Wednesday, August 8, 2018
Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz
Wonogiri memang unik nan strategis. Letaknya dihimpit dua Provinsi : Jawa Timur dan DI Yogyakarta. Berbatasan dengan Ponorogo, Pacitan, Magetan, dan Gunung Kidul.
Dalam perjalanan Blitar-Sleman, saya mampir di Waduk Gajah Mungkur. Memang sedang kemarau, sehingga waduk terlihat agak surut. Nampak burung-burung bewarna putih melintas di atasnya. Entah burung apa.
Perlu menempuh jarak sekitar 180 km dari Blitar untuk sampai di waduk seluas 8800 Hektar, yang konon merupakan waduk terluas di Jawa Tengah ini.
Suasananya sejuk, bahkan di daerah pusat kabupatennya. Hawanya sekilas mirip Kota Batu. Bedanya lebih lengang. Angin pun bertiup sepoi.
Saya memesan kopi dan mie gelas di warung dekat waduk. Siang hari yang panas pun tak begitu terasa. Beradu dengan Sepoi angin yang mendinginkan kopi saya lebih cepat, dan menerbangkan plastik serta dedaunan.
Dalam perjalanan dari Ponorogo ke Wonogiri, melewati beberapa Kecamatan salah satunya Purwantoro. Masih terlihat mini bus beroperasi, ada yang jurusan Ponorogo-Purwantoro. Bus untuk jarak antar kota dan kecamatan.
Jalannya naik turun, khas pegunungan. Itulah kenapa terasa sejuk, meskipun di siang hari begini.
Sayangnya saya hanya mampir sebentar untuk ngopi, belum sempat mengeksplor lebih jauh, atau menginap disana untuk beberapa hari. Semoga suatu saat terlaksana. []
Sleman, 1 Agustus 2018
Monday, August 6, 2018
Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz
Buku Filosofi Kopi, yang berisi novelet, cerpen, dan beberapa sajak karya Dee Lestari itu sukses membuat saya penasaran dengan kopi-kopi, meski awalnya berfikir : ah lebay amat.
Bagi orang Indonesia kebanyakan, kopi hanyalah minuman. Hanya. Sebab memang sebelumnya tak pernah mempertimbangkan filosofi-filosofinya.
Kenapa harus tubruk, kenapa latte, cappucino atau espresso? Ah rasanya tak pernah terfikirkan. Minum ya minum saja, selain nikmat juga menambah stamina.
Sebagai rutinitas sebelum bekerja, atau sebagai suguhan ketika begadang.
Buku filosofi kopi itu, menjelaskan bahwa kopi dan ngopi menyimpan sesuatu.
Uniknya, buku itu terbit ketika budaya ngopi belum segencar saat ini. Belum banyak berdiri kedai-kedai kopi yang menggunakan bermacam teknik seduh.
Saya yang jarang ngopi, setelah membaca buku tersebut, menjadi sedikit penasaran. Apa benar senikmat itu?
Ternyata benar. Sampai menjadi kebiasaan. Tetapi saya juga tidak yakin, apa karena buku itu saya ketagihan kopi, atau karena dulu sering begadang demi mengerjakan tugas-tugas, lalu menyeduh kopi.
Karenanya, setiap nongkrong di warung saya biasa memesan kopi. Kadang sengaja berkunjung ke kedai kopi ideal, dan mencicip bermacam biji kopi.
Ketika tahu ada filosofi kopi di Jogya, yang kebetulan sedang ada di daerah tersebut, maka saya mampir.
Lokasinya bukan di pusat keramaian, agak masuk ke dalam, bahkan melewati kebun cabai. Masalahnya perasaan saya merasa dekat. Kan sama-sama di Jogja?
Padahal Filkop tidak di Jogja-nya, meski masih dalam satu provinsi Yogyakarta. Letaknya di Sleman, daerah Ngaglik, Tegal rejo.
Dari lokasi saya menginap, di jalan duta bangsa/ jalan Magelang, masih sekitar 15 km. 15 km itu lumayan. Apalagi bagi pesinggah seperti saya, yang harus menyusur jalanan Jogja yang padat, melewati museum Jogja kembali, terus sampai ada jalan belokan ke kiri sebelum SPBU.
Gangnya tak terlalu besar, dan gelap. Kiri kanannya sawah dan kebun. Ada banyak motor dan mobil terparkir, ramai sekali. Setelah tanya tukang parkir yang logatnya seperti orang Bali itu, baru ngeh kalau disana ada Filosofi Kopi.
Ramai betul, tak seperti bayangan. Areanya pun luas. Bahkan terlalu luas untuk sekedar sebagai cafe.
Sesampainya disana, langsung disambut mini band, menyanyikan salah satu lagunya Ariana Grande. Bagus sekali.
Saya duduk di dekat gambar filosofi kopi. Untuk memesan kopi pun kami harus antri. Selain kopi, ada juga penjual roti, di stand yang berbeda.
Saya memesan Machiato. Kopi dalam cangkir mungil dan pait. Mirip espresso, meski tak lebih pahit.
Teman saya yang tidak terbiasa ngopi, memesan capuccino, dia dapat gambar burung merak. Bukan love atau daun, atau leher angsa, seperti kebanyakan orang.
Rasa penasaran terobati. Tetapi ini memang bukan filosofi kopi yang pure Ben n Jodi dalam novelet karya Dee Lestari. Ini adalah filosofi kopi Ben n Jodi, yang sudah tercampur Luna Maya. []
Sleman, 1 Agustus 2018
Sunday, December 28, 2014
Thursday, November 27, 2014
![]() |
| sumber : Google |
![]() |
| sumber : google |
![]() |
| Sumber : Google |



