Cerbung
Tuesday, March 24, 2015
Rumah Rasya sudah terlihat, modelnya masih sama, namun catnya agak berubah, lebih terang. Aku parkirkan sepeda dibawah pohon, entah kenapa nafasku begitu tersengal-sengal, butuh energi yang besar untuk melangkahkan kaki menuju rumah itu, sebuah rumah yang begitu terkenang.
Aku langkahkan kaki menuju halaman rumahnya, terlihat seorang perempuan sedang menyapu halaman, rambut dan wajahnya tertutupi oleh kerudung sederhana yang dibalutkan seperti selendang, perempuan itu nampak asing, mungkin dia pembantu baru di rumah ini.
Aku menghampiri perempuan itu, sambil menata nafas dan kata-kata, aku hendak menanyakan apa Rasya ada di rumah.
“Pagi, mau tanya apa Rasya ada di rumah?”
Perempuan itu tercekat, ia menghentikan menyapunya, aku masih berdiri menunggu dibelakangnya, namun ia tak juga membalikkan tubuhnya. Membuatku harus menunggu beberapa menit, baru kemudian dia bersuara.
“Ada perlu apa ya?” tanyanya, namun masih berdiri membelakangiku.
“Hanya ingin memberikan kue ini, dari Nenek ....”
Perempuan itu membalikkan tubuhnya, kini kami beradu mata, kulihat ada luka melingkar dipipi yang mencoba ditutupinya, dari gayanya berdiri perempuan ini seperti tak asing bagiku.
“Julio,” pekiknya.
Dan suaranya, aku kenal betul suara itu. dengan segera perempuan itu menundukkan kepala, sepertinya dia malu sesuatu terlihat olehku, ada bekas luka yang cukup parah di wajahnya.
“Kamu....”
“Bukan, jangan pernah berfikir jika aku adalah Rasya,” jawabnya.
Tidak salah lagi, perempuan dihadapanku ini adalah Rasya.
“Sya, apa yang terjadi denganmu? Kamu...”
“Sudahlah, Jul. Nggak usah kamu tanya kenapa aku, yang jelas aku buka lagi Rasya yang dulu, kini aku ....”
“Apa yang terjadi denganmu?”
“Aku kecelakaan, wajahku tersayat serpihan kaca dan rusak permanen, tidak ada cara lagi untuk mengembalikan wajahku dulu.”
“Lalu, suamimu?”
“Kecelakaan ini seminggu menjelang pernikahanku, dan karena kejadian ini, dia jijik lantas membatalkan pernikahan ini.”
Aku terdiam sejenak. Teringat kata-kata di status Rasya tiga tahun lalu. “Jikalau rumput tak menyadari keberadaan embun, haruskah embun berhenti meneduhkannya kala pagi?”
(*) A Fahrizal Aziz
Monday, March 23, 2015
Yogyakarta, januari 2012
Liburan semester tlah tiba kembali, kali ini aku tak punya banyak acara untuk menghabiskannya, sempat terbersit keinginan untuk pergi ke malang, menapaktilasi kenangan masa lalu, dan mencari kabar dirimu, apa kabarnya sekarang? Sudahkah kau menikah? Sudahkah kau menimang anak? Bahagia sekali jika bisa melihatmu bersama keluarga yang tlah kau bangun dengan cinta kasih.
Tapi, masihkah kau mengingatku? Kita telah lepas komunikasi. Nomor ponselmu sudah tak aktif sejak tiga tahun yang lalu, akun facebook dan twittermu juga kau tutup, praktis tak ada celah untuk aku menghubungimu. Kenapa gerangan? Apa kau sengaja melakukan ini? Agar kehidupan barumu tak terjamah sedikitpun olehku? Ah, bukankah kau belum tahu apa yang hendak aku utarakan dulu.
Akhirnya aku memutuskan untuk berlibur ke Malang, sudah tiga tahun aku tidak berkunjung ke kota dingin itu, rasanya rindu, tapi rindu dengan apa? Dengan siapa? Keheningan tak mampu menjawabnya, tapi mungkin saja setibanya disana ada jawaban yang bisa kudapat.
Malang, Februari 2012
Tiga tahun meninggalkan kota Malang, banyak hal yang berubah, suasana sudah terasa lebih panas, tidak seperti awalku menjejakkan kaki disini, pertengahan tahun 2006, saat itu suasana masih cukup dingin dan udara begitu mendukung, tak terasa enam tahun tlah berlalu.
Jalanan sudah kian macet, angkot yang kutampangi dari stasiun menuju rumah nenek biasanya hanya mnempuh waktu kurang dari seperempat jam, kini sudah hampir satu jam, begitu pesatnya penumpukan penduduk di kota ini, mungkin saja yang memenuhi kota ini adalah para Mahasiswa.
Akhirnya aku sampai di rumah Nenek, dengan sigap perempuan berusia tuju puluh tahun itu menyambutku, Nenek masih terlihat cukup sehat.
“Nenek kira kamu sudah lupa dengan Malang.”
“Ah, ya nggak lah Nek, saya kan SMA disini, tiga tahun bukan hal yang mudah untuk dilupakan.”
“Iya ayo masuk.”
Aku masuk ke rumah Nenek, sudah banyak yang berubah, direnovasi, mungkin Papa yang merenovasi ini, aku hafal betul sentuhan aristektur khas Papa, klasik dan sedikit jadul.
“Oh ya, nenek lupa, sudah lama ini disini,” kata Nenek sambil menyerahkan kotak kardus yang sudah berdebu.
“Apa ini Nek?”
“Dua hari setelah kamu berangkat ke Jogja, Rasya datang kesini dan memberikan bingkisan ini, katanya kado ulang tahun untukmu, kamu lupa dengan ulang tahunmu sendiri ya?” jelas Nenek.
Rasya? Tiba-tiba dadaku berdesir, seolah terhujam oleh masa lalu, ternyata Rasya masih mengingatku, setidaknya dua hari setelah aku ke jogja, diapun juga masih ingat ulang tahunku, padahal aku sendiri tak pernah menghafalnya.
“Nenek takut membukanya, itu kan milik kamu, Nenek ingin menghubungi kami saat itu, tapi lebih baik Nenek berikan itu saat kamu ke Malang,” ucap Nenek.
“Terima kasih, Nek. Kira-kira dimana sekarang Raisya ya Nek? Apa dia sudah punya anak?”
Nenek tersenyum, berdiri dan menepuk pundakku.
“Mainlah ke rumahnya, rumahnya tetap yang dulu kok,”
Main ke rumahnya? Untuk apa? Bukankah sekarang dia sudah bersuami? Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan orang, lagipula Rasya juga tidak mencoba menghubungiku selama ini, itu berarti dia memang sudah sangat sibuk dengan dunia barunya menjadi seorang Istri.
Bingkisan ini sudah sejak tiga tahun lalu, rentan waktu selama itu, aku tidak yakin Raisya masih mengingatku dengan jelas, agak bimbang jika aku harus ke rumahnya, tapi langkah kaki ingin segera kesana, menemui perempuan mungil itu.
***
Pagi harinya, aku masih duduk diteras sambil menikmati udara pagi yang amsih sejuk, dingin menyelinap, ditemani segelas kopi dan beberapa kue buatan Nenek, begitu nikmatnya.
“Julio,” Nenek datang sambil membawa sebungkus roti buatannya,”Tolong berikan ini ke Rasya.”
“Ha?” aku terkesiap.
“Ayolah, ini perintah Nenek.”
Mengantarkan roti ke rumah Rasya? Sepertinya ini bukan ide yang bagus, apakah aku masih punya sisa-sisa kebernian untuk menemuinya?
“Ayolah cepat sana, mumpung masih pagi.”
Karena desakan itu akhirnya akupun berangkat, jarak rumah Nenek dengan rumah Rasya sebenarnya tidak begitu jauh, bisa ditempuh dengan jalan kaki, tapi aku malas jika harus berjalan kaki, akhirnya aku meminjam sepeda gunung Kakek.
Dengan ringan kukayuh sepeda itu, sudah lama sekali aku meninggalkan kota malang, berkeliling seperti ini membuatku seperti mengurai kembali masa lalu, dulu setiap hari minggu pagi aku selalu bersepeda bersama dengan Kakek dan teman-teman.
“Iya, beberapa hari yang lalu dia melamarku.”
Aku terdiam, seperti tersengat listrik, kata-kata Rasya itu membuat dadaku sesak. Ternyata itu cincin pertunangan? Bagaimana bisa? Ah, begitu bodohnya aku andaikan mengungkapkan keinginan bodoh itu? ternyata Rasya sudah dipinang orang lain.
“Dan rencananya setelah lulus nanti, kami akan menikah,” lanjutnya.
Perasaanku semakin tak menentu, malam yang harusnya menjadi malam yang indah, ternyata malah menyakitkan hati. Aku tak bisa lagi harus berkata apa.
“Sya, aku pamit pulang dulu ya,” pintaku.
“Loh, katanya mau mengatakan sesuatu?” tanyamu.
“Emm.. besok-besok aja, aku pamit dulu ya.”
“Tehnya belum diminum.”
“Maaf, aku harus buru-buru.”
Dengan segera aku berlari meninggalkan rumahmu, sambil memendam sembilu yang terus mengriris-iris hatiku, sakit sekali mendengarmu telah bertunangan, tak kuasa menahan sesak di dada, aku harus segera meninggalkanmu untuk sedikit menenangkan gejolak ini.
Dan setelah itu, kita jarang bertemu, paling-paling hanya bertegur sapa melalui sms atau jejaring sosial. Entah kau menyadari atau tidak jika setelah pertemuan malam itu aku mencoba menghindarimu, bukan aku benci, tapi lebih pada ingin meredam gejolak yang tak henti-henti meniupkan perasaan cemburu yang berlebih. Sampai hari inpun, kita belum pernah bertemu.
***
Sepertinya takdir memanglah yang akan menang, aku harus segera meninggalkan kota ini tanpa berpamitan denganmu, rasanya sungguh berat melepas kenangan yang selama ini kita rajut. Ah, mungkin aku terlalu melankolis, mungkin aku terlalu berharap jika kau masih sendiri dan belum ada seorangpun yang meminta. Harusnya aku berfikir sebaliknya, untuk apa aku harus berpamitan denganmu? Toh, aku juga bukan orang yang cukup penting dalam hidupmu.
Aku duduk menyendiri di kursi tunggu, ditemani beberapa kardus barang pribadi, menanti kereta jurusan Jogja menjemputku. Dalam penantian ini, aku selalu berkhayal jika kau akan berlari menghampiriku dengan nafas terengah-engah, lalu sejenak menahan langkahku yang hendak masuk gerbong kereta untuk mengucapkan sesuatu, setidaknya kata-kata perpisahan.
Tapi sekali lagi, itu hanyalah harapan, harapan yang tak mungkin tercipta karena keadaan tlah berkata lain, tapi setidaknya aku bisa bahagia bersama utopia itu, lebih baik daripada aku harus terus meratapi kenyataan pahit karena tak bisa menjadi yang terbaik disisimu. Mungkin saja nanti ada perempuan yang mirip sepertimu, atau bahkan lebih bisa menarik perhatianku, tapi aku tidak yakin.
Sampai akhirnya corong stasiun berbunyi dan kereta yang kunanti segera merapat, namun sosokmu tak jua hadir, meskipun aku tahu kau tak akan pernah hadir untuk mengucapkan kalimat perpisahan itu, tapi anehnya aku tak pernah lelah berharap jika kau akan hadir untuk itu, mengucapkan kalimat perpisahan itu.
Dan aku salah, sampai aku duduk di kursi empuk ini, tak sedikitpun terlintas raut wajahmu, atau renyah suaramu, atau suara langkah kakimu. Akupun memberengut, sudahlah, tak perlu lagi aku berharap. Sekarang aku harus fokus pada perjalanan ini, fokus pada kuliahku, dan fokus untuk menulis ulang cerita hidupku dan sempat terhenti karena mengenalmu. Aku tak akan berharap lebih.
Keretapun melaju, tak hendak aku menengok ke jendela, karena aku yakin kau tak ada di luar sana, kau kini berada entah dimana, sebuah tempat yang tak terjangkau oleh Sinyal seluler ataupun Internet. Buktinya Handphone dan jejaring sosialmu tak didapati tanda-tanda kehidupan, namun aku berharap kau masih hidup.
Dalam perjalanan itu aku bersadar pasrah sambil mengingat memori singkat bersamamu, saat pertama kenal di kantin sekolah sampai detik ini, ketika simpul-simpul rasa tlah menyatu dan justru melemahkanku. Aku tahu jika ini bukan kisah sederhana, sekalipun perkenalan kita begitu sederhana, tak aku tak menyangka akan terendam dalam riak gelora.
Segala tentangmu adalah puisi keteduhan, mengingatmu saja membekaskan senyum, aku paham kata-kata itu, kata-kata yang kudapat dari status terkahirmu :
“Jikalau rumput tak menyadari keberadaan embun, haruskah embun berhenti meneduhkannya kala pagi?”
Rumput itu mungkin adalah kamu, dan aku adalah embunnya, bukankah begitu? Aku hanya tersenyum sendiri, harusnya aku mendewasa karena mencintai, bukan malah menjadi kekanak-kanakan. Karena ini adalah kisah embun, yang setiap pagi menyegarkan rerumputan. Bukan kisah sang api dikala kemarau.
Harusnya aku membungkus jutaan kenangan indah itu, menyimpannya lekat di memori jangka panjangku, agar kenangan pahit terhapus dengan sendirinya. Karena kita tahu, sepuluh kebahagian bisa terhapus hanya karena sebuah kesedihan, begitu tidak adilnya perasaan ini. Tapi inilah realitanya.
Bukankah harusnya aku meniupkan api kebahagiaan daripada terbakar dengan api kesedihan? Terlalu ringkih jiwa ini jika terus menerus bergelut dengan kenyataan pahit, padahal masih banyak senyuman yang tertunda. Entahlah, haruskah embun berhenti meneduhkannya dikala pagi? Kini akupun tak tahu bagaimana cara meneduhkanmu.
Aku memang tidak bisa bersikap dewasa ketika aku tahu jika kau telah dipinang seseorang, karena terlalu terbakar oleh api kesedihan, akhirnya aku sulit menyalakan api kebahagiaan itu, dan hingga detik ini, aku membiarkanmu tanpa kabar.
Sunday, March 22, 2015
“Jikalau rumput tak menyadari keberadaan embun, haruskah embun berhenti meneduhkannya kala pagi?”
Malang, Juli 2009
Kata-kata itu selalu terngiang di benakku, sesaat setelah pengumuman SNMPTN itu datang dan aku harus segera mempersiapkan segala berkas untuk registrasi di kampus tersebut. Ada rasa gamang berpadu risau, aku harus meninggalkan kota ini untuk sementara waktu, itu berarti, aku juga harus meninggalkanmu. Aku harus pergi tatkala dirimu belum menerima kata-kata yang sudah lama bergejolak di hatiku, ini sungguh membingungkan.
Ku tatap jam dinding, dua jam lagi aku harus segera ke stasiun, karena tiket sudah terlanjur kubeli dan aku tak punya banyak waktu lagi. Sementara sejak dua hari yang lalu, kau tak juga bisa kuhubungi, handphonemu mati dan rumahmu sepi. Ah, tanpa kabar apapun, lalu kucoba menyapamu di jejaring sosial, namun tak ada respon sedikitpun. Kemanakah dirimu?
Aku tak meminta lebih, aku tahu siapa diriku, sekalipun rasa itu tlah memuncak untuk memilikimu, aku sadar diri, tak kan mampu tanganku menggenggam manis jari-jarimu, aku sadar betul jika terlalu banyak perbedaan diantara kita yang tak akan mungkin disatukan, kecuali jika Tuhan berkehendak. Entahlah, aku hanya ingin berpamitan. Setidaknya, untuk empat hingga lima tahun kedepan.
Akhirnya aku harus segera merapikan barang bawaanku, memasukkannya ke koper, dan menelepon taksi untuk mengantarkanku ke stasiun. Ini langkah yang begitu berat, karena harus meninggalkan kota ini tanpa sepatah katapun darimu, begitu sunyi rasanya, tapi biarlah.
Masih hangat di benakku, saat pertama kali kita bertemu, di kantin sekolah itu, kau tersenyum manis ke arahku, lalu karena hampir semua tempat duduk telah penuh terisi dan hanya tersisa dua kursi di depanku, kau duduk disana, dengan malu-malu kau mengulurkan tangan, mengajakku berkenalan. Dengan senang hati aku menyambutnya.
Setelah itu kita sering bertemu di banyak kesempatan, dan aku memberanikan diri untuk mengajakmu jalan-jalan, kau menerimanya dengan tangan terbuka, saat itulah aku mengenalmu, semakin jauh, semakin ada yang salah dengan perasaan ini, sampai akhirnya aku tahu jika aku terlalu terendam dalam gejolak perasaan ini ; aku suka padamu.
Sebagai lelaki aku harus memulainya, ketika malam hari aku datang ke rumahmu dan berniat mengutarakan segala perasaan ini, sekalipun kita masih SMA, tapi bagiku cinta bukan soal usia, cinta adalah soal keberanian dan kesucian, dan perasaan ini harus segera diungkapkan agar tak terus-terusan menjadi beban yang menyesakkan dada.
“Emm....” sulit sekali kata-kata itu terucap.
Lalu aku masuk ke rumahmu, kulihat ruang tamu yang tertata rapi dengan hiasan bunga yang elok. Aku tahu jika kau begitu menyayangi bunga-bunga itu, dan dengan anggunnya kau berjalan sambil membawakan segelas teh hangat.
“Silahkan,” ucapmu sambil meletakkan secangkir teh itu di atas meja tamu, dan tak sengaja pula kulihat cincin putih melingkar di jari manismu.
“Sya,” pekikku.
“Iya.”
“Cincinmu bagus,” lanjutku.
Kulihat wajahmu memerah tersipu.
“Terimakasih, ini cincin pemberian Abang,” jawabmu.
“Abang?”
Subscribe to:
Posts (Atom)
