RitusKesunyian

Saturday, April 4, 2015





****
Di rumah Egar
“Aku harus pulang,” ucap Awan sambil beranjak dari duduknya, kondisinya belum begitu pulih, tapi ia harus segera kembali, “Sangat senang sekali bisa bersamamu seharian ini, Gar,” lanjutnya.
Egar tak menjawab, wajahnya datar seperti biasa, ia bahkan tak mengantarkan Awan, setidaknya sampai pintu gerbang. Egar terus mengingat dan mempelajari setiap kalimat yang diucapkan Awan tadi, dalam benaknya bertanya-tanya, apakah ia mau mempengaruhi dirinya. Lalu, Egar beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menyusul Awan.
“Awan..” panggil Egar.
Awan membalikkan badan, mata mereka saling bertatapan.
“Biar Mamang yang mengantarkanmu,” pintanya, ia menarik tangan Awan, mengajaknya menuju mobil yang terparkir di garasi, Mamang pun terkesiap dan lekas menyiapkan mobil tersebut.
“Terimakasih, teman,” ucap Awan.
“Teman?” Egar tercenung, lalu kembali menatap mata Awan, “Dari sorot matanya sama sekali tidak ada kepalsuan,” bathin Egar. Setidaknya, Egar menguasai ilmu membaca sorot mata orang dari buku-buku psikologi itu.
“Ayo Nak Awan, Mamang antarkan,” sahut Mamang.
“Silahkan, teman....” ucap Egar.
Kini giliran Awan yang tercenung, teman? Ia membalikkan badan lagi dan menatap mata Egar. Teman? Baru saja Egar memanggilnya teman?
“Kamu memang pandai memainkan raut wajah, tapi saya tidak akan terpengaruh, saya akan tetap mengkritik sekolah itu beserta orang-orang yang memiliki sifat seperti kamu,” lanjutnya.
Awan pun kembali lesu, ia menundukkan kepala dan memberikan sebuah jempol kepada Egar, “Aku tak akan pernah lelah Gar, Bu Mira telah mengajarkan banyak hal kepadaku, dan aku juga banyak belajar dari hidup ini. Kamu tetaplah temanku,” pungkas Awan. Dan Mobil Pajero sport perak itu mengantarkan Awan, sementara Egar mematung ditempatnya, melihat mobil itu melaju hingga tak terlihat lagi olehnya.
“Teman?” pekiknya.
Ia teringat percakapan dengan Kak Refan dulu.
“Ketika tidak ada satu orang pun bisa memahami kita, mungkin ada satu orang yang akan mengerti,” ucap Refan.
“Siapa? Pacar?” Egar menebak.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Teman.”
“Teman?” Egar mengernyitkan dahi.
“Sejak kecil kita tidak pernah punya teman, kita hanya berdua, dalam rutinitas ini,” lanjut Refan.
Egar pun terdiam, gemerisik angin sore semakin mengusiknya, dedaunan yang runtuh menambah keadaan semakin hening, kini ia sepi lagi dalam kesunyian itu, setelah Awan datang beberapa saat menemaninya.

Friday, April 3, 2015





****
Sebuah telepon berdering. Di kantor itu, hanya ada tiga orang, Muklas berdiri dan mengangkat telepon tersebut.
“Halo selamat siang, ada yang bisa dibantu?” sapa Muklas.
“Selamat siang, benarkan ini kantor Nurani Institute?” suara perempuan membalas dari balik telepon, itu adalah Bu Mira.
“Iya betul, ada yang bisa dibantu, Bu?”
“Apakah Pak Guntur, ada?”
Lalu Muklas melirik Guntur yang tengah khuyuk didepan komputer, ia lantas memanggilnya dan Guntur pun berjalan ke arahnya.
“Halo, ini saya Guntur,” Sapa Guntur.
“Ini Pak Guntur, saya Mira, kepala sekolah SMA Cahaya hati.”
Guntur terperangah, hatinya berdesir mendengarkan suara lembut dari balik telepon itu, ternyata perempuan itu adalah Bu Mira, kepala SMA Cahaya hati.
“Bu..Bu..Mira?”
“Iya, saya mau ucapkan terima kasih karena bapak telah menulis opini itu, semoga semakin banyak orang-orang seperti bapak ini.”
Guntur terpaku dengan suara itu, sebuah suara yang ramah dan sangat ia rindukan.
“Ah, saya hanya menulis apa yang menurut saya harus ditulis Bu,” jawab Guntur.
“Bapak terlalu merendah, tidak banyak lembaga yang mendukung konsep Pendidikan disekolah kami, dan dukungan bapak sangat berarti.”
Mereka berdua pun terlibat percakapan panjang. Sampai akhirnya, Bu Mira mengundangnya untuk datang ke sekolah.
“Tapi maaf Bu, akhir-akhir ini saya masih banyak kerjaan, jadi mungkin masih belum bisa, oh ya, jangan panggil saya Bapak, karena usia saya masih muda. Panggil saja Guntur, Bu,” jelasnya sedikit berseloroh.
Bu Mira pun tertawa dan menjawab, “Baiklah, semoga kita bisa menyambung silaturahim ini lain waktu.”
Dan percakapan mereka berakhir. Guntur menutup teleponnya, ia tersenyum kecil. Sementara Bu Mira juga tersenyum, ia mendapatkan nomor lembaga itu dari internet, baru saja ia mencari informasi tentang Nurani Institute dan menemukan nomor kontaknya.
“Seperti apa anak muda yang bernama Guntur itu,” bathin Bu Mira setelah menutup telepon, ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar, hendak membuka internet untuk mempelajari lebih jauh tentang lelaki yang bernama Guntur, barangkali ia bisa mengetahui wajah anak muda itu.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, ponselnya memekik, ternyata ada panggilan masuk dari Mamang. Ia terkejut dan penasaran, tidak biasa-biasanya Mamang meneleponnya di hari minggu seperti ini.
“Halo, ada apa Mang?”
“Bu Mira, maaf mengganggu, saya hanya mau memberi tahu jika Awan semalam menginap disini, bersama den Egar.”
Bu Mira tertegun, benarkah demikian? Mamang menceritakan banyak hal, termasuk ketika Egar sangat panik dengan keadaan Awan. Bu Mira terenyuh, ia tahu kalau Awan telah melakukan banyak hal untuknya. Awan telah dengan tulus menjalankan permintaannya untuk menjadi teman Egar.
Mereka mengakhiri perbincangan itu, lalu Bu Mira berjalan menuju ruang kerjanya, belum sempat membuka internet, ia sudah kedatangan tamu dari komite sekolah. Akhirnya ia menunda rencananya untuk mencari tahu siapa Guntur Abadi itu.

Thursday, April 2, 2015



#10
Teman?
Bu Mira duduk santai di taman rumahnya, ditemani segelas teh, dan koran pagi. Jarang-jarang sekali ia memiliki waktu luang seperti ini, hari minggu seperti ini memang spesial, namun ia tidak pernah punya seorang pun untuk menemaninya di hari libur ini. Ia menyeruput teh hangat itu dan mulai membuka setiap halaman dari surat kabar pagi itu, dan ia tertarik dengan sebuah opini dari seorang bernama Guntur Abadi.
Ia membaca opini itu sampai habis, ternyata itu adalah sanggahan terhadap pemikiran Prof. Wahliya, dan di essay itu, ia melihat ada pembelaan yang jelas terhadap lembaga yang dipimpinnya ; SMA Cahaya Hati. Bu Mira semakin penasaran, ia membaca siapa nama penulisnya. Guntur Abadi, Direktur Nurani Institute.
“Siapa dia?” sebuah pertanyaan berkelindan dalam benak Bu Mira.
****
Di kantor sebuah LSM
Seorang Pemuda tersenyum puas dengan sebuah opini yang terpajang di surat kabar lokal pagi itu, ia menulis essay itu dalam waktu satu malam dan dengan lihai melobi pihak media agar memuatnya.
“Bang Gun, opininya bagus sekali, terasa menyentuh, tapi tumben sekali Bang Gun konsen ke Pendidikan?” tanya Muklas, teman dekatnya di LSM.
“Ini penting Klas, kakek lah yang menyarankanku untuk menulis ini, semoga bermanfaat.”
“Abah? Sepertinya kalian sekongkol ya?” Muklas berseloroh.
Guntur hanya tersenyum, ia pandangi sebuah foto perempuan yang telah ia ambil dari website dan ia masukkan ke ponselnya. Sebuah ekspresi kerinduan yang tidak bisa ditutupi.
“Apa kabar, Ma?” bathinnya. Tak terasa, airmata menepi, Guntur segera mengusapnya dan melanjutkan pekerjaannya, masih banyak naskah yang harus ia edit. Jika waktunya sudah tepat, ia akan menemui perempuan itu, “Aku akan terus bersama Mama untuk menyelamatkan sekolahan itu,” lanjutnya dengan senyum bahagia.
****
Di rumah Egar
Dengan berat Awan membuka matanya, terlihat langit-langit bewarna hijau dengan ornamen yang megah. Ia mengalihkan pandangan dan melihat Egar tengah duduk didepan komputer, tengah menulis sesuatu. Sinar matahari yang menyusup dari jendela, membuatnya terpicing.
“Kamu ceroboh sekali,” respon Egar,”Harusnya kamu memikirkan keadaanmu, kamu berlari terlalu kencang dan membuat kondisimu memburuk,” lanjutnya.
Awan melihat jam dinding, sudah hampir jam delapan pagi, ia mencari ponselnya, lalu Egar berjalan ke arahnya dan menyodorkan ponsel itu.
“Dari tadi seseorang meneleponmu,” ucapnya. Awan meraih ponsel itu, melepas oksigen yang terpasang dimulutnya dan melihat panggilan tak terjawab serta sms yang masuk. Lalu ia menelepon balik memberitahukan keadaannya, ia akan mengatakan pada orang tuanya jika kondisinya baik-baik saja dan kini dia sedang berada di rumah temannya.
“Kenapa kamu pintar sekali menyembunyikan sesuatu?” Egar kembali berkomentar, “Kamu harusnya mengatakan pada mereka jika penyakitmu kambuh,” lanjutnya.
“Nggak, aku nggak apa-apa kok,” jawab Awan, suaranya masih terdengar parau.
“Makanlah, sejak kemarin sore kamu belum makan, “ pinta Egar.
Awan melihat sebuah hidangan telah tersaji di meja dekat dirinya berada.
“Aku nggak ingat apa-apa, terakhir kali yang kuingat, kita dikejar anjing setelah pulang dari Masjid dan aku lari ketakutan, dan setelah itu aku nggak ingat apa-apa lagi.”
“Kamu begitu paranoid dengan anjing.”
“Jadi kamu yang telah menolongku? Terima kasih banyak, Gar. Maaf merepotkan.”
Egar terdiam, ia melihat raut wajah Awan yang pucat pasi, bagaimana pun juga, ia merasa ada sosok Refan yang hidup dalam tubuh Awan, ia merasa khawatir sesuatu terjadi padanya. Sebuah kekhawatiran yang sangat jauh dari sikap dinginnya selama ini.

Wednesday, April 1, 2015



****
Awan dan Egar berjalan menuju rumah, ia mengamati suasana sekitar dan ia melihat sesuatu yang tak asing baginya.
“Lukisan itu,” Awan melihat sebuah lukisan yang pernah terpajang di rumah Bu Mira, dan kini lukisan itu terpajang di kamar Egar.
“Harusnya kamu bisa meneruskan lukisan itu,” sahut Egar sambil menatap tablet kecilnya.
“Aku nggak bisa Gar,, lukisan ini begitu dalam maknanya..”
“Itu hanya sebuah lukisan, jangan terlalu mendramatisir.”
“Setiap lukisan yang dibuat, pasti memiliki tujuan Gar, begitu pula lukisan ini.”
“Menurutmu kenapa Refan membuat lukisan itu?”
“Refan ingin agar lukisan ini diteruskan oleh seseorang yang sangat ia sayangi.”
“Tapi Refan tidak pernah punya pacar.”
“Nggak harus pacar sih, bisa juga keluarga...”
“Kamu aneh, tidak ada yang bisa melukis di rumah ini, hanya Refan yang bisa.”
“Setidaknya, ada seseorang yang paling dekat dengan Refan dan mengetahui banyak hal tentang lukisannya,” Jawab Awan sambil memandang ke arah Egar.
Awan mengeluarkan sebuah brosur yang berisi pengumuman lomba cerdas cermat, lalu menyodorkan ke arahnya, “Aku sudah mendaftarkan kamu untuk menjadi tim kita.”
Egar menatap brosur itu dan meraihnya dari tangan Awan, “Ini event murahan, buat apa kamu mendaftarkan saya, saya tidak seharusnya ikut event rendah seperti ini.”
“Aku ingin sepertimu, yang sering memenangkan setiap lomba, tolong ajarilah kami,” ucap Awan sambil tersenyum.
Egar membuang muka. “Apa kalian sudah sadar dengan kelemahan pendidikan kalian selama ini? akhirnya kalian sadar juga.”
Awan hanya tersenyum, lalu ia memandang lukisan itu, “Aku berharap kamu akan meneruskan lukisan itu, Gar,” ucapnya.
Egar memandang lukisan itu, dia pernah memikirkan hal yang sama, tapi ia tak yakin akan mampu, karena Refan sekarang bukan lagi seseorang yang ia hormati sebagaimana dulu.
“Kamu lebih pintar melukis, harusnya kamu saja.”
“Aku bukan kak Refan, dan aku juga tidak pernah mengenal dia. Kamu lah yang lebih mengenal dia,” jawab Awan.
Egar terdiam, ia memang mengenal Refan, bahkan sangat mengenalnya. Tapi, kini nama Refan begitu asing, begitu manyakitkan untuk dikenang. Tak lama kemudian suara adzan memekik dari ponsel Awan, menandakan telah masuk jadwal shalat Ashar.
“Disini Masjid terdekat mana Gar? Ayo sholat bareng, kita ke Masjid.”
“Shalat?” Egar sedikit limbung, sebuah istilah yang lagi-lagi begitu asing.
“Iya, ayo,” Awan menarik tangan Egar dan mengajaknya keluar rumah mencari Masjid, Mamang terkesiap melihat mereka berdua.
“Mau kemana den?” tanya Mamang.
“Mau ke Masjid, Mang,” jawab Awan.
“Mamang antarkan ya,”Pinta Mamang yang terlihat sibuk mencari kunci mobil di sakunya.
“Ah nggak usah Mang,” jawab Awan.
“Tapi, Nak....”
Egar memberikan isyarat tangan, Mamang hanya mengangguk dan mereka berjalan keluar pintu gerbang. Ini untuk pertama kalinya, selama tiga tahun terakhir ini, Egar keluar rumah tanpa didampingi Mamang.
Egar tak memprotes sedikit pun dengan ajakan Awan, ia melihat jika Awan sangat mirip dengan Kakaknya. Suka memaksa, cerewet, dan selalu terlihat ceria. Tanpa ia sadari, ada sebuah senyum kecil tersungging dari bibir Egar. Entah, kapan terakhir kali ia tersenyum. Egar terus membuntuti Awan dan Awan terus-terusan berbicara, entah mengomentari lingkungan rumahnya, atau menanyakan hal-hal yang menurut Egar tidak penting.
“Bagaimana, Gar?” tanya Awan.
Egar terkesiap, ia tak begitu memperhatikan apa yang tadi diucapkan Awan, ia hanya mengamati gelagatnya yang mirip Refan. Ternyata jarak Masjid dengan rumah Egar cukup jauh, mereka cukup kelelahan melakukan perjalanan itu.
Selepas shalat ashar berjamaah, Awan mengajak Egar berjalan-jalan mengelilingi kompleks perumahan, di salah satu rumah, tanpa sengaja ada seekor anjing yang terlepas rantai pengikatnya. Awan sangat takut dengan anjing, mereka pun berlari terbirit-birit. Egar berulang kali mengingatkan tentang kondisi Awan, berlari seperti ini bukan ide yang baik, tak lama kemudian ada sesuatu terjadi dengan Awan. Ia pun roboh.

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi