FLP Blitar

Saturday, July 1, 2017

Jadi, langkah-langkah untuk membangun perpustakaan komunitas itu begini :


1. Dalam forum rapat bersama, ditanya siapakan yang rela menjadi kontributor buku, misalkan ada 10 orang yang bersedia. Kontributor buku hanya sebagai penyedia buku yang rela dipinjam. Kepemilikannya tetap milik pribadi.


2. Setelah itu kontributor buku memilih apa saja judul bukunya yang hendak di kontribusikan. Tidak dibatasi berapa jumlah buku. Boleh 5, 10, 20, atau semua koleksi bukunya juga boleh.


3. Setelah itu pengurus FLP Blitar akan mendata judul buku tersebut beserta kepemilikannya. Sehingga jadilah katalog.


4. Katalog tersebut ditulis secara rapi dan ditampilkan di website FLP Blitar sehingga siapapun yang hendak meminjam buku bisa melihat katalognya disitu.


5. Kemudian didata pula, siapa anggota yang berhak meminjam dan bagaimana syarat agar bisa meminjam. Seperti, syaratnya adalah anggota FLP Blitar yang intens mengikuti pertemuan. Bukan yang sekali datang lalu tak ada kabar lagi.


Pemilik buku sendiri lah yang akan mengontrol keluar masuk bukunya, melalui liflet yang nanti dibuat.


Untuk prosedur peminjaman, insyaallah akan dibahas di tulisan berikutnya. []


~ A Fahrizal Aziz

Tentu butuh waktu untuk bisa mengumpulkan ratusan, bahkan ribuan buku sehingga menjadi Perpustakaan TBM. Tidak semua kolektor buku pun dengan rela menyumbangkan bukunya, karena buku bisa menjadi koleksi pribadi yang berharga.


Tapi sejujurnya, tidak semua buku yang kita miliki bisa kita baca sepenuhnya. Tak sedikit yang kemudian hanya terpajang rapi di rak sampai berdebu. Jika dipinjamkan pun, khawatir tidak kembali, sebab banyak kejadian buku yang dipinjam tidak (atau lupa) dikembalikan.


Tapi tentu lebih bermanfaat jika buku yang terpajang di rak itu, bisa dibaca banyak orang, daripada menjadi hiasan.


FLP Blitar, melalui Rumah Cahaya, bisa membuat satu program pinjam meminjam buku, yang bisa difungsikan menjadi perpustakaan komunitas, namun kepemilikannya tetap secara individu.


Bukan perpustakaan dalam arti tersedia rak-rak buku yang bisa didatangi dan dipilih-pilih bukunya, tapi perpustakaan dalam bentuk katalog.


Jadi begini. Siapa kira-kira pegiat di FLP Blitar yang merelakan bukunya untuk dipinjamkan melalui Perpus komunitas.


Misalkan 1 orang merelakan 20 bukunya untuk dipinjam melalui komunitas. Jika ada 20 pegiat yang bersedia, maka sudah ada 400 katalog buku yang bisa dipinjam.


Buku-buku tersebut kemudian didata dan dijadikanlah katalog untuk perpustakaan komunitas yang bisa dipinjam antar anggota FLP Blitar.


Meminjamnya langsung ke pemilik buku, sehingga pemilik buku akan membawa bukunya ketika pertemuan rutin setiap minggunya. Atau bila memungkinkan mengambil di rumah pemilik buku tersebut.


Namun waktu peminjamannya harus dibatasi seminggu saja, dan maksimal perpanjangan 2 minggu agar tidak terlalu lama. Karena bila terlalu lama, kadang justru tidak dibaca.


Jika telat mengembalikan maka akan terkena denda Rp 2000 dan masuk kas FLP Blitar.


Agar aman dan terkontrol pula, maka yang boleh meminjam hanya anggota saja, yang intens hadir dalam setiap pertemuan mingguan. []

Bersambung ...

~ A Fahrizal Aziz

Thursday, June 29, 2017

Rumah Cahaya merupakan singkatan dari Rumah baca dan hasilkan karya. Bahasa gaulnya adalah Rumcay. Ini merupakan nama untuk markas Forum Lingkar Pena.


Fungsinya, selain sebagai sekretariatan juga sebagai tempat diskusi, rumah baca dan barangkali juga tempat penyemaian bibit-bibit penulis. Meskipun tiap daerah memiliki program yang berbeda.


Bahkan, menurut Bu Helvy Tiana Rosa, ada Rumcay yang pernah digunakan untuk resepsi pernikahan anggota FLP di daerah tertentu.


Rumah Cahaya kemudian di fungsikan sebagai TBM (Taman Baca Masyarakat). Makanya, di belakang nama Rumah Cahaya selalu diawali dengan TBM. Semisal TBM Rumah Cahaya Depok.


Karena menjadi taman baca, otomatis tersedia buku-buku, yang bisa diakses oleh masyarakat.


Kita juga patut bersyukur karena FLP Blitar, atas kebaikan seseorang, juga memiliki Rumcay yang baru saja diresmikan 23 Juni 2017 yang lalu.


Namun belum dibahas lebih lanjut konsep pengelolaannya nanti. Apakah akan dijadikan TBM, atau sekedar menjadi sekretariatan mengingat tempat pertemuan rutin selama ini dilakukan di Perpustakaan Bung Karno.


Tapi tak ada salahnya untuk difungsikan sebagai TBM. Lalu darimana bukunya? Dan bagaimana prosedur peminjamannya? Insyaallah ditulisan berikutnya.


~ A Fahrizal Aziz

Tuesday, June 27, 2017

Yang menarik adalah tidak adanya batasan usia atau jenjang untuk bergabung dengan FLP Blitar. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja profesional, sampai Ibu rumah tangga. Semua tumpah ruah.


Dari segi kajian, memang tidak mematok tema berat sebagaimana yang dikaji di kampus-kampus, atau komunitas yang mengukhususkan satu ideologi tertentu. Semisal ideologi kebebasan.


Bisa saling berbagi soal buku bacaan, sehingga antar anggota mulai cinta membaca saja sudah sangat disyukuri. Lebih-lebih jika mau menulis, entah esai sederhana seputar pengalaman hidup, sampai menulis karya sastra.


Lebih bersyukur lagi jika sampai ada karya yang masuk media massa. Minimal mewarnai jagad dunia maya dengan tulisan-tulisan di website FLP Blitar.


Beberapa kegiatan lain seperti Goes to School, berkunjung ke sekolah-sekolah untuk lebih memperkenalkan dunia sastra dan kepenulisan, juga bagian dari bentuk pengabdian.


Memang tidak semua siswa yang dikunjungi akan merespon positif, bahkan ada yang hanya menganggapnya angin lewat. Namun entah hanya satu atau dua orang, pasti ada yang tertarik untuk mendalami.


Itulah sebagian kecil dari bentuk pengabdian lewat FLP Blitar. Memang tidak menawarkan secara langsung keuntungan materi, tapi lebih menguatkan lagi hal-hal immaterial seperti pengayaan wawasan, perspektif, sampai perenungan.


Karena bagaimanapun, ketika mencipta karya, proses perenungan, pembacaan atas diri sendiri secara langsung akan terjadi. Mungkin dengan begitu akan menemukan makna-makna.


Dalam hidup, kehilangan makna jauh lebih mengerikan dari kehilangan apapun. Kehilangan makna berarti pula kehilangan hidup. Untuk apa melakukan ini itu, memiliki ini itu, tapi terasa hambar dan tak bermakna.


Kehadiran sesepuh di FLP Blitar, seperti Pak Budiyono dan Oma Merry Moe yang turut serta aktif dalam kegiatan, semakin memperkuat para pegiat di FLP Blitar untuk mendiskusikan soal makna-makna.


Selamat mengabdi : Berbakti, Berkarya, Berarti. []


~ A Fahrizal Aziz

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi