Internet

Monday, April 30, 2018

Internet memberi ruang untuk berkreasi, termasuk bagu Ibu-ibu rumah tangga, yang lebih sering di rumah. Kreasinya pun tidak sekedar kreasi, bahkan ada yang menghasilkan uang. Misalkan dengan jualan online. Atau sekedar berbagai cerita dan aktivitas via blog.


Karena dua dari tujuh pohon pepaya yang saya tanam sekitar rumah ternyata "pepaya jantan", yang tidak bisa berbuah, dan hanya mengeluarkan bunga, dan kata orang bunga tersebut bisa dimakan, maka saya searching di google.


Subyek yang saya cari "sayur bunga pepaya". Ternyata hasilnya banyak. Salah satunya saya klik, masuk ke sebuah blog dengan domain berbayar (.com) yang dikelola Ibu-ibu.


Memang bahasanya tak beraturan. Kepenulisan gaya bebas yang kurang memerhatikan tanda baca dan ejaan yang baik. Mirip bahasa obrolan via sosial media yang non formal.


Namun sepertinya blog itu banyak dikunjungi. Trafiknya pun bagus. Buktinya ketika searching muncul di 10 besar pencarian teratas. Juga, banyak yang berkomentar. Pengelola blog sesekali juga membalas komentar-komentar tersebut.


Jika diamati, sepertinya blog itu sudah menemukan pembacanya tersendiri, yang selalu menanti kapan si Ibu memposting resep masakan terbaru, atau lebih tepatnya pengalaman masaknya yang terbaru. Ya, blog tersebut keseluruhan berisi soal makanan, dari pengalaman si pemiliknya.


Menariknya, si Ibu tersebut lebih memilih blog ketimbang sosial media seperti facebook dan instagram. Sepertinya blog memang punya kelebihan, salah satunya bisa terindeks di mesin pencari seperti google, dan barangkali lebih enak dibaca, dibandingkan sosial media yang harus scroll.


Blog tersebut mungkin bisa dipasang iklan CPC (Cost per Click), agar tidak saja sebagai media berbagi, namun juga menghasilkan uang. Apalagi jika pengunjungnya banyak. Siapa tahu menghasilkan.


Ibu-ibu pun ternyata ada yang hobi ngeblog. []


Blitar, 30 April 2018
Ahmad Fahrizal Aziz


Sunday, April 29, 2018

Oleh A Fahrizal Aziz

Ada yang memilih resign sebagai pegawai bank, demi fokus menjadi youtuber. Padahal menjadi pegawai bank adalah dambaan banyak orang, sebab gajinya cukup tinggi, dan kerjanya selalu rapi.


Lalu apa yang ditawarkan youtube, sehingga ia lebih memilih sebagai youtuber? Mungkin banyak orang bertanya-tanya.


Youtube adalah situs berbagi video, yang mengundang siapapun menjadi kreator, lalu mengunggahnya, dan kemudian dilihat banyak orang.


Lalu dapat uang darimana?


Untuk menarik lebih banyak kreator, youtube yang juga satu payung dengan google, menawarkan pendapatan dengan cara monetize video. Jadi, setiap video yang diunggah, akan diselipkan iklan, dan dari iklan-iklan tersebut kreator mendapatkan penghasilan.


Bagaimana syaratnya? dulu cukup mudah, tinggal membuat akun youtube lalu mencari fitur monetize, lalu mengaktifkannya. Sekarang ada syarat-syaratnya, seperti subcriber/pelanggan minimal 1.000, view dalam setahun min 10.000 dengan durasi ditonton 4.000 jam.


Jadi tidak bisa langsung, harus melalui tahap-tahap, dan harus telaten. Tidak sekali bikin akun youtube lalu bisa langsung dimonetize.


Video yang diunggah pun harus orisinil, tidak boleh dari video yang sudah ada. Kalaupun membuat potongan-potongan video dari yang sudah ada, jangan sampai lebih dari 30 detik.


Jadi, misal ada 10 video yang ingin digabungkan, masing-masing harus dipotong kurang dari 30 detik, lalu digabungkan.


Begitupun dengan pemilihan lagu pengiring. Youtube menawarkan beberapa lagu yang bisa digunakan backsong, ketika kita sedang mengedit video. Lagu-lagu yang ditawarkan youtube tidak akan melanggar hak cipta. Beda halnya ketika menggunakan lagu dari penyanyi terkenal, biasanya akan langsung terdeteksi hak ciptanya.


Lalu berapa hitungan penghasilannya? Penghasilan dihitung dari jumlah penonton, berapa iklan yang muncul dan barangkali di klik oleh penonton. Sebab ada iklan yang bentuknya video beberapa detik, ada juga yang hanya flyer atau berupa link.


Youtube pun kadang mempertimbangkan durasi. Misalkan durasi video 3 menit. Apakah pengunjung menonton selama 3 menit utuh, atau hanya beberapa detik saja? Itu mempengaruhi, sebab kadang kala iklan tayang di menit pertengahan dari total durasi.


Memang tidak bisa dipastikan, sebab kadangkala pihak google memberi catatan tertentu, yang membuat pendapatan turun. Tetapi bisa kita kira-kira, kita ambil saja kemungkinan terburuk.


Misal penonton me-klik atau menonton utuh iklan di video kita, anggap saja kita mendapatkan 50 rupiah/view. Terlalu kecil ya?


Tapi bagaimana misalkan yang menonton video kita 10.000 orang, sementara ada 10% yang sekaligus mengakses iklan kita. Tinggal dikali 50x1000, dapatnya Rp 50.000. Masih kecil?


Lalu bagaimana jika yang me-klik iklan ada 10.000 dari total penonton 100.000? Hasilnya sudah 500.000.


Sekarang mari kita lihat viewer/penonton rata-rata youtuber kondang Indonesia, total pasti di atas 1 juta penonton. Atau penonton video klip musik, yang bahkan di atas 50 juta. Video klip "Surat cinta untuk starla" ditonton lebih dari 180 juta.


Dengan jumlah segitu, tentu sudah besar sekali hitungannya. Korporasi-korporasi besar pun juga mulai mempertimbangkan untuk beriklan lewat youtube daripada televisi. Pasang iklan di televisi, apalagi pada jam primetime antara 18.00-20.00 pun juga mahal, berapa menit saja sudah ratusan juta.


Jadi misal dalam sebulan saja total video kita dikunjungi 1 juta orang, dan perkirakan saja ada 100.000 pengakses iklan, paling tidak sudah mendapatkan "gaji" 5 jutaan. Jumlah tersebut bisa bertambah atau berkurang.


Uniknya, para kreator video di youtube, rata-rata didominasi anak-anak muda. Bahkan banyak youtuber yang masih pelajar, namun sudah menjadi jutawan. Keahliannya meracik konten dan editing video, membuat channel youtubenya dibanjiri penonton.


Karenanya, banyak anak-anak muda yang bercita-cita menjadi youtuber. Kursus IT makin laris, kuliah jurusan komunikasi visual juga kian bergengsi. Sebelum youtube, sebenarnya sudah ada blogger, yang juga menghasilkan uang. Hanya kurang dikenal. Lebih terkenal vlogger, sebutan untuk kreator video log.


Selamat datang di era yang serba terbuka, dimana kreatifitas benar-benar dihargai. []


Blitar, 26 April 2018

Thursday, August 3, 2017



Sebelumnya saya mohon maaf karena menggunakan kata "dipermainkan". Padahal tugas media itu memberikan informasi, bukan mempermainkan. Ini mungkin terkhusus bagi media yang memang suka main-main isu, atau orang yang membacanya memang belum siap secara psikis.

Jadi begini, sering kali kita amati di sosial media orang menulis hal-hal yang sebenarnya tidak patut diungkapkan, atau diutarakan di kehidupan nyata.

Rasa jengkel, benci, dendam, geregetan, sinis, dan lain sebagainya campur aduk tak beraturan. HANYA. ya. HANYA karena ia baru saja membaca sebuah postingan di sosial media, atau berita dari media. Baik cetak, elektronik atau daring.

Ini era yang siapapun bisa membuat media, terutama media daring. Dengan ongkos yang tak terlalu mahal, anda bisa membuat media daring dengan tagline tertentu, meski dengan kualitas isi yang awur-awuran : gaya bahasanya kacau, tanda baca berantakan, judul dan isi tidak singkron, dsb dsb.

Lebih parah lagi, jika orang marah, mencaci, sinis pada sesuatu hal, HANYA karena membaca judulnya saja. Ya, belum juga dibaca isinya, sudah menyimpulkan ini itu. Ketahuilah, meski usia telah dewasa, sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia itu "masih labil". Seperti ABG labil, yang mudah dimainkan perasaannya.

Aspek kehati-hatian mulai kita tinggalkan. Padahal hati-hati adalah ciri orang bijak. Menelaah lebih jauh, apakah ini berita logis atau tidak, benar atau tidak, murni atau tidak, atau ada kepentingan lain dibelakangnya?

Pembuatnya tentu telah menimang nimang dengan seksama. Bagaimana agar tulisan itu serupa minyak yang membakar emosi publik, atau api yang mempercepat mendidihkan perasaan pembaca. Jadi hati-hati.

Jika kita telah jadi konsumen mereka, atau budak dari isu-isu yang dibuat, kita telah terperangkap dalam jeruji maya yang sulit untuk keluar. Otak kita beku. Keras. Nan sulit menerima hal-hal yang berbeda. Emosi mudah diaduk-aduk dengan beragam berita.

Jadi dalam suasana yang serba membingungkan ini, cara termudah ya menjadi orang tengahan. Mencoba memahami, asal usul medianya, asal asul orang yang berpendapat, alasan demi alasan yang membuat kita tidak lantas terbawa begitu saja, apalagi sampai emosi dan tanpa kontrol.

Sulit? Ya memang begitu. Karena kita telah terbiasa menjadi konsumen yang terus dijejali tanpa ampun. Tanpa kita pernah meminta. Celakanya, kita terbawa arus dan mempercayainya begitu saja. []

Salam,
Ahmad Fahrizal Aziz
2 Agustus 2017

Wednesday, May 17, 2017



Sosial media sudah ada sejak dulu. Hanya saja baru dikenal luas ketika muncul ponsel pintar, mulai dari blackberry sampai android. Dua ikon sosmed yang dikenal, dan melekat pada ponsel adalah BBM dan Whatsapp, baru kemudian muncul instagram dan telegram.

Sosial media lain, semisal facebook, sudah terlebih dahulu muncul dan bisa diakses melalui PC. Sebelum itu, platfrom sosmed yang terkenal adalah friendster dan beberapa kanal chatting seperti mig33, wanawap, mocospace, myspace, plurk sampai Mirc.

Ponsel pintar membuat sosial media makin semarak. Terlebih ketika muncul beberapa aplikasi. Saya sendiri pernah menggunakan Path, BBM, dan Line. Ketiganya kemudian saya tinggalkan karena jarang dibuka. Sosmed yang paling awet adalah facebook, sejak tahun 2009.

Pernah sangat aktif sekali bersosmed antara tahun 2010-2012. Apa saja ditumpahkan. Kritik, keluh kesah, dan cerita pribadi. Mungkin itulah kegunaan sosmed waktu itu, sampai ada yang bilang sosmed tak ubahnya seperti tempat sampah.

Munculnya twitter kemudian memberikan suasana baru. Dengan karakter yang terbatas, twitter menekankan pada kekuatan kata, atau quotes. Bisa menggunakan hastag (#) untuk meramaikan trend yang tengah diperbicangkan.

Lalu, instagram pun juga memberikan nuansa baru,  yang ditonjolkan adalah foto. Ada fitur edit foto otomatis, disertai dengan hastag. Meski demikian, facebook terus memperbaharui layanan, sehingga tetap bertahan. Berbeda dengan sosmed atau kanal lain yang akhirnya bangkrut karena kalah bersaing.

Kekuatan facebook pun makin tak terbendung setelah membeli saham Whatsapp dan Instagram. Fitur-fiturnya dibuat hampir serupa, namun masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

Belakangan sosial media pun menjadi alat politik yang ampuh. Tidak saja bagi mereka yang punya kepentingan politik, tapi juga yang ingin berkomentar soal politik. Beberapa artikel anonim, yang tidak jelas penulisnya, berseliweran dimana-mana.

Suasana ini disisi lain menunjukkan kualitas pengguna sosmed tersebut. Beberapa penulis, atau pegiat literasi, yang awalnya hendak meninggalkan sosmed karena ingin fokus membuat tulisan yang lebih serius, banyak yang akhirnya kembali untuk bersosmed, memberikan alternatif ditengah maraknya budaya copy paste.

Penggiringan opini semakin mudah. Facebook, twitter dan whatsapp menjadi sosmed yang mendukung untuk melakukan penggiringan opini. Terutama bagi mereka yang mudah terbawa hoax, akan menjadi sasaran empuk.

Akhirnya, beranda sosmed penuh dengan pasar opini yang keruh. Satu tulisan bisa di forward oleh beberapa orang, bahkan status satir dan sinis kerap kali muncul dan sekilas begitu memuakkan.

Orang-orang yang bersosmed hanya berbekal jempol dengan asyik melakukan share, tanpa di filter oleh logika yang kritis. Emosi dan antipati dipertontonkan sedemikian rupa.

Pada akhirnya sosmed tidak saja media komunikasi, tapi telah menjadi arena perang terbuka. Bersenjatakan argumentasi, atau justru umpatan dan caci maki. Kualitas kita dipertaruhkan pada setiap hal yang kita posting.

Tentu suasana demikian teramat membosankan. Bagi yang tidak ingin terlibat, lebih baik memposting agenda pribadi. upload foto jalan-jalan, makanan, minuman, aktivitas, dll. Untuk apa mengurus politik yang menyita energi?

Suasana ini sungguh paradoks. Sosial media, pada akhirnya melahirkan individualitas yang akut. Padahal namanya sosial media. Namun bisa juga sebaliknya, bisa memunculkan kepedulian yang tanpa kontrol. Bentuk kepeduliannya, isu apapun dikomentari, meski dengan pemahaman yang terbatas. []

Blitar, 16 Mei 2017
A Fahrizal Aziz
Redaktur srengenge.id

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi