Singgah

Wednesday, August 8, 2018


Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz


Wonogiri memang unik nan strategis. Letaknya dihimpit dua Provinsi : Jawa Timur dan DI Yogyakarta. Berbatasan dengan Ponorogo, Pacitan, Magetan, dan Gunung Kidul.


Dalam perjalanan Blitar-Sleman, saya mampir di Waduk Gajah Mungkur. Memang sedang kemarau, sehingga waduk terlihat agak surut. Nampak burung-burung bewarna putih melintas di atasnya. Entah burung apa.


Perlu menempuh jarak sekitar 180 km dari Blitar untuk sampai di waduk seluas 8800 Hektar, yang konon merupakan waduk terluas di Jawa Tengah ini.


Suasananya sejuk, bahkan di daerah pusat kabupatennya. Hawanya sekilas mirip Kota Batu. Bedanya lebih lengang. Angin pun bertiup sepoi.


Saya memesan kopi dan mie gelas di warung dekat waduk. Siang hari yang panas pun tak begitu terasa. Beradu dengan Sepoi angin yang mendinginkan kopi saya lebih cepat, dan menerbangkan plastik serta dedaunan.


Dalam perjalanan dari Ponorogo ke Wonogiri, melewati beberapa Kecamatan salah satunya Purwantoro. Masih terlihat mini bus beroperasi, ada yang jurusan Ponorogo-Purwantoro. Bus untuk jarak antar kota dan kecamatan.


Jalannya naik turun, khas pegunungan. Itulah kenapa terasa sejuk, meskipun di siang hari begini.


Sayangnya saya hanya mampir sebentar untuk ngopi, belum sempat mengeksplor lebih jauh, atau menginap disana untuk beberapa hari. Semoga suatu saat terlaksana. []


Sleman, 1 Agustus 2018

Monday, August 6, 2018

Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz


Buku Filosofi Kopi, yang berisi novelet, cerpen, dan beberapa sajak karya Dee Lestari itu sukses membuat saya penasaran dengan kopi-kopi, meski awalnya berfikir : ah lebay amat.


Bagi orang Indonesia kebanyakan, kopi hanyalah minuman. Hanya. Sebab memang sebelumnya tak pernah mempertimbangkan filosofi-filosofinya.


Kenapa harus tubruk, kenapa latte, cappucino atau espresso? Ah rasanya tak pernah terfikirkan. Minum ya minum saja, selain nikmat juga menambah stamina.


Sebagai rutinitas sebelum bekerja, atau sebagai suguhan ketika begadang.


Buku filosofi kopi itu, menjelaskan bahwa kopi dan ngopi menyimpan sesuatu.


Uniknya, buku itu terbit ketika budaya ngopi belum segencar saat ini. Belum banyak berdiri kedai-kedai kopi yang menggunakan bermacam teknik seduh.


Saya yang jarang ngopi, setelah membaca buku tersebut, menjadi sedikit penasaran. Apa benar senikmat itu?


Ternyata benar. Sampai menjadi kebiasaan. Tetapi saya juga tidak yakin, apa karena buku itu saya ketagihan kopi, atau karena dulu sering begadang demi mengerjakan tugas-tugas, lalu menyeduh kopi.


Karenanya, setiap nongkrong di warung saya biasa memesan kopi. Kadang sengaja berkunjung ke kedai kopi ideal, dan mencicip bermacam biji kopi.


Ketika tahu ada filosofi kopi di Jogya, yang kebetulan sedang ada di daerah tersebut, maka saya mampir.


Lokasinya bukan di pusat keramaian, agak masuk ke dalam, bahkan melewati kebun cabai. Masalahnya perasaan saya merasa dekat. Kan sama-sama di Jogja?


Padahal Filkop tidak di Jogja-nya, meski masih dalam satu provinsi Yogyakarta. Letaknya di Sleman, daerah Ngaglik, Tegal rejo.


Dari lokasi saya menginap, di jalan duta bangsa/ jalan Magelang, masih sekitar 15 km. 15 km itu lumayan. Apalagi bagi pesinggah seperti saya, yang harus menyusur jalanan Jogja yang padat, melewati museum Jogja kembali, terus sampai ada jalan belokan ke kiri sebelum SPBU.


Gangnya tak terlalu besar, dan gelap. Kiri kanannya sawah dan kebun. Ada banyak motor dan mobil terparkir, ramai sekali. Setelah tanya tukang parkir yang logatnya seperti orang Bali itu, baru ngeh kalau disana ada Filosofi Kopi.


Ramai betul, tak seperti bayangan. Areanya pun luas. Bahkan terlalu luas untuk sekedar sebagai cafe.


Sesampainya disana, langsung disambut mini band, menyanyikan salah satu lagunya Ariana Grande. Bagus sekali.


Saya duduk di dekat gambar filosofi kopi. Untuk memesan kopi pun kami harus antri. Selain kopi, ada juga penjual roti, di stand yang berbeda.


Saya memesan Machiato. Kopi dalam cangkir mungil dan pait. Mirip espresso, meski tak lebih pahit.


Teman saya yang tidak terbiasa ngopi, memesan capuccino, dia dapat gambar burung merak. Bukan love atau daun, atau leher angsa, seperti kebanyakan orang.


Rasa penasaran terobati. Tetapi ini memang bukan filosofi kopi yang pure Ben n Jodi dalam novelet karya Dee Lestari. Ini adalah filosofi kopi Ben n Jodi, yang sudah tercampur Luna Maya. []


Sleman, 1 Agustus 2018

Sunday, December 28, 2014



Malam itu saya berkunjung ke warnet, hendak memposting beberapa tulisan ke blog dan mengirimkan hasil editan untuk majalah melalui email. Warnet lumayan ramai. Hanya tersisa satu komputer yang kosong. Saya masuk biliknya dan seorang yang berada di bilik depan memanggil saya “Mas..” saya hanya memberikan isyarat ekspresif. “Sampean sini saja, saya sudah bilang operator pindah kesitu,” lanjutnya.

Akhirnya kami bertukar tempat. Ia baru saja menutup billing, jadi saya tinggal login saja, tak perlu menghidupkan komputer seperti biasanya. Saat baru masuk, Masyaallah. Ada banyak sekali situs porno yang masih terdisplay dengan jelas. Ditengahnya ada keterangan closing tab or cancel. Mungkin lelaki paruh baya tersebut baru saja membuka banyak situs porno dan sudah menekan tombol (x). Tapi karena dia membuka banyak situs dengan open link new tab, jadi belum hilang. Sementara dia sudah logout. Barangkali, dengan logout billing, otomatis hilang juga tab mozila fork-nya.

Saya hanya tertawa geli melihat apa yang baru saja bapak itu tonton. Tapi kenapa dia pindah komputer? Lalu saya klik closing tab dan memulai browser baru. Membuka email, facebook, dan 4songs.PK sekaligus mendownload lagu. Jujur, saya tak begitu tertarik dengan video-video porno tersebut. Bukannya saya sok suci. Tidak. Tapi saya sudah bosan menonton begituan. Saya sudah mengenal internet sejak kelas 3 smp dan dulunya juga pernah menonton begituan, sampai mata saya kena minus. Dan isinya ya begitu-begitu saja. Tak ada yang menarik.

Untungnya, saya tak kecanduan. Dan andaikan kini menolak untuk menonton video porno seperti itu, saya punya alasan logis. Bagi saya video porno itu hanyalah semacam seksualitas properti, adegan seksnya serba artifisial. Mulai dari cerita, mimik ekspresi dan desahannya. Kita hanya bisa menikmatinya dengan mata dan rasa. No more. Sama seperti melihat pajangan-pajangan di etalase mall atau di pameran lukisan. Hanya sekedar properti saja. Apa yang menarik?

Video porno lebih banyak kita nikmati dalam fantasi dan imajinasi. Isn’t real. Apalagi video porno komersial yang memang didesain untuk pasar tertentu. Kita bisa mendapati pentrasi seksual yang bukan karena cinta, tapi karena kebuasan dan libidoistik. Menonton video porno membuat kita semakin dangkal melihat manusia, terutama lawan jenis. Kita hanya akan melihat lawan jenis sekedar properti, obyek seksual, seperangkat daging yang bisa memuaskan hasrat kita. kita akan kesusahaan melihatnya lebih mendalam. Terutama dari sisi nilai-nilai (values).

Pola pikir kita akhirnya tereparasi. Istilah ‘cinta pada pandangan pertama’ itu, seolah mengukuhkan budaya dangkal tersebut. Perempuan, yang pertama adalah bentuk fisiknya, seksi, putih, cantik, manis, montok, dll. Yang tidak memiliki kriteria tersebut, berusaha semaksimal mungkin untuk berdandan, diet, ke salon, membeli baju-baju mahal agar terlihat cantik fisik dan menarik. Ini sungguh mengerikan. Kaum lelaki yang suka nonton video porno, tapi kaum perempuan ikut terkena imbas psikologisnya. Gila!

Perempuan yang tidak ikut arus seperti itu, dan sibuk belajar, sibuk berkarya, sibuk aktif di kegiatan sosial masyarakat, dianggap melawan kodrat. Di tuduh memperjuangkan gender yang merupakan budaya barat. Padahal, budaya barat yang mana? seksualitas properti itu jauh lebih ‘barat’ dibandingkan perempuan yang sibuk belajar, menjadi pintar, dan akhirnya menggugat. Tragis!

Tak salah, jika pekerjaan yang menggunakan brain ‘seksual properti’ mendapatkan gaji tinggi, dan banyak orang yang mau membayar mahal untuk itu. PSK yang masih montok, seksi, muda, dan cantik, penghasilan perbulannya bisa belasan juta. Hanya modal fisik. Artis yang modal kecantikan, menjadi sangat populer, digilai, dan di bayar tinggi dalam sebuah pertujukan. Kalau pun nyanyi, kadang suaranya pas-pasan. Tapi yang penting ia cantik dan seksi. Dan yang mematok itu adalah industri. Industri pun berfikiran seperti itu karena ada pasar.

Jangan coba membandingkan gaji orang-orang diatas dengan Guru, dosen, atau aktivis perempuan lainnya, yang bekerja di kantoran, sebagai karyawan dll. Jauh. harga “tubuh” jauh lebih mahal dari harga “otak”. Tubuh hanya perlu dipoles dengan make up, tapi otak tidak bisa demikian. Butuh proses untuk mengolah otak lebih berguna. Akhirnya, banyak perempuan terjebak memoles tubuh dan malas mengolah otak. Padahal, tak sedikit juga perempuan yang otaknya cerdas, menduduki jabatan menarik atau berpenghasilan tinggi. Tapi sekali lagi –mereka tak akan pernah bisa menjadi trend. Yang menjadi trend tetaplah yang mengeksplore tubuh.

Inikah efek dari seksualitas properti tersebut?

Saya sudah jengah memikirkan hal itu. Saya fokus kembali ke layar monitor. Beberapa lagu sudah selesai saya download, dan berniat mendengarkannya dengan headseat. Tapi ternyata headseat tak berfungsi dengan baik. Suaranya cetar tak beraturan, membuat telinga sakit. Saya melirik lagi lelaki paruh baya yang berpindah ke bilik depan.

Pantas saja dia berpindah tempat! Kampret!

28 Desember 2014
A Fahrizal Aziz

Thursday, November 27, 2014


sumber : Google

Lama tak ngopi di depan stasiun kota Malang, malam itu saya diajak teman untuk pergi kesana. Pikiran saya, kami akan ngopi sambil duduk lesehan diatas trotoar yang disulap oleh para PKL (Pedagang kaki lima) menjadi tempat nongkrong – seperti yang biasa kami lakukan. Ternyata, depan stasiun kini sudah memiliki taman yang cukup bagus, dengan stand food court yang berada di sekitarnya. Taman itu tidak terlalu luas, tapi desainnya lumayan bagus.

Sebelum “mencicipi” suasana taman, kami mampir dulu untuk makan malam. Kami memesan dua mangkok soto babat. Malam itu, suasana lumayan ramai. Ada dua tempat duduk yang disajikan, kursi permanen dari besi dan lesehan. Tetap! Area lesehan tersebut awalnya adalah trotoar, tapi sudah dialih fungsikan untuk tempat nongkrong. stand food court –atau yang lebih dikenal dengan istilah Pujasera—ini sepertinya adalah desain langsung dari Pemkot, terintegrasi dengan taman turnojoyo.

Selesa makan, kami berjalan mengelilingi taman, tiga kali berpidah tempat duduk, hanya untuk sekedar merasakan suasana taman. Bagus. Kooperatif, dan nyaman. Saya turut senang karena Kota Malang menambah satu lagi taman kota, taman Turnojoyo. Setidaknya, taman-taman ini bisa menjadi alternatif bagi warga kota atau pelajar untuk Jalan-jalan atau sekedar refreshing dengan biaya murah.

sumber : google
Tak perlu ke mall atau tempat hiburan yang mahal. Para pelajar sekolah bisa belajar bersama disini, para mahasiswa bisa diskusi sambil ngopi disini, para warga bisa bersantai atau olahraga pagi disini. Kalau lapar, tinggal mampir ke stand food court terdekat, dengan harga makanan yang terjangkau. Apalagi, rata-rata pengelola stand makanan ini tidak dimiliki satu orang, tapi dari UKM. Sehingga, turut menyuburkan ekonomi kerakyatan.

Saya baru paham ternyata taman kota memiliki manfaat yang begitu banyak, ketika mengikuti “kuliah” secara tak langsung dengan dua kepala daerah inspiratif : Bu Tri Rismaharini dan Kang Ridwan Kamil. Kedua kepala daerah ini, memprioritaskan taman kota sebagai agenda penting dalam kepemimpinannya. Kang Emil justru membuat program taman tematik, dan Bu Risma pernah dijuluki Bu Giman (gila taman).
Sumber : Google
Abah Anton –walikota Malang—agaknya tidak mau ketinggalan. Dalam kepemimpinannya, beliau juga membuat taman baru, yang bisa menjadi RTH (Ruang terbuka hijau) yang kooperatif. Patut di acungi jempol. Semakin banyak taman, semakin baik. Apalagi, dengan dibangunnya Pujasera yang mengakomodir para pedagang kecil.

Kedepan, Pemerintah daerah dimanapun berada, harus pro terhadap ruang terbuka hijau, taman integratif seperti ini, dan tentunya kepada pedagang kecil yang sering digusur satpol PP karena alasan legalitas.

Selamat untuk Kota Malang, saya bangga menjadi bagian dari kota ini, meskipun kian hari tanda-tanda kemacetan lalu lintas semakin terasa. :)

Malang, 26 November 2014
A Fahrizal Aziz

Sunday, November 23, 2014




koleksi buku Mas Boy
Sayup-sayup terdengar suara anak-anak perempuan membaca Alqur’an dari dalam rumah, sementara saya dan Fajrin duduk di beranda, Mas Hasnan masih sibuk dengan laptopnya, mengedit jurnal terbaru yang akan diterbitkan. Mas Boy [Pradana Boy] masih berjalan mondar-mandir ngemong anaknya yang masih kecil. Lalu, Mas Boy mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah. Mata saya tertumbuk pada 2 rak besar berisi buku-buku.

Sore itu (22/11/14), atas ajakan Mas Hasnan, kami mampir ke rumah Mas Boy, setelah diskusi sederhana di kantor PSIF (Pusat Studi Islam dan Filsafat). Disana, kami bertemu dengan Zuni dan beberapa kader IMM UM, yang ternyata tengah belajar tilawatil Qur’an dengan Istri Mas Boy. Ruang tengah Mas Boy yang menggema, membuat alunan ayat Alquran yang mereka lantunkan, serasa menjadi soundtrack perbincangan kami sore itu, di ruang tamu ada saya, Fajrin, Yusuf, Mas Hasnan, Mas Boy dan tentunya tiga putra/i Mas Boy.
 
Ngobrol di kantor PSIF
Saya sempat mendekati dua rak buku besar itu. Mas Boy punya beberapa koleksi tafsir lengkap, mulai dari Tafsir Fi Zilail, Tafsir Al Misbah, dll. Termasuk buku-buku berbahasa inggris yang ia boyong dari luar negeri, sewaktu kuliah di Australia maupun Singapore. Beberapa kali saya berkunjung ke rumah para tokoh, dan pemandangannya sama ; rata-rata mereka memiliki koleksi buku yang banyak, dan tertata rapi di rak-rak. Mas Boy menjelaskan bahwa buku-buku ini beliau koleksi semenjak masih kuliah s1.

Lantas saya mengingat kembali koleksi buku-buku saya di rumah. 80% koleksi buku saya adalah Novel, dan rata-rata adalah novel diskonan alias hasil cuci gudang, beberapa buku teori perkuliahan, buku hadiah dari acara Kepenulisan, hingga buku-buku “how to” yang agaknya saya beli karena terhipnotis oleh cover dan judulnya. Saya lupa kalau itu adalah teori marketing. Saya sempat kepincutdengan paket Tafsir Al Misbah yang harganya 1 juta lebih itu, kala itu saya baru saja dapat rejeki nomplok 4 juta dari beasiswa magang kemenag. Tapi niat itu saya urungkan.
Yusuf lagi melihat-lihat buku

Saya teringat jika kesadaran saya mengoleksi buku baru muncul akhir-akhir ini. sebelumnya, saat masih kuliah, kadang saya hanya pinjam di perpustakaan, maksimal mem-foto copy, sisanya googling di internet. Saya baru ngehkalau mengoleksi buku itu penting. Karena itulah yang bisa menjadi investasi, dan barangkali akan menjadi teman nostalgia di masa depan. Haha

Selanjutnya, kami berbincang santai. Mas Boy sedikit bercerita soal JIMM dan Rumah Inspirasi, serta flash back ke awal-awal berdirinya JIMM hingga mimpi besar Kang Moeslim Abdurrahman yang belum terealisasi karena Allah Swt terlebih dulu memanggilnya. Mas Boy pun juga menceritakan prospek JIMM di masa depan, termasuk Rumah inspirasi yang menjadi spirit gerakan JIMM. Dalam waktu dekat, JIMM juga akan menerbitkan Jurnal yang akan disebarkan ke PDM dan PWM se-Jawa dan Sumatera.

Fajrin lagi ngeliatin buku juga
Di segmen yang lain, saya juga sempat bertanya tentang waktu membaca Mas Boy. Saya pernah membaca artikel, bahwa tokoh sekaliber Amien Rais dan Buya Syafii Maarif, menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca buku. Apakah kiranya hal itu juga dilakukan Mas Boy? Ternyata tidak. Mas Boy bercerita bahwa dia bisa sewaktu-waktu membaca, terutama ketika dalam perjalanan, entah di Mobil atau Pesawat. Mas Boy juga menjelaskan, yang terpenting bukan banyaknya membaca, tapi kualitas membaca.

Di awal-awal mahasiswa, ia memang banyak membaca, dan itulah yang kemudian menjadi kebiasaan. Mas Boy sendiri menyadari, bahwa membaca itu butuh pembiasaan. Tetapi pembiasaan saja tidak cukup. Kadang banyak membaca, tapi tidak paham atau belum bisa memahami apa yang dibaca, karena mungkin saja kajiannya terlalu berat. Tapi Mas Boy menyarankan, kalau belum bisa paham apa yang dibaca, diteruskan saja sambil memahami.

Tapi kadang kala, apa yang sudah dibaca dan apa yang sudah dipahami, akan mengendap dalam kepala. Ia akan hilang kalau tidak selalu diingat. Untuk itulah forum diskusi dan menulis itu penting agar apa yang kita baca dan kita pahami, bisa mengendap lebih lama dalam otak. Seyogyanya, apa yang sudah kita baca, kita ungkapkan kembali entah melalui bahasa verbal (bicara) maupun melalui tulisan.

Jadi kalau saya buat siklus sederhananya, agar membaca bisa efektif dan tetap awet dalam ingatan kita, menurut Mas Boy harus melalui empat tahap. Membaca harus butuh pembiasaan à Pemahaman à Pengendapan à Ungkapkan kembali. Jadi setelah terbiasa membaca, maka cobalah memahami, setelah itu apa yang kita baca akan mengendap dalam otak, agar tak hilang maka Ungkapkanlah kembali apa yang sudah kita baca tersebut, baik dengan cara berbicara di forum diskusi, maupun melalui tulisan.

Itulah resep membaca efektif dari Mas Boy. Untuk saat ini, dalam membaca, Mas Boy pun punya strategi sendiri, yaitu memulai dari indeks. Bukan lagi banyaknya buku yang ia baca, tapi lebih pada kualitas membaca. Tak heran kalau Mas Boy sudah pada level ini, karena tentu beliau sudah melalui proses yang panjang tadi, apalagi sekelas mahasiswa Ph.D.

Akhirnya, selepas Magrib kami pamit pulang. Malam itu kami punya agenda ke DAD koms. Pelopor UIN Malang di Balai Dsn. Bulukerto Kota Batu. Dalam perjalanan, saya terus merenung, mengoreksi kebiasaan membaca saya yang ternyata sangat payah. Hampir jarang saya menghabiskan satu buah buku, terkecuali Novel. Saya juga lebih sering membaca artikel-artikel pendek di internet atau koran. Maka tak heran jika otak saya jadi otak koran. Sekali dibaca – dibuang. Atau minimal untuk bungkus bawang, lombok, dan terang bulan limaratusan. Hehe *Bercanda.

Saya juga baru ingat, bahwa dalam setiap diskusi, kelemahan terbesar saya ada pada teori-teori, atau seperangkat metodologi. Karena jarangnya saya membaca buku secara utuh, dan lebih sering membaca artikel pendek. Saya lebih banyak berbicara hal-hal yang faktual dan temporal.

Sore itu –berawal dari silaturahim sederhana di rumah Mas Boy, barangkali akan menjadi titik rapiditas dalam kehidupan saya. Semacam reagen kimiawi yang memadukan dua unsur penting dalam akselerasi pemikiran yang sempat beku, bahkan stagnan karena terlalu sering bergulat dalam formalitas yang menjenuhkan.

Satu catatan penting untuk para pembaca. Silaturahim ternyata bisa mengakselerasi cara kita berfikir :) terima kasih sudah membaca catatan sederhana ini.

Batu, 23 November 2014
A Fahrizal Aziz

Wednesday, November 19, 2014


ilustrasi dari Google

Setelah tak mendapatkan majalah Horison, saya kemudian menuju ke rak novel. Ada dua novel bagus, saya membeli dua buah : Bara Aksadewa karya Mahfud Asa dan Welcome to America karya B.M Nguyen. Kemudian, saya antri di kasir, di depan saya berdiri seorang lelaki paruh baya berkaos hijau. Dari baris antrian, lelaki itu nampak khawatir melihat putri kecilnya berlarian, lantai lumayan licin, mungkin ia takut putrinya terpeleset.

Sebenarnya, tujuan saya ke toko buku itu untuk membeli majalah horison. Tetapi karena tak ada, akhirnya saya berkeliling mencari novel. Sayang sekali, toko buku sebesar itu, tapi tak memiliki koleksi yang lengkap. Pernah saya mencari serial kelima supernova #gelombang. Tapi juga tidak ada. Sampai tadi malam pun, saya amati rak khusus bertuliskan “New Arrival”. Novel #Gelombang juga belum tersedia. Atau mungkin memang tidak tersedia.

Tapi saya sudah membeli #Gelombang di Gramedia Malang.

Akhirnya saya membeli novel berjudul Bara Aksadewa, sejenis novel mitologi. Alasan saya membeli novel itu, karena tertarik dengan sebuah kata yang menurut saya begitu indah : Kinnara. Tambah menarik, karena di pojok kiri atas, ada hastag naskah terbaik #FikFanDIVA.

Novel kedua yang saya beli berjudul Welcome to America. Sebuah novel memoar karya B.M Nguyen. Dari namanya, sepertinya bukan orang Indonesia. Novel itu konon menjelaskan sisi lain America yang terkenal glamour dan menyediakan banyak kebahagiaan.

So, dalam minggu ini, Fahri’s Library kedatangan tiga penghuni baru yang kesemuanya dari penerbit Diva Press. Sebelumnya, saya membeli novel berjudul Dzikir Jantung Fatimah, Ada Tuhan di Negeri Kanguru karya Naning Pranoto. Salah satu yang memberikan endorsement adalah Masdhar Zainal, penulis berbakat FLP Malang yang saya kenal.

Baris antrian semakin berkurang, lelaki berkaos hijau di depan saya sudah berhadapan dengan kasir berjilbab, menyodorkan buku belanjaannya. Dari kejauhan, putri kecilnya memanggil-manggil dan berlarian ke arahnya. Saya agak khawatir melihatnya, karena lantai keramik itu benar-benar licin.

Saat putri kecilnya itu mendekat, benar saja. Ia tergelincir jatuh. Tepat disamping ayahnya. Sontak lelaki itu berteriak. YESUS! Di belakanganya, saya berteriak agak pelan : INNALILAHI. Begitu pun kasir berjilbab di depan lelaki itu.

Ia langsung menolong anaknya. Untung saja, hanya terpeleset biasa. Tak apa-apa. Anak kecil itu juga tak nangis. Ia pun kembali ke depan kasir sambil menggendong anaknya, dan mengeluarkan sejumlah uang untuk menebus buku-buku itu. Lalu ia berjalan menuruni tangga, masih sambil menggendong anaknya dan mencoba menenangkan, sambil mencangking kantong plastik berisi beberapa buku yang ia beli.

Kini giliran saya yang menyerahkan dua buah buku belanjaan. Sementara pikiran saya masih tertumbuk pada peristiwa beberapa menit tadi. Bukan peristiwa terpelesetnya anak kecil itu, tapi peristiwa pengucapan YESUS dan INNALILAHI yang nyaris bersamaan. Sebuah ekspresi religius yang muncul secara sepontan.

Ternyata, manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan alamiahnya terhadap Tuhan. Saya tersenyum senang. Sebelum pergi ke toko buku ini tadi, saya nyaris kehilangan waktu sholat magrib karena terlalu asyik di depan laptop, memanfaatkan wifi di cafe itu. Untung saja, ada Musholla disana, meskipun Musholanya hanya seluas 2x2 M.

Alhamdulilah.
18 November 2014
A Fahrizal Aziz

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi