Cerpen

Tuesday, November 8, 2016





Dengan seksama Ihsan mendengarkan cerita Varel tentang roti kacang yang lezat. Semalam Varel dibelikan oleh ayahnya dua bungkus roti kacang di kedai “rindu roti” yang terkenal itu. Kedai itu memang laris manis, meski harga rotinya agak mahal, namun karena rasanya tiada dua, pembeli rela antri untuk mendapatkannya.

“Kacangnya dibalut coklat yang manis, rotinya empuk, nyaman dilidah,” jelas Varel sembari memainkan lidah layaknya bintang iklan yang sedang mempromosikan produk roti kacang. “Kacangnya itu beda. Lebih enak, gurih dan renyah. Kacang pilihan,” lanjutnya.
 
Ilustrasi
Mendengarnya, perut Ihsan yang sejak pagi belum terisi apa-apa itu mengeluarkan bunyi kemerucuk. Ihsan sangat menyukai roti, apalagi roti kacang spesial bikinan kedai “rindu roti”. Meski sejauh ini ia hanya bisa membayangkannya. Harga roti disana terlalu mahal, bahkan lebih mahal dari harga beras. Daripada dibelikan roti yang hanya sekali makan, lebih baik dibelikan beras yang bisa dimasak untuk beberapa orang.

Kedai rindu roti buka mulai sore selepas ashar. Setelah buka biasanya langsung diserbu pembeli. Roti di kedai itu dibuat dadakan, ada roti isi kacang, keju, coklat, stroberi, nanas, atau campuran kacang-keju, keju-coklat, keju-stroberi, dll. Keahlian dari pembuat rotinya, membuat roti di kedai itu memiliki cita rasa tersendiri.

Suatu kali Ihsan melewati kedai itu dan melihat banner besar yang terpasang diluar kedai. Banner itu bertulisakan menu beserta harganya. Yang paling murah adalah roti kacang dan roti coklat seharga 18.000. Harga itu terlalu mahal bagi Ihsan yang setiap harinya hanya mendapatkan uang saku seribu rupiah. Itupun biasanya ia belikan makanan ringan di sekolah untuk mengganjal perutnya sebagai ganti sarapan. Jika ingin membeli roti itu Ihsan harus menabung selama 18 hari, dengan resiko perut kosong sampai jam pulang sekolah.

Pernah juga Ihsan berniat merengek kepada orang tuanya agar dibelikan roti kacang itu, namun niat itu ia kubur dalam-dalam setelah beberapa kali mendengar orang tuanya bertengkar karena kesulitan biaya hidup. Kakaknya yang kelas 2 SMA itu saja harus kerja sambilan demi membiayai sekolah. Pemerintah hanya menggratiskan biaya sekolah sampai SMP. Untungnya Ihsan masih kelas 5 SD.

Ayahnya yang hanya tukang ojek, serta Ibunya yang kerja serabutan, membuat Ihsan tak terlalu banyak meminta. Hanya kakaknya yang sedikit mengerti keinginannya. Meski sang kakak juga tidak bisa berbuat banyak. “Roti disitu sepertinya enak ya kak,” ucap Ihsan ketika melewati kedai rindu roti bersama kakaknya. Kakaknya tersenyum sambil menjanjikan untuk membelikannya suatu ketika, entah kapan. Kakaknya hanya pernah membelikan roti sisir, dan itulah roti termewah yang selama ini pernah dirasakan Ihsan. Kalau roti sisir yang harganya dua ribuan saja sudah seenak ini, bagaimana roti kacang itu ya? Bathin Ihsan.

Tiap sore sepulang mengaji dari TPA, Ihsan selalu melewati kedai itu. Biasanya Ihsan berhenti sejenak untuk mencium bau harum roti yang baru diambil dari pemanggangan, juga melirik dari kejauhan bagaimana pembuat roti dengan lihai memainkan tangannya untuk menaburkan kacang-kacang, atau menuangkan coklat diatas roti sebelum dipanggang. Dia kemudian bercita-cita menjadi pembuat roti, agar bisa makan roti sepuasnya.

Karena keinginannnya mencicipi roti itu makin membuncah, Ihsan kemudian menabung. Setiap hari ia masukkan uang sakunya kedalam celengan botol bekas minuman. Ia rela tidak membeli jajan sebagai ganti sarapan. Sebagai gantinya ia selalu membawa sebotol minuman untuk mengisi perutnya yang kosong, kadang juga kakaknya membuatkan teh manis. Ia harus melakukan itu selama 18 hari agar bisa membeli roti kacang dambaannya.

Setelah 18 hari, ia kemudian membuka celengan itu dan menghitung uangnya. Pas sesuai perkiraan. Ihsan sangat girang melihat 18 lembar seribuan yang ada ditangannya. Nanti sore sepulang ngaji, ia akan membeli roti kacang. Tapi ia harus memastikan bahwa orang tuanya tidak tahu, karena ia bisa kena marah. Orang tuanya pasti tidak setuju jika uang itu digunakan untuk membeli roti. Lebih baik dibelikan beras, karena beras lebih pokok dari roti.

Sepulang ngaji, Ihsan bergegas pulang. Ia berjalan memutar dari jalan biasanya agar tak ketahuan jika akan ke kedai roti itu. Sesampainya di kedai roti, Ihsan menyodorkan 18 lembar seribuan sambil menunjuk gambar roti kacang yang tertera di banner menu. Disana sudah ada empat orang yang mengantri. Pembuatan satu roti diperkirakan membutuhkan waktu 10 menitan. Ihsan menunggu di kursi panjang yang tersedia untuk para pembeli.

Setengah jam kemudian rotinya siap dibungkus rapi dalam kotak khusus bergambarkan logo dan menu-menu dari kedai rindu roti. Kotak itu dibungkus pada sebuah plastik dan disodorkannya kepada Ihsan. “Terima kasih, selamat menikmati rotinya,” kata kasir kedai roti. Ihsan tersenyum sumringah dan berjalan keluar, ia duduk di teras toko yang bersebelahan dengan kedai roti. Ia harus makan rotinya disini agar tidak ketahuan di rumah.

Dengan perasaan bahagia Ihsan membuka kotak roti itu, bau harum langsung menguar, menusuk hidung dan menggoda lambungnya yang sudah sangat lama ingin menikmati roti itu. Roti kacang itu bentuknya kotak, daging rotinya bewarna ungu lembut, bagian atas dan bawahnya tercetak bulatan hitam bekas pemanggangan yang semakin menambah gairah untuk menikmatinya. Di tengahnya bertabur kacang yang mewah, beserta mertega dan susu yang melekatkannya. Untuk bisa mendapatkan roti ini, Ihsan harus menunggu selama 18 hari, dan rela tidak sarapan selama itu pula. Meskipun hanya sarapan dua buah gorengan atau empat tusuk sempol.

Belum sempat ia menikmati roti itu, didepannya ada anak kecil dengan pakaian lusuh yang merengek sambil menunjuk-nunjuk bungkusan roti Ihsan. “Aku pengen itu,, pengen itu,,,” teriak anak itu sambil berderai air mata. Ibunya mencoba menggeretnya untuk pergi, tapi anak itu malah berguling-guling di tanah.

“Emak ndak punya duit, sudah ayo pulang,” teriak Ibunya sambil setengah menyeret anaknya. Namun tangis anak kecil itu kian menjadi. Ibunya menaruh karung besar yang berisi rongsokan, lalu menggendong paksa anaknya, namun si anak terus melawan, sampai Ibunya mencubit kasar lengan anak kecil itu. Tangisnya makin menjadi-jadi, namun Ibu itu malah lebih kasar lagi mencubit anaknya, bahkan sekali menarik paksa baju anaknya hingga terjungkal.

Fenomena itu menjadi tontonan orang sekitar. Ihsan menutup kotak rotinya, menalinya lagi dengan pembungkus plastik dan berlari ke arah Ibu dan Anak itu. “Ini untuk kamu saja, sudah jangan nangis ya,” ucap Ihsan sambil menyodorkan rotinya. Sambil terisak anak itu menerimanya.

“Sudah ayo pulang,” ajak Ibu itu sambil menarik paksa tangan anaknya, tanpa sedikitpun mengucapkan terima kasih kepada Ihsan.

Setelah mereka berdua menjauh, Ihsan kemudian berjalan mendekati kedai roti itu. Antrian bertambah banyak, sementara bau harum roti makin menguar, menusuk hidung dan lambungnya. Beberapa kali Ihsan menelan ludah. Tapi ia tak bisa lagi membeli. Disakunya tak ada sepeserpun uang. Sementara waktu mendekati magrib. Ihsan pun memutuskan untuk pulang ke rumah dengan langkah gontai.

Ihsan terduduk lesu di kursi dekat dapur, kakak dan Ibunya menyiapkan makan malam di meja. “Kamu kenapa kok lesu?” tanya kakaknya sambil menghidangkan ikan asin di meja. Bau ikan asin itu cukup menggugah selera makan Ihsan. “Tadi bapak pulang bawa ikan asin, nanti setelah shalat magrib kita makan bersama,” lanjut kakaknya.

Lauk ikan asin termasuk lauk spesial bagi keluarga Ihsan. Tidak mesti sebulan sekali mereka makan ikan asin. Paling sering lauknya tahu goreng, atau hanya kerupuk. Makan malam ini termasuk yang spesial bagi Ihsan dan keluarganya. Mereka berempat duduk di meja makan kecil, meja makan yang sekaligus meja untuk menyajikan hidangan makanan dan menaruh peralatan makan. Sebelum makan mereka berdoa bersama.

Di meja sudah ada nasi, sepiring ikan asin, sambel tomat dan sayur daun ketela yang direbus empuk sebagai pelengkap. Ihsan dengan lahap menikmati makanannya, begitupun dengan kakak dan kedua orang tuanya. Ikan asin termasuk makanan favorit Ihsan. Selain sebagai menu khusus keluarganya, ikan asin harganya juga murah. Lebih murah dari harga roti kacang yang selalu didambakan Ihsan.

Ihsan sendiri tak habis pikir kenapa begitu saja memberikan roti kacangnya kepada anak pemulung tadi, itu sama halnya memberikan 18 kali uang sakunya. Ihsan hanya kasian dengan anak itu, tanpa berfikir bahwa ia sendiri juga patut dikasihani. Namun makan malam ini terasa begitu nikmat bagi Ihsan. Apa karena lauknya? Mungkin bukan. Karena Ihsan memakannya bersama keluarga, orang yang ia sayangi. Ihsan pun tersenyum sembari membayangkan roti kacang yang nyaris landas di lidahnya. []

Blitar, 03 November 2016
A Fahrizal Aziz

Saturday, January 2, 2016



Setelah magrib, suara motor Fredo terdengar memasuki halaman. Aku duduk di sofa ruang tengah, menonton acara berita. Kebiasaan sejak masih sekolah. karena tidak ada yang lebih menarik dari berita. Berita sekarang banyak yang menghibur, dan lebih dramatis dari sinetron.

“Nggak pengen keluar?” tanya Fredo sambil meletakkan helm di meja depanku.

“Aku malas keluar. Keluar kemana? Nggak ada yang menarik dari kota ini.”

“Sssh.. sombongnya mentang-mentang sekarang jadi anak Jogja.”

Fredo duduk disampingku yang tengah serius menyimak dialog terkait kasus korupsi yang menjerat salah satu anggota DPRD DKI Jakarta.

“Gila, itu presenter apa foto model?”

“Mana foto model?”

“Itu,” sambil menunjuk Anchor yang tengah membawakan berita. “Kenapa nggak jadi model aja, kayaknya dia perfect boy,” lanjutnya.

“Kenapa harus jadi model?”

“Kan tampang dan bodinya mendukung.”

“Apa yang seperti itu harus jadi model?”

“Ah, tau lah.”

Fredo beranjak dari sofa dan berjalan menuju lemari es. Dia mengambil dua botol minuman bersoda beserta sedotannya.

“Kak.”

“Hmm...”

“Lama kita nggak ngobrol gini.”

“Iya lama.”

“Dulu hampir tiap pulang sekolah.”

“Iya,” jawabku sekenanya karena masih fokus pada dialog di televisi.

“Kayak ada yang hilang!”

Aku tertawa terbahak. Lalu menirukan adegan yang tadi diperagakan oleh Fredo diatas panggung : Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang hanya bayang-bayang?
Namun raut muka Fredo semakin tak bergairah.

“Aku jadi bingung membedakan mana drama dan mana kesungguhan. Karena dalam melakukan drama, kita selalu menghayati bahwa seolah-olah itu sungguhan. Menurut kakak pertunjukan tadi drama atau sungguhan?” tanyanya.

“Drama yang sungguhan,” jawabku sambil tertawa kecil.

“Kalau sekarang, kakak sedang drama atau sedang sungguhan?”

“Ha?”

Aku menatap wajah Fredo yang masih asyik menghisab minuman sodanya dengan sedotan.

“Dunia ini adalah panggung sandiwara,” jawabku.

“Aku nggak percaya,” jawabnya sambil berdiri dan terlihat hendak berbicara serius.
“Jika dunia ini adalah panggung sandiwara, kenapa juga kita susah bersandiwara. Ada hal-hal yang tak bisa kita tentukan sendiri.”

“Oh ya?”

“Ya. Termasuk dengan siapa kita jatuh cinta.”

“Oh.”

“Ya?”

Aku hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. Fredo menunjukkan botol minumannya kepadaku.

“Kita bisa memilih apa yang kita minum, tapi tidak untuk apa yang kita cinta. Kita hanya bisa bermain drama pada hal-hal yang bisa kita tentukan, tapi tidak dengan apa yang tak bisa kita tentukan,” ucapnya, yang lebih mirip orang pidato.

“Kisiwi cantik,” aku menajamkan topik,

“Ya. Semua orang juga tau dan mengakui kalau Kiswi cantik.”

“Dan kamu juga tampan.”

“Ya. Ya... oh ya?” 

Fredo tertawa terbahak.

“Perempuan yang cantik dan Lelaki yang tampan akan nampak serasi sekali,” jelasku.

“Ya. Dalam drama.”

“Dalam drama?”

“Ya. Sayangnya, masyarakat kita adalah tipe yang haus akan drama. Hati memiliki polanya sendiri, tak seperti rumus fisika atau rekasi kimiawi. Mungkin ada dua zat yang sama namun saling bereaksi.”

Tiba-tiba celoteh Fredo nampak begitu membosankan untukku yang bukan anak IPA ini. Dia terus berceloteh panjang lebar, sementara aku fokus pada acara berita di televisi.

“Kak Ray,” panggilnya.

Dia duduk disampingku dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Mungkin dia sudah lelah berpidato.

“Aku senang kakak datang dalam pertunjukan hari ini. Ini pertunjukkan terakhirku sebelum ujian akhir sekolah, setelah ini aku tak ingin main drama lagi. Aku lelah.”

“Lelah?”

“Ya.”

Kami pun terlibat perbincangan panjang. Seperti sebelum sebelumnya, hingga kami tertidur di sofa. Lewat tengah malam aku terbangun karena lengan kananku kesemutan. Televisi masih menyala, menayangkan garis-garis pelangi dan suara berdenging. Aku lekas mematikannya. Fredo tertidur pulas dibahuku.

“Do, do..” ia hanya beringsut, tak ingin kenyamanannya terganggu. Aku pun juga memejamkan mata kembali.

***
Mataku terbuka perlahan, aroma dua cangkir kopi menggodaku. Di belakang rumah, terdengar suara Fredo berhitung. Aku berjalan gontai menghampirinya. Tak ada yang berubah, setiap pagi Fredo runtin olahraga. Aku berdiri di dekat pintu, menonton Fredo push up sambil menyeruput kopi. Kopinya enak sekali.

“Ini kamu yang buat?” tanyaku sambil menunjukkan cangkir.

“Bukan. Tadi aku beli di warung Mbak Yuyun.”

Sudah kuduga. Tak mungkin Fredo membuat kopi seenak ini.

***
Hari ini Fredo menemaniku di rumah sampai sore, dan mengantarku ke stasiun. Jadwal keretaku jam 15.45. Fredo mengantar sampai peron stasiun. Kami tiba di stasiun 30 menit sebelum jadwal keberangkatan. Di kursi tunggu stasiun, kami duduk berdua sambil menikmati bakpao isi kacang yang Fredo beli diluar stasiun tadi.

“Menurut kak Ray Kiswi cantik?” Fredo membuka perbincangan.

“Ya. Cantik sekali. Dia pacar barumu?”

“Bukan lah.”

“Bukannya kamu sering gonta ganti pacar?

Fredo hanya tertawa kecil. “Kan aku udah bilang. Aku lelah bermain drama,” jawabnya.

“Drama?”

“Ada orang yang punya banyak kekasih, tapi dia tak pernah merasa jatuh cinta kepada kekasih-kekasihya.”

“Jadi, Kiswi?”

“Kata Iren, teman sebangkunya, dia suka sama aku.”

“Lah. Terus?”

Fredo tak menjawab. Ia menghabiskan cuilan bakpao terakhirnya.

“Kamu nggak suka sama Kiswi?” tanyaku.

“Mungkin aku bisa menjadikan dia pacar.”

Aku semakin bingung. Setahun tak bertemu, Fredo berubah layaknya filosof yang kata-katanya susah dicerna. Atau memang aku yang sejak dulu susah memahami juniorku ini. Padahal hubungan kami sudah seperti adik kakak.

“Aku sudah jatuh cinta, tapi sayangnya bukan dengan kekasih-kekasihku. Tapi itu jadi alasan untuk mengartikan lagi apa makna kekasih,” lanjut Fredo.

Kereta api malabar tujuan Blitar-Bandung lewat Jogja sudah merapat. Aku bersiap-siap naik.

“Keretanya udah datang Do,” jawabku.

“Kakak kapan lagi balik ke Blitar. Setahun dari sekarang?” tanyanya.

“Aku nggak tau, aku hampir nggak punya alasan untuk kembali ke Blitar, karena rumah selalu sepi.”

“Oh.”

Kereta api itu berhenti agak lama, karena kras dengan kereta lain dari Kediri. Aku dan Fredo masih duduk di kursi tunggu peron stasiun.

“Setelah lulus aku akan lanjut kuliah ke Bali, dan mungkin kita tak akan bertemu dalam waktu yang lama sekali. Lamaaaa sekaliiiiii,” jelas Fredo.

Aku tertawa geli mendengarnya. Ekspresi wajahnya memang menyakinkan, benar-benar aktor teater yang berbakat.

“Aku berdoa yang terbaik untukmu. Aku masuk dulu ya?” pamitku.

“Eh kak, bentar.”

“Uhm...”

Fredo mengeluarkan sebuah bingkisan padaku.

“Apa ini?”

“Sesuatu!”

“Sesuatu?”

“Yap. Udah cepet masuk sana, bentar lagi kereta mau berangkat,” pintanya.
Kami saling bersalaman dan berpelukan. Rengkungan Fredo begitu erat. Tak seperti biasanya.

“Sampai jumpa, Kak Ray.”

Aku mengangguk pelan, lalu berjalan menuju kursi nomor 19B. Kursi sebelahku masih kosong semua. Aku duduk sambil menautkan headseat di telingaku, lagu ‘Rahasia Hati’ dari Element langsung menyambutku. Sembari mendengarkan lagu lawas itu, aku membuka bingkisan dari Fredo. Sebuah parfum spary, parfum yang biasa aku gunakan. Secarik kertas menyertainya.

Ada sesuatu yang berbeda, sejak aroma parfum ini hilang dari tubuhmu. Meski banyak orang menggunakannya, tetap tak sama. Mungkin aku akan merindukannya dalam waktu lama. Meski kau tak pernah peduli. Sejak kau mengajarkan teknik drama, satu hal yang selalu aku ingat. Seindah apapun drama, tak mungkin lebih indah dari kenyataan. Aku lelah bermain drama.

Lonceng stasiun pun berbunyi. Kulirik Fredo masih duduk di peron stasiun. Ada apa dengan anak itu? bathinku. Kemudian aku merobek secarik kertas dan menuliskan sesuatu dengan spidol hitam.

Drama bukanlah khayalan. Tapi angan-angan tentang realitas, mimpi, dan suara hati. Semangat!!!!!

Kereta sudah berjalan melambat. Ada pedagang asongan yang hendak turun. Aku menyelipkan uang 5000 dan secarik kertas itu kepadanya, meminta memberikannya kepada anak muda berjaket merah yang tengah duduk membatu di kursi peron itu.

Perjalanan dari Blitar ke Jogja ini terasa sedikit berbeda. Parfum yang masih tersegel ini seolah berbahasa. Sejak kuliah ke Jogja, aku sudah tak menggunakan parfum merk ini. Tapi ternyata masih ada yang mengingatnya. (*)



Malang, 1 Januari 2016
A Fahrizal Aziz

Friday, January 1, 2016




Gemuruh penonton terdengar dari luar gedung home teater sekolah. Aku pun berjalan cepat menuju tempat itu, lima menit lagi pertunjukan dimulai. Sepasang siswa, berseragam batik, menyambutku dengan senyum ramah, meminta tiket dan menyuruhku menulis nama di buku tamu.
 
Ilustrasi
“Sudah dimulai?” tanyaku.

“Belum, masih ada pembukaan dulu dari Glass Band,” jawab salah seorang dari mereka.

Aku menerima satu kardus roti dan sebotol air mineral, kemudian berjalan masuk, melewati lorong penonton VIP. Aku memang mendapatkan undangan VIP untuk pertunjukan hari ini.

Di kursi VIP, ada tiga yang kosong.

“Hey Rayyan, akhirnya kau datang juga,” seorang lelaki menyambutku, dia Tara, teman satu angkatan yang kini memilih berkarir disebuah EO. Rambutnya masih gondrong, kumis dan jenggotnya semakin lebat. Setelah lulus SMA, sepertinya dia semakin tak mempedulikan penampilannya.

Kami saling berpelukan erat. Sudah hampir setahun ini kami tak bertemu, karena kesibukanku di Jogja.

“Kau makin rapi saja,” pujinya. Entah pujian atau apa, seingatku dia memang tidak pernah suka dengan kerapian.

Aku duduk disampingnya. Sebelum acara dimulai, kami terlibat perbincangan. Suara kami beradu dengan gemuruh penonton dan iringan musik. Sampai tiba pertunjukkan dimulai.

Aku melirik selembaran pamflet pertunjukkan. Tokoh utamanya Fredo, sekaligus penulis skenario. Sutradaranya Rachel. Fredo adalah adik kelas dua tingkat di bawahku. Sekarang dia sudah kelas XII, dan mungkin ini adalah pertunjukan terkhirnya sebagai pelajar putih abu-abu. Sejak lulus dan pindah ke Jogja, aku tak pernah menghubunginya, dan dia pun juga tak menghubungiku.

Pertunjukkan kali ini live narrator. Bukan lipsing. Judul pertunjukkannya ‘bayang-bayang kekasih’. Fredo masuk diawal, dengan background danau diantara senja dan pegunungan, ditambah instrument biola ‘Game of Thrones Theme’ dari Taylor Davis, Fredo melakukan self-naration dengan bagus sekali. Intonasinya jelas, artikulasinya merasuk.

Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang hanya bayang-bayang?

Kalimat itu terasa sangat menyentuh. Ditambah instrument lagu yang makin menusuk. Ini seperti membaca puisi, tanpa melihat naskahnya. Instrument kemudian berganti, masuk pula seorang perempuan cantik jelita, wajahnya putih, pipinya merah, dengan balutan selendang biru. Perempuan itu kutahu dari Tara, bernama Kiswi, siswi kelas XI IPA 3 yang sangat bertelenta.

 Dialog pun terjadi.

“Semakin banyak orang mencari sesuatu, yang sebenarnya sudah mereka miliki. Semakin banyak orang yang merasa kesepian, padahal ia dikelilingi banyak orang. Karena bayang-bayang yang ia ciptakan, ilusi yang ia kehendaki sendiri,” ucap Kiswi.
“Apa Maksudmu?” tanya Fredo.

Kiswi tak langsung menjawab. Ia menari gemulai mengitari Fredo, lalu mendekat dan menatap mata Fredo dengan lekat. Kiswi membelai lembut dada Fredo sambil berkata.
“Yang ada adalah ada,” jawab Kiswi, “Bukan yang tidak ada. Bukan bayang-bayang yang hanya bisa kau lihat, tapi tak bisa kau sentuh. Bukan imajinasi yang kau kagumi tapi tak pernah terjadi,” lanjutnya.

Fredo pun memegang kedua tangan Kiswi dan melepaskannya.

“Apa itu kekasih?” tanya Fredo ke arah penonton. Sekilas, ia melihatku. Mata kami saling bersitatap cukup lama. Aku tersenyum, sembari mengangkat satu tanganku, isyarat pujian atas penampilannya.

“Kekasih adalah orang yang kita cintai, meski yang kita cintai itu tidak ada dan tidak bisa kita miliki,” lanjutnya sambil masih menatapku.

“Apa?” Kiswi nampak terkejut.

“Ya. Kekasih itu bukan yang selalu ada. Tapi yang kau cintai. Yang ada belum tentu kau cintai, yang tidak ada bisa jadi cinta sejatimu. Cinta. Kekasih. Seseorang yang menjadi alasan kenapa kau tetap bernafas hingga saat ini.”

Instrument pun berganti. Delapan orang masuk, melakukan tarian zumba dengan tempo agak melambat. Drama berikutnya, Kiswi terduduk di sebuah batu dekat danau sambil menangis, sementara Fredo pergi meninggalkannya sambil berkata : Aku hanya ingin jatuh cinta pada kekasih yang aku cintai.

Para penari ikut pergi bersama Fredo. Suara gemuruh hujan berdatangan, ditambah instrument ‘Zelda Medley’. Lima perempuan datang menghampiri Kiswi, mencoba menghiburnya dan mengajak pergi dari danau, kemudian adegan berganti lagi.

Pertunjukan berlangsung selama 30 menit. Sebuah pertunjukan yang menakjubkan. Dialog-dialognya sangat filosofis. Pentonton gemuruh bertepuk tangan.

***
Selesai pertunjukkan, kami berkumpul di belakang panggung. Evaluasi bersama. Bagaimanapun juga, aku adalah senior kelompok teater ini. Selain aku, senior lain yang hadir adalah Tara, Geger, Syuman, Rudi, Qibty, dan Nrimo. Tara, Rudi, Syuman dan Geger masih setia membina mereka, karena tidak kuliah keluar kota.

“Fredo dan Kiswi, kalian sangat sempurna,” puji Syuman. Akupun turut memberikan applausekepada mereka.

Setelah evaluasi berakhir, aku dan senior lainnya duduk berbincang di kantin sekolah. Nostalgia. Setahun tak bertemu, rasanya seperti sudah lama sekali. Dari semua senior, nampak aku yang paling rapi.

Pagi ini, sesampainya dari stasiun aku langsung ke home teater sekolah. Perjalanan dari Jogja ke Blitar yang cukup melelahkan. Namun rasa lelah itu terobati dengan pertunjukkan dari Fredo, serta perbincangan hangat dan sedikit gila dari senior-senior teater.

Di sela-sela perbincangan, Fredo setengah berlari dan mengampiri kami.

“Ah, ternyata disini,” ucapnya sambil tersengal. Fredo kemudian bergabung dengan kami, dan satu jam kemudian yang lainnya membubarkan diri. Tinggal aku dan Fredo yang ada di kantin ini.

“Di Blitar sampai kapan, kak?” tanyanya.
“Aku besok sore harus kembali ke Jogja, karena senin ada kuliah,” jawabku.
“Cepat sekali.”
“Ya. Ini aku sempatkan hadir demi kamu.”
Fredo tertawa kecil.
“Darimana dapat ide cerita seperti itu?” tanyaku.
“Panjang ceritanya. Nanti malam ada acara? Sudah lama aku nggak ngajak kakak makan siomay dekat stasiun itu.”

“Hmm..” aku melirik jam, sebenarnya aku lelah sekali. Malam ini ingin rasanya aku instirahat di rumah. “Main ke rumah aja, rumahku sepi,” lanjutku.

“Rumah kakak memang selalu sepi,” responnya cepat.

Aku hanya tersenyum kecil. Dulu Fredo memang sering ke rumahku, apalagi pas awal dia ikut teater. Aku adalah mentornya. Rumahku memang sepi. Ayah baru saja dirotasi ke Kemenakertrans dan harus berkantor di Jakarta, sementara Ibu selalu sibuk dengan seminar dan penelitian diluar daerah, karena bekerja di lembaga penelitian. Adik sulungku di Pesantren, dua kakakku sudah menikah dan hidup diluar kota.

“Sudah lama kamu nggak nginap di rumahku, sekalian temenin aku nanti,” lanjutku sambil pamit pulang.

Bersambung ... 

By A Fahrizal Aziz

Instagram

Fahrizal A | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi