Menyusur
Sunday, September 30, 2018
2018 adalah tahun ke-10 berdirinya FLP Blitar, sejak diresmikan pada 31 Agustus 2008, di Aula Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Kota Blitar, dihadiri langsung oleh Ketua FLP Pusat kala itu Pak Irfan Hidayatullah.
Pada kesempatan itupula diadakan Musyawarah wilayah, dan memilih ketua FLP Wilayah Jatim. Terpilihlah Bu Sinta Yudisia, yang dikemudian hari menjadi ketua FLP Pusat.
Jadi, dalam kapasitasnya yang baru berdiri, FLP Blitar pernah jadi tuan rumah Musyawarah wilayah.
Saat itu, saya masih 16 tahun. Meluangkan waktu disela sekolah, sekaligus mengurus ekstrakurikuler Jurnalistik, dari situlah berjumpa dengan orang-orang yang kemudian bersama-sama mendirikan FLP Blitar.
Sayangnya saya hanya bisa aktif sampai Juli 2009. Karena setelah itu hijrah ke Malang, kuliah dari Senin-Jum'at, dan berbagai kegiatan tambahan pada Sabtu dan Ahad.
Sejak itu saya vakum dari FLP Blitar. Sesekali datang pada acaranya, seperti seminar kepenulisan di Unisba pada 2010. Namun tidak aktif mengurus organisasinya.
Saya kemudian bergabung dengan FLP Ranting UIN Malang pada pertengahan 2010 itu. Setahun kemudian jadi sekretaris, pada pertengahan 2012 menjadi ketua selama 20 bulan, hingga akhir 2013.
Setelah itu saya memang tidak ingin aktif lagi di FLP. Meski yang lain masih aktif, bahkan yang lebih lama dari saya, masih aktif di kepengurusan cabang dan ranting misalkan.
Kenapa tidak ingin aktif lagi? Sebaiknya berorganisasi itu jangan terlalu lama. Kalau sudah re-organisasi, cukup jadi penyemangat kepengurusan yang baru.
Kalau memang ada kesempatan ke struktur yang lebih tinggi, misalnya Wilayah atau Pusat, ya bisa lanjut disana. Kalau tidak, mending tidak perlu jadi pengurusnya lagi.
Asalkan jangan meninggalkan generasi yang lemah.
###
Awal 2015 kesibukan saya di Malang tak terlalu padat, sehingga bisa bolak balik ke Blitar untuk mempersiapkan "agenda baru". Hingga pertengahan 2015 bisa benar-benar kembali ke Blitar.
Akhirnya komunikasi dengan FLP Blitar terjalin lagi, sekaligus bersepakat untuk menghidupkan kegiatan di dalamnya. Padahal saya sempat tidak ingin aktif lagi di FLP, namun yang menjadi pemikiran waktu itu, saya belum pernah benar-benar aktif di FLP Blitar.
Bagi saya, ini menyambung keterputusan sejak pertengahan 2009 silam. Tentu dengan pengalaman yang berbeda, dengan semangat dan mood yang berbeda pula.
Dari 2015 hingga 2018 kini, sudah hampir 4 tahun FLP Blitar kembali eksis. Bahkan sangat eksis, dengan 2 kali menerbitkan buku, rutin pertemuan mingguan, agenda-agenda kepenulisan yang dijalankan, sampai masuk koran radar Blitar. Hehe
Dari 2008-2018 pula FLP Blitar memiliki empat ketua, periode Mbak Gesang Sari Mawarni dan Mbak Lilik Nuktihana dari 2008-2015. Lalu Ahmad Saifudin dan Rosy Nursita dari 2015 hingga sekarang.
Sejak kembali ke Blitar pada pertengahan 2015, saya memang ingin aktif ber-literasi di Blitar. Bertemu Alfa Anisa dan Rere, yang kemudian bisa silaturahim ke LPM di kampus-kampus.
Selain tetap menengok adik-adik di Ekstrakurikuler Jurnalistik Man Kota Blitar, tempat saya pertama kali belajar menulis dan berkegiatan literasi.
###
2017 FLP Blitar begitu eksis, selain pertemuan rutin, ada juga kegiatan Goes To School, dua kali mengadakan kegiatan puisi : perayaan hari puisi dan gempa puisi, serta melengkapinya dengan menerbitkan buku antologi puisi.
Bersama kawan-kawan FLP Blitar, saya mewujudkan keinginan yang terpendam sejak lama, yaitu ikut memeriahkan kegiatan literasi, sastra, dan budaya. Mengabdi di tanah kelahiran sendiri.
Akan tetapi, kelemahan terbesar dari sebuah komunitas, tidak adanya pengelolaan organisasi yang formal dan terstruktur. Termasuk kaderisasi. Padahal FLP Blitar termasuk organisasi kaderisasi penulis.
Misalkan saja, soal sistem penerimaan anggota baru, kaderisasi di dalamnya, hingga sistem pergantian kepengurusan, dari ketua dan jajarannya. Hal semacam itu perlu dipikirkan, agar ada proses berkesinambungan.
Agar tidak vakum ketika ditinggal penggeraknya yang lama. Meski untuk menjalankan sistem keorganisasian tersebut juga tidak mudah.
Itulah kenapa komunitas, apalagi komunitas literasi, kadang timbul tenggelam. Eksis, vakum, lalu eksis lagi, dan ada kemudian yang benar-benar vakum selamanya.
Karena sifatnya komunitas, maka orang yang bergabung pun juga membidik sesuatu, katakanlah, ingin bisa menulis. Setelah hal itu didapat, akan pergi.
Atau ada juga, setelah masuk dan bergabung, tidak menemukan yang dicari, lalu pergi. Ada juga yang masuk, aktif beberapa kali diawal, lalu tidak istiqomah.
Ya itulah variasinya, sedikit sekali yang berfikir soal regenerasi dan keberlangsungan organisasi.
Artinya komunitas kepenulisan tidak hanya melahirkan orang yang bisa menulis, namun juga melahirkan orang-orang yang bisa mengajarkan menulis ke yang lain.
Karenanya wadahnya perlu dirawat, komunitasnya perlu tetap eksis sebagai wadah tersebut.
10 tahun FLP Blitar ini sudah cukup lumayan. Meski sempat vakum dan aktif kembali pada 2015 hingga saat ini, berjalan 3 tahun lebih.
Namun seberapa usaha untuk menghidupkan komunitas literasi, wabil khusus dalam bidang kepenulisan, tetap akan kembali pada kesadaran bahwa, menulis adalah kegiatan individual.
Seperti halnya membaca, sudah berapa banyak komunitas baca yang tidak eksis lagi. Sebab membaca adalah kegiatan individu. Ruang yang benar-benar personal.
Saya pun pada akhirnya, setelah banyak momentum bersama komunitas saya lalui, akan kembali merenung pada aspek ini : sudahkah saya sendiri menulis?
Jika Nabi bersabda bahwa hari ini harus lebih produktif dari kemaren, maka yang terjadi pada FLP Blitar justru sebaliknya.
Bagi saya itu hal wajar dan maklum, ada saat semua perlu jeda, merenung sejenak dari semua yang telah dilalui. Hingga pada akhirnya FLP Blitar vakum kembali, seperti sebelum 2015, maka memang sudah saatnya.
Ada saatnya ruang aktualisasi kita pun berganti, asalkan jangan sampai terhenti. Selamat ber-literasi, dari diri sendiri. []
Blitar, 30 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Friday, November 21, 2014
![]() |
| Ilustrasi |
Sore itu saya hendak menyelesaikan dua tulisan, namun kurang beberapa referensi. Saya sudah membuka buku-buku koleksi pribadi namun tak menemukan. Saya lupa kalau 80% koleksi buku saya adalah novel. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan bung karno, dan selanjutnya ke cafe untuk memanfaatkan jaringan wifi.
Tapi suasana agak mendung. Biasanya saya pergi ke warnet, tapi agak riwuh karena harus memindahkan beberapa file ke flashdisk. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari sinyal wifi. Sebenarnya bisa saja menggunakan modem, tetapi jaringan begitu lamban.
Jarak antara rumah ke perpustakaan atau ke cafe, lumayan jauh. Sekitar 15 km. Tetapi saya sudah terbiasa sejak SMA, dan rasanya dekat-dekat saja.
Dengan berkendara motor matic, saya memulai perjalanan. Melewati jembatan kademangan, melintas perbatasan kabupaten-kota yang dekat hotel gita puri, tembus ke pertigaan rembang – perempatan balapan, karangsari dan terhenti di lampu merah perempatan kawi.
Saat berhenti, gerimis kemudian turun. Melihat suasana sekitar, sepertinya ini bukan gerimis pertama. Kota Blitar baru saja hujan. Genangan air masih terlihat jelas, jalanan basah, dan pepohonan nampak segar. Saya yakin, gerimis ini bukan pertanda hujan, melainkan sejenis netralitas dari hujan sebelumnya.
Dari berbagai arah, terlihat anak-anak berseragam sekolah memadati jalan. Sepertinya mereka baru saja selesai jam belajarnya. Dengar-dengar, kurikulum 2013 membuat anak-anak harus pulang lebih lama. Saya lirik jam tangan. Pandom kecil tertuju ke angka 4.
Sejurus kemudian, pikiran saya seperti menyetel sebuah tayangan lama. Masa lalu. sejak masih menjadi anak SMA. Peristiwa yang sudah berjalan sekitar 5 tahun lalu. Bahkan lebih. Kira-kira, judulnya adalah gerimis dan anak SMA. Judul yang spontan tertuang.
Saya tersenyum syahdu. Rol-film dalam otak saya masih menyusur file-file di long term memori. Saat masih berseragam abu-abu, berlarian diantara gerimis, suasana sore yang teduh, basah, bercanda dengan teman, hingga berteduh di warung pinggir jalan sambil menikmati segelas teh panas yang lupa diberi gula.
Mendung. Gerimis. Hujan. Selalu menyisakan impresi lain terhadap suasana. Masa lalu. Sebuah ruang penuh kehangatan, keteduhan, dan sangat memorable. Saya jadi teringat sebuah lirik lagu : terlalu indah dilupakan. Tetapi saya tidak tahu, seberapa lama ingatan itu akan menetap di kepala. Pernah terfikir untuk menuliskannya. Agar tak hilang.
Saya memang menjalani masa SMA dengan sangat aktif. Mengikuti berbagai organisasi, rajin berkunjung ke perpustakaan, join di berbagai pengajian dan komunitas. Tapi saya juga tak kehilangan waktu hangout, jalan-jalan sama teman, malam mingguan, nonton bola, bermain ps dan sesekali bermain futsal (jarang).
Jarang pulang ke rumah tepat waktu. Kalau jam pelajaran berakhir 13.45. Maka saya akan tiba di rumah sekitar magrib, atau bahkan lebih. Padahal menurut norma, anak sekolah harus pulang tepat waktu. Tapi apa daya, banyak hal – kegiatan – hobi – dll. Yang meminta untuk diperhatikan. Untung saja, orang tua saya memaklumi.
Yang penting tidak neko-neko. Karena kata nenek, itu berbahaya. ^_^
Lampu sudah berubah menjadi hijau. Seluruh kendaraan sudah memacu gas. Saya pun harus segera mengakhiri tayangan singkat itu. sebuah film dokumenter sederhana yang hanya bisa saya nikmati sendiri. Durasinya hanya beberapa detik saja.
Sunday, November 16, 2014
| Masjid Al Furqon Kota Batu |
Kota Malang sudah mulai diguyur hujan. Sudah tiga hari ini saya numpang di “rumah singgah” klandungan, tujuannya hanya satu ; menghadiri beberapa kegiatan IMM. Seperti kunjungan DAD, Mengisi materi, dan menjadi penggembira dalam workshop kepenulisan PC IMM Malang.
Sabtu Pagi (15/11/14), saya memulai perjalan ke DAD Komisariat Revivalis di Masjid Alfurqon Batu. Sempat merasakan nikmatnya sholat dhuhur di masjid itu, masjid yang bagus, bersih, dan menyuguhkan pemandangan yang indah.
| Pemandangan samping Masjid |
Disana, saya hanya mengantarkan Yusuf mengisi materi ke-IMM-an, sambil berbincang sederhana dengan para panitia dan pengurus komisariat yang nampak (masih) bersemangat. Ada 10 kader baru yang ikut DAD. Lumayan.
Selanjutnya, perjalanan darat kembali dilanjutkan ke SMA Islam Batu. Disana tengah prepareuntuk persiapan workshop kepenulisan PC IMM Malang. Sampai kemudian sebuah sms mendarat ke ponsel. Itu sms dari Fatih dan Zu’a. Saya harus ke tawangargo-Karangploso karena harus mengisi materi Logika Berfikir. Saya dengar, DAD Reformer dihadiri 5 orang peserta.
| suasana makan siang DAD Revivalis |
Perjalan dari SMA Islam Batu ke Karangploso ternyata tidak berjalan mulus, ada kemacetan panjang sebelum jembatan merah, disebabkan truck yang macet dijalan tanjakan. Materi yang dijadwalkan pukul 12.45, berlangsung jam 13.15.
Akhirnya, saya bisa bertemu dengan lima peserta DAD tersebut. Satu laki-laki, dan empat perempuan. Saya jadi teringat ketika menjadi MOT tahun 2011 dulu. Peserta DAD ada 12 (seingat saya), dan hanya ada 2 orang laki-laki. Salah satunya, tidak bisa ikut hingga akhir. Mungkin karena tekanan psikologis.
| Bertemu lima peserta DAD Reformer |
Seperti halnya di Revivalis, para panitia DAD Reformer pun nampak (masih) bersemangat. Meskipun beberapa terlihat lelah. Maklum, dua hal yang pasti ketika menjadi peserta atau panitia DAD, adalah kurang tidur dan (kurang) makan. Hehe.
Untung saja, saya masih fresh karena pagi itu sarapan soto ayam lamongan di dekat bulukerto.
Setelah mengisi materi, saya berbincang sejenak sampai sekitar jam 4 sore. Baru kemudian kembali ke SMA Islam Batu. Disana sudah dimulai materi pertama bersama Pak Himawan Susanto. Dosen UMM, yang sekaligus memberikan motivasi untuk menulis hingga magrib berkumandang, dan kami sholat berjamaah di mushola minimalis milik sekolah tersebut.
| Narsis bareng peserta workshop |
Selepas magrib, saya keluar mencari makan malam, sekaligus menikmati jalanan kota Batu. Sebuah kota yang terintegrasi dengan suasana pegunungan yang sejuk. Serasa berada di desa, tapi bisa sekaligus menikmati modernitas kota.
Sekitar jam 20.00, workshop dilanjutkan materi kedua. Kali ini, Mas Pradana Boy ZTF datang sebagai pemateri. Kandidat Doktor National University of Singapore tersebut lebih banyak menceritakan pengalaman pribadinya dalam menulis, terutama dalam menulis Novel. Mas Boy membagikan banyak inspirasi, banyak hal-hal reflektif yang beliau ceritakan. Bagi Mas Boy, menulis adalah panggilan hidup.
Tentu sangat menarik mendengarkan Mas Boy yang selama ini dikenal sebagai akademisi maupun intelektual, dan bahkan pernah disebut Prof. Imam Suprayogo sebagai the next Cak Nur, berbicara soal Novel. Sebuah karya sastra yang identik dengan hal-hal fiktif. Meskipun banyak juga novel yang berangkat dari realita.
| Mas Boy berbagi inspirasi |
Mas Boy mengakhiri materi sekitar pukul 22.28 WIB. Saya melengkapi buku catatan kecil saya dengan “inspirasi malam dari Mas Boy”. Akhir pekan yang penuh makna, menyusur kota batu, bertemu dengan calon-calon kader muda progresif, dan mengikuti dua “kuliah” menulis yang mencerahkan.
Tiga kata kunci untuk hari ini : Musim Hujan, DAD, dan inspirasi malam. Terima kasih atas pembelajaran berharga itu ya Tuhan. Besok masih ada motivasi menulis dari Mas Hasnan.
Malam ini saya akan beristirahat sejenak, diatas kursi, disebuah bangunan yang sudah mulai tua. Tanpa selimut, dan semilir hawa dingin meranggas masuk melalui ventilasi. Semoga saya tidak masuk angin.
15 November 2014
A Fahrizal Aziz
| suasana forum DAD Revivalis (mengintip) |
Pagi itu (15/11/14) saya sarapan soto ayam lamongan di bumiaji, sambil menanti Yusuf Hamdani mengisi materi ke-IMM-an di DAD komisariat Revi(valis). Minggu ini, dua komisariat IMM UIN Malang mengadakan DAD, satunya Refo(rmer) yang melaksanakan DAD di balai desa tawangargo karangploso Malang.
Malam sebelumnya, saya sudah berkeliling ke Revi dan Refo. Berkendara menyusur jalanan kota batu, lewat alun-alun yang modern itu, bersama Fajrin dan Luthfi. Singgah di Masjid Alfurqon Kota Batu, tempat acara DAD Koms. Revivalis. Disana, ada sepuluh peserta. Fajrin menjadi pembuka acara, dan saya hanya mengantarkan, sambil sesekali memotret suasana.
| mampir makan nasi goreng dulu |
Kali ini, saya mengunjungi DAD sebagai “pengunjung biasa”. Bukan sebagai pembuka acara, bukan sebagai pemateri, ataupun pimpinan cabang. Sekarang saya murni sebagai domisioner. Saya jadi teringat kembali masa-masa menjadi panitia dan instruktur. Meskipun terakhir, saya kembali menjadi instruktur LID setelah –sekian lama—tak berkutat dalam ikatan. Saya resign dari kesibukan di IMM bulan maret. 8 bulan yang lalu.
Namun saya masih tetap berbagi banyak hal dengan teman-teman IMM. Entah berbagi melalui tulisan sederhana seperti ini, atau menghadiri kajian dan undangan menjadi pemateri DAD.
Saya mengikuti DAD akhir tahun 2009, dan mulai menjadi instruktur akhir tahun 2010. Kala itu, pesera DAD hanya lima orang. Tentu ada rasa sedih, kecewa, dan frustasi. Psikologis forum pun jadi berbeda ketika pesertanya sedikit. Ketika saya ikut DAD, jumlah pesertanya hanya 7 orang. Sebagai peserta, tentu ada rasa tak nyaman pula.
Saya pernah merasakan dua-duanya. Menjadi peserta dan instruktur. Merasakan tak nyamannya DAD dengan jumlah peserta sedikit, dan sedihnya menjadi instruktur dengan jumlah peserta tak seberapa.
Mungkin saja, perasaan itu juga dialami oleh pengurus, instruktur sekaligus panitia DAD komisariat Revi maupun Refo. Di satu sisi, semangat para ‘penggerak’ ikatan ini tengah menggebu-gebu. Semoga saja, penurunan kuantitas kader ini tidak menjadi alasan serius untuk ‘kehilangan semangat tersebut’.
Begitupun yang pernah saya alami tahun 2009 dan 2010. Terlalu dini pula untuk menilai bahwa penurunan kuantitas tersebut akan berimbas pada penurunan kualitas.
Tahun 2009, dari (hanya) tujuh peserta, bisa melahirkan ketua komisariat, Korkom dan Cabang. tahun 2010, yang (hanya) lima peserta, bisa melahirkan ketua komisariat, korkom, dan pimpinan cabang.
Kalian tentu tahu siapa yang saya maksud. Ialah sahabat saya Rasikh Adila dan Yusuf Hamdani. Ada juga adik angkatan saya, Farikh, Fajrin, dan Robi. Mereka adalah sedikit dari yang sedikit itu.
Akhirnya, setelah menemani Fajrin membuka DAD koms. Revivalis, kami memutuskan untuk belok ke kiri, menuju balai desa tawangargo tempat DAD Reformer. Meskipun kami harus memutar jalan terlebih dahulu untuk mencari makan malam, dan singgalah kami di warung nasi goreng sederhana di pinggir jalan.
Sampai jumpa di DAD Reformer nanti, saya akan mengisi materi Logika Berfikir (lagi).
Subscribe to:
Posts (Atom)
