Senggang
Tuesday, May 16, 2017
Tidak ada yang benar-benar tahu apa arti sebenarnya dari kata “Jancuk”. Hanya saja, kata ini dianggap negatif karena sering muncul saat memaki orang, mengumpat, dan marah. Meskipun di daerah lain, seperti Malang dan Surabaya, kata ini lumrah diucapkan, hanya untuk sekedar menyapa teman yang sudah benar-benar akrab.
Jancuk kerap disebut kata negatif, meskipun secara harfiah kita juga tidak tahu apakah itu benar-benar kata negatif. Negatif tidaknya berkaitan dengan suasana saat mengucapkannya. Seperti kata “anjing” dan “asu”.
Anjing adalah nama hewan, bukan kata negatif. Kalau orang bilang “eh itu ada anjing lepas”, tidak ada yang aneh dan perlu marah. Namun jika kata anjing digunakan untuk memaki, “eh dasar anjing lu”, bisa memicu pertengkaran, bahkan adu jotos.
Waktu pertama naik bus ke Malang, saya sempat kaget ketika kenek bus bilang “ayo kacuk, kacuk persiapan”. Wah, orang ini kok tidak sopan sekali? bathin saya. Ternyata kacuk adalah nama tempat. Jika ingin ke Malang kota, orang lebih memilih turun di kacuk, lalu naik angkot. Karena disana banyak sekali angkot dan taksi yang mangkal.
Orang Malang sendiri sudah biasa menyebut nama “kacuk”, karena memang itu nama daerah. Barangkali ada banyak nama daerah—dalam bahasa yang berbeda—yang dalam bahasa lain mengandung arti yang sensitif.
Begitu pun dengan kata Jancuk dan anjing. Nama-nama hewan memang sering dilekatkan untuk perilaku manusia yang tak senonoh. Babi, kucing, ayam, kampret, buaya, serigala, dlsb.
Bahasa memang sangat melakat pada budaya sekitar. Bahkan dalam satu budaya pun, terdapat beberapa sub budaya yang berbeda. Seperti budaya Jawa, ada beda antara Jawa mataraman, dengan Jawa pantura (termasuk Malang di dalamnya). Di Jogja, memanggil orang yang lebih tua dengan kata “sampean” bukan sesuatu hal yang sopan. Namun di Jawa bagian lain, termasuk Blitar, Tulung Agung, dan sekitarnya, itu masih dianggap sopan.
Selain faktor kebiasaan, nilai sebuah kata juga tergantung pada suasana yang tengah terjadi. Inilah kenapa kata “Jancuk” masih sangat riskan diucapkan, bahkan bisa menimbulkan problem, karena diucapkannya berbarengan dengan amarah.
Jadi negatif tidaknya kata “Jancuk”, sangatlah bergantung pada suasana. Karena apa arti sesungguhnya, kita pun juga masih menerka-nerka. []
Blitar, 12 Mei 2017
A Fahrizal Aziz
Thursday, May 11, 2017
Tiap orang memiliki candunya masing-masing, tergantung dimana letak candunya. Selama ini kata candu banyak dilekatkan kepada penyalahguna narkoba, perokok, atau minimal pengopi. Ketiganya disebut bikin kecanduan, sehingga susah untuk ditinggalkan, barang sehari sekalipun.
Candu sendiri mulanya adalah nama getah dari Papevir somniferum yang bisa mengurangi rasa nyeri. Juga untuk menamai cairan kental bewarna hitam sebagai campuran rokok, biasanya itu endapan kopi. Dalam KBBI, candu diartikan segala hal yang bisa menyebabkan ketagihan.
Kenyataannya, yang menyebabkan ketagihan tidak hanya narkoba, rokok, atau kopi. Meski ketiganya mungkin punya candu paling ekstrem dibandingkan yang lain. Bagaimana juga misalkan, jika seseorang kencanduan membaca. Terasa ada yang ganjil, jika sehari saja tidak membaca.
Jadi tidak semua candu itu berdampak secara medis, ada juga yang berdampak psikologis. Para penikmat buku tak ada bedanya dengan perokok. Keduanya sama-sama candu, hanya berbeda pada aktivitas candunya.
Perokok membelanjakan uang untuk membeli rokok, dihisab, lalu habis. Sementara tukang baca membelanjakan uang untuk membeli buku, dibaca, selanjutnya disimpan atau disumbangkan ke perpustakaan.
Jikalau candu berhubungan dengan kebahagiaan, misalkan dengan merokok atau minum kopi bisa merubah mood, maka itu juga berlaku pada orang yang candu olahraga. Ternyata ada orang yang merasa dirinya ganjil, jika tidak olahraga sehari saja. Meskipun olahraga ringan.
Di era sosial media, muncul tiga candu baru : pamer, mengeluh, dan berkomentar. Pamer tempat yang ia kunjungi, apa yang ia makan, gaji bulanan, dll. Semua difoto lalu di upload. Juga keluhan demi keluhan yang tiada habis-habisnya, bahkan sendal jepit putus saja dikeluhkan.
Belum lagi yang candu berkomentar. Apapun di komentari, dari urusan negara sampai dapur tetangga. Mendadak dia ahli dalam berbagai bidang, dengan komentar ala kadarnya dan tidak ilmiah sama sekali.
Mau bagaimana pun, candu tetaplah candu. Bahkan orang yang kecanduan membaca, bisa juga negatif. Apalah arti banyak membaca kalau itu untuk diri sendiri, tidak mau berbagi, atau dilain hal, tidak menjadikannya pembeda antara yang lain dalam aspek perilakunya. Apalah arti membaca, kalau ia menjadi sombong dan merasa pintar sendiri.
Jadi tidak perlu sampai candu, ada kalanya itu dibutuhkan, ada kalanya memang tidak harus dikerjakan, karena ada hal lain yang perlu dikerjakan. Apa yang dibaca tidak boleh dipenjarakan dalam otak, tapi harus dilepaskan ke kehidupan. Entah dalam bentuk perpsepi atau aksi. Begitulah semestinya.
Ternyata candu memiliki banyak variasinya, namun candu tetaplah hal yang perlu dihindari. []
10 Mei 2017
A Fahrizal Aziz
Sunday, May 7, 2017
Istilah ini sering kita dengar. Ada tipe orang yang idealis, atau memiliki idealisme yang tinggi. Namun apa maksud dari idealis tersebut?
Berasal dari kata ideal. Jika di pecah lagi, dari kata ide. Ide adalah gagasan atau pokok pikiran. Orang disebut idealis jika ia berfikir ideal, berfikir ideal artinya, berfikir sebagaimana ide yang telah ia cetuskan.
Ide bisa datang dari individu, tapi bisa juga dari kelompok. Sehingga, idealis berarti orang yang menjalankan sesuatu secara ideal, beradasarkan ide/gagasan yang telah disepakati atau diyakini.
Seorang idealis akan bertindak sesuai fikiran dan keyakinan awal. Ia tidak akan tergoyahkan oleh apapun. Mungkin ia sedikit kekeh dan keras kepala. Misalkan, dalam sebuah rapat, telah disepakati bahwa untuk menjalankan program tertentu, harus menggunakan cara A. Namun pada kenyataannya yang digunakan adalah cara B. Ini tentu tidak ideal.
Kaum idealis akan mempermasalahkan hal tersebut, karena itu tidak ideal. Meskipun pihak yang melakukan itu memberikan penjelasan bahwa kondisi tidak memungkinkan jika menggunakan cara A. Orang yang berfikir “disesuaikan kondisinya” adalah tipe kompromis.
Mana yang lebih baik? keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kaum idealis dianggap kaku, kaum kompromis dianggap terlalu luwes, namun besar kemungkinan akan menyakiti hati banyak orang, karena merubah sesuatu yang telah disepakati.
Sisi baiknya, kaum idealis adalah tipe orang yang setia. Taat pada aturan. Meskipun banyak yang tak bisa ia selesaikan, karena nyatanya banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dijalankan secara ideal. Hidup penuh dengan kompromi-kompromi.
Sebagian besar kaum idealis adalah mereka yang memiliki banyak ide, idenya mudah diterima dalam sebuah forum, karena kemampuannya mengkomunikasikan ide tersebut. Karena ia yang memiliki ide, biasanya dia yang paling pertama mengawal ide tersebut agar dijalankan, sehingga memunculkan sikap idealis.
Bisa juga, dalam sebuah kelompok, kaum idealis adalah yang paling menghayati keberadaannya dalam kelompok tersebut. Ia mempelajari ideologi, serta visi misi kelompok tersebut, dengan tujuan bisa menjadi orang terdepan yang menjalankannya. Ia akan marah dan mengkritik jika ada anggota kelompok yang keluar dari jalur ideologis kelompoknya.
Dalam sebuah kelompok, dibutuhkan orang idealis agar ada pengingat ketika kelompok tersebut telah keluar jalur. Namun disatu sisi, kaum idealis dianggap sulit berkompromi dengan keadaan. Misal, dalam sebuah institusi negara jelas-jelas haram melakukan pungli. Ada aturannya. Orang idealis akan setia menjalankan aturan tersebut. Namun ada oknum yang tidak ideal, yang “bermain di belakang”.
Dalam konteks diatas, kehadiran kaum idealis sangatlah penting. Meski seringkali ia merasa terasingkan, bahkan mendapatkan tekanan.
Ada banyak contoh idealis lain yang bisa kita temui dalam masyarakat, yang kekeh dan taat pada aturan tertulis, atau kesepakatan. Meskipun kesepakatan tersebut mungkin saja tidak tertulis. []
6 Mei 2017
Sunday, April 23, 2017
Akan tiba saat dimana duduk di depan laptop/pc menjadi sangat jenuh dan melelahkan. Hal ini tidak hanya dialami oleh para penulis saja, namun juga para pekerja kantoran yang aktivitas pekerjaannya banyak dilakukan di depan laptop atau komputer. Untuk itu kegiatan yang melibatkan fisik sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas tubuh.
Namun bukan berarti kita menyiapkan waktu tambahan untuk hal ini. Banyak kegiatan fisik yang harusnya kita lakukan, namun tidak kita sadari. Beberapa aktivitas tersebut antara lain :
Memasak
Bagi saya memasak adalah hal yang esensial. Karena ada banyak hal menarik yang kita lakukan. Mulai dari meracik bumbu, sampai menyajikannya menjadi makanan yang siap masuk ke perut. Memasak bisa menjadi aktivitas menarik untuk meredam fikiran yang jenuh.
Meski sebagai laki-laki, tak ada salahnya untuk mulai belajar memasak dan menyeduh minuman sendiri, seperti kopi atau teh.
Menyirami tanaman
Aktivitas ini juga menarik. Secara psikologis, menyirami tanaman mendekatkan kita pada lingkungan. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang menyukai tumbuhan, baik bunga ataupun pepohonan. Untuk itu, menyirami tanaman memberikan suatu kepuasan bathin tersendiri, karena sama halnya merawat mahluk hidup.
Ini bisa membuat suasana fikiran menjadi lebih rileks dan nyaman.
Sering jalan kaki atau bersepeda
Meskipun hampir setiap orang kini memiliki sepeda motor, namun tak ada salahnya kita membiasakan jalan kaki untuk bepergian jarak dekat. Misalkan ke warung tetangga, atau karena ada urusan yang jaraknya tak begitu jauh. Jika ada sepeda onthel, bisa menggunakan itu.
Ini membuat kita menjadi lebih sehat. Tubuh yang terlatih melakukan aktivitas fisik meningkatkan rasa percaya diri dan rasa bahagia, selain itu vitalitas juga kian terjaga.
Berbincang dengan teman
Membuat sebuah obrolan dengan teman, entah di warung kopi atau di rumah membuat suasana hati lebih baik. Apalagi jika teman tersebut memiliki kecocokan dengan diri kita, entah karena memiliki minat dan hobi yang sama, atau justru memiliki hubungan perasaan.
Karena berinteraksi dengan orang yang satu visi adalah interaksi bathin, tidak sekedar interaksi verbal. Biasanya, setelah terjadi interaksi, ada rasa puas, rasa bahagia, entah karena kita merasa sudah mencurahkan sesuatu, atau justru mendapatkan sesuatu yang baru.
Interaksi tersebut biasanya juga bisa memantik ide, untuk kemudian menjadi ide menulis.
Semoga catatan sederhana ini bisa sedikit memberikan input positif. Selamat berkarya. []
22 April 2017
A Fahrizal Aziz
Subscribe to:
Posts (Atom)

