Spirituality

Saturday, November 19, 2016





Kalau kita baca The Phantom of Opera karya Gaston Leroux, kita akan mengingat sosok jenius namun buruk rupa bernama Erik. Sayang kejeniusannya justru tidak diarahkan untuk hal yang lebih produktif karena ia terlibat pada cinta segitiga. Ia sangat mencintai penyanyi opera cantik bernama Christine. Namun harapannya untuk memiliki Christine mungkin tak akan terwujud karena disaat yang sama ada lelaki tampan yang juga mendekatinya, seorang viscount bernama Raoul.

Frustasi karena kalah bersaing dengan Raoul, Erik pun menjelmakan dirinya menjadi hantu opera. Ia menyetting tempat itu seolah angker dan mengerikan, sehingga orang-orang sekitar merasa ketakutan dan terteror, termasuk Christine yang ia cintai itu.

Fenomena Erik mungkin satu dari sekian banyak orang yang merasa terjebak dalam tubuh yang tidak ia kehendaki. Bagaimana bisa dikehendaki, karena tubuh bukan sesuatu yang bisa kita pilih. Entah lahir sebagai lelaki atau perempuan, itu sebuah takdir yang hanya bisa kita jalani. Termasuk bentuk wajah, ukuran tubuh, dan sejenisnya.

Jauh hari, di era munculnya Filsafat, persoalan itu sudah dibahas oleh Pythagoras. Dalam buku Sejarah Filsafat Barat yang ditulis Bernard Delfgaauw, Pythagoras menyebut jiwa sebagai substansia, sementara raga hanya media pemurnian. Raga sebagai katarsis. Jika pemurnian berhasil, maka pasca kematian, jiwa akan ditampung dalam alam kebahagiaan. Sementara, ketika pemurnian tidak berhasil atau kurang cukup, selepas mati jiwa kita akan mendiami raga lain.

Sayang tidak dijelaskan apa kriteria cukup atau tidak cukupnya dalam proses pemurnian tersebut. Namun pada era selanjutnya, terutama era Plato, raga/tubuh disebut sebagai penjara bagi jiwa. Hal ini disebutkan oleh Pythagoras diawal, bahwa raga/tubuh sebenarnya adalah hal yang asing bagi jiwa. Sebuah keterasingan. Mungkin karena itulah dalam hidup manusia terus berproses mencari jati dirinya.

Terlepas dari kita percaya atau tidak dengan uraian dua filsuf diatas, hal senada juga dijelaskan dalam filsafat jawa, bahwa tubuh adalah kerangka jiwa (rogo iku ragangane jiwo), artinya itu bersifat sementara, bahkan jika menggunakan perhitungan matematik, konon hanya sepersekian dari usia jiwa sesungguhnya. Dalam agama dijelaskan, bahwa kebangkitan setelah hari kiamat, manusia akan menempati wujud yang berbeda-beda. Ada yang kepalanya dibawah, ada yang seperti babi, dll.

Nalar intelektual Pythagoras atau Plato sebenarnya dijawab oleh Agama, dimana permurnian itu bisa berarti amal perbuatan. Tapi segala hal yang berkaitan dengan suasana pasca kematian, kita semua tidak ada yang tahu pasti. Meski Agama pun juga berbeda memberikan ajarannya. Menurut agama Buddha, setelah mati manusia akan bereinkarnasi kembali menjadi manusia yang lebih baik atau lebih buruk, atau bisa jadi bereinkarnasi menjadi hewan dan siluman jika amalnya ketika hidup sangatlah buruk.

***
Dalam diskusi dengan mereka yang menamai LGBT sekitar empat tahun silam, ada yang bercerita persis dengan istilah “terjebak dalam tubuh”. Ada lelaki yang merasa dirinya perempuan, namun terjebak dalam tubuh lelaki. Ada perempuan yang merasa dirinya lelaki, namun terjebak dalam tubuh lelaki. Yang lebih susah dipahami, ada orang yang merasa dalam dirinya ada unsur lelaki dan perempuan. Yang tak kalah membingungkan juga, ada lelaki yang merasa dirinya pure lelaki, tapi menyukai lelaki. Begitupun juga, ada perempuan yang merasa dirinya perempuan namun menyukai sesama perempuan.

Diluar dari LGBT, sebagaimana sosok Erik, merasa terjebak dalam tubuh yang tidak diinginkan. Kaum perempuan paling banyak mengalami perasaan ini. Meski Ilmu Kedokteran bedah kemudian menemukan solusinya, yaitu dengan operasi plastik. Ilmu Farmasi menjawabnya dengan menciptakan beragam produk kosmetik, serta obat-obat pemutih kulit, dlsb. Akhirnya mereka yang memiliki cukup uang, melakukan upaya tersebut.

Karena bukan anak Psikologi, saya agak dibuat pusing dengan hal-hal semacam ini. Mulailah saya membaca literatur tentang psikologi. Namun dalam kaitannya isu LGBT, ternyata praktisi psikologi pun juga berbeda pendapat. Ada yang menyebut itu sebagai penyakit, ada yang menyebut itu preferensi, ada yang menyebut itu hal yang alamiah. Terserah kita lebih percaya yang mana, karena sekali lagi, tidak ada Ilmu yang mengandung kebenaran mutlak.

Ketika teori Ilmu Pengetahuan saling berbenturan, maka sebagian orang kemudian mengembalikannya kepada Agama, spiritualitas dikuatkan. Hal ini memang tak mudah, karena tubuh adalah pusat segala rasa, terutama yang berkaitan dengan kenikmatan indrawi, serta respon sosial. Itulah kenapa kita merias diri, menggunakan pakaian yang sekiranya enak dipandang. Dalam kondisi tertentu, penampilan juga mempengaruhi rasa percaya diri.

Meski hal tersebut tidak mutlak, dan kita sadari itu semua. Pada taraf yang berbeda, ada sebagian orang yang berfikir “melampaui tubuh”, ia yakin bahwa persona tidak diciptakan oleh bentuk tubuh maupuan trend busana. Ada yang lebih bersifat abadi : intelektualitas, attitude, integritas, dan semacamnya. Orang-orang pada level ini barangkali tak terlalu menggubris, apa ia terlihat cantik atau tampan, seksi atau atletis. Baginya yang terpenting adalah persona dari dalam. Inner beauty, kalau istilah perempuan.

Tulisan ini mungkin akan dibaca sangat biasa bagi mereka yang sudah “melampaui tubuh”, namun akan dibaca dengan perasaan menggelisahkan bagi yang belum menerima tubuhnya sendiri. Bahkan, saya yang menulisnya saja, masih ada rasa kegelisahan. []

Blitar, 19 November 2016
A Fahrizal Aziz

Thursday, September 1, 2016


Oleh A Fahrizal Aziz
Kata bajingan disini memang tidak perlu disensor, karena bajingan sebenarnya bukan kata kotor. Hanya sering dijadikan padanan untuk orang yang dinilai kotor. Bajingan sendiri dari kata Bajing. Bajing adalah jenis hewan. Sama dengan anjing, jangkrik, jaran, asu, dsj yang sering jadi padanan yang mewakili emosi seseorang.

Tulisan ini pun hanya sebagai tumpahan saya pribadi, hasil dari tidak singkronnya antara nalar pribadi dengan persepsi publik atas moralitas dan stigma.

Bahwa manusia kadang hanya dibagi dalam dua hal : baik dan buruk. Seolah hanya hitam dan putih. Padahal keduanya bukanlah warna. Keduanya adalah netralitas. Hitam selalu dikaitkan dengan keburukan. Padahal hitam adalah keabadian, gelap adalah keniscayaan. Hitam adalah sahabat kita setiap malam, kala lelap.

Begitu pun dengan putih. Stigma atasnya selalu positif. Padahal bisa jadi putih itu racun, yang menyusup dalam warna-warna, yang justru mengaburkan keindahan. Merusak yang bening.

Artinya, dalam hitam ada kebaikan, begitupun sebaliknya. Relativitas atas keduanya begitu kuat. Termasuk dalam perilaku dan sikap manusia. Stigma tidak selalu mewakili seluruh sisi manusia tersebut. Tidak semua bajingan itu seluruhnya jahat, begitupun sebaliknya. Saya pun juga punya sisi bajingan, yang terbungkus dalam kamuflase bernama moralitas.

Saya bukan hitam. Bukan pula putih. Tapi bisa keduanya, bisa juga tidak dua-duanya. Dalam otak saya, ada fikiran bengis, sundal, kotor. Tapi ada pula fikiran-fikiran baik. Keduanya dicerna oleh nalar, hingga kemudian kita memilih untuk menjalankan yang mana.

Orang yang menyebut diri bajingan, atau yang cara berpakaian dsb mempersonifikasikan diri dalam stigma itu, menemukan sebuah ke-cairan tersendiri. Meski kita tidak cocok dan tidak sependapat.

Hal sebaliknya, ketika publik punya persepsi atas orang bermoral, maka tak sedikit dari kita yang berusaha menjadi “produk stigma” tersebut. Ada sesuatu yang sebenarnya tidak tulus dengan cara kita berpakaian, atau bertutur. Kita melakukan itu hanya untuk memenuhi ekspektasi publik.

Apapun itu, pertanyaan atas “siapa saya”, selalu terkait dengan “dimana saya”. Kita berada disebuah kultur mayoritas yang anti disebut bajingan. Tapi berapa orang yang benar-benar tulus, kita pun juga tak tahu pasti. (*)

Blitar, 1 September 2016
A Fahrizal Aziz

Tuesday, August 30, 2016



Segelas teh

Untuk apa bekerja? Yang pertama, tentu utuk menghasilkan uang. Uang itu digunakan untuk menyambung hidup, membeli kebutuhan, serta membiayai keinginan.


Kedua, untuk sebuah values (nilai-nilai). Pekerjaan yang dipilih, tentu tidak semata sebagai maisah atau sumber penghidupan, tapi juga memberikan nilai bagi orang lain.

Anda bekerja sebagai guru, tentu juga membutuhkan gaji bulanan dan tunjangan, tapi ada nilai lain dari pekerjaan itu, ialah mencerdaskan peserta didik, membekali mereka dengan wawasan dan moral yang bisa menjadi pegangan hidup dalam tumbuh kembangnya mereka hingga dewasa kelak.


Anda bekerja sebagai birokrat, mendapatkan gaji pokok dan tunjangan, tapi punya nilai yang lebih dalam melayani masyarakat mengurus segala kebutuhan yang berkaitan dengan administrasi kependudukan, dan lain sebagainya.


Bahkan sebagai pedagang, meski menerapkan logika untung-rugi, tapi tiap pedagang punya nilai untuk menawarkan barang dagangan yang terbaik. Misal pedagang makanan, selain berupaya menyajikan hidangan yang enak, juga disertai dengan komitmentnya menyajikan makanan yang sehat.


Begitupun yang bergelut dibidang jasa. Jasa periklanan misal, akan mencoba semaksimal mungkin membantu klien untuk membuat materi iklan yang bagus dan punya impact bagi klien yang mempercayakan periklanan kepadanya.


Termasuk, para neterpreneur muda yang lihai mengelola media online. Ada ribuan viewer yang bisa mereka hadirkan, akan banyak juga pundi-pundi rupiah yang masuk rekening karena banyaknya viewer itu. Tapi harus punya nilai untuk menyajikan konten-konten yang positif dan mencerahkan. Bukan konten yang sekedar populer, tapi justru merusak pola pikir banyak orang.


Intinya, pekerjaan itu selain menghasilkan uang, juga menghasilkan value. Agar menghasilkan value, kita harus punya passion, minat, dan penghayatan atas pekerjaan tersebut.


Apa pekerjaan impian kita? Our dreams jobs. Pekerjaan yang mewakili jiwa kita, yang menghasilkan uang sekaligus value. Kata Ridwan Kamil, pekerjaan paling menarik adalah hobi yang dibayar.


Karena hobi, biasanya ada minat, ada rasa senang ketika melakukannya. Hobi tentu banyak variasinya, tidak saja dari seni dan olahraga. Bahkan membantu orang pun bisa jadi hobi. Jualan bisa jadi hobi. Memasak bisa jadi hobi. Berorganisasi bisa jadi hobi. Membaca dan menulis bisa jadi hobi. Menggambar juga hobi. Berdandan, bergaya, drama, juga bisa jadi hobi. Utak atik software dan hardware komputer juga bisa jadi hobi. Bahkan jalan-jalan pun bisa jadi hobi.


Hobi itu macam variasinya. Siapa kira kalau jalan-jalan kini justru bisa menghasilkan uang, bukan justru menghabiskan uang. Di era internet, sudah banyak istilah travelblogger. Ada fotografer spesialis alam, yang kerjanya menjelajah kemana-mana. Mereka sudah menemukan dream job-nya.


Saya pun juga punya dream job. Dari hobi, passion, dan minat. Dari latar keluarga, lingkungan, dan pergaulan. Tapi mewujudkan dream job tetap butuh keuletan. Karena ada banyak hal yang harus kita hadapi untuk mewujudkan dream job tersebut. Pasti tidak selalu mudah, ada banyak tantangan.


Apa dream job kalian?


Blitar, 30 Agustus 2016
A Fahrizal Aziz
Di Penghujung Agustus yang mendung.

Monday, October 12, 2015

“Ini karena bapak saya dulu,” tegasnya setelah menceritakan sesuatu yang sangat terkenang dalam hidupnya. Dulu, waktu masih SMP, dia memang anak yang bandel. Sering bolos sekolah. dari rumah ijinnnya pergi ke sekolah, tapi ternyata belok ke rental playstation. Pihak sekolah bekerja sama dengan satpol PP melakukan razia. Dia tertangkap basah bolos sekolah dan menghabiskan uang sakunya untuk bermain playstation.

Dia memang tidak sendirian, ada belasan anak lainnya. Ada juga dari sekolah yang berbeda. Mereka dibawa ke kantor polresta terdekat sambil menunggu kedatangan orang tua. Semua orang tua datang menjemput, termasuk orang tuanya. Ada bahkan yang dijewer, di cubit, hingga di tampar oleh orang tuanya. Mungkin orang tua mereka marah sekaligus sedih melihat kelakuan anak-anak mereka.

Di saat yang bersamaan, ayahnya juga datang dan berdiri agak lama di depannya. Kala itu dia hanya berdiri sambil menunduk. Ini memang bukan bolos yang pertama, tapi ini adalah kali pertama dia terkena razia. Waktu itu dia sudah siap dengan segala konskwensi dari ayahnya.

Tapi ternyata tak ada kalimat pedas apalagi perlakuan kasar sama sekali. Ayahnya datang dan lekas memeluknya erat sambil sedikit berbisik : maafkan ayah. Setelah itu dia bilang kepada satpol pp, guru, dan polisi yang bertugas bahwa ini bukan kesalahan anaknya.

“Anak saya dulunya ingin sekolah disana, tapi kami memasukkannya ke sekolah yang tidak ia inginkan. Saya juga bersalah karena tidak bisa menyakinkan dia agar tidak membolos. Dia membolos karena tidak nyaman dengan sekolahnya dan mungkin tidak nyaman dengan perlakuan kami,” jelas Ayahnya itu setelah menandatangani beberapa surat. Kemudian mereka kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah, tak ada bentakan apalagi makian. Semuanya seolah biasa-biasa saja. Ayahnya yang seorang tengkulak itu melanjutkan pekerjaannya. Meneliti barang dan mengantarkannya ke beberapa toko kelontong.

“Kenapa ayah tidak marah? Dan kenapa malah minta maaf?” bathinnya.

Sang Ibu kemudian datang sambil terisak dan memeluknya erat. Yang dia tahu, ayahnya memang jarang marah. Sekalinya memaksa, yaitu ketika memilihkannya sekolah. Ayahnya ingin dia sekolah di sekolah agama. Agar selain mendapatkan ilmu umum juga mendapatkan ilmu agama. Tapi resikonya, beban pelajarannya lebih berat. Apalagi ada bahasa arabnya.

Setelah kejadian itu, dia berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak lagi membolos. Dia bahkan semakin giat belajar. Karena kata maaf dari ayahnya itu terus ia ingat dan sangat membekas. (*)

Blitar, 121015
A Fahrizal Aziz

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi