Monday, October 8, 2018
Tahun ini FLP Blitar membuka pendaftaran kelas menulis, dimulai dari kelas menulis puisi pada 6 Mei 2018, dan kemudian kelas menulis non fiksi. Ada 7 peserta offline dan 17 peserta online.
Pada pertemuan pertama, Ahad 7 Oktober 2018, ada 4 peserta offline yang hadir. Tiga di antaranya tidak bisa hadir karena berbagai sebab.
Sebagai satu dari empat mentor pendamping, saya memang berharap peserta yang ikut benar-benar serius, sebab jika tidak hadir sekali saja, atau tidak mengikuti sesi sekali saja, maka akan bingung melewati sesi berikutnya.
Itulah kenapa dalam diskusi dengan mentor seminggu sebelumnya, ada sanksi dikeluarkan dari grup jika sekali saja tidak mengerjakan tugas.
Ada mentor yang kemudian memberikan masukan agar diberikan peringatan dulu, namun banyak yang sepakat dengan sanksi dikeluarkan.
Kenapa? Kelas non fiksi kali ini memang bagian dari pengabdian FLP Blitar. Tidak untuk mencari keuntungan, itulah kenapa ada paket 1 yang gratis. Artinya siapapun bisa gabung dan hadir dalam kelas menulis tersebut.
Karenanya, yang tak berbayar seringkali diremehkan. Memang ada paket 2 dan 3 yang berbayar, namun itupun pilihan sendiri dari peserta dan pembayarannya tidak mengikat di awal.
Mentor berharap kelas ini benar-benar diikuti dengan serius. Karena bukan lagi hanya berisi materi dan sekedar pengetahuan, namun lebih pada praktek dan evaluasi.
Tergetnya, pasca berlangsungnya kelas ini, setiap peserta bisa menulis setidaknya 2-3 halaman.
Jadi ada sedikit materi, dilanjutkan dengan praktek, lalu akan dievaluasi oleh mentor. Sampai minimal empat kali.
Materi-materi teknis kepenulisan akan menyesuaikan seiring dengan praktek menulis tersebut.
Pada pertemuan pertama, materi yang diobrolkan berkait dengan jenis paragraf, dimulai dari analisis judul di majalah, koran, dan media online.
Materi tersebut sebenarnya hanya memantik untuk menulis, memberi gambaran awal tentang bagaimana membuat paragraf pertama.
Berikutnya akan disambung dengan materi ejaan dan tanda baca, pada pertemuaan berikutnya. Sampai jumpa. []
Blitar, 8 Oktober 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Sunday, May 27, 2018
"Kenapa tidak nulis?"
Selain Mas Subhan Setowara, ada beberapa lagi yang bertanya, terutama teman satu angkatan di IMM.
Tadarus JIMM kali ini memang menjadi call for paper, membuka ruang bagi siapapun untuk menulis paper kemudian mempresentasikannya.
Ada tujuh sesi presentasi. Tiap sesi ada 5-6 pemakalah, yang mana setiap sesi akan didampingi satu panelis dari senior JIMM.
Tentu menarik, bisa presentasi di hadapan peserta dan panelis, Sekaligus menjadi ruang dialektika yang segar, dan mungkin menantang.
Tetapi sayangnya saya tidak menulis. Bukan tidak sempat, tetapi memang tidak tahu akan menulis apa. Kalau menulis sekedar menulis mungkin bisa, tetapi kurang puas. Sampai terlewat dateline, ternyata tidak ada topik atau tema khusus yang bisa saya tawarkan.
Mungkin gairah perlu di-charge ulang. Forum tadarus JIMM ini bisa menjadi salah satunya. Duduk dan mendengarkan presentasi dari beberapa orang, juga perspektif dari panelis. Meski dalam beberapa segmen agak terkantuk-kantuk.
Sejak kembali ke Blitar, setelah tujuh tahun di Malang, saya masih melibatkan diri dalam komunitas literasi, termasuk membuat komunitas paguyuban srengenge. Masih mengagendakan diskusi rutin mingguan tiap hari Jum'at bersama pustakawan Perpustakaan Bung Karno.
Tetapi memang kurang total. Agenda diskusi rutin tersebut sebenarnya lebih untuk "menjaga mood", belum sampai mengeksplorasi gagasan yang terstruktur. Paling hanya membaca buku lalu menceritakan ulang.
Tetapi itu sudah lumayan. Ada forum diskusi rutin mingguan. Ada website sebagai ruang aktualisasi. Meski kurang masif. Kurang puas.
Kadang saya berfikir lebih baik Paguyuban Srengenge dibubarkan, Lha daripada hanya gitu-gitu saja? Tetapi paguyuban srengenge inilah yang "menamai" eksistensi kami.
Berat juga menyandang ketua komunitas, namun tidak produktif alias mandul. Selain itu juga diperbincangkan di Internal Muhammadiyah sendiri : sudah ada organisasi, ortom, tapi kok bikin komunitas. Bukankah lebih baik masuk ke dalam dan dijadikan program?
Serba dilematis, bukan?
Harapannya Paguyuban Srengenge ini menjadi wadah kultural bagi IMM Blitar, tetapi hasrat membaca, diskusi dan menulis di IMM Blitar sendiri juga melempen.
Anehnya masih ada saja yang menyanjung Paguyuban Srengenge. Sekedar menceritakan aktivitas di dalamnya mungkin tak masalah, tetapi kalau sampai menyanjung berlebihan, justru saya malu sendiri. Karena saya ketuanya.
Apalah arti kebanggaan palsu?
Tetapi hadirnya Paguyuban Srengenge juga tidak lepas dari iklim intelektual yang diciptakan JIMM, yang mewabah dan memberikan kesan begitu mendalam.
Bagaimana seorang mentor bernama Moeslim Abdurrahman bisa mendorong anak-anak muda kala itu untuk studi ke berbagai belahan dunia, sampai memperoleh gelar doktor.
Bagaimana dari rahim kultural tersebut, bisa melahirkan banyak tokoh-tokoh baru, yang kini menjadi nilai tawar tersendiri, tidak saja bagi Muhammadiyah namun juga bangsa Indonesia secara umum.
Gelombang tersebut menciptakan letupan-letupan semangat bagi kader-kader muda berikutnya, terutama bagi kader IMM maupun IPM.
Itulah kenapa forum JIMM selalu menggairahkan, bernas, dan menyulutkan persepsi-persepsi yang menantang. Disatu sisi melahirkan kritik-kritik yang menohok, disisi lain memunculkan harapan yang besar.
Berjumpa dengan orang-orang yang memiliki ikhtiar dan komitmen yang tinggi, dengan resiko yang tak mudah, terutama ketika awal pendiriannya, yang kerap disalah pahami.
Setelah tadarus ini, sepertinya muncul kembali energi baru. Terutama energi untuk membaca kembali buku-buku "berat". Juga energi untuk menulis sesuatu yang lebih berbobot ; penuh data, referensi, dan gagasan progresif. Insyaallah.
Blitar, 27 Mei 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
Tuesday, January 16, 2018
| (Ngobrol dengan Pak Budi Kastowo) |
| agenda rutin FLP Blitar |
Saturday, November 11, 2017
Tahun ini, FLP Blitar akan menerbitkan buku kumpulan puisi. Ada lebih dari 70 puisi dalam berbagai judul dan gaya, dengan tema besar tentang Blitar. Menariknya, buku ini akan ditutup sebuah Epilog yang ditulis oleh Sastrawan Senior, Tengsoe Tjahjono.
Dalam lebih dari 20 paragraf, beliau menulis sekilas tentang Blitar, apresiasi buku secara umum, sampai mengomentari beberapa puisi yang ada di dalamnya. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri, sebab beliau adalah Sastrawan papan atas, yang sudah malang melintang di dunia sastra, dan juga sebagai akademisi yang mengajarkan sastra di kampus-kampus.
Pak Tengsoe memberikan apresiasi untuk karya penulis Blitar, dalam sebuah pragraf berikut :
".. Kekayaan tradisi, peninggalan budaya, dan alam Blitar itu telah menginspirasi beberapa penulis muda yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena Blitar. Dari tangan mereka lahirlah larik-larik puisi tentang Blitar yang mereka cintai. Di Blitar mereka hidup, pergi, dan kembali. Jatuh bangun mereka bersama Blitar mereka tulis dalam larik-larik apik..."
Epilog lengkapnya bisa dibaca pada buku kumpulan puisi, yang rencana dilaunching pada 10 Desember 2017 nanti.
Buku tersebut akan dicetak terbatas, jadi jika berminat memilikinya, silahkan pre order di nomor 085755944234 (Wa/sms) dengan format NAMA <spasi> ALAMAT <spasi> JUMLAH EKSEMPLAR.
Nanti akan kami informasikan jika buku telah terbit. Tebal buku sekitar 200-an halaman, dengan harga maksimal 45.000. Saat ini naskah dan desain sudah mencapai 80%.
****
Lalu siapa Pak Tengsoe? Bagi para penyair, pegiat sastra dan atau penikmat puisi, tentu sering mendengar nama beliau. Selain sebagai Sastrawan Senior, beliau juga Akademisi bergelar Doktor.
Menamatkan studinya hingga s3 di Universitas Negeri Malang, yang dulu bernama IKIP, beliau kini menjadi dosen di Universitas Negeri Surabaya dan pernah menjadi dosen tamu di Hankuk University of foreign Studies, Korea.
Karyanya tidak saja berupa puisi, namun juga penelitian ilmiah tentang karya sastra, sampai kritik-kritik sastra. Puisi-puisinya pun juga banyak terserak di media massa, yang sebagian bisa dilacak melalui Internet.
Buku kumpulan puisi karya penulis Blitar ini, yang disumbang oleh banyak orang dari berbagai latar belakang, yang tidak kesemuanya menggeluti dunia tulis menulis, akan menjadi karya referensial dan mungkin monumental bagi Blitar.
Beberapa tokoh dan pegiat sastra juga memberikan endors/komentar pada antologi ini, antara lain Bu Indah Iriani, pendiri Blitar Heritage Society. Pasangan penyair W. Haryanto da Puput Amiranti, Hasnan Bachtiar Mahasiswa S2 Australia National University, Yanu Aribowo wartawan Radar Blitar, dll
Semoga karya ini bisa menjadi, semacam persembahan berharga, untuk mengabadikan Blitar dalam sejumlah puisi yang beraneka rasa. Aamiin.
Blitar, 10 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com