JIMM

Sunday, May 27, 2018


"Kenapa tidak nulis?"


Selain Mas Subhan Setowara, ada beberapa lagi yang bertanya, terutama teman satu angkatan di IMM.


Tadarus JIMM kali ini memang menjadi call for paper, membuka ruang bagi siapapun untuk menulis paper kemudian mempresentasikannya.


Ada tujuh sesi presentasi. Tiap sesi ada 5-6 pemakalah, yang mana setiap sesi akan didampingi satu panelis dari senior JIMM.


Tentu menarik, bisa presentasi di hadapan peserta dan panelis, Sekaligus menjadi ruang dialektika yang segar, dan mungkin menantang.


Tetapi sayangnya saya tidak menulis. Bukan tidak sempat, tetapi memang tidak tahu akan menulis apa. Kalau menulis sekedar menulis mungkin bisa, tetapi kurang puas. Sampai terlewat dateline, ternyata tidak ada topik atau tema khusus yang bisa saya tawarkan.


Mungkin gairah perlu di-charge ulang. Forum tadarus JIMM ini bisa menjadi salah satunya. Duduk dan mendengarkan presentasi dari beberapa orang, juga perspektif dari panelis. Meski dalam beberapa segmen agak terkantuk-kantuk.


Sejak kembali ke Blitar, setelah tujuh tahun di Malang, saya masih melibatkan diri dalam komunitas literasi, termasuk membuat komunitas paguyuban srengenge. Masih mengagendakan diskusi rutin mingguan tiap hari Jum'at bersama pustakawan Perpustakaan Bung Karno.


Tetapi memang kurang total. Agenda diskusi rutin tersebut sebenarnya lebih untuk "menjaga mood", belum sampai mengeksplorasi gagasan yang terstruktur. Paling hanya membaca buku lalu menceritakan ulang.


Tetapi itu sudah lumayan. Ada forum diskusi rutin mingguan. Ada website sebagai ruang aktualisasi. Meski kurang masif. Kurang puas.


Kadang saya berfikir lebih baik Paguyuban Srengenge dibubarkan, Lha daripada hanya gitu-gitu saja? Tetapi paguyuban srengenge inilah yang "menamai" eksistensi kami.


Berat juga menyandang ketua komunitas, namun tidak produktif alias mandul. Selain itu juga diperbincangkan di Internal Muhammadiyah sendiri : sudah ada organisasi, ortom, tapi kok bikin komunitas. Bukankah lebih baik masuk ke dalam dan dijadikan program?


Serba dilematis, bukan?


Harapannya Paguyuban Srengenge ini menjadi wadah kultural bagi IMM Blitar, tetapi hasrat membaca, diskusi dan menulis di IMM Blitar sendiri juga melempen.


Anehnya masih ada saja yang menyanjung Paguyuban Srengenge. Sekedar menceritakan aktivitas di dalamnya mungkin tak masalah, tetapi kalau sampai menyanjung berlebihan, justru saya malu sendiri. Karena saya ketuanya.


Apalah arti kebanggaan palsu?


Tetapi hadirnya Paguyuban Srengenge juga tidak lepas dari iklim intelektual yang diciptakan JIMM, yang mewabah dan memberikan kesan begitu mendalam.


Bagaimana seorang mentor bernama Moeslim Abdurrahman bisa mendorong anak-anak muda kala itu untuk studi ke berbagai belahan dunia, sampai memperoleh gelar doktor.


Bagaimana dari rahim kultural tersebut, bisa melahirkan banyak tokoh-tokoh baru, yang kini menjadi nilai tawar tersendiri, tidak saja bagi Muhammadiyah namun juga bangsa Indonesia secara umum.


Gelombang tersebut menciptakan letupan-letupan semangat bagi kader-kader muda berikutnya, terutama bagi kader IMM maupun IPM.


Itulah kenapa forum JIMM selalu menggairahkan, bernas, dan menyulutkan persepsi-persepsi yang menantang. Disatu sisi melahirkan kritik-kritik yang menohok, disisi lain memunculkan harapan yang besar.


Berjumpa dengan orang-orang yang memiliki ikhtiar dan komitmen yang tinggi, dengan resiko yang tak mudah, terutama ketika awal pendiriannya, yang kerap disalah pahami.


Setelah tadarus ini, sepertinya muncul kembali energi baru. Terutama energi untuk membaca kembali buku-buku "berat". Juga energi untuk menulis sesuatu yang lebih berbobot ; penuh data, referensi, dan gagasan progresif. Insyaallah.


Blitar, 27 Mei 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Thursday, June 30, 2016



Pertama kali saya berjumpa dengan Pak Pradana Boy pertengahan tahun 2010. Saat itu saya masih semester II, dan belum genap enam bulan menjadi kader IMM. Oleh Komisariat, saya di daftarkan untuk mengikuti pelatihan menulis yang diadakan IMM Koms. Fastco UMM, yang salah satu pematerinya adalah Pak Boy. Selain Pak Boy, Pemateri lain kala itu adalah Mas Subhan Setowara, Mas Hasnan Bachtiar, Mas Haeri Fadly dan Mas Denny Mizhar untuk kategori karya Sastra.


Pak Boy mengisi sesi paling awal, yang sekaligus bercerita soal bukunya yang notabene adalah Tesis Masternya di Australia National University. Selama ini saya hanya mendengar nama Pak Boy, terutama ketika masih mengikuti DAD (Darul Arqam dasar), dimana pemateri ke-Muhammadiyahannya kala itu adalah Mas Ali Muthohirin (yang sekarang Sekjend DPP IMM). Mas Ali beberapa kali menyebut nama Pradana Boy.


Baru kali itu, di acara pelatihan menulis Koms. Fastco UMM, saya bertemu dengan Pak Boy. Seingat saya, agenda pertama itu berlangsung di Aula Masjid AR Fachrudin, baru hari selanjutnya pindah ke GKB. Sosok Pak Boy lebih muda dari bayangan awal saya. Waktu masuk ke ruang forum, saya belum tahu kalau itu Pak Boy, saya kira panitia atau moderator, karena terlihat muda sekali. Ternyata itu Pak Boy, penulis buku yang akan didiskusikan, dan juga senior IMM Malang jebolan Australia.


Tambah meyakinkan, ketika masuk materi. Ada banyak istilah yang membuat saya mengerutkan kening, terlebih ketika membahas istilah konservatif dan Progresif. Ada Islam konservatif, ada Islam progresif. Saya baru tahu kalau ada istilah Islam konservatif. Selama ini, istilah konservatif atau konservasi, seringnya terdengar ketika ada banjir bandang, dimana perlunya konservasi hutan. Sama dengan istilah restorasi yang kini menjadi jargon salah satu parpol. Istilah restorasi pertama kali saya dapati di gerbong kereta api, ada tulisan ‘ruang restorasi’ yang ternyata semacam dapur.


Bagi mahasiswa baru seperti saya, diskusi itu begitu berat. Ada banyak istilah yang belum saya pahami, atau istilah yang sama dengan pemaknaan yang berbeda.


Diskusi berikutnya, berlangsung sekitar akhir 2010 atau awal 2011. Sering kali saya diajak berkeliling oleh senior saya di IMM UIN Malang, namanya Abdul Kholiq, untuk mengikuti diskusi dan kajian. Termasuk kajian di RBC (Rumah baca Cerdas) yang kala itu hadir Prof. Malik Fadjar. Sosok legendaris, tidak saja di Muhammadiyah, tapi juga di UIN Malang. Bahkan rektor saya kala itu, Prof. Imam Suprayogo, dalam berbagai kesempatan berulang kali memuji Prof. Malik sebagai sosok yang sangat berjasa bagi UIN Malang.


Tak berselang lama juga, saya membaca tulisan Pak Boy yang sangat kritis berjudul “PTM dan Demokratisasi”. Tulisan yang ada kaitannya dengan Pak Malik Fadjar itu menjadi viral di internal IMM kala itu, yang membuat logika dan emosi saya teraduk-aduk. Karena waktu itu, selain sebagai kader IMM, saya adalah ‘orang dalam’ yang bekerja untuk sebuah Majalah Kampus. Semacam Bestari kalau di UMM.


Setelah mengikuti kajian di RBC, kemudian saya diajak mengikuti kajian di Resist yang pematerinya adalah Pak Boy. Seingat saya, itu dihari yang sama. Sore ke RBC, malamnya ke Resist. Pertama kali saya mengikuti kajian di Resist, temanya adalah Pos Kolonialism. Sempat disinggung soal Post Modernism juga. Tema yang sebenarnya terlampau berat bagi saya, bahkan hingga saat ini pun.


Selanjutnya, beberapa kali saya mengikuti forum yang narasumbernya Pak Boy. Termasuk forum ‘sarasehan’ selepas pelantikan PC IMM Malang periode 2013-2014 di Villa Kalendra, Batu. Bedanya, pada forum tersebut saya mulai memahami apa yang disampaikan Pak Boy, bahkan sempat mengajukan pertanyaan. Forum itu sendiri memang dikhususkan untuk pengurus cabang periode itu, dibawah kepemimpinan Mas Arif Rahmawan.


Jika selama ini hanya menjadi peserta kajian atau diskusi, akhirnya pada Talk Show selepas pelantikan PC IMM Malang periode 2014-2015 dibawah kepemimpinan Yusuf Hamdani Abdi, saya ‘naik kelas’ menjadi moderator. Ada dua pemateri kala itu, Pak Boy dan Dr. Wahyudi Winarjo. Seiring waktu, cara penyampaian Pak Boy menjadi lebih mudah dipahami karena lebih banyak memulai dari hal-hal yang empiristik, ketimbang teoritik. Bahkan di forum workshop kepenulisan PC IMM Malang akhir tahun 2014 silam, Pak Boy bercerita dengan cair pengalamannya menulis. Bahkan lebih banyak bercerita soal novel dan sastra.


Ketika Pak Boy ber-eksperiment menulis novel, tentu itu sangat mengejutkan. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sudah lahir dua novel. Kata Pak Boy –ketika mengisi workshop kepenulisan PC IMM Malang—bahwa menulis novel adalah hiburan tersendiri. Novel memang memiliki bahasa yang lebih cair, lebih naratif, lebih membidik rasa. Orang yang membaca novel, berarti membaca untuk merasa (learning to feel).


Tambah mengejutkan, ketika profil Pak Boy sebagai novelis kemudian diangkat oleh Kompas, melalui novel Kumbara. Dimana Pak Boy mengangkat sosok Fatih, Mahasiswa yang kehilangan cintanya, Amra, karena dianggap sesat dan befikiran liberal, apalagi latar pendidikan si tokoh sebagai Mahasiswa Filsafat.


Sosok Fatih dalam Kumbara itu mengingatkan kita dengan novel-novel Hamka. Dulu Buya Hamka membuat sosok Hamid yang tidak bisa bersatu dengan Zaenab dalam novel dibawah lindungan Ka’bah, meski keduanya saling mencintai. Hamid dan Zaenab terkendala strata sosial. Begitu pun dengan sosok Zainudin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, yang tidak bisa bersatu karena perbedaan suku, sampai akhirnya “hayati lelah”. 


Semuanya mengangkat kisah percintaan yang pahit, namun syarat akan kritik sosial. Sungguh mengesankan. Bagi saya, kritik yang disampaikan dengan bahasa sastra itu adalah kritik yang romantis. Seperti Mif dan Fauzia dalam novel Kambing dan Hujan, Fatih dan Amra akan menjadi referensi tersendiri. Dan … saya pun semakin iri dengan karya-karya hebat itu. (*)


Blitar, 25 Ramadan 1437 H
A Fahrizal Aziz

Monday, June 1, 2015




Kelahiran JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) menjadi perbincangan serius ketika Muktamar Muhammadiyah 2005 di Malang. Sayangnya, moment tersebut bertepatan dengan boomingnya pemikiran liberal yang secara institusi diwakili JIL (Jaringan Islam Liberal). JIL sendiri, sebagian besar diisi oleh anak-anak muda NU, salah satunya Ulil Abshar Abdalla yang sangat kontroversial itu. JIMM, karena juga menggunakan nama Jaringan, dianggap memiliki “jenis” yang sama dengan JIL. Itu berujung pada munculnya resistensi terhadap JIMM, terutama ketika Muktamar di Malang tersebut.

Tahun 2015 ini, Muhammadiyah akan kembali menggelar Muktamar di Makassar. Yang menarik, akankah JIMM menjadi Perbincangan kembali? Tentu saja, tahun 2005 silam, usia JIMM belum genap 3 tahun. Berbeda dengan sekarang, 10 tahun berselang, tentu ada banyak hal yang berbeda ketika membicarakan JIMM. Apalagi, tahun 2014 yang lalu, JIMM kembali menggelar tadarus Pemikiran yang dihadiri langsung oleh ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, beserta beberapa narasumber lain seperti Pak Haedar Nashir, yang sekaligus menginformasikan ke Publik jika JIMM masih eksis.

Forum Tadarus Pemikiran tersebut, menjadi moment penting kepada JIMM untuk mengenalkan, sekaligus mengklarifikasi hal-hal yang mungkin saja disalah pahami oleh Ummat, terutama kader-kader Muhammadiyah. Misalkan, banyak yang menilai jika anak-anak JIMM adalah pembelot di Muhammadiyah, Ingin bergerak atas nama Intelektual Muhammadiyah namun tidak mau berproses di dalam Organasi Muhammadiyah atau Ortom-ortomnya. Ada juga yang menilai jika JIMM adalah gerakan liberal di Muhammadiyah, sama dengan JIL. Ada juga yang mengatakan jika JIMM sudah dibubarkan pada Mukatamar 2005 silam, dan seabrek sangkaan lainnya yang membutuhkan klarifikasi dan dialog lebih intens.

Pradana Boy ZTF, yang sekarang menjadi koordinator JIMM Nasional, dalam beberapa kesempatan mencoba menjelaskan soal itu. Pada Bulan Ramadhan tahun 2014 kemaren, sebelum Tadarus dilangsungkan, saya dan beberapa teman berbincang di rumahnya, di daerah Klandungan Kota Malang. Menurutnya, JIMM bukanlah sebuah organisasi yang berdiri secara administratif atau pun struktural. Jadi kalau ada yang mengatakan JIMM dibubarkan, apanya yang dibubarkan? Selain itu, banyak yang berkecimpung di JIMM juga aktif di Muhammadiyah. Baik di dalam Organisasi maupun amal usaha. Pradana Boy sendiri adalah Dosen UMM, yang juga aktif di Pemuda Muhammadiyah, bahkan baru-baru ini beliau terpilih menjadi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur.

Selain itu, penggerak awal JIMM sebelumnya juga rata-rata adalah aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dari berbagai daerah, mulai dari Malang, Solo, Jogjakarta, dan Jakarta. Sangkaan lain yang mengatakan jika JIMM sama dengan JIL, tentu saja harus didialogkan dengan serius. Salah satunya, adalah metodologi gerakan yang digunakan. Apakah metodologi Gerakan JIMM sama dengan JIL?

Lahirnya JIMM, atau gerakan Pemikiran Intelektual Muslim lainnya patut mendapatkan perhatian serius. Apalagi, tak sedikit dari penggerak/eksponen JIMM yang kini bergelar Master dan Doktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Meskipun sempat dikritik oleh Deliar Noer karena menggunakan istilah “Intelektual”, namun dengan banyaknya Master dan Doktor di dalamnya, tidak berlebihan juga JIMM menggunakan istilah “Intelektual”.

Sekitar bulan november 2014, saya bertemu lagi dengan Pradana Boy ZTF di rumahnya. Pertemuan itu secara tidak sengaja terjadi karena ajakan Mas Hasnan Bachtiar, salah satu penggerak JIMM juga. Dalam pertemuan singkat tersebut, Pradana Boy menjelaskan konsep gerakan JIMM kedepan. Ia pun mengkombinasikannya dengan membentuk Rumah Inspirasi. Ada banyak agenda di dalamnya, salah satunya kajian sejarah Islam, bahasa arab, kitab kuning dan beberapa agenda lain. Ia sedikit berseloroh jika istilah “liberal” yang disematkan kepada eksponen JIMM tersebut karena soal Mantiq (Bahasa). Misalkan, nama Jaringan diganti dengan Jamaah, maka mungkin saja JIMM tidak akan disebut liberal.

JIMM sendiri tidak bisa dilepaskan dari sosok Alm. Moeslim Abdurrahman, yang bisa disebut sebagai ideolog awal JIMM. Meskipun menurut Pradana Boy, Kang Moeslim –sapaan akrab Moeslim Abdurrahman—sempat mengkritik juga tulisan anak-anak JIMM yang lebih menyorot pada isu Pluralisme dan Liberalisme. Menurutnya, secara khusus itu bukan domain JIMM. Domain JIMM adalah melakukan transformasi sosial, sebagaimana gagasan Islam Transformatif yang digaungkan Kang Moeslim.

Saya pun juga mendapatkan cerita tentang Kang Moeslim, yang ingin menghabiskan masa tua-nya di Yogjakarta. Budi Asya’ari Afwan, salah satu penggerak JIMM Jogja dalam acara tadarus pemikiran pernah bercerita, bahwa Kang Moeslim sudah mendirikan Sumbu Panguripan di Dusun Wintaos, desa girimulyo, kecamatan panggang, Gunung Kidul. Sumbu Panguripan itu adalah upaya untuk menafsirkan gagasan Islam Transformatif tersebut. Disana, Kang Moeslim dan beberapa orang mencoba membangun masyarakat, salah satunya dengan memberikan pembekalan kepada anak-anak dan orang tua agar terlepas dari kemiskinan yang sudah seperti lingkaran setan.

Hal lain yang menjadi cita-cita Kang Moeslim dan belum terealisasi sampai Ia meninggal, adalah mengusung buku-bukunya yang ada di Jakarta ke Bantul, Yogyakarta. Disana ia sudah membeli tanah untuk didirikan perpustakaan, serta mendirikan gedung sebagai wadah untuk melatih kader-kader Intelektual yang nantinya secara praksis akan mempraktekkan ilmunya untuk melakukan transformasi sosial di daerah-daerah terbelakang sebagaimana yang telah ia lakukan dengan Sumbu Panguripan.

Melihat apa yang dilakukan Kang Moeslim dan apa yang kini digerakkan oleh Pradana Boy melalui Rumah Inspirasinya, tentu bisa menjadi bahan perbincangan yang lebih utuh tentang JIMM, dibandingkan tahun 2005 silam, saat JIMM baru saja muncul dan belum menampakkan bentuknya secara lebih jelas. Beberapa sangkaan negatif yang sempat muncul ke permukaan, seiring waktu pun terjawab dengan sendirinya.

Tentu saja, JIMM tidak hanya secara simplikatif, dibaca sebagai gerakan “latah” untuk menyaingi lahirnya JIL. Tidak pula sebagai jembatan menuju kekuasaan, atau pembacaan lain yang berangkali jauh dari substansi kelahirannya. (*)

Blitar, 21 Mei 2015
A Fahrizal Aziz

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi