My Life

Wednesday, April 26, 2017

Yang membaca tulisan ini, mungkin akan bertanya, sejak kapan doyan makan?

Padahal makan bukan soal doyan atau tidak, tapi soal kebutuhan. Mau tidak mau, kita harus makan untuk menyambung hidup.

Namun makanan memang dikreasi sedemikian rupa, sehingga memunculkan banyak variasinya. Meski makan sebagai kebutuhan, disatu sisi kita menyadari jika makan juga merupakan keinginan.

Periode Sekolah
Waktu sekolah, hampir tidak pernah saya memikirkan apa makanan favorit. Saat harus mengisi biodata, misalkan ada tugas membuat biodata diri, jawaban dari pertanyaan, apa makanan favorit? Hampir selalu susah saya jawab.

Biasanya yang tahu jawaban itu adalah Ibu kita, yang biasanya menyediakan makanan di rumah. Kalau mau dibilang favorit, segala hal yang berbau daging sapi selalu menjadi favorit. Misal, sate kambing, soto babat, rawon, dll.

Di rumah, masak daging justru jarang. Yang lebih sering adalah masakan bersantan. Atau kadang sayur sop. Keunggulan masakan bersantan ialah, bisa untuk beberapa hari. Besoknya masih bisa dihangatkan. Itulah kenapa, banyak Ibu-ibu yang suka masakan bersantan.

Waktu SD, tiap kali berangkat sekolah bareng bapak, biasanya mampir warung dekat sekolah. Menunya hampir selalu sama : nasi, tempe, dan hati ayam yang digoreng. Kata bapak itu makanan favorit.

Tapi kata emak, makanan favorit saya adalah sayur sop yang isinya dominan wortel, kubis, makaroni, brokoli, kentang, dll.

Belakangan saya tahu, jika jawaban itu hanya kira-kira saja. Emak saya bilang begitu, karena makan sayur lebih baik dari segi kesehatan. Makanya, alternatif makanan di rumah, kalau tidak sayur bersantan, adalah sayur sop. Pokoknya serba sayur.

Periode Kuliah
Baru pas kuliah, karena tinggal di asrama dan kontrakan, saya mengira-ngira apa makanan favorit saya. Meski enak tidaknya suatu makanan kalau di warung, juga bergantung dengan harga.

Waktu tinggal di asrama, tiap sore saya dan teman asrama sering beli lalapan belakang kampus. Harganya masih terjangkau. Lalapan tahu dan tempe masih 3.500. Jika lagi bokek, biasanya kami memesan itu.

Di belakang kampus ada juga warung bambu, yang menjual lalapan namun dibakar dan diberi kecap. Saya baru tahu jika makanan yang diberi kecap lebih menggoda selera. Sebagian menyebutnya bumbu bali. Termasuk telur yang dikecapi sampai bewarna coklat.

Setelah pindah di kontrakan sumbersari selama dua tahun, saya langganan warung madura. Penjualnya biasa kami sebut Mak Duro. Tapi warung madura itu ada dua yang terkenal, ini adalah warung madura sumbersari Gg. 1.

Mak Duro memang ahli memasak. Hampir semua masakannya enak. Biasanya saya menambahkan kecap ketika marung disana. Beberapa menu yang saya favoritkan adalah rawon, ikan pari, dan lalapan mujahir yang sambalnya ditetesi jeruk nipis.

Setelah itu, pindah kontrakan ke kertoleksono, depan kampus. Disana ada warung khas Blitar. Maksudnya khas Blitar, ternyata penjualnya asli Blitar. Rantauan dari Blitar. Harganya memang sedikit mahal, tapi rasanya memang enak. Tidak ada menu khusus, kadang hanya menu-menu rumahan, layaknya warung makan ala anak kos.

Waktu rapat redaksi Majalah, saya hampir selalu mendapatkan tugas memesan konsumsi. Karena yang rapat biasanya pejabat kampus, maka biasanya nasi kotak, atau kalaupun dibungkus, menunya minimal masakan padang.

Ada yang pesan via telp, ada yang langsung ke warung. Untuk yang pesan antar, yang paling sering adalah makanan khas bali yang ada ayam betutunya, serta ayam penyet Surabaya.

Jika ke warung, lebih sering ke warung depan indomaret sumbersari gg. 1. Masakannya enak-enak, namun juru masaknya kurus sekali. Ternyata meski tiap hari dikelilingi makanan enak, tidak lantas membuat Ibu itu menjadi gemuk.

Ada juga warung prasmanan depan pintu gapura kertorahardjo, disana cap caynya enak sekali. Bahkan sampai pernah saya makan tanpa nasi. Setelah mengambil, langsung bayar di kasir.

Namun jika dirangkum, dari semua makanan yang pernah saya cicipi, mungkin soto daging dan rawon masih menjadi juaranya. []

26 April 2017
A Fahrizal Aziz

Tuesday, April 25, 2017


Jika ditanya, apakah aku rajin membaca? Jawabannya adalah tidak. Apalagi jika ditanya apa bacaan favorit. Jujur, tidak ada yang benar-benar favorit. Kalau sekedar suka, mungkin ada. Tapi mau seperti apapun, kita harus cinta membaca, meski sedikit terpaksa.

Aku tidak punya waktu khusus untuk membaca. Tidak ada jadwal, seminggu harus habis berapa buku, atau tiap hari berapa lembar. Karena fikirku, buat apa bikin jadwal begituan? Nah, ini menunjukkan jika aku sebenarnya tipe yang malas membaca.

Aku membaca, kalau lagi ada sesuatu. Pas kuliah, aku membaca karena misalkan, besok harus presentasi. Karena itu, aku harus memiliki performa yang baik, salah satunya dengan menyampaikan wawasan yang seluas-luasnya.

Kalau lagi tidak ada presentasi, atau tugas makalah, bahkan menyentuh bukupun enggan. Aku jadi membayangkan, andai aku tak pernah kuliah, apa jadinya kondisi otakku sekarang.

Itu semakin seru, ketika ada dialog atau bahkan semacam debat. Bukan berarti aku menyukai perdebatan. Karena bagiku, perdebatan adalah cara terbaik untuk menguji sejauh mana wawasan kita. Jika lawan debat kebetulan punya wawasan yang lebih, justru itu akan memberikan sesuatu yang positif bagi diri kita, bukan?

Selain itu, aku membaca karena biasanya harus menjadi pemateri sebuah diskusi, atau diundang untuk sebuah kajian. Untung saja aku pernah berorganisasi, terutama di Rohis. Jelek-jelek begini aku pernah jadi aktivis Masjid, meski muka agak mesum.

Karena undangan itu, aku jadi membaca, sadar bahwa untuk bisa menyampaikan sesuatu, maka otak harus diisi oleh wawasan dan analisis mendalam. Tak disangka itu menjadi kebiasaan.

Bagiku, sekarang membaca punya pengertian yang agak luas. Jika suatu ketika aku terlihat melamun, atau khusyuk memandangi sesuatu, sesungguhnya itu bagian dari "membaca". Membaca apa yang tak tertulis.

Tapi untuk memacu semangatku untuk terus membaca ditengah deraan rasa malas, maka aku ikut komunitas. Sekarang tiap minggu sekali ada kajian rutin tentang kepenulisan. Aku upayakan untuk berpendapat, makanya aku masih mau membaca dan membuat analisis, agar pendapatku sedikit ada bobotnya.

Selain itu, aku juga punya komunitas bernama Paguyuban Srengenge yang kajiannya lintas tema. Ini semakin memacu semangat sekaligus menjaga iklim membaca dalam diriku sendiri.

Artinya, mau semalas apapun membaca, pada akhirnya harus tetap membaca (dan kadang membeli buku) karena ingin memberikan sumbangsih gagasan dalam setiap pertemuan komunitas yang aku ikuti. Apalagi jika mendapatkan tugas menulis atau membuat opini, disitulah membaca atau menggali data menjadi hal yang sulit dihindari.

Tetap semangat membaca, meski didera rasa malas yang kian menguat akhir-akhir ini. []

24 April 2017
A Fahrizal Aziz

Saturday, April 22, 2017

Saat ikut ekstrakurikuler Jurnalistik, dan harus terjun menjadi wartawan, hal yang paling aku pikirkan kala itu adalah kemampuan bicara. Apalagi dalam berbagai diklat yang aku ikuti, seorang Jurnalis harus dituntut untuk aktif bertanya.


Sedikit demi sedikit, aku belajar untuk melatih kemampuan verbal. Meski itu tidak mudah, mengingat dasarnya aku sangatlah pendiam, dan demam panggung.


Tapi entah karena apa, keinginan untuk memperbaiki kemampuan komunikasi sungguh begitu besar. Karena bagiku kala itu, kemampuan bicara berada pada jalur yang sama dengan kemampuan menulis.


Sampai saat ini, jika orang baru mengenal, mungkin akan mengiraku pendiam. Hal itu tak salah, karena memang begitu adanya. Bahkan dalam berbagai dialog, jika tidak diminta berbicara, kadang aku cenderung diam.


Sampai suatu ketika, ada beberapa teman mengomentari tulisanku--atau sedikit memuji--kemampuan menulisku yang bisa mendeskripsikan sesuatu secara detail, meski tidak banyak bertanya ketika kejadian itu berlangsung.


Kala itu aku memang punya anggapan begini, kemampuan bicara dan bertanya itu ada kaitan dengan sifat dasar. Ada yang memang dasarnya suka bertanya dan banyak bicara. Tapi gak banyak yang ditangkap, atau diingat.


Aku yang memang punya karakter dasar pendiam, sebenarnya tidak sepenuhnya diam tanpa respon. Aku menyadari bahwa kurang begitu lihai dalam melakukan percakapan, mungkin kemampuanku adalah menyimak, menjadi pendengar.


Bahkan jika aku putar ulang rekaman wawancara yang pernah aku lakukan, ternyata durasinya cukup panjang, dan aku lebih sering melempar pertanyaan yang singkat-singkat.


Seharusnya aku aktif bertanya untuk lebih menggali data dari narasumber. Inilah yang kadang aku fikirkan setiap kali selesai wawancara, atau melakukan liputan. Merasa kurang mendapatkan cukup data.


Tapi tiap kali itu jadi tulisan, banyak yang menilai datanya sudah cukup, bahkan ada plus plusnya.


Berangkali aku memang terlalu asyik menjadi pendengar, sampai-sampai lupa untuk menggali lebih dalam. Meski kadang, narasumber yang aktif sekali bicara, sudah menjawab banyak hal bahkan sebelum kita mengajukan pertanyaan.


Jurnalis itu disatu sisi juga seorang pendengar, penyimak, yang kemudian menuliskan. Bertanya seperlunya. Meski sekarang aku tidak lagi terlibat penuh di dalamnya. []


A Fahrizal Aziz

Sebenarnya parfum Axe black adalah jenis parfum yang lama aku pakai. Sebelumnya adalah Casablanca homme. Sejak dulu aku memang cocok pada parfum casablanca.


Baru setelah itu beralih ke Axe, mencari suasana baru. Dari Axe black kemudian beralih ke axe gold. Axe gold lebih tajam baunya.


Setelah itu ingin berganti lagi, yang merk langka. Ketemulah posh cool blue, yang harganya lumayan terjangkau untuk kantongku, ketimbang axe.


Sekarang semuanya tersedia. Aku menggunakannya bergantung kondisi. Jika untuk pertemuan jenis A, aku menggunakan casablanca. Jika pertemuan jenis B, aku menggunakan axe black. Termasuk pada jenis pertemuan C dan D.


Sehingga aroma kamar memiliki kombinasi harum dari empat parfum tersebut. Dari keempatnya, posh cool blue paling lama habis. Padahal sama-sama 150ml


Yang paling cepat habis adalah casablanca homme, karena hanya 100ml. Mungkin setelah ini ada kombinasi parfum lain lagi, misal parfum non alkohol yang sering aku gunakan khusus hari Jum'at :)


Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi