Wednesday, April 26, 2017
Waktu sekolah, hampir tidak pernah saya memikirkan apa makanan favorit. Saat harus mengisi biodata, misalkan ada tugas membuat biodata diri, jawaban dari pertanyaan, apa makanan favorit? Hampir selalu susah saya jawab.
Baru pas kuliah, karena tinggal di asrama dan kontrakan, saya mengira-ngira apa makanan favorit saya. Meski enak tidaknya suatu makanan kalau di warung, juga bergantung dengan harga.
A Fahrizal Aziz
Tuesday, April 25, 2017
A Fahrizal Aziz
Saturday, April 22, 2017
Saat ikut ekstrakurikuler Jurnalistik, dan harus terjun menjadi wartawan, hal yang paling aku pikirkan kala itu adalah kemampuan bicara. Apalagi dalam berbagai diklat yang aku ikuti, seorang Jurnalis harus dituntut untuk aktif bertanya.
Sedikit demi sedikit, aku belajar untuk melatih kemampuan verbal. Meski itu tidak mudah, mengingat dasarnya aku sangatlah pendiam, dan demam panggung.
Tapi entah karena apa, keinginan untuk memperbaiki kemampuan komunikasi sungguh begitu besar. Karena bagiku kala itu, kemampuan bicara berada pada jalur yang sama dengan kemampuan menulis.
Sampai saat ini, jika orang baru mengenal, mungkin akan mengiraku pendiam. Hal itu tak salah, karena memang begitu adanya. Bahkan dalam berbagai dialog, jika tidak diminta berbicara, kadang aku cenderung diam.
Sampai suatu ketika, ada beberapa teman mengomentari tulisanku--atau sedikit memuji--kemampuan menulisku yang bisa mendeskripsikan sesuatu secara detail, meski tidak banyak bertanya ketika kejadian itu berlangsung.
Kala itu aku memang punya anggapan begini, kemampuan bicara dan bertanya itu ada kaitan dengan sifat dasar. Ada yang memang dasarnya suka bertanya dan banyak bicara. Tapi gak banyak yang ditangkap, atau diingat.
Aku yang memang punya karakter dasar pendiam, sebenarnya tidak sepenuhnya diam tanpa respon. Aku menyadari bahwa kurang begitu lihai dalam melakukan percakapan, mungkin kemampuanku adalah menyimak, menjadi pendengar.
Bahkan jika aku putar ulang rekaman wawancara yang pernah aku lakukan, ternyata durasinya cukup panjang, dan aku lebih sering melempar pertanyaan yang singkat-singkat.
Seharusnya aku aktif bertanya untuk lebih menggali data dari narasumber. Inilah yang kadang aku fikirkan setiap kali selesai wawancara, atau melakukan liputan. Merasa kurang mendapatkan cukup data.
Tapi tiap kali itu jadi tulisan, banyak yang menilai datanya sudah cukup, bahkan ada plus plusnya.
Berangkali aku memang terlalu asyik menjadi pendengar, sampai-sampai lupa untuk menggali lebih dalam. Meski kadang, narasumber yang aktif sekali bicara, sudah menjawab banyak hal bahkan sebelum kita mengajukan pertanyaan.
Jurnalis itu disatu sisi juga seorang pendengar, penyimak, yang kemudian menuliskan. Bertanya seperlunya. Meski sekarang aku tidak lagi terlibat penuh di dalamnya. []
A Fahrizal Aziz
Sebenarnya parfum Axe black adalah jenis parfum yang lama aku pakai. Sebelumnya adalah Casablanca homme. Sejak dulu aku memang cocok pada parfum casablanca.
Baru setelah itu beralih ke Axe, mencari suasana baru. Dari Axe black kemudian beralih ke axe gold. Axe gold lebih tajam baunya.
Setelah itu ingin berganti lagi, yang merk langka. Ketemulah posh cool blue, yang harganya lumayan terjangkau untuk kantongku, ketimbang axe.
Sekarang semuanya tersedia. Aku menggunakannya bergantung kondisi. Jika untuk pertemuan jenis A, aku menggunakan casablanca. Jika pertemuan jenis B, aku menggunakan axe black. Termasuk pada jenis pertemuan C dan D.
Sehingga aroma kamar memiliki kombinasi harum dari empat parfum tersebut. Dari keempatnya, posh cool blue paling lama habis. Padahal sama-sama 150ml
Yang paling cepat habis adalah casablanca homme, karena hanya 100ml. Mungkin setelah ini ada kombinasi parfum lain lagi, misal parfum non alkohol yang sering aku gunakan khusus hari Jum'at :)