Obrolan

Tuesday, May 1, 2018

Pak Jaiz tentu dekat dengan banyak organisasi mahasiswa, selaku Kabag Kemahasiswaan. Dekat juga dengan beberapa pengurusnya, dan sering mengisi kajian atau sekedar sharing bersama, sembari menyelipkan motivasi hidup.


Pak Jaiz juga familiar di kalangan mahasiswa baru, yang setahun pertama wajib tinggal di Ma'had. Beliau salah satu kiai atau pengasuh, meski jarang mau dipanggil kiai, dan kami lebih sering memanggilnya Syaikh.


Namun dari semua kedekatannya dengan banyak organ mahasiswa, kedekatan dengan IMM barangkali memiliki sisi emosionalnya tersendiri. Sebab beliau alumni pondok pesantren Karangasem, salah satu Ponpes berkultur Muhammadiyah terbesar di Indonesia.


Juga, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang. Sekalipun dulunya tidak terafiliasi dengan IMM. Kedekatan itupula, yang kadang kala bagi IMM, Pak Jaiz bukan sekedar pejabat kampus bidang Kemahasiswaan, namun sudah seperti bapak sendiri.


Sering, tiap kali IMM mengadakan agenda besar seperti misalnya mengundang tokoh PP, Pak Jaiz selalu memberi masukan, kadang memberi rekomendasi, termasuk yang terkait dengan birokrasi kampus. Bahkan tak jarang kami meminta paraf beliau pada surat yang hendak kami ajukan meminjam fasilitas kampus.


Beliau juga lihai dalam bertutur kata, memilih diksi-diksi yang tak biasa, menyelipkan kata-kata mutiara.


"Untuk sukses, harus ada yang kita korbankan," ucap Pak Jaiz suatu malam, ketika berjumpa dengan kader-kader IMM.


Kalimat itu saya renungi berhari-hari, sebab tidak tahu persis apa maksudnya, apa yang seharusnya kita korbankan? Ternyata mengorbankan kesenangan diri sendiri. Berlelah-lelah sejenak, demi meraih yang kita impikan.


"Untuk sukses, kita harus jadi pelupa," kata Pak Jaiz lagi, di pertemuan yang berbeda.


"Lupa dengan sifat malas, lupa dengan sifat pemalu, rendah diri," lanjut Pak Jaiz.


Ya, gaya bertutur Pak Jaiz memang sangat khas. Humoris, namun memiliki wibawanya sendiri.


Kelincahan Pak Jaiz dalam berkomunikasi juga nampak ketika misalkan ada gejolak di kalangan mahasiswa. Entah yang bersinggungan dengan sesama mahasiswa, atau dengan birokrasi kampus. Biasanya masalah tersebut tak berlarut-larut, dan cepat teratasi.


Meski sempat saya berbeda pendapat dalam satu hal, yaitu ketika Pemira 2010, ketika suasana ricuh, ketika pada akhirnya calon dari PMII dimenangkan dengan berapapun suara yang terkumpul, sebab TPS dirusak oleh sekelompok oknum.


Pak Jaiz mengharap IMM memperkuat struktur BEM-U, dan saya salah satu yang tidak sepakat soal itu, sebab berarti IMM menerima hasil pemira. meski ya, pada akhirnya IMM dapat beberapa posisi di BEM-U, sebagai Anggota dan Wakil Menteri.


Tetapi, tentu tidak mudah menetralisir suasana genting tersebut. Hebatnya, kasus yang sampai diliput beberapa stasiun televisi nasional itu bisa selesai dalam waktu yang relatif cepat. Tidak berlarut-larut.


***
Pernah juga pada suatu malam, selepas Isya, tiba-tiba Pak Jaiz datang ke kontrakan komisariat Revivalis di sumbersari gg. 3, yang kala itu menjadi komisariat bersama dengan pelopor.


Tanpa pemberitahuan sebelumnya, yang membuat kami para penghuni kontrakan sedikit kalang kabut sebab kondisi kontrakan yang berantakan. Tetapi, ya, Pak Jaiz begitu santai dan mengerti.


"Kalau rapi bukan sekret namanya," gurau Pak Jaiz.


Pak Jaiz juga sering menceritakan IMM kepada rektor kala itu, Prof. Imam Suprayogo.


Prof. Imam suatu ketika menelepon karena merespon tulisan saya terkait kasus korupsi yang sempat mengemuka.


Saya tidak tahu darimana Prof. Imam mendapat nomer saya, apalagi nomor yang digunakan menelepon juga bukan nomor beliau yang tersimpan di hape saya.


Dan rasanya, tidak mungkin juga Prof Imam menyimpan nomor saya, meski sempat beberapa kali berkirim pesan via sms.


Mungkin tahu dari Pak Jaiz. Sebab di ujung telepon Prof. Imam kemudian menanyakan, Pak Jaiz masih membina IMM?


Sebegitu perhatiannya, dan sekaligus selalu berharap agar aktivitas anak-anak Muhammadiyah tetap hidup di kampus UIN Malang. Sebagaimana LDK, KAMMI, dan HMI, agar kampus tetap berwarna, agar tetap muncul dialektika, agar suasana ber-fastabiqul khairat tetap terasa.


Tentu tidak mudah menjalankan hal tersebut. Mengayomi banyak organisasi mahasiswa, dan harus selalu adil dan dekat dengan semuanya. Pak Jaiz memang luar biasa.


Yang terkenang, ketika beliau menanyakan bagaimana budaya diskusi di IMM. Kata beliau, forum-forum tersebut harus tetap ada untuk mengasah kualitas kader. Bahkan kalau perlu menghasilkan kajian-kajian yang membangun.


"Berpolitik jangan terlalu kebablasan, yang penting bagaimana akademiknya, diskusinya, karena kedepan itulah yang lebih dibutuhkan, bahwa kalian punya kualitas. Saya ini sempat ditawari maju nyaleg di Ambon sana, tapi saya ingat ucapan Prof. Imam agar konsisten di akademik, padahal andaipun maju kemungkinan terpilih cukup besar," pesan Pak Jaiz.


Kalimat terakhir itu selalu saya kenang. Bahkan beberapa pesan dari beliau masih saya ingat, sebagian saya tulis di catatan kecil.


Maaf jika kami dulu sering merepotkan. Selamat jalan Ustad. Laha Al-fatihah.



Blitar, 29 Mei 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Tuesday, November 7, 2017



Saat wawancara, sebagaimana wartawan, saya sering kali mengajukan pertanyaan kritis, namun selalu dijawab santai dengan retorika yang baik.

Maklum, fikir saya, karena beliau adalah doktor bidang Sosiologi. Gaya bertuturnya pun khas seperti Kyai, yang llincah, humoris, nan sulit dibantah.

Misal, ketika saya mengajukan pertanyaan seputar pohon keilmuan yang selalu beliau banggakan, dan menjadi konsep pengembangan keilmuan di kampus. Akar dari pohon itu adalah Filsafat, bahasa, dan ilmu-ilmu dasar. Sementara batangnya Al Qur'an dan Al Hadits.

Kenapa Al Qur'an dan Sunnah tidak dijadikan akar? Itu berarti filsafat dan bahasa lebih penting?

Hal ini juga sempat menjadi pertanyaan banyak orang. Jika begitu maka UIN bisa melahirkan pemikir-pemikir liberal karena mendahululan logika/filsafat dalam mengkaji Al Qur'an dan Sunnah.

Lho? Kalau tidak bisa bahasa arab, kamu bisa baca Al Qur'an? Tanya beliau. Kalau tidak memahami landasan filosofis suatu ilmu, lalu bagaimana kamu mempelajarinya?

Ternyata jawabannya begitu sederhana. Filsafat dalam hal ini bukan untuk membredel Al Qur'an dan Sunnah, melainkan untuk mencari landasan filosofis suatu ilmu. Sementara ilmu, kata beliau, dibagi dalam tiga kelompok besar. Yaitu, sosial, sains, dan humaniora.

Dalam hidup, hal-hal filosofis menjadi sangat penting digali demi menemukan makna-makna. Apa, bagaimana, mengapa. Apa itu ilmu, bagaimana cara memperolehnya, dan untuk apa harus dikuasai/diciptakan?

Nah, dalam rangka mencari ketiganya tersebut, kita perlu membaca Al Qur'an dan Sunnah, sebagai petunjuk. Akan dijelaskan apa itu ilmu, apa saja jenisnya, bagaimana sampai mengapa diciptakan dan mengapa menusia harus mempelajari.

Menarik! Obrolan disela-sela wawancara tersebut seolah merangkum berbagai perkuliahan, atau proses keilmuan yang selama ini saya jalani, yang kadang berlangsung begitu saja.

Soal kemudian disinggung, kembali ke Al Qur'an dan Sunnah, sebenarnya ya tidak jauh berbeda. Kata beliau, konsep keilmuan di kampus ini ya sejalan dengan doktrin Muhammadiyah ruju' ila Qur'an wa Sunnah. Hanya konteksnya dalam hal Ilmu pengetahuan.

Meski kalimat "ruju' ila Qur'an wa Sunnah" terdengar nyaring dan renyah dibaca, namun penerapannya tidak mudah. Bahkan tak sedikit yang kemudian terjebak hanya mencomot terjemahan demi terjemahan, sehingga jadilah ia kaum tekstualis-skripturalis.

Sehingga HPT menjadi penting sebagai "alat bantu" memahami Al Qur'an dan Hadits, sebab tidak semua orang ahli dalam bidang tafsir Qur'an. Apalagi, menafsirkan Al Qur'an juga tidak cukup dengan metodologinya, tapi harus juga mempertimbangkan kajian lain. Buku-buku sosiologi dan sains juga bagian dari "alat bantu" tersebut.

Sepertinya memang sebagian konsep pengembangan keilmuan di kampus ini, disumbang oleh ideologi Muhammadiyah. Prof. Imam sendiri yang mengatakan demikian. Maklum, karena beliau lama bekerja di UMM, 20 tahun lebih. []

Blitar, 7 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz

Disarikan dari berbagai obrolan dengan Prof. Dr. Imam Suprayogo, mantan rektor UIN Malang.

Monday, November 6, 2017



Sebagai wartawan kampus kala itu, setidaknya saya dua kali wawancara beliau, dan dua kali pula, secara esklusif, datang ke kantor untuk menyerahkan undangan acara IMM.

Sebagai rektor yang sibuk, saya kira beliau akan melewatkan begitu saja setiap tulisan yang saya buat, kemudian dengan sengaja saya tag ke akun facebook beliau. Tentu tulisan tersebut yang berkaitan dengan beliau.

Ternyata tidak, bahkan beliau sempat membacanya. Satu tulisan, yang saya buat ketika masih semester pertama, bahkan dikomentari langsung melalui kolom komentar pada note tersebut.

Ketika beliau kemudian ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan lahan kampus II, saya juga membuat tulisan, dan tak dikira pula tulisan tersebut dibaca Prof. Imam, bahkan setelah itu beliau menelepon hampir satu jam lamanya, menjelaskan detail kronologi pengadaan lahan dsb.

Alhamdulilah kemudian kasus itu tidak berlanjut dan status tersangka beliau pun dicabut.

Tapi saya tidak dekat dengan beliau, selain hanya sebagai mahasiswa dan dosen. Meski kerap kali ada anggapan begitu, sebab karena saya bekerja di Majalah Suara Akademika milik Kemahasiswaan, dan karena kedekatan tersebut saya bisa masuk dan jadi P.J rubrik wawancara di kemudian hari.

Tidak begitu adanya, meski Kabag Kemahasiswaan adalah orang yang loyal dengan Prof. Imam, dan terkenal lincah dalam membangun komunikasi dengan OMEK.

Bahkan masuknya saya ke Suara Akademika, tidak atas rekomendasi IMM. Meski ada peluang untuk itu. Saya daftar, mengikuti seleksi sangat ketat, termasuk seleksi lapangan.

Bahkan Kabag Kemahasiswaan baru tahu kalau saya IMM, setelah saya masuk. Seleksi semacam itu konon tidak diberlakukan lagi pada tahun-tahun berikutnya, sehingga Majalah tidak terbit lagi. Karena sifatnya rekomendasi, belum tentu memenuhi kualifikasi.

Prof. Imam pun ketika bertemu saya, belum tentu ingat sepenuhnya, baru ingat kalau misal ditambahi penjelasan, anak IMM, yang ngurusi penelitian.

Ya, sebab ketika saya menjadi Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) PC IMM Malang, meski kala itu statusnya sudah resign, Prof. Imam bersedia hadir mengisi stadium general pada acara Workshop Riset.

Bangga karena beliau bersedia hadir, dan tentu saja selalu menolak diberi fee. Bahkan tak jarang kemudian malah dimarahi, "mahasiswa dana minus kok coba-coba ngasih amplop?" Tentu dengan nada bercanda. Artinya, beliau memang senang berbagai ilmu dan pengalaman, terutama dengan anak-anak IMM.

Tapi ada perbincangan menarik, ketika suatu saat saya menemui beliau di kantor. Suasana sepi waktu itu, Prof. Imam duduk di meja sambil menandatangani sertifikat yang menumpuk. Kantor rektor sangat luas, mewah dan ada kursi tamu yang memanjang.

Waktu itu Prof. Abdul Munir Mulkhan mau datang ke Malang dalam rangka safari buku terbarunya. Informasi tersebut disampaikan oleh mantan pengurus DPP IMM mas Ulul Azmi Rizal.

Saya mengajukan surat permohonan kepada Prof. Imam sebagai pembanding, sekaligus menyerahkan buku terbaru Prof. Munir Mulkhan. "Kok baru bikin buku ndak bilang saya ya?" Ucap Prof. Imam sembari membolak-balik buku tersebut.

"Pak Munir itu selalu, kalau bikin buku mesti yang berat-berat," lanjutnya, disertai tawa.

Tentu Prof. Imam sendiri tidak bisa memastikan apakah waktu itu bisa menjadi pembanding. Saya harus menemui sekretarisnya untuk mengecek jadwal. Pada hari pelaksanaan bedah buku, Prof. Imam akan kedatangan tamu dari Sudan, jam 10 pagi.

Sementara jadwal bedah buku dari jam 08.00-11.30. Itupun biasanya molor. Setelah itu saya kembali ke ruangan Prof. Imam, biasanya kalau ada tamu jam segitu, sudah termasuk pagi. Sehingga agenda lain tidak bisa terpenuhi.

Sayangnya, karena IMM agak telat menyampaikan surat, dan jadwal rektor tentu sangat padat. Tapi saya bilang saja ada waktu, apalagi setelah "agak berbohong" kalau ini langsung permintaan dari Prof. Mulkhan.

Benar, acara dimulai sekitar pukul 09.00. Sementara Prof. Imam berada di forum sampai sekitar pukul 10.30. Berulang kali saya dihubungi sekretaris beliau, karena Prof. Imam jarang buka hp kalau sedang di forum, apalagi kalau sudah berbicara, sangat berapi-api.

Tapi akhirnya sekretaris berhasil juga menjangkau ponsel beliau, sehingga sebelum acara berakhir, beliau pamit kembali ke kantor. Demi IMM, tamu dari Sudan harus menunggu hampir satu jam.

Blitar, 6 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz

Disarikan dari berbagai obrolan dengan Prof. Dr. Imam Suprayogo, mantan rektor UIN Malang.


Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi