-hal filosofis menjadi sangat penting digali demi menemukan makna-makna. Apa, bagaimana, mengapa. Apa itu ilmu, bagaimana cara memperolehnya, dan untuk apa harus dikuasai/diciptakan?
Nah, dalam rangka mencari ketiganya tersebut, kita perlu membaca Al Qur'an dan Sunnah, sebagai petunjuk. Akan dijelaskan apa itu ilmu, apa saja jenisnya, bagaimana sampai mengapa diciptakan dan mengapa menusia harus mempelajari.
Menarik! Obrolan disela-sela wawancara tersebut seolah merangkum berbagai perkuliahan, atau proses keilmuan yang selama ini saya jalani, yang kadang berlangsung begitu saja.
Soal kemudian disinggung, kembali ke Al Qur'an dan Sunnah, sebenarnya ya tidak jauh berbeda. Kata beliau, konsep keilmuan di kampus ini ya sejalan dengan doktrin Muhammadiyah ruju' ila Qur'an wa Sunnah. Hanya konteksnya dalam hal Ilmu pengetahuan.
Meski kalimat "ruju' ila Qur'an wa Sunnah" terdengar nyaring dan renyah dibaca, namun penerapannya tidak mudah. Bahkan tak sedikit yang kemudian terjebak hanya mencomot terjemahan demi terjemahan, sehingga jadilah ia kaum tekstualis-skripturalis.
Sehingga HPT menjadi penting sebagai "alat bantu" memahami Al Qur'an dan Hadits, sebab tidak semua orang ahli dalam bidang tafsir Qur'an. Apalagi, menafsirkan Al Qur'an juga tidak cukup dengan metodologinya, tapi harus juga mempertimbangkan kajian lain. Buku-buku sosiologi dan sains juga bagian dari "alat bantu" tersebut.
Sepertinya memang sebagian konsep pengembangan keilmuan di kampus ini, disumbang oleh ideologi Muhammadiyah. Prof. Imam sendiri yang mengatakan demikian. Maklum, karena beliau lama bekerja di UMM, 20 tahun lebih. []
Blitar, 7 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
Disarikan dari berbagai obrolan dengan Prof. Dr. Imam Suprayogo, mantan rektor UIN Malang.
Monday, November 6, 2017
Sebagai wartawan kampus kala itu, setidaknya saya dua kali wawancara beliau, dan dua kali pula, secara esklusif, datang ke kantor untuk menyerahkan undangan acara IMM.
Sebagai rektor yang sibuk, saya kira beliau akan melewatkan begitu saja setiap tulisan yang saya buat, kemudian dengan sengaja saya tag ke akun facebook beliau. Tentu tulisan tersebut yang berkaitan dengan beliau.
Ternyata tidak, bahkan beliau sempat membacanya. Satu tulisan, yang saya buat ketika masih semester pertama, bahkan dikomentari langsung melalui kolom komentar pada note tersebut.
Ketika beliau kemudian ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan lahan kampus II, saya juga membuat tulisan, dan tak dikira pula tulisan tersebut dibaca Prof. Imam, bahkan setelah itu beliau menelepon hampir satu jam lamanya, menjelaskan detail kronologi pengadaan lahan dsb.
Alhamdulilah kemudian kasus itu tidak berlanjut dan status tersangka beliau pun dicabut.
Tapi saya tidak dekat dengan beliau, selain hanya sebagai mahasiswa dan dosen. Meski kerap kali ada anggapan begitu, sebab karena saya bekerja di Majalah Suara Akademika milik Kemahasiswaan, dan karena kedekatan tersebut saya bisa masuk dan jadi P.J rubrik wawancara di kemudian hari.
Tidak begitu adanya, meski Kabag Kemahasiswaan adalah orang yang loyal dengan Prof. Imam, dan terkenal lincah dalam membangun komunikasi dengan OMEK.
Bahkan masuknya saya ke Suara Akademika, tidak atas rekomendasi IMM. Meski ada peluang untuk itu. Saya daftar, mengikuti seleksi sangat ketat, termasuk seleksi lapangan.
Bahkan Kabag Kemahasiswaan baru tahu kalau saya IMM, setelah saya masuk. Seleksi semacam itu konon tidak diberlakukan lagi pada tahun-tahun berikutnya, sehingga Majalah tidak terbit lagi. Karena sifatnya rekomendasi, belum tentu memenuhi kualifikasi.
Prof. Imam pun ketika bertemu saya, belum tentu ingat sepenuhnya, baru ingat kalau misal ditambahi penjelasan, anak IMM, yang ngurusi penelitian.
Ya, sebab ketika saya menjadi Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) PC IMM Malang, meski kala itu statusnya sudah resign, Prof. Imam bersedia hadir mengisi stadium general pada acara Workshop Riset.
Bangga karena beliau bersedia hadir, dan tentu saja selalu menolak diberi fee. Bahkan tak jarang kemudian malah dimarahi, "mahasiswa dana minus kok coba-coba ngasih amplop?" Tentu dengan nada bercanda. Artinya, beliau memang senang berbagai ilmu dan pengalaman, terutama dengan anak-anak IMM.
Tapi ada perbincangan menarik, ketika suatu saat saya menemui beliau di kantor. Suasana sepi waktu itu, Prof. Imam duduk di meja sambil menandatangani sertifikat yang menumpuk. Kantor rektor sangat luas, mewah dan ada kursi tamu yang memanjang.
Waktu itu Prof. Abdul Munir Mulkhan mau datang ke Malang dalam rangka safari buku terbarunya. Informasi tersebut disampaikan oleh mantan pengurus DPP IMM mas Ulul Azmi Rizal.
Saya mengajukan surat permohonan kepada Prof. Imam sebagai pembanding, sekaligus menyerahkan buku terbaru Prof. Munir Mulkhan. "Kok baru bikin buku ndak bilang saya ya?" Ucap Prof. Imam sembari membolak-balik buku tersebut.
"Pak Munir itu selalu, kalau bikin buku mesti yang berat-berat," lanjutnya, disertai tawa.
Tentu Prof. Imam sendiri tidak bisa memastikan apakah waktu itu bisa menjadi pembanding. Saya harus menemui sekretarisnya untuk mengecek jadwal. Pada hari pelaksanaan bedah buku, Prof. Imam akan kedatangan tamu dari Sudan, jam 10 pagi.
Sementara jadwal bedah buku dari jam 08.00-11.30. Itupun biasanya molor. Setelah itu saya kembali ke ruangan Prof. Imam, biasanya kalau ada tamu jam segitu, sudah termasuk pagi. Sehingga agenda lain tidak bisa terpenuhi.
Sayangnya, karena IMM agak telat menyampaikan surat, dan jadwal rektor tentu sangat padat. Tapi saya bilang saja ada waktu, apalagi setelah "agak berbohong" kalau ini langsung permintaan dari Prof. Mulkhan.
Benar, acara dimulai sekitar pukul 09.00. Sementara Prof. Imam berada di forum sampai sekitar pukul 10.30. Berulang kali saya dihubungi sekretaris beliau, karena Prof. Imam jarang buka hp kalau sedang di forum, apalagi kalau sudah berbicara, sangat berapi-api.
Tapi akhirnya sekretaris berhasil juga menjangkau ponsel beliau, sehingga sebelum acara berakhir, beliau pamit kembali ke kantor. Demi IMM, tamu dari Sudan harus menunggu hampir satu jam.
Blitar, 6 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
Disarikan dari berbagai obrolan dengan Prof. Dr. Imam Suprayogo, mantan rektor UIN Malang.
Sunday, November 5, 2017
Sebagai tokoh bangsa, sosok Sukarni sangat lekat dengan peristiwa Rengasdengklok. Ia termasuk dari tokoh muda kala itu, yang mendesak Soekarno-Hatta untuk lekas memproklamirkan kemerdekaan. Namun Sukarni memiliki rekam jejak dalam bidang pergerakan, politik dan pemerintahan yang patut dibaca lebih mendalam.
Lahir dengan nama Sukarni Kartodiwirjo, 14 Juli 1916 di desa sumberdiren kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Sukarni kecil dikenal hobi berkelahi dengan anak-anak Belanda. Ia sendiri lahir dari keluarga yang cukup berada, dan mendapat pendidikan yang baik.
Ia dididik oleh seorang guru bernama Moh. Anwar, pendiri Mardisiswo. Mardisiswo adalah sebuah lembaga Pendidikan semacam Taman Siswa kala itu, yang mengajarkan tentang nasionalisme dan kebangsaan. Karena itulah sejak kecil ia paham siapa Belanda, yang saat itu menjajah bumi pertiwi.
Di usia yang masih belasan tahun ia bergabung dalam sebuah Partai Politik bernama Partindo (Partai Indonesia) dan dikirim ke Bandung untuk mengikuti kursus Perkaderan Politik. Disinilah ia bertemu dengan Soekarno yang kala itu menjadi mentor. Soekarno yang sudah bergelar Insinyur memang dikenal sebagai tokoh pergerakan yang ulung, dan dipuja banyak orang.
Dalam kursus perkaderan politik ini, Sukarni berkenalan dengan teman sejawat yang kemudian juga dikenal sebagai tokoh pergerakan Indonesia seperti Wikana, Asmara Adi, dan SK Trimurti.
Sekembalinya dari Bandung, ia mendirikan Organisasi Persatuan Pemuda Kita yang masih satu jaringan dengan Indonesia Muda. Indonesia Muda adalah organisasi kepemudaan yang menyebar ke berbagai daerah, termasuk di Blitar waktu itu. Organisasi ini mendidik anak-anak muda tentang pentingnya nasionalisme, yang salah satu gerakannya menentang pemerintahan kolonial Belanda.
Sukarni kemudian terus melanjutkan Pendidikan ke Yogyakarta, sampai merantau ke Jakarta, dan pada tahun 1934 berhasil menjadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda (PBIM). Karena masifnya gerakan Indonesia Muda, maka Belanda pun menjadi resah dan melakukan penggrebekan di kantor PBIM tahun 1936.
Informasi penggrebekan tersebut sudah diketahui Sukarni sebelumnya, sehingga ia bisa melarikan diri. Sampai pada masa terakhir kekuasaan Belanda, Sukarni hidup dalam pelarian. Mulanya ia lari ke Kediri, lalu ke Banyuwangi dan kemudian menyebrang ke Kalimantan.
Sayang ia tertangkap di Balikpapan dan dipenjara di Samarinda. Pengadilan kemudian memutuskan ia dibuang ke Boven Digul, namun dalam masa tunggu ia dipenjara di Garut, Jawa Barat. Belum sampai dieksekusi ke Boven Digul, kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang dan Sukarni kemudian dibebaskan.
Meski begitu, keinginan besar Sukarni agar negara Indonesia merdeka tidak pernah surut, apalagi setelah tahu betapa kejamnya kolonial Jepang. Setelah bebas, ia bekerja di kantor berita antara yang didirikan Adam Malik. Pada masa itulah ia berkenalan dengan Tan Malaka, tokoh pergerakan yang sangat mempengaruhi alam berfikirnya.
Aktivitasnya di dunia pergerakan juga terus bergelora. Pada tahun 1943, bersama Chaerul Shaleh ia memimpin Asrama Pemuda di Menteng 31. Tempat ini kemudian menjadi salah satu basis pergerakan anak muda kala itu, dan melahirkan banyak tokoh penting angkatan 45.
Setelah menyerahnya Jepang kepada kelompok Sekutu, golongan muda pimpinan Sukarni pun mengadakan rapat, hasil rapat tersebut mendesak segera diProklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini juga didukung pergerakan bawah tanah yang dipimpin Sutan Syahrir.
Sukarni mengusulkan nama Soekarno-Hatta sebagai wakil dari Bangsa Indonesia, yang kemudian tertulis dalam teks proklamasi. Meski awalnya permintaan tersebut ditolak dan terjadilah perdebatan sengit antara golongan tua dan muda, sampai akhirnya Soekarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok agar terhindar bisikan dari pihak Jepang untuk menunda Proklamasi.
Setelah itu, Soekarno-Hatta pun memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dimana Soekarno-Hatta mewakili bangsa Indonesia, sebagaimana usul dari Sukarni.
Kiprah Pasca Kemerdekaan
Peran penting Sukarni selepas kemerdekaan antara lain membentuk Comite van aksi sehari setelah kemerdekaan yang bertujuan mengabarkan kemerdekaan ke seluruh pelosok Indonesia. Melalui jaringannya di kalangan pemuda, dibentuklah Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan karena sebagian besar rakyat Indonesia kala itu sebagai buruh, maka dibentuk pula Barisan Buruh Indonesia (BBI) yang kemudian melahirkan Laskar Buruh dan Laskar Buruh Wanita.
Pada 3 September 1945 ia menginisiasi pengambilalih jawatan Kereta Api, bengkel manggarai, stasiun-stasiun kereta api, angkutan umum, dan stasiun radio yang sebelumnya dikuasahi oleh Jepang, sehingga fasilitas publik tersebut menjadi milik Republik Indonesia.
Ia juga salah satu aktor yang menggelar rapat raksasa di lapangan Ikada yang dihadiri ribuan warga. Rapat ini terjadi 19 September 1945, sebagai bentuk dukungan rakyat terhadap kemerdekaan sekaligus menunjukkan ke dunia Internasional bahwa Indonesia telah sah sebagai negara yang merdeka.
Tahun 1946 Sukarni terpilih menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP), yang mana ia sangat keras menentang perundingan antara RI dengan Belanda. Karena sikapnya inilah ia dipenjara, meski tidak berlangsung lama.
Hubungan dekatnya dengan Tan Malaka kemudian membuahkan sebuah gagasan bersama untuk mendirikan Partai Politik yang kemudian disebut Partai Murba (Musyawarah Orang Banyak) tahun 1948. Tokoh lain yang juga terlibat pendirian Partai ini adalah Adam Malik dan Chaerul Shaleh. Namun Tan Malaka menghilang 3 bulan setelah Partai berdiri, yang konon ditembak mati.
Sementara Sukarni duduk sebagai ketua Umum. Partai Murba mengikuti dua kali Pemilu di tahun 1955 dan 1971. Partai Murba termasuk salah satu yang menentang PKI waktu itu, dan berselisih paham dengan peristiwa 1926/1927 era Muso. Bahkan Tan Malaka terlibat perdebatan sengit dengan Muso.
Karir politiknya berlanjut, setelah pada pemilu 1955 ia terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante, lalu menjadi diplomat sebagai duta besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia dari tahun 1961-1964. Salah satu keberhasilan Sukarni sebagai dubes adalah menyakinkan Tiongkok untuk mengakui Irian barat sebagai bagian dari NKRI.
Suhu politik memanas ketika Sukarni kembali ke Indonesia. Waktu itu ia melihat betapa kuatnya PKI dan betapa condongnya Soekarno kepada Partai yang dipimpin Aidit tersebut. Sukarni kemudian menemui Soekarno di Istana Bogor dan memperingatkan agar Soekarno jangan terlalu dekat dengan PKI.
Ternyata itu berbuntut panjang. Partai Murba bersama Partai lain termasuk diantaranya Masyumi dan PSI, dibekukan dan tokoh-tokohnya dipenjara termasuk Sukarni. Selama sisa kekuasaan Soekarno, Sukarni mendekam di penjara dan baru dibebaskan pada masa orde baru.
Tidak hanya itu, Partai Murba pun direhabilitasi kembali, dan Sukarni diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sebagai penasehat Presiden Soeharto. Sukarni meninggal di usia 54 tahun pada 7 Mei 1971 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Pada tanggal 7 November 2014, Sukarni mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo sebagai tokoh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Tentu nama Sukarni sangat layak mendapatkan gelar ini, mengingat kiprahnya dalam mendidik anak-anak muda, serta sumbangsihnya dalam mengabarkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, meski sering kali harus merasakan kerasnya jeruji besi karena berbeda pendapat dengan penguasa. []
Blitar, 5 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com
: dari berbagai sumber
Friday, November 3, 2017
Figur Gus Dur sangat melekat pada dua sosok ini. Gus Ipul yang memang keponakan Gus Dur, sementara Khofifah sering disebut "anak ideologis" Gus Dur.
Sewaktu hampir lulus Aliyah, Gus Dur bertanya hendak melanjutkan kemana? Gus Ipul menjawab ingin jadi guru. Gus Dur lalu mengatakan kalau Gus Ipul tidak cocok jadi guru, dan kemudian diajaklah ke Jakarta.
Sampai kemudian Gus Ipul menjadi Politisi besar seperti sekarang ini. Pernah menjadi anggota DPR RI dari FPDIP, Menteri, sampai Sekjend PKB.
Beda halnya dengan Khofifah, sejak remaja ia sudah mengagumi Gus Dur lewat esai-esai di media massa, sampai akhirnya bisa bertemu pada sebuah forum seminar di tahun 1992.
Khofifah juga lah yang menyiapkan berkas-berkas pencalonan Gus Dur sebagai Presiden, yang pada akhirnya Gus Dur menang dalam voting di Parlemen mengalahkan Megawati.
Bagi Gus Dur, keduanya adalah anak emas. Meski selalu berkontestasi dalam arena politik. Tahun ini sepertinya juga demikian, bahkan lebih sengit. Sebab sama-sama Calon Gubernur.
Pada sisi lain, ini juga menunjukkan betapa hebatnya Gus Dur "membesarkan orang". Dibalik nama besarnya, ada nama-nama lain yang juga bermunculan.
Namun figur Gus Dur juga tidak lepas dari kontroversi, dan sepertinya itu konskwensi. Sebagaimana Buya Syafii Maarif di Muhammadiyah.
Buya juga sering pasang badan "melindungi" anak-anak mudanya, terutama yang sedang berdiaspora ke berbagai Universitas di dunia. Tak jarang bermunculan caci maki, bahkan dari kader dan warganya sendiri.
Insyaallah tulisan khusus tentang keduanya akan saya buat tersendiri.
***
Antara Khofifah dan Gus Ipul, keduanya adalah tokoh yang brilian. Sehingga, bagi warga Nahdliyin, entah Khofifah atau Gus Ipul yang nantinya menjadi Gubernur, mungkin itu bukan persoalan.
Meski barangkali tetap ada ketegangan politik, namun tidak akan sekeras di DKI Jakarta.
Jika akhirnya mentok dua pasang saja, sebagai warga Jatim, yang nantinya juga memiliki hak suara, tak ada salahnya untuk berkata, mungkin kini saatnya Bu Khofifah, setelah sekian lamanya. []
Blitar, 3 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com
Tuesday, September 26, 2017
Thursday, June 30, 2016
A Fahrizal Aziz